Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Indigenous Knowledge. Show all posts
Showing posts with label Indigenous Knowledge. Show all posts

22.4.12

Bagaimana Kesiapan Jabodetabek Terhadap Potensi Gempa Diatas 6SR?

Berbagai ahli sudah bicara tentang potensi gempa di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) namun sudah sampai dimana kesiapan daerah tersebut?

Sudahkah masyarakat dan pemerintah menyadari ancaman tersebut?
Bagaimana gempa pernah memporakporandakan Jakarta dan sekitarnya?


Sejarah Gempa di Jakarta dan Sekitarnya
Dalam catatan sejarah, Jakarta (entah itu Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, DKI Jakarta atau yang lebih tua dari itu) pernah luluh lantak di guncang gempa berkekuatan besar. Peradaban pernah terganggu dengan masifnya di kota Si Pitung itu. Jumlah korban terhitung banyak pada masanya dan bencana ikutan menyertainya seperti kolera, tipus, kelaparan, dll.

Misalnya waktu itu tanggal 5 Januari 1699 Batavia mengalami guncangan yang hebat akibat rambatan gempa di Jawa Barat, saat itu Gunung Salak meletus. Gempa susulan terjadi sampai beberapa hari sesudahnya. Dimana sejumlah guncangan seperti yang tercatat dalam Makalah "Historical Evidence for Major Tsunamis in the Java Subduction Zone" dari Asia Research Institute, terjadi selama tiga perempat jam hingga satu jam. Tepian kali Ciliwung longsor, pepohonan tumbang di seantaro Jakarta, ribuan kubik lumpur ditumpahkan dan sampai di Jakarta, sungai Ciliwung tersumbat demikianpula kanal-kanal Oud Batavia (Jakarta lama). Sehingga banjir lumpur mengepung Jakarta yang baru saja di guncang gempa besar. Kondisi lingkungan tak sehat dan semakin parah (demikian tulisan Sir Thomas Stamford raffless dalam bukunya History of Java). Seakan Jakarta menerima 2 paket sekaligus, gempa dan banjir lumpur. Dampak lainnya: 28 orang tewas, 49 gedung batu yang kokoh hancur, hampir semua rumah mengalami kerusakan.

Walaupun gempa 1699 sering dikaitkan dengan letusan Salak namun beberapa ahli menduga pusat gempa berada di selatan Jakarta, berupa gempa seismik. Hingga saat ini penyebab pasti gempa ini masih menjadi misteri.

Sedangkan pada tahun 1757 Jakarta kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7SR di pantai utara Jakarta, berdasarkan catatan NGDC (National Geophysical Data center - United States Department of Commerce) gempa ini diiringi dengan tsunami dengan ketinggian 1 – 3 meter. Kerusakan banyak terjadi di sekitar pantai utara Jakarta bagian timur, dimana Cilincing yang terparah. Kemudian gempa kembali menghantam Jakarta yaitu pada 1780, korban jiwa juga masif pada waktu itu.

Kemudian 27 Agustus 1883 Jakarta kembali menerima dampak dari daerah lain, yaitu letusan Gunung Krakatau yang memicu tsunami setinggi 35 meter. Nyawa melayang di Pulau Jawa bagian barat dan Selatan Pulau Sumatra termasuk Jakarta tercatat 36 ribu jiwa melayang.

27 Februari 1903 juga terjadi gempa besar yang juga berefek sampai Jakarta. Gempa ini sering dikaitkan oleh para ahli adalah gempa yang mirip seperti yang terjadi pada tahun 1699 yaitu akibat letusan Gunung Salak. Jika terbukti berkorelasi maka ada potensi pengulangan dengan siklus 200-an yang mengancam Jakarta.

Nah di tahun 2000-an pun Jakarta masih sering terkena goncangan gempa. misalnya 9 Agustus 2007 terjadi gempa 7,5 SR di laut lepas pantai indramayu pada kedalaman 290 km, yang menggoyang Jakarta.

Kemudian pada Jum’at sore 16 Oktober 2009 pukul 16:52 WIB, USGS – National Earthquake Center menyebut kekuatannya sebesar 6,1SR dengan kedalaman 50,6 km di bawah pulau panaitan. Gempa ini membuat panik sebagian warga Jakarta.

Sebelumnya Agustus 2009 Jakarta juga merasakan gempa akibat gempa di kawasan Jawa Barat bagian selatan yang diguncang gempa 7SR. Dan yang paling anyar adalah gempa yang terjadi pada minggu pagi (15 April 2012), pukul 02:26:39 WIB dini hari. Gempa berkekuatan 6SR yang berlokasi di selatan Ujung Kulon ini membangunkan sebagian warga Jakarta dan sekitarnya. Walaupun tidak ada laporan kerusakan.

Gempa-gempa tersebut bukanlah sekedar deretan lini masa sejarah masa lalu, bagi para pakar gempa dan manajemen bencana ini adalah petunjuk bahwa bencana yang sama bisa berulang di Jakarta dan sekitarnya. Karena fakta membuktikan bahwa sejarah gempa selalu terulang dalam periode waktu tertentu. Sehingga kota Jakarta dan sekitarnya dengan lebih dari 15 juta jiwa haruslah selalu siap menghadapi skenario terburuk.


Bagaimana Gempa Mengancam Jakarta?

Indonesia adalah negara yang beralasakan pada tiga tikar dunia yang dikenal dengan lempeng, yaitu Lempeng Eurasia (dikenal pula dengan Lempeng Sunda), Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik, belum lagi ada bagian Indonesia yang bersentuhan dengan lempeng kecil, misalnya Lempeng Filipina. Pada masing-masing lempeng terdapat ratusan (mungkin ribuan) sesar yang aktif maupun dalam kondisi “tidur”. Masing-masing tepi lempeng bertumbukan dan ada yang bertipe subduksi, yang bila tumbukan atau terjadi pelepasan energi akibat tekanan pada lokasi pertemuan lempeng maka gempa bumi akan terjadi. Banyak Kota-kota Besar di Indonesia, Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang dan ratusan kota lainnya terletak pada daerah ini, daerah ini dikenal dengan nama sabuk api atau the ring of fires.

Pertemuan Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia disebut Sunda Megathrust, dimana Lempeng Indo-Australia menusuk ke bawah Lempeng Eurasia. Lempeng Indo-Australia membentang dari arah utara melewati Mentawai, Sumatera Barat, sampai ke Selat Sunda. Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda berasal dari sekitar Mentawai sampai ke arah Nusa Tenggara. Titik temu atau batas antara dua lempeng inilah yang bisa menciptakan gempa maha dahsyat. Bila terjadi hujaman dahsyat ke bawah lempeng Eurasia maka akan terjadi sesar naik dengan kekuatan yang luar biasa. Potensi guncangan ibarat bom waktu itu bisa menimbulkan guncangan sekitar 8,8 SR atau bahkan 9 SR. Secara keseluruhan, jalur Megathrust ini menjulur dari Myanmar, mengarah ke pantai barat Sumatera, lalu di Selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara.

Hamparan lempeng raksasa berkilo-kilometer baik di Lempeng Indo-Australia ataupun di Lempeng Eurasia itu memiliki segmen-segmen sendiri di masing-masing lokasi. Setiap segmen itu juga memiliki karakteristik dan perilaku khas masing-masing. Pergerakan di segmen-segmen itulah yang kemudian menciptakan gempa-gempa sedang di beberapa titik yang belakangan biasa disebut sesar geser atau pergerakan di internal lempeng.

Subagyo, ahli Gempa dari ITB menyatakan “Jangan pernah sekalipun memimpikan seberapa dahsyat guncangan tercipta bila Sunda Megathrust bergerak naik. Megathrust terakhir terjadi pada 2004 di Bumi Nangroe Aceh Darussalam. Tsunami menyapu bibir pantai hingga ke Banda Aceh. Gempa dan tsunami menyapu bersih bibir pantai 7 negara lainnya. Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Mundur lagi ke belakang, gempa dahsyat yang diakibatkan sesar naik di Sunda Megathrust juga pernah terjadi tahun 1960 yang mengakibatkan gelombang tsunami. Saat itu, gempa yang mengguncang Chili mencapai 9,5 skala richter. Itu merupakan gempa terkuat yang pernah tercatat. Sedikitnya akibat gempa itu 140 orang dilaporkan tewas di Jepang, 61 di Hawaii dan 32 di Filipina. Sekitar tahun 1800an diperkirakan pernah terjadi gempa dahsyat di Mentawai akibat sesar naik Sunda Megathrust.”

Berdasarkan Irwan meilano, seorang anggota tim revisi peta gempa Indonesia yang melalukan penelitian pada radius 500 km dari pusat kota Jakarta, mengungkapkan bahwa ada 12 sumber gempa yang mengelilingi Jakarta dan membuat Jakarta sangat rawan gempa besar.

Ke- 12 sumber itu adalah:

1. Sesar Semangko dengan prediksi kekuatan (magnitude) gempa maksimal 7,6 SR,
2. Sesar Sunda kekuatan maksimal 7,2 SR,
3. Sesar Cimandiri dengan 7,6 SR,
4. Sesar Baribis,
5. Sesar Lembang dengan kekuatan maksimal 6,5 SR.
6. Sesar Opak dengan kekuatan maksimal 6,4 SR,
7. Sesar Lasem kekuatan maksimal 6,5 SR,
8. Sesar Pati 6,8 SR,
9. Sesar Bumiayu,
10. Subduksi Sumatera yang berada dalam radius 210 Km dengan kekuatan maksimal 8,2 SR,
11. Subduksi Jawa dalam radius 172 Km dengan kekuatan maksimal 8,1 SR dan
12. Subduksi Dalam dengan radius 120 Km memiliki kekuatan maksimal 7,8 SR.


Selain kenyataan bahwa ada 12 sumber gempa, Jakarta juga mengalami peningkatan probabilitasnya terhadap gempa, demikian yang seperti yang dikatakan sang Ustadz Gempa Danny Hilman. Probabilitas gempa di Jakarta kini adalah 0,2 g (gravitasi) naik dari angka 0,15 g pada 2002.

Jakarta memang benar-benar ada dalam bayang-bayang gempa, apalagi dengan kenyataan yang ramai dibicarakan para ahli yaitu adanya sesar gempa di Jakarta, yang melintang dari wilayah Ciputat sampai Kota (sesar atau patahan ini disebut juga Sesar Ciputat). Memang pada penelitian di tahun 2006, sesar yang tergolong patahan tua itu dikatakan dalam kondisi tidak aktif/tidur. Tapi, dia bisa “terbangun” kembali. Misalnya, jika sesar itu dirangsang oleh gempa dengan kekuatan di atas 7 SR.

Bagaimana tanah Jakarta? Menurut Encyclopedia of World Geography, Jakarta dibangun diatas tanah yang tidak stabil, sehingga rambatan gempa jadi lebih hebat, demikian yang dikatakan Professor Masyhur Irsyam sang Ketua Tim 9 (Tim Revisi Peta Gempa Indonesia). Dan kawasan Jakarta Utara memiliki kondisi batuan dasar yang memungkinkan terjadinya percepatan rambatan. Bila kita melihat sejarah pada gempa 1699 dimana pusat gempanya bukan di Jakarta namun karena jenis batuan ini maka percepatan rambatan terjadi sehingga guncangannya lebih kuat daripada kekuatan gempa di sumbernya.

Kondisi tanah Jakarta ini sangat berpengaruh pada tingkat keparahannya, misalnya pada gempa 1757 kerusakan di Jakarta bagian utara adalah yang terparah dan Setiabudi di daerah Jakarta Selatan adalah daerah terparah kedua. Kenapa? Karena kedua daerah ini memiliki kondisi tanah yang berbeda.

Oleh karena itu, sejalan dengan Tim 9, identifikasi sumber gempa melalui data seismisitas baik historis maupun instrumental, pemetaan sesar aktif, dan pemantauan deformasi kerak merupakan aspek pentging untuk diperhitungkan.


Apakah Masyarakat Jakarta dan Sekitarnya Sudah Tahu Ancaman Gempa di Jakarta adalah Nyata?
Boleh dikatakan 95% masyarakat Jakarta dan sekitarnya tidak tahu, dengan begitu 5% masyarakatnya tahu. Namun tahukah anda siapa saja yang 5% itu? Mereka adalah Peneliti Gempa dan Bencana, Praktisi Penanggulangan Bencana, Aparat Pemerintah (inipun hanya segelintir dari mereka dan segelintir dari mereka yang bekerja terkait dengan bencana saja yang tahu), Presiden dan Wapres, Staf Ahli Presiden bidang bencana, Kepala BNPB, segelintir wartawan dan segelintir masyarakat yang kritis terhadap penanggulangan bencana dan keselamatan.

Jadi, masih banyak masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang belum tahu dan mereka wajib diberitahu karena UUD 1945 menyatakan bahwa negara menjamin segenap tumpah darah Indonesia, kemudian UU 24/207 tentang Penanggulangan Bencana yang salah satu pasalnya menyatakan bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi tentang potensi dan ancaman bencana. Bila sampai ada masyarakatnya yang tidak tahu karena pemerintah tidak memberitahu dengan cara yang tepat dan sistematis serta berkelanjutan, maka pemerintah sudah mengabaikan rakyat Indonesia yang seharusnya mereka lindungi dan yang menjalankan roda pemerintahan bisa dikenai sanksi sesuai UU 24/2007.

Sudahkah Pemerintah Kota Tangerang, Pemkot Bekasi dan Kabupaten Bekasi serta Kota Depok mendirikan BPBD? Namun, ada satu (lagi) yang masih mengganjal di DKI Jakarta. Kenapa masih ada dualisme dalam penanggulangan bencana yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DamkarPB). Prinsip dalam penanggulangan bencana adalah kesatuan rencana, kesatuan tindak dan kesatuan komando, namun apakah bisa dengan adanya dua SKPD ini terjadi? Belum lagi masih banyak SKPD lain yang menganggap BPBD adalah “anak baru” dan gak tahu apa-apa.


Bagaimana Mengurangi Risiko Bencana?
Pengurangan risiko bencana gempa dapat dilakukan melalui 7 upaya dan oleh siapa saja, berikut ini adalah contohnya:

1. Peraturan Daerah dan Institusionalisasi
a. Rencana Penanggulangan Bencana
b. Rencana Pengurangan Risiko Bencana

2. Pengetatan Standar Bangunan

3. Sistem Kedaruratan Terpadu
a. Incident Command System
b. Rencana Kontinjensi
c. Rencana Operasi
d. Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi

4. Sistem Peringatan Dini dan Sistem Evakuasi

5. Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
a. Pelatihan PB
b. Penyuluhan
c. Partisipasi

6. Perubahan Perilaku dan Budaya
a. Upaya Bersama Pengurangan Risiko Bencana Gempa
b. Keluarga Tangguh
c. Kelurahan/Desa Tangguh

7. Simulasi


Bahan dasar dari ke-tujuh pondasi diatas adalah:
1. Peta Kerawanan Gempa Indonesia tahun 2010 yang diikuti dengan pembuatan peta mikrozonasi oleh Pemda.

2. Peta kondisi lingkungan saat ini (perumahan, perkantoran, industri, kepadatan penduduk dan lifeline – jalur jalan, jalur air, jalur listrik, jalur gas, jembatan)

3. Asesmen Kerentanan dan kapasitas yang memasukkan aspek antropologi, sosiologi dan religi.


5 pilar penanggulangan PB harus bekerja sama dalam hal ini, yaitu: 1) Pemerintah, 2) Peneliti, 3) Lembaga Kemanusiaan, 4) Sektor Swasta/Private, dan 5) Masyarakat.


Kerjasama, Berbagi Peran Dan Saling Mengandalkan
Contoh dari apa yang harus dan bisa pemerintah lakukan adalah: misalnya dalam hal pengetatan standar bangunan, pemerintah memiliki kewajiban untuk membuatnya, menjalankan dan mengawasi penerapannya di lapangan. Menerapkan parameter Hazard atau Ancaman gempa sesuai tingkat bahayanya pada desain, konstruksi gedung, serta infrastruktur di wilayah Jakarta merupakan salah satu dari serangkaian upaya pengurangan risiko bencana gempa. Karena bencana gempa dapat terjadi karena kegagalan menerapkan parameter ini.

Peta gempa yang sudah dilansir oleh pemerintah pusat di tahun 2010 harus digunakan sebagai bahan pertimbangan utama dalam ketahanan bangunan. Hal ini dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Karena yang membunuh bukanlah gempanya, namun bangunannya. Untuk pemerintah DKI Jakarta, pembuatan peta mikrozonasi kerentanan gempa yang merupakan kelanjutan dari peta rawan gempa 2010 sudah saatnya dilaksanakan. Karena peta ini adalah modal dasar dalam pembuatan segala kebijakan. Rencana Penanggulangan PB yang sudah dilakukan oleh BPBD DKI harus bisa diimplementasikan oleh SKPD dan instansi terkait, demikianpula rencana pengurangan risiko bencana.

Hanya yang perlu khalayak atau masyarakat luas ketahui adalah bahwa apa yang dilakukan ini bukanlah untuk menghindarkan terjadinya gempa namun itu merupakan upaya untuk mengurangi dampak bila gempa terjadi. Dengan kata singkat: gempa tetap terjadi namun dampak dapat diminimalisir.

Kapan terjadinya gempa sampai saat ini belum dapat diprediksi begitupula kekuatannya dan daya rusaknya, namun lini masa dalam sejarah dan hasil penelitian para ahli gempa dan penanggulangan bencana dapatlah dijadikan sebuah upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan.

Promosi dan penyuluhan dengan berbasis anthropologi sangat diperlukan dan aksi nyata penyusunan rencana kontinjensi gempa, peningkatan pemahaman tentang gempa, peningkatan keterampilan penyelamatan diri serta pengurangan risiko bencana gempa dan simulasi-simulasi penyelamatan diri sudah harus dimulai.

Pembangunan sistem darurat terpadu harus dilaksanakan secara bersama-sama, bukan hanya pemerintah daerah. Karena berjalan atau tidaknya sistem ini akan berpulang pada kepemilikan sistem oleh para pelakunya. Bila sejak awal tidak ada keterlibatan pihak atau pemangku kepentingan lain maka pemda tidak akan bisa mengaktivasinya. Demikian pula sistem peringatan dini dan sistem evakuasi yang efektif.

Belajar dari kejadian gempa dan tsunami di Jepang Maret tahun lalu, banyak jiwa terselamatkan karena berjalannya ketiga sistem ini (sistem darurat terpadu, sistem peringatan dini dan sistem evakuasi) ditambah pengetahuan masyarakat yang segera mampu mengambil inisiatif mengungsi begitu terjadi gempa dengan ciri-ciri tertentu dapat mengakibatkan tsunami. Memang 20.000 jiwa harus melayang pada bencana tersebut, namun bisa diperhitungkan bila itu tidak terjadi di Jepang maka jumlah korban akan berlipat sepuluh kali.

Simulasi harus sering dilakukan. Hanya saja sudah menjadi karakter bangsa Indonesia yang meremehkan simulasi, padahal simulasi yang berulang dan diikuti dengan sungguh-sungguh akan menanamkan refleks terarah evakuasi disaat dibutuhkan. Semua ini harus dilakukan secara efektif dan efisien oleh kelima pilar penanggulangan bencana. Karena diantara mereka harus tumbuh sikap kerjasama (bukan sekedar sama-sama kerja), berbagi peran dan saling mengandalkan. Saling emngandalkan karena masing-masing pilar memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki pilar lainnya. Yuk kita siaga bencana. (Jakarta; 21 April 12)


Yang harus diingat: walaupun DKI dalam tulisan ini yang terancam gempa, namun gempa tidak memandang batas administrasi, jadi Jabodetabek haruslah siaga dan saling bersinergi.


Note: Tulisan ini berasal dari berbagai sumber. Diolah demi kepentingan penyadaran kesiapsiagaan bencana, bukan menantang bencana.

Sumber:
1. http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=812 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:47 siang.
2. http://teknologi.vivanews.com/news/read/305082-12-sumber-gempa-kepung-jakarta diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:35 WIB Pagi.
3. http://www.pgis-sigap.blogspot.com/2011/03/tahun-1757-pernah-ada-gempa-dan-tsunami.html diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:19 WIB siang
4. http://nasional.vivanews.com/news/read/305432-bengkulu-jabar-waspada-siklus-gempa-1875 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:45 WIB pagi
5. http://metro.vivanews.com/news/read/305630-misteri-penyebab-gempa-besar-jakarta-1699 diunduh pada 21 april 2012 pukul 10:47 WIB pagi
6. http://sorot.vivanews.com/news/read/166557-gempa-jakarta--siapkah-kita- diunduh 21 Apr. 12 pukul 10:31 WIB pagi
7. http://fokus.vivanews.com/news/read/304968-hujaman-di-sunda-megathrust diunduh pada 21 Apr. 12 pukul 10:30 WIB Pagi.
8. http://teknologi.vivanews.com/news/read/299206--kapal-hantu--tsunami-terlihat-di-kanada diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:00 siang

Share Me


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

31.5.11

28 Mei dan 16 Juli – Hari Meluruskan Arah Kiblat

Pada saat-saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkoreksi atau sekedar mereview arah kiblat di masjid, musholah, surau, dan langgar.

Hal ini dilakukan dengan cara yang sederhana namun akurat, teknik ini dituliskan oleh Muthoha Arkanudin.

Silahkan klik disini




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

8.4.11

Kamus Bahasa Thailand ; พจนานุกรมอิเล็กทรอนิกส์ภาษาไทย

อินโดนีเซีย Red Cross (PMI) เป็นองค์กรของสมาคมแห่งชาติในประเทศอินโดนีเซียซึ่งเป็นธุระในทางสังคมและมนุษยธรรม PMI ได้จัดขึ้นอย่างรวดเร็วตลอดเวลาเพื่อเจ็ดหลักการพื้นฐานของการเคลื่อนย้ายระหว่างประเทศของกาชาดและเสี้ยววงเดือนแดงของมนุษย์ความเสมอภาค voluntarism, เอกราช, ความสามัคคีความเป็นกลางและความเป็นสากล ในวันที่ PMI ได้รับใน 33 PMI ภูมิภาค (จังหวัด) และประมาณ 408 สาขา PMI (ระดับของเมือง / ตำบล) ทั่วประเทศอินโดนีเซียอินโดนีเซียกาชาดไม่ฝักใฝ่ฝ่ายในชั้นเรียนและกลุ่มคนทางการเมืองหรือศาสนา อินโดนีเซียกาชาดในการดำเนินของมันไม่ได้ทำให้ความแตกต่าง แต่ใส่เหยื่อวัตถุส่วนใหญ่ที่ต้องการความช่วยเหลือเร่งด่วนเพื่อความปลอดภัยของดวงวิญญาณของท่าน

Mau tahu artinya?
Tulisan tersebut merupakan hasil terjemahan dari:
Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. PMI selalu berpegang teguh pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Sampai saat ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah (tingkat provinsi) dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh indonesia

Palang Merah Indonesia tidak berpihak pada golongan politik, ras, suku ataupun agama tertentu. Palang Merah Indonesia dalam pelaksanaannya juga tidak melakukan pembedaan tetapi mengutamakan objek korban yang paling membutuhkan pertolongan segera untuk keselamatan jiwanya.


Jadi, Kawan-kawan PMI yang sering melakukan perjalanan tugas ke Thailand bisa menggunakan kamus elektronik bahasa di sini. Dijamin ga bingung lagi deh. Silahkan dicoba. dari berbagai bahasa ke berbagai bahasa juga bisa loh.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

22.3.11

Peta Evakuasi Tsunami Kota Padang, Launched By Walikota Padang + Peta per Sektor

Pada 30 September 2010 lalu, Walikota Padang: Bapak Dr. Fauzi Bahar meluncurkan peta evakuasi Kota Padang.

Peta ini dibuat dengan pendekatan partisipatif dari hampir semua komponen kebencanaan di Kota Padang, sebut saja: BPBD Kota Padang, Mercy Corps, GTZ, PMI Kota Padang, KSR Unit Proklamator, Bivac, Galapagos, Minang Geografis dan SKPD Kota Padang serta yang lainnya, dan juga Do’a kawan-kawan Mappers PMI se-Indonesia. Juga sumber data personal, seperti: Martin Hardiono dan Ujang Dede Lasmana & hasil Ellen keliling kota Padang, teman-teman BPBD Kota Padang, dan Willy Wicaksono.

Pengolahan data GIS oleh Pak Martin Hardiono dan Ellen Law. Sedangkan desain grafis oleh Pak Lek Iwan (nama aslinya Iswanto ).


Nah untuk membantu mereka yang membutuhkan, ini saya upload petanya.







Peta Per Area:







Peta ini pertama kali dicetak oleh Mercy Corps melalui program Disaster Risk Reduction – Awareness Campaign & Government Capacity Building.
Staf program ini adalah:
1. Ujang Dede Lasmana: Manajer Program
2. Wawan B: Team Leader for Awareness Campaign Team
3. M. Tasyrif: Team Leader for Government Capacity Building Team
4. Iswanto: PO for Awareness Campaign
5. Olla : PO for Government Capacity Building
6. Hengky : PO for Government Capacity Building
7. Harmi “Baron” Diarmi : PO for Government Capacity Building



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

4.3.11

Jangan Jadikan Indonesia Supermarket Bencana, Tapi Laboratorium Bencana

Beberapa tahun belakangan, Indonesia dipopolerkan oleh beberapa orang sebagai supermarket bencana, karena seringnya dan keanekaragaman bencana yang ada di Indonesia (you named we have it!).

Dan akhirnya banyak yang mengamininya bahkan dijadikan acuan dalam mengambil kebijakan dan memanfaatkan kondisi yang ada. Maklum dengan label ini maka akan makin banyak donor, pemberi pinjaman dan orang luar yang datang ke Indonesia untuk manajemen bencana.

Padahal bila kita ambil contoh saja, tenaga asing yang datang ke Indonesia sebagai program manajer, koordinator atau apalah pemimpin proyek di manajemen bencana, banyak ditemukan tidak memiliki kapabilitas yang sesuai bahkan banyak ditemukan anak Indonesialah yang lebih faham. Cuma sayang anak Indonesia itu baru menjadi bawahan saja. Mengenai expat ini bahkan ada olok-olok asal bule walaupun dinegaranya tukang burger dipinggir jalan maka kalau ke Indonesia jadi manajer.

Sehingga dengan label supermarket maka akan banyak yang membeli namun konotasinya menjadi negative dan membuat Indonesia hanya sebagai obyek saja. Anak-anak Indonesia yang pandai tetap saja dijadikan second layer people (bahasa kerennya Assistant)

Dilain pihak, banyak program sudah dilakukan di Indonesia, baik oleh Pemerintah maupun LSM dan badan-badan kemanusiaan lokal di Indonesia dan juga bantuan asing lainnya. Dalam program itu juga banyak sudah dilakukan studi-studi terkait dengan risiko bencana (hazard, vulnerability dan capacity). Studi itu kebanyakan dilakukan oleh anak-anak Indonesia juga.

Dengan banyaknya ahli kebencanaan di Indonesia (BNPB saat ini sedang menginventarisir tenaga ahli kebencanaan anak Indonesia) mengapa kita tidak jadikan Indonesia sebagai laboratorium bencana, banyak aksi-aksi lokal yang bisa dijadikan pembelajaran dan bisa kita perkenalkan ke luar dan bahkan kita jadikan sebagai rujukan mereka untuk melakukan manajemen risiko bencana.

Pengalaman saat ikutan belajar di luar negeri, mereka banyak mengambil dan memanfaatkan data-data penelitian di Indonesia sebagai rujukan. Dengan itu mereka menjadi master, doctor dan professor.

Hal kecil dimulai dengan kalimat “Indonesia adalah laboratorium bencana dunia” maka akan meningkatkan minat anak-anak Indonesia untuk menjadi leader dalam manajaemen risiko bencana. Sehingga kita mengundang orang luar bukan hanya sebagai sinterklas namun sebagai mahasiswa yang belajar.

Bila kita hanya menjadikan Indonesia Supermarket Bencana maka bukan tidak mungkin nantinya Indonesia hanya akan Menjadi Museum Bencana (artinya? Silahkan ambil kesimpulan sendiri).


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

15.2.11

Kamus Bahasa Sunda: Mari Lestarikan Budaya di Indonesia


Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”

Apa artinya bahasa sunda diatas?

Atau apa bahasa sundanya pisang, makan, minum dll?

Anda bisa mencarinya di kamus basa sunda online berikut ini.

Kamus Bahasa Sunda


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

9.2.11

KoKi - Kredo Seorang Pekerja Pengembangan Masyarakat

Mulailah dan bangunlah dari apa yang diketahui masyarakat
Dengan metode PLA, para pekerja Comdev dapat dengan mudah menggali masalah-masalah yang ada di masyarakat. Dari pengetahuan tersebut, masyarakat kemudian diajak berpikir untuk mencari cara penanggulangan masalah yang ada itu. Para pekerja Comdev tidak akan membawa masyarakat ke ranah yang tidak mereka kenal.

Jika mempunyai konsep, tentunya, kita harus membumikan alias meng-kontekstualkan hal itu sehingga dipahami oleh masyarakat. Program Comdev bisa berantakan apabila kita memaksakan hal yang asing untuk masyarakat. Ujung-ujungnya, masyarakat tidak merasa memiliki program tersebut karena mereka tidak mengenalnya.

Bagaimana Kredo Pengembang Masyarakat? Silahkan klik link di bawah ini.

KoKi - Kredo Seorang Pekerja Pengembangan Masyarakat

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

6.1.11

Kesiapsiagaan bencana; apakah ada dalam Al Qur’an?

Sejak manusia pertama kali menghuni bumi, sejak saat itu pula manusia sudah berhadapan dengan fenomena alam yang berpotensi bencana. Hujan, panas, angin, gelombang, pergerakan bumi yang menimbulkan gempa dll adalah pendamping manusia dibumi ini.

Berikut ini saya menyitir kisah-kisah Nabi Allah yang terdapat bencana di dalamnya dan terdapat upaya kesiapsiagaan, mitigasi bencana, dan peringatan dini serta rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kisah Nabi Yusuf dalam mempersiapkan musim kering dan kelaparan yang akan terjadi dengan menyiapkan segala logistik selama tujuh tahun untuk musim kering selama tujuh tahun setelah adanya warning atau peringatan, merupakan contoh bahwa Allah menyuruh kita untuk memitigasi bencana dan bersiaga. (QS Yusuf ayat 43 – 49)

Kisah yang lebih tua adalah kisah Nabi Nuh untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi bencana banjir besar di dunia. Nabi Nuh menyiapkan segala logistik, dan sarana untuk memitigasi bencana yaitu perahu besar. Juga membuktikan bahwa kita harus berusaha memitigasi bencana, karena bencana tidak semata-mata takdir yang tidak bisa ditolak.

Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (QS Al A’raaf 7 : 64)

Kisah diperintahkannya mengungsi pada Nabi Luth dan Umatnya sebelum terjadinya bencana yang mungkin adalah gempa bumi, dimana kota atau daerah tempat Nabi Luth berdakwah dibalikkan oleh Allah SWT, merupakan contoh bahwa kita wajib mengungsi bila sebuah bencana akan terjadi, bukannya pasrah dan hanya berdo’a.

Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?." (QS Huud 11 : 81)

Demikian pula yang terdapat dalam kisah Nabi Shaleh sebelum bencana ditimpakan di daerah dakwahnya, Allah memerintahkan untuk mengungsi ke daerah yang aman.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS Huud 11 : 66)

Mengungsi menghindari bencana adalah ibadah, karena beriktiar untuk menyelamatkan jiwa. Juga diwajibkan bagi mereka yang mengungsi untuk membawa logistik/perbekalan untuk selama mengungsi.


Janganlah kamu membunuh dirimu

Bila kita tidak melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi (mengungsi termasuk didalamnya) maka berarti kita bunuh diri, sedangkan bunuh diri adalah sangat dilarang dalam agama Islam.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS An Nisaa’ 4 : 29 – 30)

Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana
Bukankah Allah juga memerintahkan para Nabi untuk menata kembali setelah suatu bencana menghantamnya? Ya dalam berbagai kisah, para Nabi diperintahkan untuk menata kembali setelah bencana terjadi.

Pemerintah/Ulil Amri anda wajib menyelamatkan wargamu

Selain itu, bila kita tidak melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi berarti kita juga telah membunuh sesama manusia, bukankah ini juga dilarang dalam islam? Apalagi bila pemerintah tidak menjalankan kewajibannya dalam melindungi warganya, maka para pemimpin itu telah membunuh. Dan membunuh satu jiwa saja maka berarti sudah membunuh semua jiwa.

Hai pegiat pengurangan risiko bencana, janganlah depresi

Namun, bagaimana bila kita sudah melakukan ikhtiar dalam kesiapsiagaan dan memitigasi bencana atau mengurangi risiko bencana tetap saja ada yang meninggal? Allah sudah menetapkan usia manusia dan sebab dia meninggal untuk kembali menghadapNya.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS Ali ‘Imraan 3 : 145)

Hai pegiat pengurangan risiko bencana, janganlah sombong

Inipula yang membuat kita aktivis pengurangan risiko bencana untuk tidak menyombongkan diri dalam amalnya/pekerjaanya di ranah manajemen bencana. Bahwa anda tidak akan bisa menyelamatkan jiwa tanpa seizin Allah sang pemilik kehidupan adalah sebuah kenyataan.

Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya[529] sampai waktu mereka dibangkitkan." (QS Al ‘Araaf 7 : 13 – 14)


Sumber:
1. http://ruangmuslim.com/kajian-tematik/4100-menyelamatkan-diri-dari-bencana.html


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

13.8.10

Anak-anak Lebih Siaga

Mercy Corps melaksanakan lomba poster di tiga daerah secara simultan di Pesisir Selatan, Padang Pariaman dan Padang. Uniknya bukan hanya lomba poster yang digawein oleh staf Mercy Corps, namun juga beberapa permainan dan kuis yang berhadiah.

Menanamkan rasa siaga dan memperkenalkan upaya pengurangan risiko sejak dini terhadap anak-anak memang sudah menjadi cara yang efektif. Inovasi dibutuhkan untuk bisa menjangkau pemahaman dan logika anak-anak. metode klasikal dimana guru menyampaikan materi satu arah mungkin hanya cocok untuk mencapai tujuan menambah pengetahuan, namun untuk mengembangkan nalar dan daya analitik untuk menyikapi upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko membutuhkan tekhnik khusus apalagi bila kita menginginkan mereka dapat mempraktekkan dalam kehidupannya sebagai bagian dari hidupnya.

Pelatihan partisipatif yang dikemas dalam permainan dan kuis diyakini dapat menambah pengetahuan si anak didik, apalagi diikuti dengan diskusi yang tidak mengutamakan kebenaran atau kesalahan dari pendapat si anak akan dapat meningkatkan penalaran dan daya analitik si anak (apalagi bila mengutamakan kebetulan, salah kan walaupun akar katanya dekat: betul dan benar, karena tidak pernah ada pahlawan pembela kebetulan yang ada adalah pahlawan pembela kebenaran, hihihi) untuk bisa menyikapi suatu masalah dengan harapan mereka dapat melakukan/mempraktekan baik secara sadar maupun tidak sadar.

Permainan ular dan tangga kesiapsiagaan bencana yang dikembangkan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) digunakan oleh Mercy Corps sebagai salah satu inovasi dalam menanamkan kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana.

Dalam Permainan ini peserta diminta untuk memberikan pendapatnya mengenai kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana sesuai dengan pernyataan yang ada pada kotak-kotak ular tangga. Pion dalam permainan ini adalah si anak itu sendiri sedangkan dadu yang digunakan adalah dadu segede gaban (menyontek istilah kawanku di PMI Pusat, Mas Dwi Haryadi, yang merujuk sesuatu yang besar, hehehe apa kabar Mas Dwi?).

Saat, sebut saja saat si Upik atau si Ujang (wah ternyata nama Ujang itu di budaya Minang adalah nama panggilan untuk anak laki-laki yah sama donk sama di Sunda) melempar dadu kemudian dadu menunjukkan sejumlah titik tertentu maka ia harus melangkah sesuai jumlah titik itu (wah ini mah sama atuh dengan ular tangga yang biasa, yah emang pada dasarnya sama Tong), selanjutnya si Upik atau si Ujang harus membaca kalimat yang ada dikotaknya yang baru dan kemudian memberikan tanggapan, jawaban atau pendapatnya. Tidak ada jawaban yang akan disalahkan loh dalam permainan ini, bila salahpun maka fasilitator akan melemparkan diskusi ke peserta lain atau penonton lain dengan kalimat yang halus sehingga si anak tidak merasa dihakimi.

Hukuman dalam permainan ini sama dengan ular tangga yang biasa yaitu dia akan turun ke kotak sebelumnya, namun dalam permainan ini dibuat suatu kondisi sehingga mengapa si anak harus turun atau naik sebagai penghargaan. Misalnya begitu sampai di suatu kotak maka tertulis: Kamu lupa membawa tas siaga maka kamu harus turun, nah seperti sebelumnya maka si anak yang bersangkutan harus memberikan alasan kenapa ia harus turun dan apa manfaat tas siaga dan apa saja yang ada dalam tas siaga. Demikian pula sebaliknya untuk penghargaan, misalanya: Kamu telah menanam pohon bakau maka kamu naik.


Pertunjukkan boneka juga dilakukan oleh staf Mercy Corps. Dalam pertunjukan ini diramu sedemikian rupa sehingga anak-anak tertawa, sedih, mencekam dll lain-lain perasaan, komunikasi dua arah juga dibangun dalam pertunjukkan ini. Tanya jawab antara dua boneka atau boneka dengan penonton atau sebaliknya bisa terbangun.

Kisah yang mengusik hati adalah disaat anak-anak diminta untuk bernyanyi maka sebagian besar anak dari ketiga daerah justru menyanyikan lagu-lagu dewasa, semisal lagu yang dinyanyikan oleh Luna Maya (salah satu katanya adalah Ku menunggu, lanjutannya saya ga hapal tapi yang saya tahu itu lagu pernah dinyanyikan Luna Maya, saya tahunya lagu Ridho Irama wakakakakak) dan juga lagunya wali Mencari jodoh, tidak ada anak-anak yang menyanyikan lagu anak-anak. Nah pas para gurunya diminta bernyanyi maka lagu yang paling dinyanyikan para guru adalah: disana senang, disini senang (wah memang jauh yah jarak masa antara murid dan guru).

yang membuat sedih lagi adalah disaat ada pertanyaan tentang dimana ibu kota Indonesia dan nama presiden RI banyak yang salah menjawab. Disaat diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya banyak juga anak-anak yang menyanyi dengan salah baik lirik maupun irama, waduh.

Namun dibalik itu semua yang membuat saya bangga adalah ternyata anak-anak lebih siaga dibandingkan guru mereka (saya menulis dengan senyum dikulum nih).

Lagu Bila ada gempa sangat familiar diantara anak-anak.

Kalau ada gempa Lindungi Kepala
Kalau ada gempa sembunyi di kolong meja

Kalau ada gempa menjauh dari kaca

Kalau ada gempa lari ke tempat terbuka
. Δ






Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

21.7.10

Ancaman Gempa Barat Sumatera

Tertumbuk mataku pada sebuah majalah national geographic lama yang dulu saya beli di toko buku loak dengan anak saya Aza beberapa hari lalu.

Tema utamanya adalah Gempa: Melacak Gerak patahan Sumatra.

Ancaman gempa di Indonesia adalah sebuah hal yang pasti. Seperti pastinya sore akan menjelang.
Gempa yang menjadi momok saat ini di Indonesia adalah adanya prediksi (saya menggunakan kata ini karena saya tidak sepaham dengan kata ramalan) gempa kuat yang akan mengguncang pantai barat Sumatra, tepatnya di daerah mentawai dan mengancam jiwa masyarakat di pesisir barat sumatera barat.

Sampai-sampai disaat saya memilih bekerja di Padang untuk menjalankan program pengurangan Risiko bencana (Disaster Risk reduction) ada teman yang berkata: Ujang kamu ga takut dengan gempa yang akan terjadi? 8.4 SR loh. saya cuma bisa bilang: saya ini bekerja untuk PRB/DRR sudah selayaknya saya bekerja di daerah yang high risk.

National Geographic Edisi April 2006 mengungkapkan bahwa prediksi itu berlandaskan data ilmiah. Dalam majalah itu pada halaman 73, seorang ilmuwan, Kerry Sieh, mengatakan bahwa tekanan yang dapat menyebabkan gempa di mentawai atau sekitarnya masih tetap berlangsung. Dan bila gempa itu terjadi maka nyawa 200 ribu orang akan melayang. sebuah prediksi yang menyeramkan.

Apa dasarnya Sieh bisa mengatakan jumlah kisaran tersebut?
Angka itu menurut saya mungkin saja terjadi bila tidak ada upaya dari pemerintah, badan kemanusiaan/LSM dan partisipasi masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.

Untunglah Pemda Kota padang, c/q Badan Penanggulangan Bencana Daerah, telah memiliki kegiatan dan program yang nyata dalam pengurangan risiko.
BPBD dengan ketuanya Bapak Dedi Hanidal sudah banyak melaksanakan program baik mandiri maupun yang di dukung oleh badan kemanusiaan/lsm (Mercy Corps, GTZ, PMI, Kogami, dll), bahkan sudah membentuk kelompok-kelompok siaga bencana di kecamatan dan kelurahan.
Penyusunan peta evakuasi kota padang adalah gawean besar yang sedang dikerjakan dan hampir selesai. Sebuah pendekatan partisipatif dalam pembuatannya (saya menyebutnya Pemetaan Partisipatif) patut diacungi jempol.

Bukan hanya petanya yang disiapkan, namun juga lokasi-lokasi penampungan sementara disaat warning terhadap tsunami diaktifkan. Juga penguatan kapasitas BPBDnya.

Mari kita ikut dan berkontribusi dalam pengurangan risiko. Karena pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, walaupun memang tugas pemerintah melindungi segenap warga negara. Silahkan kawan-kawan datang ke badan-badan kemanusiaan yang ada, jadilah sukarelawan, atau anda bisa menghubungi BPBD.


Tulisan ini pernah dimuat disini

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

18.7.10

Masyarakat Batang Arau dan PRB

SELESAI VCA DENGAN menggunakan tools PRA dilakukan di Kelurahan Batang Arau, maka malam hari tanggal 24 Juni 2010 dilakukan pertemuan antara masyarakat dan perwakilan pemerintahan kelurahan (difasilitasi oleh Jemari Sakato) untuk membahas hasil temuan dalam VCA di kantor kelurahan Batang Arau (S00°57’57.1” E100°21’33.5”). Kelurahan ini terletak disekitar bawah jembatan Siti Nurbaya. Sekitar 30 orang terlihat menjadi peserta, terdiri dari perwakilan pemerintahan Kelurahan, LPM, RW dan masyarakat.

Staf Mercy Corps yang hadir adalah: saya, Janice Yaden, Wawan, Olla dan Anto. Pak Tasyrif tidak jadi bergabung karena harus merawat anaknya yang sedang sakit (semoga lekas sembuh), demikian pula Iwan dan Henky tidak jadi bergabung karena sesuatu dan lain hal. Umaryanto memang tidak dilibatkan dalam kegiatan sejenis.

Kelurahan ini memiliki topografi perbukitan dan dialiri sungai besar dan juga muara. Gunung Padang merupakan dataran tinggi yang bagi masyarakat merupakan benteng pertahanan bila tsunami menghantam, berdasarkan penuturan masyarakat tsunami pernah menghantam padang (1797, 1833, 2000, 2002, 2005) dan daerah itu aman dari hantaman tsunami berkat Gunung Padang menghalangi hantamannya.

Hazard lain, adalah tanah longsor yang menghantui masyarakat bila hujan tiba atau gempa terjadi dan juga banjir bagi masyarakat yang berada di bawah perbukitan. Disisi lain, menurut warga berdasarkan pengalaman, walaupun gempa pernah menghantam padang dengan kuat namun gunung tetap bertahan dan tidak longsor. Tetap saja masyarakat khawatir dengan gempa yang akan datang dan mengakibatkan longsor, ditambah penggundulan di daerah Bukit Gado-gado.

Situasi lain yang menghantui masyarakat adalah isu penggusuran oleh pemda, karena ada isu rencana daerah tersebut akan dijadikan tempat wisata. Apalagi ada cerita tentang Siti Nurbaya dan Datuk Maringgi ditambah jembatannyapun dinamakan Jembatan Siti Nurbaya (belum lagi mitos untuk mendapatkan jodoh diatas jembatan ini), akan menambah nilai jual daerah ini.

Isu sampah juga mengemuka disaat pertemuan ini, sehingga mereka juga mengusulkan/meminta Mercy Corps untuk memberikan mobil sampah atau motor sampah. Juga membangun tanggul agar terhindar dari banjir.

KELOMPOK SIAGA BENCANA bentukkan Kelurahan Batang Arau sudah berdiri dan siap untuk “dipoles lebih lanjut” agar makin meningkat keterampilannya. Direncanakan pada bulan Juli 2010 Mercy Corps bekerjasama dengan PMI Sumbar dan PMI Kota Padang akan mengadakan pelatihan untuk tim ini.

Keharmonisan antar etnik dan agama menjadikan daerah ini terasa “sejuk”, ikatan antar masyarakat sangat kuat dalam beberapa hal.

JEMARI SAKATO MERENCANAKAN akan melanjutkan hasil pertemuan ini untuk tingkat Pemda (28 Juni 2010), diharapkan pada saat presentasi nanti masyarakat akan menjadi presenter bukan hanya fasilitator dari Jemari Sakato. Karena berdasarkan pengalaman saya, ini akan memberikan nilai lebih dalam advokasi.

Pendekatan ini berhasil di Kab. Polewali di Sulawesi Barat, Kabupaten Banjar Martapura di Kalimantan Selatan, Kabupaten Wajo di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bogor dan Cianjur di Jawa Barat (difasilitasi oleh PMI). Δ

Keterangan:
1. Koordinat Kantor Mercy Corps Padang – S0°55’12.0” E100°22’12.4”
2. Koordinat Markas PMI Provinsi Sumatera Barat – S0°56’51.4” E100°22’31.5”
3. Koordinat Markas PMI Kota Padang S0°56’54.8” E100°21’56.3”.

Tulisan ini pernah dimuat Disini


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

14.5.10

Pengetahuan Lokal & Risiko Bencana

Memadukan Pengetahuan Lokal dan Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana dalam Budaya Minang

Gelegar bebunyian dari alat kesenian Minang, Tambua, mengiringi kegiatan gotong royong masyarakat Korong Manggopoh Dalam – Nagari Ulakan, Padang Pariaman – dalam pembuatan jalur evakuasi.

Tidak sampai disini prosesi budaya yang dijalankan, selanjutnya adalah sambutan-sambutan yang sarat dengan pantun. Pantun-pantun bermuatan pesan siaga bencana di sampaikan para tetua Korong dan juga Pak Camat. Kemudian dilanjutkan dengan pemotongan pita (pada titik S00°41’09.8” E100°10’54.2”) oleh Camat setempat sebagai tanda dimulainya gotong royong pembangunan jalur evakuasi yang panjangnya 1.145 meter. Jalur Evakuasi yang menghubungkan Manggopoh Dalam (Muhajirin) dan Binuang (Anshar) dalam kesehariannya dapat juga berperan sebagai penghubung kedua Korong dalam akses ekonomi, pendidikan dan juga silaturahim. Jalur evakuasi ini di fasilitasi oleh Mercy Corps dan mitra lokalnya Kogami.

Selesai pemotongan pita, kegiatan dilanjutkan dengan ritual mohon selamat. Pembacaan do’a-do’a dipanjatkan oleh “dukun”. Dalam ritual itu, jeruk lemon dijadikan salah satu media. Jeruk itu dipotong-potong, dilemparkan ke dalam air jernih kemudian dibacakan do’a dan diperas dan dicampur dengan dedaunan.

Penyembelihan ayampun dilakukan. Dalam budaya-budaya di Indonesia berdasarkan pengamatan saya, penyembelihan ayam adalah hal yang sering dilakukan dalam berbagai ritual budaya maupun keagamaan.

Selepas penyembelihan ayam, sang pemimpin ritual dibantu oleh seseorang berjalan sepanjang lintasan calon jalur evakuasi dan memercikan air yang tadi berisi perasan dan potongan jeruk serta dedaunan.


Pengetahuan Lokal/Kearifan Lokal Mendukung Upaya Pengurangan Risiko Bencana

Bagi sebagian masyarakat kota dan pakar manajemen bencana yang hanya berbasiskan tekhnologi modern menganggap pengetahuan lokal adalah sesuatu yang kuno dan tidak mungkin dijadikan upaya pengurangan risiko bencana.

Namun berdasarkan pengalaman, justru dengan memanfaatkan pengetahuan lokal/kearifan lokal akan meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana dan juga meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesiapsiagaan bencana.

Tujuan pemanfaatan pengetahuan lokal diantaranya adalah menghapus persepsi masyarakat bahwa bila melakukan upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan bencana berarti mengharapkan datangnya bencana, selain juga menyisipkan atau bahkan menghidupkan kembali budaya lisan atau tulisan yang mengandung upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana.

Menurut Koen Meyers dan Puteri Watson, 2008, Tindakan menyiapkan sesaji (ritual-ritual budaya ataupun keagamaan) berguna untuk menanamkan kesadaran kolektif tentang risiko gempa (bencana) dan membuatnya tetap hidup dalam kesadaran masyarakat.1)

Belajar dari budaya lisan masyarakat Simelue, Siberut (Keduanya di Indonesia), Moken (Thailand), dan masyarakat di Kepulauan Solomon, justru budaya local mereka mampu menyelamatkan kaumnya dan juga bahkan menyelamatkan para wisatawan (Kaum Moken). Di daerah-daerah tersebut korban jiwa kebanyakan adalah mereka yang berasal dari luar (pendatang). Cerita rakyat yang ada dalam bentuk syair, lagu, dongeng, do’a atau jampi-jampi menyelamatkan mereka. Inti dari pesan itu adalah tentang “tujuh gelombang” di Kaum Moken, dan juga gelombang laut atau “smong” di Simelue, bila air laut tiba-tiba surut tanpa adanya pengaruh cuaca dan iklim, maka mereka harus segera menghindari pantai dan menuju perbukitan.

Belum lagi pengetahuan lokal mereka yang terkait dengan bangunan tradisional yang tahan akan gempa dan juga posisi pintu mereka yang mampu menjadi alat pantau apa yang terjadi disekitarnya.

Budaya yang selalu dihidupkan dengan berbagai cara itu telah menyelamatkan banyak jiwa.

Program Pengurangan Risiko yang dilaksanakan Mercy Corps ini juga mengadopsi pengetahuan lokal yang religi, yaitu menggunakan pendekatan Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, yaitu merujuk pada sejarah Nabi Muhammad SAW disaat Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Kaum Muhajirin dalam program ini adalah masyarakat Manggopoh Dalam, sedangkan Kaum Anshar adalah Masyarakat Binuang. Masyarakt Manggopoh Dalam adalah masyarakat yang berada di daerah rawan bencana tsunami, sehingga bila ada ancaman tsunami maka mereka akan menuju Binuang, sebuah daerah aman dan masyarakatnyapun sudah siap menampung saudara-saudara mereka yang mengungsi.


Apasih Sebenarnya Pengetahuan Lokal Itu?

Berikut ini saya haturkan beberapa pendapat mengenai apa Pengetahuan Lokal itu.

Menurut Jennifer Baumwoll, 2008: Pengetahuan Lokal adalah cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat, yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secra turun temurun. Pengetahuan Lokal yang berasal dari dalam masyarakat sendiri disebarluaskan secara non-formal, dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan, dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi, serta tertanam di dalam cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup.

Menurut Rajib Shaw, 2008: Pengetahuan Lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu, dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu.

Sehingga, Pengetahuan itu sebenarnya mampu diaplikasikan atau diperkenalkan untuk diadopsi oleh masyarakat lain yang tentu saja harus ada beberapa penyesuaian dengan budaya lokal setempat dimana pengetahuan lokal itu akan diadopsikan. Dan ini akan banyak menemui tantangan.


Pustaka:
1) Kearifan lokal dalam Pengurangan Risiko bencana: Dongeng, Ritual, dan Arsitektur di kawasan Sabuk Gunung Api. 2008. BNPB.

Foto-foto milik Mercy Corps.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

7.2.10

PMI Kab. Tegal: Pelatihan Pemetaan Risiko

Tim Satgana Caban, merupakan ujung tombak PMI dalam membantu masyarakat yang tertimpa bencana sehingga harus memiliki kapasitas baik pengetahuan dan keterampilannya. PMI Cab. Kab. Tegal selama 2 hari (21 -22 Nopember 2009), menyelenggarakan Pelatihan Satgana bagi sukarelawan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal. Kegiatan diikuti oleh KSR Unit Markas, Unit Stikes dan Unit Kecamatan Bumijawa dengan jumlah peserta sebanyak 60 orang. Selain itu juga PMI melibatkan potensi masyarakat setempat sebagai peserta pelatihan.

Mahmudin, Kepala Markas PMI Cabang Kab Tegal mengatakan, ”Masyarakat setempat yang kita latih diharapkan nanti mempunyai keahlian atau kapasitas terutama dalam penanganan bencana, sehingga akan mengurangi risiko akibat bencana.” Peran aktif masyarakat sangat diperlukan agar dapat meminimalisir dampak bencana apabila terjadi dilingkungannya dengan kemampuan yang dimilikinya, terangnya.

PMI bersama fasilitator dari Kesbangpol & Linmas dan Polres Tegal memberikan Manajemen Bencana, mountainerring, kesiapsiagaan bencana, pertolongan pertama dan evakuasi, pemetaan, VCA dan PRA.

Peserta melaksanakan simulasi kasus penanganan korban tanah longsor dengan berperan sebagai tim penolong untuk menangani korban tanah longsor desa sudikampir Kecamatan Bumi-jawa. Korban diberikan pertolongan pertama kemudian dievakuasi ke mobil ambulans dan selanjutnya dibawa ke RS Lapangan yang berjarak 150 Km.

Pemetaan
Selain itu, PMI Kab. Tegal menyelenggarakan pula pelatihan Pemetaan dan Asesmen bagi anggota KSR di Desa Sudikampir Kecamatan Bumijawa. Menurut Inayah, Ketua Panitia Pelaksana, ”Mengoperasikan GPS memang mudah dipahami, namun yang tidak kalah penting peserta harus bisa memahami materi dan dapat menerapkan dilapangan.” Dalam pelatihan ini digunakan GPS yang memanfaatkan satelit. Namun demikian yang penting adalah peserta dapat memahami maksud dari Pemetaan Risiko Bencana, terangnya.

Materi Pemetaan meliputi materi Pemetaan Risiko Partisipatif, SIG (Sistem Informasi Geografis), Penggunaan GPS, Pemetaan Daerah Risiko Bencana, Analisis data HVCR dan pengolahan data serta praktek Tracking dan Marking. Sedangkan materi asesmen meliputi memahami bahaya, risiko dan kerentanan, pengenalan materi VCA dan PRA.

Tulisan ini bersumber dari Warta PMI Jawa Tengah edisi Desember 2009 yang ditulis oleh Sdr. Sunarto - Humas_pmikabtegal, dengan beberapa penyuntingan yang dianggap perlu, dengan tidak mengurangi esensi tulisan asli.

Untuk komentar Klik Disini atau tulis dikotak dibawah ini.

6.2.10

PMI Kab. Magelang: Pemetaan Risiko

Pemetaan dilaksanakan oleh Sibat, perangkat desa program dengan menggunakan GPS dan Software MapSource dalam teknis melaksanakan pemetaan risiko untuk mendapatkan informasi aktual berkaiatan dengan keberadaan perumahan, sumber kehidupan dan daerah yang rentan serta jalur evakuasi bahkan sampai batas wilayah atau batas administrasi kecil yaitu tingkat dusun atau desa.

Desa Kaliurang

Pelaksanaan pemetaan di desa Kaliurang dilaksanakan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 22 – 27 Juni 2009. Khoiruddin, Koordinator Lapangan Program Pertama mengatakan, ”disini keterlibatan masyarakat sangat besar, dimana dari pemetaan ini diketahui bahwa bahaya yang ada yaitu awan panas dan lahar dingin. Sementara daerah yang paling rawan/berisiko yaitu dusun Sumberejo dan Kaliurang Utara yang berada paling dekat dengan gunung merapi.”

Desa Kemiren
Pemetaan BKRK (Risiko) di desa Kemiren sebagai desa ke-2 pelaksana program Pertama, dilaksanakan pada 14 – 17 Juli 2009, diperoleh hasil bahwa bahaya yang ada yaitu awan panas dan lava pijar.

Sedangkan daerah yang berisiko tinggi yaitu dusun Jamburejo yang terdiri dari 110 KK yang merupakan dusun terdekat dengan G. Merapi di desa Kemiren dan berada disekitar jalur luncuran awan panas.

Dari peta yang dihasilkan dapat diketahui seberapa besar bahaya, kerentanan, risiko dan kapasitas yang ada sehingga dapat menjadi sumber informasi dalam penyusunan rencana aksi mitigasi (Risk Reduction Plan, RR Plan).

Tulisan ini bersumber dari Warta PMI Jawa Tengah edisi Desember 2009 yang ditulis oleh Sdr. Didin - Kab. Magelang, dengan beberapa penyuntingan yang dianggap perlu, dengan tidak mengurangi esensi tulisan asli.

Untuk komentar Klik Disini atau pada boks yang tersedia di bawah.

5.2.10

PMI Boyolali: Pemetaan Risiko

Kegiatan pemetaan risiko bencana ini diadakan oleh PMI Cabang Boyolali dalam Program Pengurangan Risiko Bencana Terpadu Berbasis Masyarakat (Pertama) yang dilaksanakan di 2 desa Program, yaitu Desa Cluntang Kecamatan Musuk yang dilaksanakan pada tgl 21 – 26 Agustus 2009 dan Desa Wonodoyo Kecamatan Cepogo, pada tgl 27 – 31 Agustus 2009, yang dilaksanakan oleh Tim Sibat (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) setempat.

Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama PMI dan Palang Merah Denmark. Kegiatan sebelumnya yang telah dilaksanakan oleh PMI Cab. Boyolali diantaranya adalah, mulai dari survey wilayah, pelatihan Sibat, dan pengkajian risiko secara partisipatif. Pemetaan risiko tang dilaksanakan secara partisipatif ini bertujuan mendapatkan data daerah mana saja yang rawan bencana dan kapasitas apa yang dimiliki masyarakat setempat.

Guna mendapatkan gambaran dan data yang benar sesuai kenyataan yang ada, sukarelawan PMI (KSR dan Sibat) dengan dibantu koordinator Lapangan Program Pertama harus turun ke lapangan, mereka harus naik dan turun tebing dan lembah curam. Sehingga diperlukan tenaga yang banyak dan prima ditambah waktu kegiatan yang diberikan singkat sekali, terkadang sukarelawan ini memetakan sampai larut malam bahkan ada yang bermalam dilapangan.

Namun demikian kegiatan ini tidak menjadi kendala bagi Sukarelawan yang melaksanakan karena mereka tahu tugas yang dikerjakan adalah tugas kemanusiaan yang bertujuan untuk mengurangi risiko bencana.

Tulisan ini bersumber dari Warta PMI Jawa Tengah edisi Desember 2009 yang ditulis oleh Sdr. Kardie - Boyolali, dengan beberapa penyuntingan yang dianggap perlu, dengan tidak mengurangi esensi tulisan asli.

Untuk komentar Klik Disini.

15.10.09

Solferino: Palang/Bulan Sabit Merah

Bila tidak terjadi pertempuran di Solferino, akankah organisasi Palang/Bulan Sabit Merah tidak ada di bumi kita? Wah belum tentulah, pasti kapanpun, perang dimanapun akan melahirkan organisasi penolong Sukarela. Kebetulan saja ada perang Solferino, dan ada orang berhati mulya dan terpandang (dialah Tuan Jean Henry Dunant), dan ada pembantaian terhadap manusia (juga terhadap personil medis), serta ada komitmen bersama dari berbagai negara untuk mengurangi dampak peperangan.

Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang terdiri dari tiga (3) Komponen:
1. Komite Internasional Palang Merah/International Committe of the Red Cross (ICRC)
2. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah/International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC)
3. Perhimpunan Nasional: Palang Merah, Bulan Sabit Merah, dan Kristal Merah

Dimanakah Desa Kecil yang bersejarah itu? Berdasarkan Wikipedia kota itu terletak di 45° 22′ 2″ N, 10° 33′ 59″ E atau 45.367222, 10.566389 untuk format WGS 84, dan untuk UTM 32T 622664 5024939. Silahkan Copy dan Paste Koordinat ini untuk dilihat di Google Earth atau masukkan dalam GPS anda, siapa tahu anda punya kesempatan bersafari ke Italia dan mampir ke desa kecil di Italia Utara (saya harap saya punya kesempatan berkunjung ke tempat ini)

Untuk Lokasi Monumen Palang Merah di Solferino terletak di 45°21'58.09"N 10°33'58.58"E (Sumber: Panoramio).

Silahkan meselancari koordinat-koordinat itu.
Komentar? Silahkan klik Disini

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader