Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label GPS Garmin eTrex Vista HCx. Show all posts
Showing posts with label GPS Garmin eTrex Vista HCx. Show all posts

23.10.11

Menset Radius Bahaya Letusan Gunung Api dengan GPS Garmin

Indonesia merupakan wilayah yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi, rangkaian ini disebut dengan cincin api atau the ring of fire. Dalam sebulan bisa beberapa gunung berapi di Indonesia aktif dan mengancam masyarakat yang ada di sekitarnya. Sebut saja misalnya disaat tulisan ini dibuat, gunung Marapi di Sumatera Barat sedang menunjukkan ancamannya.

Disaat sebuah gunung berapi mengancam terjadinya bencana, ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akan melansir jarak bahaya suatu daerah dengan pusatnya adalah kawah. Misalnya, 13 Km dari kawah adalah daerah berbahaya. Nah, para sukarelawan yang bertugas menyelamatkan jiwa para warga disekitar gunung itu harus tahu jarak ini, baik untuk keselamatan orang yang akan dibantunya, juga yang terpenting adalah keselamatan dirinya. Jangan sampai malah memasuki jarak bahaya sehingga keselamatan terancam. Bagaimana caranya? Kan sulit juga untuk mengukur jarak apakah dibawah 13 Km atau diatas 13 Km.

GPS dapat digunakan sebagai alat pemberi peringatan bila sukarelawan memasuki jarak kurang dari 13 Km ini. Saya contohkan adalah GPS Garmin keluarga Etrex dan Map.

Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Ketahui koordinat kawah yang dilansir oleh PVMBG athttp://www.blogger.com/img/blank.gifau sumber lain yang bisa dipercaya. Menurut GeoHack Koordinat Kawah Marapi adalah: 0° 22′ 51.6″ S, 100° 28′ 22.8″ E. Dalam studi kasus berikut yang bersumber dari sini, daerah yang harus di jauhi adalah 3 Km dari kawah. Untuk daftar koordinat gunung berapi di Indonesia bisa dilihat disini sebagai acuan.

2. Masukkan koordinat gunung Marapi tersebut dengan cara:
a. Klik Mark
b. Ganti nomor di field atas dengan nama Marapi Kawah
c. Ganti Location dengan koordinat Kawah Marapi 0° 22′ 51.6″ S, 100° 28′ 22.8″ E
d. Klik OK
e. Data telah tersimpan

3. Buka halaman Main Meu > Klik Proximity, kemudian:
a. Pilih field yang masih titik-titik > klik > tampil halaman Find > klik Waypoints
b. Temukan Marapi Kawah > Klik
c. Klik Use yang terletak di kanan bawah
d. Tampil halaman Proximity Waypoints > pindahkan kursor ke field Radius pada baris Marapi Kawah > Klik
e. Ketikkan jarak bahaya yang pada studi kasus ini adalah 3 Km, bila sudah > klik OK (akan sangat arif bila anda tidak memasukkan jarak pas 3 Km, lebihkanlah, karena kondisi dilapangan bisa berubah dengan cepat)
f. Maka data sudah tersimpan
g. Hasilnya adalah bila anda mengaktifkan GPS dan anda mencapai radius yang tadi kita ketikkan maka alarm GPS akan berbunyi untuk memberitahukan anda. Mohon diingat, suara alarm ini kecil sehingga anda kami harap terus memantau GPS yang anda bawa demi keselamatan.

4. Untuk memilih bunyi alarm pada fungsi ini, klik Proximity Alarm Tones di bagian bawah halaman Proximity Waypoints. Jangan lupa beri tanda centang pada Proximity Alarms yang berada di bagian bawah halaman Proximity Alarm Tones.

5. Bila anda telah berhasil, maka pada halaman Map akan tampil garis putus-putus yang melingkari titik/waypoint(s) yang anda beri fungsi proximity.

Demikian share dari saya, semoga bermanfaat, dan jangan lupa: Utamakan Keselamatan.

http://www.blogger.com/img/blank.gif


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

26.1.11

Kota Painan Sudah ada di Peta Navigasi.Net untuk GPS Garmin, Navitel dan Papago

Setelah menunggu lama, akhirnya peta kota Painan Pesisir Selatan sudah tampil di peta gps produksi anak bangsa navigasi.net.

Saya merasa senang karena saya pernah bekerja untuk daerah ini dan kesulitan disaat mau routing dari Padang dan juga disaat routing di kota Painan. Yah walaupun kotanya kecil kalau ada di gps kan enak tuh jadi lebih mudah saya menjelajahinya.

File peta itu bisa diunduh disini loh, silahkan. Gratis. Tapi sebaiknya sisihkanlah beberapa rupiah buat navigasi.net biar nantinya semakin lengkap peta Indonesianya dan semakin konek sama Garmin.

Bila mau tahu cara menggunakannya di gps Garmin anda silahkan buka link-link berikut ini:
1. perpustakaan maya
2. navigasi.net 1
3. navigasi.net 2


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

20.7.10

Pelatihan GPS di Mercy Corps

Pemanfaatan GPS di ranah LSM yang berkhidmat dalam pengurangan risiko dan pemberdayaan masyarakat dan juga dalam bidang penyelamatan sudah ramai digunakan. Hal ini karena manfaatnya yang besar, kemudahan dalam penggunaannya dan harga yang sesuai dengan manfaatnya.

Berangkat dari keinginan memberikan pelayanan yang efektif dan efisien sesuai dengan visi dan misinya, Mercy Corps Padang mengadakan pelatihan GPS dan meminta saya untuk membantu dalam memberikan materi di pelatihan itu. Hari yang saya pilih adalah hari Jum’at tanggal 9 Juli 2010.

Tantangan dari pelatihan ini adalah bervariasinya GPS yang tersedia di Kantor Mercy Corps Padang, untungnya merk GPS yang ada adalah Garmin. Tipe GPS Garmin yang kami gunakan dalam pelatihan ini adalah GPSMap76CSx, GPS Map60CSx, eTrex Vista HCx dan eTrex Vista Venture.

Memang pada dasarnya, staf Mercy Corps Padang sudah sering dan tahu memanfaatkan GPS, terutama fungsi Mark dan Track, sehingga dalam pelatihan ini selain merefresh pengetahuan juga memperkenalkan peta keluaran Navigasi.Net dan juga GeoSetter. Pemanfaatan peta Indonesia yang lengkap dari navigasi.Net memang sudah menjadi andalan saya sejak dahulu, sehingga dalam pelatihan ini-pun peta tersebut yang saya manfaatkan.

Pemanfaatan GeoSetter akan bermanfaat untuk pemasaran organisasi dan juga untuk monitoring dan evaluasi program/proyek. Untuk bagaimana memanfaatkan GeoSetter silahkan klik Disini.

Untuk melihat bagaimana mereka berlatih, silahkan lihat foto-foto berikut:


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

18.6.10

Sup Kaki & Peta Evakuasi

Seusai saya, Olla, & Ellen berdiskusi dengan Pak Dedy Kepala BPBD Kota Padang dan Willy Wicaksono (biasa dipanggil Wicak) untuk membahas kelanjutan pembuatan peta lipat jalur evakuasi di Kota Padang, kami tiba dikantor dan ditanya oleh Bu Endang apakah kami mau makan siang dengan Sup Kaki Khas Padang? Keruan saja saya jawab mau – maklumlah lapar dari pagi belum makan (?). Ini juga dengan pertimbangan sup kaki itu pasti biasa saja tidak ada yang lebih istimewa dibanding saya makan sup kaki sapi selama ini.

Di kantor yang menunggu sup itu adalah Panji, Sherly “Ai”, Bu Endang sendiri, Indra, Wahyu, Yeni dan Ellen, sedangkan Olla tidak mau makan lagi sudah kenyang katanya. Sedangkan Ellen memesan sup daging


Peta Lipat jalur Evakuasi Kota Padang
Sambil menunggu sup datang, akan saya ceritakan perkembangan kami membuat peta lipat.

Terinspirasi dengan perjalanan saya (beberapa) kali ke Bangkok, saat penumpang tiba di bandara bangkok maka ia akan disuguhkan berbagai jenis peta, baik itu peta wisata, belanja dan informasi lainnya. Sehingga mereka yang baru datang ke Bangkok akan dengan mudah menjelajahi Bangkok.

Juga terinspirasi dengan perjalanan ke Phuket (bukan karena semboyan good guy goes to heaven, bad guy goes to Phuket loh), sebuah kota yang sempat luluh lantak akibat tsunami 2004 yang juga melanda Aceh dan Sumatera Utara. Dan saat saya berkunjung di 2009 kehidupan pariwisata sudah pulih, apakah wisatawan sudah lupa dengan peristiwa itu? Dimana ratusan wisatawan meregang nyawa dihantam tsunami yang dahsyat. Ternyata wisatawan merasa aman berwisata disana, kenapa? Karena peta evakuasi mudah didapat, dalam bentuk lipatan sehingga bisa masuk ke dalam saku dan juga tanda-tanda jalur evakuasi, daerah berbahaya, daerah aman dan titik berkumpul mudah sekali kami ketemui, termasuk didaerah yang boleh dikatakan daerah merah (XXX) wisata.

Sempat saya bertanya ke beberapa wisatawan, dan jawabannya tidak jauh berbeda, mereka merasa aman karena tahu kemana mereka bisa menyelamatkan diri dimanapun mereka berada dan juga aparat keselamatan (polisi dan penyelamat) serta pihak swasta penyelenggara wisata sudah bahu membahu dalam manajemen bencana agar wisata mereka kembali pulih. Walaupun daerah itu termasuk rawan tsunami namun dengan kerjasama yang keras diantara semua pihak terlihat sektor wisata mendapat dukungan dan keuntungan sehingga wisatawan tidak takut untuk datang dan investor juga merasa aman dan nyaman berinvestasi disana, kenapa? Karena sudah ada rencana kontinjensi dan SOP yang jelas serta manajemen bencana yang jelas. Sebenarnya dalam UU No 24/2007 tentang Manajemen Bencana di Indonesia juga diungkapkan bahwa bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab dalam manajemen bencana, namun juga Badan kemanusiaan (ini sudah pasti), masyarakat, peneliti dan perguruan tinggi, serta pihak swasta. Kelima pihak ini di Indonesia sudah mulai bergeliat untuk bahu membahu dalam manajemen bencana, walaupun masih dijumpai beberapa kepala daerah tidak mau menjalankan amanat undang-undang dengan alasan “bila kita menyiapkan rencana kontinjensi bencana, SOP dan mendirikan BPBD serta menerbitkan Perda Penanggulangan Bencana maka investor dan wisatawan akan kabur”, bukankah ini pemikiran yang sangat terbalik?

Mercy Corps, di Propinsi Sumatera Barat menjalankan dua (2) program Pengurangan Risiko Bencana: 1) bertajuk P3DM (Public-Private Partnership Disaster Management) – nah dalam program inilah Mercy Corps membantu Pemda untuk menjalin kemitraan antara Masyarakat, Pemerintah dan sektor Swasta dalam Manajemen Bencana yang terintegrasi; dan 2) yang kedua (kebetulan saya Manajer Programnya) adalah Peningkatatan Kesadaran Masyarakat dan Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pengurangan Risiko, kegiatan ini menjalin kemitraan yang semakin kuat antara Masyarakat dan Pemda serta kampanye kesiapsiagaan, program ini bertajuk DRR ACGC.

Nah salah satu kegiatan yang program saya lakukan adalah membuat peta evakuasi yang nantinya akan disebarluaskan ke masyarakat Kota padang dan wisatawan lokal maupun mancanegara, peta ini haruslah peta yang mudah dibaca, difahami dan mudah dibawa. Dalam peta itu juga akan memuat pesan-pesan kesiapsiagaan.

Bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Kota Padang dan GTZ, Mercy Corps sudah memulai langkah-langkah yang diperlukan. Tim Mercy Corps dalam pembuatan peta ini adalah:
1. Ujang Dede Lasmana, DRR ACGC Program Manager
2. Ellen, Mahasiswa Canada yang sedang magang di Mercy Corps dan kebetulan ahli GIS
3. Wawan, Team Leader untuk Kampanye Peningkatan Kesadaran
4. Iwan, Pelaksana Proyek bidang Kampanye Peningkatan Kesadaran
5. Olla, Pelaksana Proyek wilayah Padang.

Mengikuti langkah BPBD dan GTZ, maka tanggal 23 & 24 Juni 2010 akan diadakan workshop pemetaan yang hasil akhirnya adalah akan dihasilkannya 2 jenis peta, yaitu 1 untuk masyarakat (peta A), dan 1 untuk pemerintah sebagai bahan penentuan RTRW (peta B). Hasil dari peta inilah yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan peta lipat evakuasi. Selanjutnya akan dilakukan Pemetaan Partisipatif untuk pembuatan peta tingkat Kelurahan.

Selanjutnya bagaimana nasib peta ini, akan dilanjutkan setelah workshop tanggal 23 & 24 Juni 2010, soalnya sup kakinya sudah datang nih.


Sup Kaki itu ternyata seperti makan kaki Chomper
Dahsyat!!!! Sup Kaki itu memang Duahsyat …
Kedatangan sup kaki membuat kepanikan kami, kepanikan yang disebabkan ukuran kaki yang besar, sup itu menyertakan tulang kaki sapi bukan hanya dagingnya. Besar-besar kaki sapinya, kuahnya melimpah. Tidak biasanya sup kaki seperti ini.

Segera saja kami masing-masing mencari wadah yang cukup untuk kuah dan kaki itu, ternyata tidak ada satupun mangkuk yang mampu menampungnya, akhirnya improvisasi berlaku. Segera saya ambil wadah plastik besar, dan panji menggunakan ceret air untuk tempat sup kakinya, yang lain menggunakan wadah yang cukup besar juga.

Sedotan (pipet) menemani makan kami, bukan untuk menyedot minuman, namun untuk menyedot sumsum kaki sapi, hmmmmmmm nikmatnya membuat lidah kami menari-nari.

Kenikmatan menyedot sumsum membuat kami semua merasakan hal yang sama dari rasa nikmat yang wuaaaaaaaaah indahnya.

Pak Wahyu sangat menikmati tulang yang dimilikinya. Ai dengan nikmatnya menarik daging dari tulang dan Panji dengan semangatnya menuang kuah sup dari ceretnya.

Akhirnya, tulang-tulang itu bersih putih dari segala yang menempel (daging, urat, sumsum).

Ternyata masih ada sesi lain setelah makan sup, Indra masih juga menyikat KFC yang dibawa oleh Dewi. Saya dan Panji juga nyobain sih, dan Yeni juga menikmati sup dari KFC. Wah wah hari itu “makan” day yah?

Puas sekali makan sup kaki yang seharga 18.000 ini, ditambah kedatangan jeruk sebagai penurun kolesterol.

Ayo datang ke Padang dan nikmati Sup Kaki


Tulisan ini sudah dimuat disini
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

13.6.10

Menjelajahi Sumatera Barat

Apalagi kegiatan Pejalan dengan GPS yang bisa dilakukan di saat libur panjang di padang, selain membelah Sumatera Barat dengan Garmin tercinta yang telah di install peta Indonesia lengkap dari Navigasi.Net.

Bersama dengan mitra kerja di Mercy Corps Padang, saya memanfaatkan waktu liburan panjang dengan menyusuri jalan-jalan menuju kota-kota dan daerah wisata terkenal di Sumatera Barat.

Kota Bukit Tinggi menjadi tujuan yang akan kami capai di hari pertama selain merasakan tajamnya kelokkan yang terkenal yaitu kelok 44.

Bersama saya, yang kemudian dibagi menjadi 2 tim, di mobil 1 ada Saya, Panji, Dewi, Wahyu, dan Allen (anak Canada yang sedang “magang” di Mercy Corps), sedangkan di mobil lainnya ada Nas “Koto”, Atta, dan Ridwan beserta keluarga (istri dan satu anak perempuan yang imut).

Setelah gagal merayu Umar “Brother” Yanto untuk ikut bersama kami, kami berangkat sebelum jam 10 pagi. Mampir terlebih dahulu di supermarket Adinegoro untuk membeli perbekalan air dan makanan yang berguna buat dijalan.

Sebelumnya saya menginstalasi terlebih dahulu bracket GPS Garmin Etrex Vista HCx di kaca depan sisi pandangan saya.

Panji mengendarai kendaraan kami dengan bertanggung jawab, membuat kami merasa aman dan nyaman. Ditambah pula GPS yang saya gunakan sejak awal perjalanan sangat bermanfaat, misalnya menemukan jalur tersingkat, dan juga memudahkan kawan kami menemukan pompa bensin terdekat untuk sekedar mengunjungi kamar kecil.

Kelokan 44
Kami tepat sekali mencapai masjid disisi danau Maninjau disaat Azan berkumandang. Shalatlah kami disini, dan kaum perempuan yang mendapat kemuliaan dari Allah (tidak perlu Shalat Jum’at seperti halnya Kaum laki-laki) berkesempatan untuk melihat-lihat danau Maninjau dan pedesaan disekitarnya. Berfoto dan mengambil foto Danau Maninjau dan aktivitas masyarakat setempat.

Selepas Shalat, perjalanan dilanjutkan dengan penuh semangat untuk menjelajahi Kelokan 44, setelah belok kiri tanjakan langsung menyapa kami dan tak lama kemudian diujung kelokkan terpampang tulisan Kelok 1. Dan … petualangan menjejak kelokan-kelokan tajam berjumlah 44 dimulai. Disetiap kelokkan terpampang tulisan kelok yang ke sekian, walaupun pemandangan penunjuk kelok ini menjadi tidak nyaman dipandang akibat tampilnya papan iklan calon-calon pemimpin di Sumatera barat, tapi kami memakluminya, kan sebentar lagi pilkada dan mereka harus dikenal pemilihnya.

Di kelok 32 kami mampir disebuah restoran yang memiliki pemandangan indah ke Danau Maninjau, sayang saat itu sedang berawan dan berkabut membuat kami tidak dapat menikmati hijaunya pegunungan dan jernihnya air danau. Walaupun begitu tetap saja kami berfoto dan memfoto pemandangan indah Danau Maninjau.

Menu makanan yang khas dan cita rasa yang memuaskan birahi lidah kami membuat kami menikmati setiap suapannya. Sambal cabai hijau membuat kami menjadi segar kembali, walaupun ada teman kami yang terganggu pencernaanya akibat cabai ini (maklum sebelumnya juga memang sudah terasa perutnya sudah mulai tidak beres sejak kemarin – ini pengakuannya loh). Ikan bakarnya enakloh dan juga favoritku – Gule Pakis.

Usai makan, perjalanan kami lanjutkan. Tidak banyak yang dapat ditulis dalam sisa perjalanan kecuali yang saya ingat adalah pemandangan hijau yang menyejukkan perut yang kenyang dan rasa kantuk menyerang maka tertidurlah saya. Tak tahu berapa lama saya tertidur yang pasti saya dibangunkan oleh kawan saya – Wahyu – yang tidak bisa tidur dengan mengatakan bahwa kami sudah sampai di Bukit Tinggi.

Bukit Tinggi … Kami datang
Sesampai di Bukit Tinggi di sore hari, acara pertama adalah mencari hotel, maklum kami belum membooking hotel dan yang pasti bila tidak cepat-cepat mencari hotel maka bisa jadi kami tidur di mobil. Padatnya lalu lintas dan variasi nomor polisi kendaraan yang ada membuktikan banyaknya orang luar Bukit Tinggi yang mengunjunginya diliburan panjang ini.

Setelah mencari-cari hotel karena selalu saja kalimat “penuh” yang ditemui oleh kami akhirnya, Alhamdulillah kami dapat hotel sederhana, namanya Hotel Asean.

Selepas check-in, kami melanjutkan berputar-putar di Kota Bukit tinggi dan tujuan utamanya adalah Ngarai Sihanok (jangan menduga kalau ngarai ini untuk mengenang raja Kamboja yah, karena memang tidak ada hubungannya) yang ada gua Jepangnya.

Ngarai Sihanok dan Gua Jepang
Begitu masuk area Ngarai Sihanok setelah membayar karcis Rp. 4000,- perorang, sibuk kami mencari-cari mana Gua Jepangnya, yang asli orang Minang ternyata juga bingung dimana Guanya.

Setelah diketemukan maka kami berfoto dimulut Gua. Begitu masuk ke dalam mulut gua dan baru beberapa tingkat maka ketidakpuasan langsung melanda saya. Gua Jepang sudah tidak alami lagi, dindingnya sudah ditutup oleh campuran semen dan pasir.

Anak tangga yang curam akan membuat mereka yang tidak pernah melatih fisiknya akan cepat lelah (nah loh turun saja bisa membuat lelah bagaiman naiknya?), kelelahan memang bisa membuat seseorang disorientasi dan bahkan sampai ngaco. Seorang anak yang memakai seragam SLTP terlihat lelah setelah menuruni mulut gua, begitu sampai diujung tangga tidak jauh dari sana ada cabang gua yang bertuliskan Amunisi, nah mungkin karena kelelahan membuat anak remaja tersebut salah membaca (sudah membaca dengan suara keras, mengumumkan ke orang lain, salah lagi), yang dia baca dan sampaikan ke teman-temannya adalah “lihat ternyata ini ruang imunisasi” dan gerrrrrrrr teman-temannya yang masih waras ditambah saya dan Panji langsung tertawa geli. Memangnya tentara Jepang masih dalam masa pertumbuhan?

Setelah saya tidak puas dengan kondisi yang tidak alami lagi, kami bergerak keluar gua, dan begitu sampai di mulut gua kami berlomba menaiki tangga dan juga menghitung berapa jumlah anak tangganya.

Umur tidak pernah bohong loh Kawan-kawan, kelelahan melanda kami yang old soldier ini. Saking otot ini tiba-tiba menjadi tegang, disaat sudah sampai ujung gua dan tidak ada lagi anak tangga maka kaki kita masih melangklah seakan-akan masih ada anak tangga. Ternyata lelahnya masih saya rasakan sampai hari senin, wuih tos kolotn ya Jang?

Kembali kami berfoto setelah sampai diluar gua, silahkan bandingkan wajah kami sebelum masuk dengan setelah keluar.

Berburu pernak-pernik outdoor second
Mendengar bahwa di bukit tinggi ada toko yang menjual barang-barang alam bebas bekas dan biasanya produksi luar negeri, membuat kami pada malam harinya langsung mengatur siasat bahwa pagi hari esok sebelum melanjutkan membelah Sumbar kami harus mengunjungi pasar Atas (Ateh) untuk membeli barang-barang yang mungkin langka.

Memang toko outdoor di Bukit Tinggi banyak dan mereka menjual merek-merek terkenal Indonesia, seperti eiger, dll. Saya mengunjungi 3 toko dari sekian banyak, karena lagi defisit keuangan maka saya tidak membeli satupun.

Kembali ke Pasar Ateh, disini kami menjumpai banyak tas-tas, pakaian dan sepatu alam bebas bermerk luar dengan harga yang bisa jadi murah bila anda mampu menawarnya. Menawar adalah kata kunci di pasar ini.

Kembali Membelah Jalanan Menuju Istana Besar Pagaruyung
Di Bukit Tinggi kami mendapat kawan baru (baru untuk dijalan, dikantor sih orang lama), Yeni dan Ai bergabung dengan kami.

Kembali kami mengaktifkan GPS, mencari dan mengklik tempat tujuan (Point of Interest), Istana Pagaruyung. Untung peta yang kami gunakan adalah peta navigasi.net yang lengkap (Navigasi.Net V 1.72), sehingga begitu tampil tujuan Istana Pagaruyung langsunglah saya klik dan GO! Menuju Pagaruyung.

GPS Garmin Etrex Vista HCx + Peta navigasi.net memandu kami dengan baik, menghemat waktu dan tujuan yang tepat.

Pemandangan indah selalu ada di depan mata kami. Sesampainya di Istana Pagaruyung kami lihat istana tersebut sedang dibangun ulang setelah terbakar. Bangunan nan megah 95% telah berdiri dengan kokoh sekokoh masyarakat Minang disaat mengalahkan pasukan Majapahit dalam adu kerbau.

Banyak pengunjung yang datang hari itu, anak-anak terlihat berfoto, bercerita tentang kerajaan Pagaruyung sebatas pengetahuan mereka namun serius, seakan-akan mereka adalah sejarahwan.

Terlihat kesibukan para pekerja yang terus serius memahat kayu untuk dinding istana. Garis-garis ukiran dan warna kuning, merah dan hitam yang mendominasi ukiran terlihat indah dan gagah, mengingatkan kegagahan pasukan Pagaruyung dan keindahan alam Sumatera Barat.

Puas di istana, selanjutnya adalah makan siang (akhirnya, sudah lapar perut ini sejak tadi). Setelah mencari kesana kemari restoran mana yang enak, akhirnya dengan bantuan Ai yang punya teman didaerah ini makanlah kami disebuah restoran yang sangat terkenal enaknya ayam goreng mereka. Ayam goreng yang kecil ayamnya namun garing dan nikmat rasanya.

Tak disangka tak diduga, hadir dua piring (wuih terbit liurku mengingatnya kembali) gulai jengkol, sejak saya ada di Padang kali ini baru sekaranglah saya mendapat menu ini kembali. Dan yang tak disangka dan diduga selanjutnya adalah, kawan kami yang berasal dari Canada (namanya Ellen), ternyata setelah mencicipi gule jengkol dia sangat suka dan sampai makan satu piring, wuih. Sontak kami saling melihat setelah tahu hal itu.

Danau Singkarak, dan Bantal kapuk …. Ayo Aktifkan GPS!
Selesai makan siang yang terlambat kami menuju Danau Singkarak. Selain ingin melihat keindahan danau juga ingin melihat persiapan dan lintasan yang akan digunakan dalam Tour de Singkarak 2010.

Segera saja saya mainkan jemari saya di GPS Garmin, PoI Danau Singkaraklah yang saya cari. Ketemu dan langsung klik Go To. Jalur yang di sarankan GPS dengan peta Navigasi.Net-pun aktif, pintasnya jalur dan juga cepatnya membuat kami dapat menghemat waktu. Panji (yang juga ahli GIS) yang sudah pernah menempuh jarak ini mengakui bahwa jalur yang disarankan GPS ternyata lebih singkat sehingga menghemat waktu dan bisa sampai Danau Atas dan Danau Bawah di saat matahari masih bersinar.

Sepanjang jalan, mobil kami penuh dengan tawa dan canda, hanya saja kasihan juga dengan Ellen yang terkadang candaan kita berbahasa Indonesia sehingga hanya kami yang Indo sajalah yang tertawa, maaf yah Ellen.

Jalur yang kami lewati serasa indah, karena jalur jalan berada di tepi Danau Singkarak. Hanya saja sekali lagi kabut menghalangi keindahan nan hijau pemandangan Danau Singkarak.

Sepanjang jalan terlihat banyaknya pedagang kasur, bantal dan kawannya yaitu guling. Saya belum begitu peduli dengan hal itu, namun disaat panji cerita tentang perjalanannya dengan kawan yang saat ini tidak ikut bersama kami tentang pengrajin bantal (dkk) dari kapuk yang ada di sekitar danau barulah saya lebih tertarik lagi mengenai banyaknya toko teman tidur itu. Memang terlihat banyaknya pohon kapuk disekitar danau.

Ingat kebutuhan saya dikamar, maka saya ambil keputusan untuk membeli bantal dan guling, apalagi dengan pertimbangan aroma bantal kapuk sangat harum dan seakan tidur di alam bebas. Setelah Dewi membantu tawar menawar maka saya membeli satu set. Selesai membayar, kami langsung tancap gas. Sebelumnya disaat saya tawar menawar beberapa kawan memuaskan nafsunya untuk berfoto dan memfoto di tepi danau.

Kembali kami bercengkrama, bercanda dan tidur yang selalu gagal karena saling mengganggu. Bang Wahyu, katanya mau tidur kok malah bangun sih saya tanya?

Tiba-tiba wahyu yang mungkin memendam kemarahan karena tidak bisa tidur tiba-tiba berteriak: “lihat! Henry Dunant mencalonkan diri menjadi Bupati” sontak kami melihat arah ujung telunjuknya mengarah kemana. Oow ternyata benar salah satu calon bupati bernama Henry Dunant. Wah PMI harus dukung tuh.

Danau Atas dan Danau Bawah
Hujan menyapa kami disaat berbelok di simpang menuju Danau Atas (Ateh) dan Danau bawah. Jalan yang berkelok dengan pemandangan perkebunan the membuat saya dan Panji teringat pada masa-masa dimana Puncak Jawa Barat masih sepi dan jalannya masih kecil (sekitar tahun 80-an). Teringat juga disaat saya, Bapak dan Mamah menuju Bandung disaat saya kecil, jalan yang berkelok, kebun dan kabut sedetik membuat saya teringat itu.

Di suatu tempat kami berhenti dan kembali memuaskan birahi memfoto, dan difoto. Nah dalam tim ini adaloh yang maunya difoto terus, siapa yah?

Pemandangan pegunungan, kebun teh dan kabut menjadi pendamping foto wajah kami.

Mengingat waktu yang semakin gelap maka langsung perjalanan kami teruskan menuju danau kembar.

Sesampainya kami di panorama, kami dapat melihat kedua danau, hanya tinggal menoleh ke kiri dan kanan maka kita bisa melihat kedua danau itu. Langsung saja jiwa kami langsung saling kontak dan sepakat akan dilanjutkan dengan kemping di minggu-minggu depan.

Sayang hanya sebentar kalmi melihat keindahan danau kembar, selanjutnya gelap menyapa, dingin bertamah.

Kesepakatan yang diambil disini adalah kita kemping dalam waktu dekat.

Ke Padang Kami Kembali dan Berniat Besok Bangun Siang
Sampai di Padang, maksudnya tempat kostku, sekitar jam setengah delapan.
Pasang sarung guling dan bantal, hmmmmmmmmm wangi kapux, besoknya bangun siang.

Kesimpulan Peta Navigasi.Net
Peta yang ditampilkan navigasi.Net banyak membantu, walaupun masih banyak daerah yang belum terpetakan namun jalan utama yang telah ada dipeta sangat membantu. Di daerah Padang pariaman ada jalan yang terputus karena ini adalah jalan tembus yang baru selesai dibangun.

Peta Kota Bukit Tinggi banyak membantu pencarian PoI dan lokasi-lokasi yang kami tuju.

Ada niat buat membuat track dan PoI yang nantinya dikirim ke Navigasi.Net untuk memperkaya peta Navigasi.Net.

Tulisan ini dimuat juga di www.petapartisipatif.wordpress.com

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

22.4.10

SIBAT PMI Bantul : Risk Mapping

Berhubung dusun kalangan sangat dekat dengan laut selatan [Resiko bencana Tsunami] dan daerah bantul selatan ini merupakan rawan bencana terutama Gempa bumi. Dengan adanya kerawanan seperrti itu. Dari desa Tirtohargo di bantu oleh tim PMI KSR untuk membantu dalam siaga bencana [SIBAT]. Di dalam pelatihan ini meliputi teori [ tiap minggu malam dan rabu malam di balai desa tirtohargo] maupun dengan praktek lapangan. Dengan melihat langsung kondisi di lapangan sehingga kalau terjadi bencana dapat di antisipasi sejak dini.

Tim Sibat dan Tim PMI KSR dengan Mapping [Pemetakan wilayah Tirtohargo termasuk di dusun kalangan]












Sumber: http://kalangan.wordpress.com/2009/06/12/sibat-siaga-bencana/

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

19.4.10

Membelah Jakarta Dengan HCx

Sudah satu bulan ini saya membelah jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya dengan GPS-ku tercinta.

Setelah saya mendapatkan bracket GPS Garmin eTrex Vista HCx yang tipe suction langsung saya cobakan pada sepeda motor saya. Saya tempelkan Bracket Suction yang sebenarnya untuk ditempel di kaca mobil di spedo meter motor saya. Saya coba dijalan yang tidak rata sehingga banyak getaran, dan hasilnya bracket tersebut cukup kuat menempel dan GPS saya masih nyaman nangkring di atasnya. Tapi tetap, untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu hal yang merugikan saya pasang pengaman dengan menggunakan strap HaPe/ID Card PMI. Walaupun tetap aja takut pada tangan jahil.

Nah sekarang dengan tempat tangkringan GPS di spedo meter, maka mudah memanfaatkan GPS untuk bernavigasi ria. Mencari lokasi sekarang bisa lebih nyaman. “Touring” sama anak sambil mengajari penggunaan GPS jadi makin asyik.

Sekedar info, karena spedo meter tertutup maka GPSnya saya setting menampilkan Speed, untuk mengetahui kecepatan motor saya saat membelah Jakarta.


Karena tipe GPS dan Bracketnya sedikit berbeda maka saya memanfaatkan Cliper GPS eTrex Vista HCx supaya GPS saya bisa nangkring. Soalnya bracket yang saya dapet itu aslinya buat GPS eTrex Vista yang jadul, jadi bodinya kan lebih ramping dibanding yang HCx. Untunglah Clipernya masih ada, kalau sudah tidak ada wuih nyari dimana yah, eh beli dimana yah?

Oh yah, dengan bracket itu saya juga sering memanfaatkannya bila sedang naik bus atau taksi, tinggal tempel di kaca mobil dan lihat peta sambil bernavigasi dan mengetes peta-peta GPS.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader