Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Disaster History. Show all posts
Showing posts with label Disaster History. Show all posts

25.8.13

SURVIVAL – Teknik Bertahan Hidup Disaat & Pasca Bencana : Peluncuran Buku

Disaat seseorang menghadapi bencana atau kedaruratan, secara reflex ia pasti akan mempertahankan hidupnya. Situasi bencana dan kedaruratan sangatlah berbeda, karena situasi saat itu adalah situasi yang sangat dinamis, mudah berubah, penuh ketidakpastian dan disekeliling kita banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan untuk tetap bertahan hidup, selain korban yang tewas dan terluka yang membuat hati terenyuh. (Tentulah kondisi ini sangat berbeda dengan survival di “alam terbuka” seperti yang dilakoni rekan-rekan pecinta alam)
Bagaimana kita menghadapi situasi seperti itu?
Untuk memenuhi ini, Ujang Dede Lasmana, menulis buku yang memberikan informasi, langkah apa yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup dan membantu sesama penyintas. Buku ini berbeda dengan buku panduan survival yang selama ini banyak beredar karena buku ini memberikan langkah sederhana, singkat dan sistematis mengenai bagaimana bertahan hidup dalam situasi bencana.
Buku ini berisikan:
1. Pendahuluan Dan Prinsip Dasar Survival
2. Modal Dasar Survival
3. Bahaya Dan Bencana
4. Pentingnya Tetap Beraktivitas Dan Bergerak Di Pasca Bencana
5. Bagaimana Menyelamatkan Diri Disaat:
a. Gempa
b. Terperangkap Di Bangunan Runtuh
c. Terjadinya Banjir Dan Kedaruratan Di Air
d. Tsunami
e. Gunung Meletus
f. Didalam Ruangan Yang Terbakar
6. Teknik Pertolongan Pertama Medis Dan Trauma
7. Teknik Mencari Dan Menolong Korban Di Dalam Bangunan
Buku ini penting dibaca oleh masyarakat Indonesia, karena Indonesia rawan bencana. Alas kepulauan Indonesia yang terdiri atas lempeng-lempeng yang sangat aktif sehingga memberikan ancaman gempa dan tsunami. Alas itupun dipaku oleh jejeran gunung berapi yang sangat aktif, baik di daratan maupun di lautan sehingga memberikan ancaman berupa letusan gunung api. Termasuk kondisi perkotaan yang sangat cepat perkembangannya, memberikan ancaman yang khas urban (bangunan tinggi yang runtuh, banjir yang melanda ruang bawah tanah, dan kebakaran mengancam kota-kota seperti ini). You named we have it, demikian teman saya menjawab pertanyaan kawannya terhadap pertanyaan “Indonesia memiliki ancaman bencana apa saja?
Sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT, buku ini diedarkan secara gratis melalui daring. Silahkan dipergunakan secara bijak dan bertanggungjawab.
Buku ini bisa diunduh Disini atau Copy link berikut dan Paste pada browser: http://www.mediafire.com/download/9mrgolbwav03o1d/survival_teknik_bertahan_hidup_disaat_dan_pasca_bencana4.pdf
Untuk melihat buku disini atau copy link berikut: http://www.mediafire.com/view/9mrgolbwav03o1d/survival_teknik_bertahan_hidup_disaat_dan_pasca_bencana4.pdf
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.



Share Me Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih. View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

28.6.13

Mau Survive di Daerah Bencana? Begini Caranya

Sengaja ataupun tidak, kita bisa jadi berada di dalam situasi bencana atau kedaruratan. Beradanya kita di suatu daerah yang sedang kena bencana baik karena kita tinggal di daerah itu, bekerja di daerah itu atau sering pula kita berada di sana disaat kita sedang berwisata. Bertahan hidup merupakan kewajiban setiap insan manusia, juga fitrah dasar manusia.
Bertahan hidup atau penyintas yang dalam bahasa inggris dan umum digunakan adalah survival merupakan terus bertahan hidup atau orang yang mampu bertahan hidup (Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi tahun 2008). Banyak hal yang membuat kita tidak mampu mempertahankan kehidupan di daerah yang sedang dilanda bencana, mulai dari mengalami luka sampai gangguan kejiwaan. Oleh karenanya kita harus mengetahui bagaimana tekhnik bertahan hidup disana, dimana situasi yang ada sangat tidak dinamis dan kacau.
Survival sangat ditekankan pada keterampilan pribadi dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi, bahkan ada teori yang menambahkan selain keterampilan pribadi adalah peralatan dasar untuk bertahan hidup.
Bagi para pekerja yang ditempatkan di daerah yang rawan bencana, namun bencana belum terjadi, haruslah memperhitungkan segala risiko yang ada sehingga bisa mereduksi risiko yang ada. Disini dibutuhkan keterampilan dan peralatan bertahan hidup baik individu maupun kolektif (kantor). Demikianpula bagi mereka yang tinggal di daerah rawan atau sering terjadi bencana, keterampilan dan peralatan bertahan hidup harus disiapkan di rumah tangga masing-masing, pun pada individu masing-masing. Sementara itu, bagi anda yang akan berwisata ke daerah yang memiliki kerawanan bencana atau kedaruratan, misalnya ke daerah gunung berapi atau daerah yang terpencil haruslah menyiapkan keterampilan dan peralatan sebelum pergi ke daerah tersebut. Pengetahuan pengenalan area bagi wisatawan sangatlah diperlukan. Kecakapan membaca peta dan lokasi adalah salah satu hal yang harus dimiliki oleh mereka yang ingin bertahan hidup.
Telah banyak buku teori survival di pasaran, namun umumnya buku-buku tersebut membahas bagaimana bertahan hidup di outdoor (gunung, rimba dan laut) akibat anda menjelajahi daerah atau kemping. Saya mencoba berbagi dalam tulisan ini teori bagaimana bertahan hidup di daerah bencana atau daerah yang sedang mengalami kedaruratan karena berbagai sebab.
PERSIAPAN BAGI PARA PEKERJA YANG DITUGASKAN DI DAERAH RAWAN BENCANA
Bagi Anda yang bekerja di daerah rawan bencana, kenali daerah tugas anda dari peta, sejarah kebencanaan dan topografi. Ini berguna untuk mengetahui ancaman yang pernah terjadi ataupun yang mungkin saja bisa terjadi.
Langkah berikut ini akan membantu anda dalam menyiapkan diri dan keterampilan bertahan hidup:
1. Identifikasi jenis-jenis ancaman bencana yang ada di daerah kerja Anda (misalnya Kota Jakarta : Banjir, Kota Padang: Gempa dan tsunami, dll.)
2. Siapkan mental dalam menghadapi segala jenis kedaruratan.
3. Pelajari tehnik bertahan hidup, anda bisa belajar dari anggota PMI, Pramuka, Pecinta Alam, Pekerja Kemanusiaan, dll.
4. Persiapkan peralatan dan perlengkapan survival.
5. Advokasi kantor Anda tentang pentingnya kesiapan survival bagi para pekerja, bila kantor Anda belum mempersiapkannya.
PERSIAPAN BAGI ANDA YANG TINGGAL DI DAERAH RAWAN BENCANA
Bagi Anda yang tinggal di daerah rawan bencana, persiapkanlah seluruh anggota keluarga Anda dan mereka yang tinggal di rumah Anda (kerabat keluarga, pekerja rumah tangga, pengasuh anak, dll) dengan keterampilan bertahan hidup dan peralatan atau perlengkapan survival. Menyediakan Tas Survival dan Tas P3K bagi keluarga banyak bermanfaat dan akan membantu upaya bertahan hidup Anda dan keluarga.
PERSIAPAN BAGI ANDA YANG AKAN BERWISATA ATAU BEPERGIAN KE DAERAH RAWAN BENCANA
Wisata atau perjalanan ditujukan untuk kita menikmati keindahan dan kebersamaan. Namun begitu, tidak sedikit kisah yang menceritakan mereka yang sedang wisata atau travel mengalami bencana (misalnya wisatawan di sekitar laut Andaman dan pesisir barat Aceh yang terpaksa menghadapi bencana gempa dan tsunami di tahun 2004, demikianpula disaat gempa menggoyang Yogya di tahun 2006). Bagaimana mempertahankan hidup diri dan keluarga menjadi tantangan bagi mereka.
Oleh karena itu prinsip “mengharapkan kesenangan dan bersiap dalam kondisi terburuk” haruslah diingat oleh kita yang akan berwisata atau travel.
PANDUAN UMUM BERTAHAN HIDUP
Persiapan mental
Mental yang kuat adalah kunci bertahan hidup, bagaimana caranya?
1. Asah terus semangat untuk tetap hidup, ingatlah mereka yang Anda cintai atau ingatlah pekerjaan yang belum Anda selesaikan J .
2. Kepercayaan diri dapat meningkatkan mental kita.
3. Gunakan akal sehat dalam melakukan tindakan atau berencana melakukan tindakan
4. Tetaplah bergerak, tetaplah bekerja, tetaplah melakukan aktivitas untuk menjaga mental positif Anda. Banyak yang bisa Anda lakukan: menolong sesama penyintas, mengkoordinir penyintas untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar (misalnya menyiapkan dapur bersama dan sumber pangannya), ataupun hal-hal kecil dan ringan yang dapat membuat Anda tidak terlalu memikirkan kondisi sulit yang Anda alami.
5. Tetaplah berhubungan dengan sesama penyintas dan carilah bantuan kepada orang lain atau organisasi penolong.

Pelajari Tekhnik Bertahan Hidup
Tekhnik sederhana bertahan hidup dapat menyelamatkan Anda, misalnya:
1. Pengetahuan ekologi dan biologi, dari pengetahuan ini Anda bisa menyambung hidup dengan memenuhi kebutuhan hidup dasar, yaitu pangan dan minum.
2. Pengetahuan Pertolongan Pertama (P3K), luka merupakan pintu masuk kefatalan. Luka yang tidak tertangani dengan benar akan menyebabkan infeksi dan kemudian dapat mengganggu mental positif Anda.
3. Pengetahuan dasar cara membuat tempat perlindungan yang aman dapat menjamin keseharian.
4. Mulai saat ini bacalah buku-buku atau film tentang pengalaman orang-orang yang pernah berhasil bertahan hidup dalam situasi sulit (Google dan Youtube banyak menyediakan informasi ini).
Persiapkan peralatan dan Perlengkapan Bertahan Hidup
Peralatan dan perlengkapan sederhana dapat menyelamatka Anda. Untuk kepentingan individu, peralatan berikut yang bisa anda masukan ke dalam saku Anda bisa membantu situasi sulit:
1. Peluit
2. Senter kecil
Kenapa peluit bisa menolong Anda? Karena peluit bisa memberitahukan penolong dimana posisi Anda berada atau bisa menyelamatkan orang lain dengan menarik perhatian mereka dengan cara meniupnya. Para penolong sering berpatokan pada suara-suara yang ditimbulkan para penyintas (misalnya pada penyintas akibat bangunan runtuh dan ia terperangkap di dalam reruntuhan bangunan) demikianpula pada cahaya atau sinar yang bergoyang atau dipancarkan sedemikian rupa. Jadi peluit dan senter kecil bisa membantu Anda. Oleh karena itu perlengkapi diri Anda dan keluarga dengan dua benda kecil ini di sakunya.
Ada pedoman bagi para penolong (rescuer) bila ia melihat cahaya senter yang diarahkan ke atas atau ke jendela atau lubang menandakan bahwa disana ada orang yang sedang membutuhkan bantuan.

Untuk daftar isi tas survival dan tas P3K, nda dipersilahkan melihatnya disini.
Tulisan lain senada juga bisa dilihat disini, disini, disini, disini dan disini.
Demikian tulisan singkat saya semoga bermanfaat bagi Anda.

Picture from http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2010/01/15/article-1243540-07DCFE9B000005DC-496_964x659.jpg 



Share Me Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih. View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com



18.10.12

HARI BHAKTI PMR SMAN 86 BINTARO JAKARTA SELATAN

Kliping Tragedi Bintaro
Hari itu, Senin 19 Oktober 1987, pagi. Siswa/i dan Guru di SMA N 86 Bintaro Jakarta Selatan sedang bersiap-siap melaksanakan upacara penaikan bendera Merah Putih, sebuah ritual yang rutin dilakukan di Senin pagi.

Terlihat Budi Hertanto sedang menyiapkan rekan-rekan PMR untuk menjaga bila ada teman mereka yang pingsan disaat upacara. Adik kelas mereka yang sangat aktif, Budi Santoso, Ika dan si cantik Emma turut membantu menyiapkan segala sesuatunya.


Bell sekolah sudah berbunyi dan para Siswa/i, Guru dan staff TU bersiap upacara. Suara kereta api seperti biasa berbunyi, maklum belakang SMA 86 melintas jalur kereta api dari Kota ke Merak. Namun ada yang tidak biasa setelah suara itu, yaitu suara menggelagar yang mengagetkan semua yang ada dilapangan. Kebingungan melanda, “ada apa?”. Tidak berapa lama, Betty (salah satu senior PMR SMA 86 seangkatan Budi) berteriak, “ada tabrakan kereta api”. Segera sontak, anggota PMR, Pecinta Alam (Genspal 86), Pramuka dan siswa lainnya bergerak menuju lokasi. Ada yang melompati pagar, dan juga gerbang sekolah.

Lokasi Tragedi Bintaro, Lokasinya dekat dengan SMA N 86 Bintaro
Dilokasi, pemandangan memilukan terlihat. Teriakan kesakitan, tangisan dan teriakan memanggil nama terdengar hiruk pikuk. Darah berceceran, mengalir di gerbong kereta, kepala kereta dan rel serta sekitarnya. Kereta api dengan kode 225 dari Sudimara bertabrakan dengan KA 220 dari Kebayoran Lama. 156 jiwa melayang dan lebih dari 300 orang terluka.

Segera saja, para siswa membantu para korban. Ditengah kebingungan mereka, mereka tetap konsentrasi membantu korban tabrakan kereta api dari stasiun Kebayoran lama dan dari Stasiun Sudimara (Jombang). Seragam putih mereka dengan cepat berubah warna, ceceran darah.

Selain Siswa/i SMA 86, terlihat pula Siswa/i dari SMAN 87 dan SMAN Kartika. Kelompok PMR, Pecinta Alam, Pramuka dan Siswa/i yang tidak tergabung dalam Ekskul tersebut, dari ketiga sekolah bahu membahu menolong sesama. Melupakan kisah mereka yang beberapa kali terlibat tawuran, saat ini mereka bersama atas nama kemanusiaan berkhidmat untuk menyelamatkan.

Memang tidak banyak yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwa para korban, namun semangat membantu mereka dengan tulus dan spontan, dapat dijadikan teladan bagi generasi penerus saat ini. Kebersamaan para anggota PMR ini dikemudian hari melahirkan sebuah “konsorsium” PMR Wira yang cukup disegani di Jakarta Selatan, konsorsium itu bernama “Latihan Gabungan PMR Kecamatan Kebayoran Lama” dengan binaan Syafaruddin Husein Daulay.

Kewiraan mereka membantu pada tragedi Bintaro ini sempat dimuat dalam majalah remaja Hai pada tahun yang sama. Dan, kewiraan merekalah yang membuat saya semakin bersemangat menjadi anggota PMR dan bangga mengenakan seragam PMR. Saya bangga pernah menjadi anggota PMR SMA N 86 Bintaro Jakarta Selatan.

Untuk mengenang kewiraan mereka, Kami anggota PMR SMAN 86 pernah sepakat menjadikan tanggal 19 Oktober sebagai Hari Bhakti PMR SMAN 86. Semoga kewiraan mereka (Siswa/i SMAN 86, 87 dan Kartika) terus menjadi contoh. Bahwa walaupun masih siswa mereka bisa berbuat sesuatu dan berbuat demi kedamaian.

 Share Me
 

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn 

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

3.8.12

Epidemiologi Kebakaran DKI Jakarta & SulSel

Kebakaran merupakan kejadian yang membuat orang menjadi sengsara, yang mengalaminya kehilangan segalanya, yang menyaksikan menyisakan trauma di hati dan jiwa.

Namun kebakaran kerap datang disaat kelengahan, ketidakpedulian dan pengabaian dijadikan kebiasaan. “Ah ini sih sudah biasa” sebuah kalimat yang biasa dan umum dalam pengabaian pencegahan kebakaran, disaat orang lain mengingatkan. Saya ingat saat saya mengingatkan salah seorang penumpang angkot yang masih dengan seenak hatinya merokok disaat angkot sedang mengisi bensin di salah satu pompa bensin di Ciputat, itulah jawaban dia yang dilanjutkan dengan komentar seakan-akan kalau mau aman naik taksi saja.

Hmmm, berdasar dari data yang dilansir oleh dua dinas pemadam kebakaran saja terungkap bahwa kelalaian, kelengahan dan ketidakpedilianlah yang menjadi penyebab kebakaran yang sering merenggut nyawa orang yang tidak berdosa.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta dan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar memaparkan bahwa kebakaran disebabkan oleh listrik disusul, “dapur” dan juga rokok.

Dijakarta, sejak Januari 2012 sampai Juli 2012 tercatat terjadi kebakaran sebanyak 530 kejadian dengan total kerugian tidak kurang dari 172.499.430.000,- 31 orang tewas dan 70 luka-luka. Sedangkan yang menyedihkan adalah data kejadian kebakaran di Makassar dan Luwu Timur yang merenggut 8 jiwa anak-anak yang bersaudara akibat terbakar di kamarnya. Mereka meregang nyawa akibat ditinggalkan orang tuanya dan dikunci ruangannya. Begitu pula kejadian serupa pernah terjadi di Jakarta, disaat anak ditinggal di rumah yang terkunci dari luar. Dengan alasan sudah sering meninggalkan anak yang terkunci dan tidak terjadi apa-apa membuat mereka para orang tua meneruskan praktek yang membahayakan itu. Biar bagaimanapun yang ditinggalkan adalah anak-anak.

Berikut ini adalah data kejadian kebakaran di kedua provinsi

DKI Jakarta:

Luasan area kebakaran adalah 265,812 m2.
3.144 KK ;
11.686 jiwa kehilangan tempat tinggal.

371 kejadian akibat listrik, kompor 57, rokok 16 kejadian, 86 kejadian akibat lain2 seperti membakar sampah, dll.



Dari segi kejadian:
• Siang hari 160 kejaidan
• Malam hari 150 kejadian
• Pagi hari 115 kejadian
• Dini hari 105 kejadian




Wilayah paling sering terjadi:
• Jaktim 133 kejadian
• Jakbar 116 kejadian
• Jakut 104
• Jaksel 98
• Jakpus 79



Sulawesi Selatan 2011 – 2012
Anak tewas terbakar
1. Rabu, 7 September 2011: Ruko Lt. 3, Jl. Sungai Pareman, Makassar. Tiga sekandung: Vinza (1,5), Raihan (2), dan Adnan (6) – hangus di kamar
2. Senin, 30 April 2012: Dusun tarengge, Wotu, Luwu Timur. Tiga sekandung hangus terbakar di rumah yang ditinggal orang tua.
3. Kamis, 2 Agustus 2012, dini hari: Ruko Lt.2, Jl. Bersih I, Capoa, Pannampu, Kec. Tallo, Makassar. Dua saudara Musdalifah (9) dan Raodah (7) tahun, hangus di kamar. Akibat obat nyamuk bakar di kamar korban.∆

Sumber:
Data dari dinas pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana DKI Jakarta, dikutip dari Jurnal Nasional, h. 8, Rabu 1 Agustus 2012. Serta Tribun Timur, h 1 & 7, Jum’at 3 Agustus 2012: Dinas Pemadam Kebakaran Makassar

 Share Me
 
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

26.4.12

Banten dan Tsunami

Gempabumi adalah suatu akibat terjadinya pembebasan atau pelepasan energi yang menumpuk dan terkungkung di dalam kerak bumi ke permukaan. Energi yang dibebaskan itu berubah menjadi gelombang getaran atau goncangan yang kemudian dirasakan oleh manusia dan direkam oleh alat pencatat gempabumi (Seismograf). Gempabumi mempunyai karakter khusus umumnya terjadi tanpa peringatan dan terjadi secara cepat dalam hitungan waktu menit dan detik. Peristiwa gempabumi biasanya terdiri atas 3 fase yakni gempabumi awal (fore shock), gempabumi utama (main shock) dan gempabumi susulan (after shock).

Gempabumi yang terjadi di laut dapat mengakibatkan gelombang laut. Gelombang terjadi akibat adanya suatu perubahan berupa patahan dengan gerak tegak (vertikal) di dasar laut akibat gempabumi, gelombang besar akibat gempa bumi disebut Tsunami.

Kalau kita berbicara tentang tsunami maka takkan terpisahkan dengan peristiwa gempa bumi, karena tsunami hamper pasti diawali dengan terjadinya gempa bumi yang lokasi kejadiannya di laut. Yang paling anyar tsunami yang terjadi di Jepang, 11 Maret 2011 yang lalu. Gempa terjadi dengan intensitas 8,9 SR, terletak 12,8 km di lepas pantai Fukusima atau kurang lebih 380 km dari Tokyo, pada kedalaman 10 km. Gempanya sendiri tidak terlalu merusak karena Jepang telah mempersiapkan segalanya tahan gempa, namun justru tsunaminya yang banyak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa karena terjadi dalam waktu yang singkat setelah gempa.

Di Indonesia, tsunami telah beberapa kali terjadi, diantaranya mulai dari Maumere, Aceh, Jogya, Pangandaran, dan yang terakhir terjadi di Mentawai, Sumatera Barat, gempa dengan intensitas 7,2 SR terjadi pada tanggal 25 Oktober 2010, terletak 78 km dari Mentawai. Gempa ini kemudian diikuti dengan tsunami setinggi 3 meter yang terjadi pada pukul 23.00 malam.

 Bagaimana dengan wilayah Banten, apakah termasuk daerah yang aman dari tsunami ?, ternyata tidak, dalam catatan sejarah tsunami besar pernah melanda Banten, terjadi ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus pada 24 Agustus tahun 1883. Akibat kejadian tersebut telah menewaskan lebih dari 40.000 orang yang sebagian besar diakibatkan oleh gelombang Tsunami bukan karena letusan gunungnya. Bagai mana dengan potensi tsunami yang diakibatkan aktivitas tektonik di wilayah Banten. Maka akan kita lihat posisi Banten dalam tatanan tektonik Indonesia.

Wilayah Indonesia secara geologi, mempunyai tatanan tektonik yang sangat kompleks, yaitu terletak diantara berbagai lempeng samudera dan lempeng benua yang aktif bergerak sepanjang waktu. Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempeng dunia yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Dengan terdapatnya pertemuan ke tiga lempeng tersebut maka di wilayah Indonesia terjadi tumbukan antara lempeng benua Eurasia dengan samudera Indo-Australia dan lempeng samudra pasifik. Ditempat terjadinya tumbukan itu terdapat zona tunjaman lempeng atau disebut juga zona subduksi dimana lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua Eurasia. Di sepanjang zona penunjaman tersebut pada lempeng benua terbentuk gugusan kepulauan gunung berapi atau sabuk gunung berapi (Magmatic belt) yang berderet di sepanjang Sumatera, Jawa bagian selatan menerus ke Nusa Tenggara, hingga Banda, Hamilton (1976) menyebutnya sebagai Sunda – Banda magmatic arc atau busur gunungapi Sunda - Banda. Jajaran pegunungan tersebut membentuk cincin pegunungan berapi yang mengelilingi wilayah Indonesia sehingga disebut sebagai "Ring of Fire". (Gambar 1)



Kondisi geologi diatas menyebabkan Indonesia, khususnya sepanjang Busur Sunda-Banda dimana Provinsi Banten merupakan bagian dari padanya, menjadi sangat rentan terhadap bencana alam berupa gempa bumi dan tsunami, termasuk letusan gunung api.

Di wilayah Banten zona tunjaman atau subduksi terdapat di sepanjang Banten bagian selatan di daerah Samudra Indonesia. Pergerakan lempeng pada zona subdaksi ini menurut data rata-rata 7,5 mm/tahun. Gempa bumi biasanya bersumber dari terjadinya pergeseran atau pelepasan energi pada zona subduksi ini seperti pada peristiwa gempa Aceh, Jogjakarta, Tasikmalaya, Nias dan Mentawai yang banyak memakan korban.

Kesimpulannya adalah bahwa Wilayah Banten berpotensi terpapar tsunami yang diakibatkan oleh adanya letusan gunungberapi yaitu gunung Krakatau atau diakibatkan adanya akibat aktivitas tektonik yang menyebabkan gempa bumi.

Daerah yang rawan terpapar oleh Tsunami akibat oleh letusan Gunung Krakatau adalah sebagian pantai Utara di Kabupaten Serang, sepanjang pantai Barat dari mulai daerah Bojonagara, hingga Anyer di Kota Cilegon dan Kabupaten Serang. Seluruh pantai barat dan utara Kabupaten Pandeglang. Perhatian secara kusus perlu diberikan untuk wilayah pantai barat Banten yaitu sepanjang pantai Cilegon hingga Anyer, karena sepanjang pantai itu terdapat lokasi industri kimia sehingga memerluakan penanganan secara khusus.
Di bawah ini adalah Peta Tsunami akibat letusan Krakatau Tahun 1883, menggambarkan daerah-daerah di Banten dan Lampung, yang terkena gelombang dan ketinggian gelombang tsunaminya yang menerpa.



Daerah yang rawan terpapar tsunami akibat adanya gempa bumi adalah sepanjang pantai selatan Banten karena di bagian selatan Banten ini terdapat zona subduksi sebagai tempat pertemuan lempeng samudra Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia sebagai sumber terjadinya gempa bumi. Daerah tersebut memanjang dari daerah Ujungkulon hingga perbatasan dengan Pelabuhanratu di Sukabumi. Penanganan tsunami didaerah ini tentu akan berbeda dengan di daerah pantai barat Banten karena di daerah ini tidak terdapat industri kimia, dimana umumnya daerah perkampungan di tepi pantai. Sehingga pemerintah perlu membuat skenario yang berbeda seperti ketika pemerintah Jepang menghadapi masalah pencemaran radioaktif PLTN setelah peristiwa gempa dan tsunami.

Pada intinya masyarakat perlu secara terus menerus mendapatkan penjelasan, sosialisasi pendidikan mengenai gempa dan tsunami baik kepada masyarakat langsung maupun kepada pelajar disekolah. Masyarakat perlu tau bila terjadi gempa akan secara otomatis melakukan tindakan penyelamatan bagi dirinya seperti berlindung dibawah meja, menjauhi dinding, jangan dekat kaca dan lindungi kepala. Kemudian juga diajarkan membaca gejala-gejala alam terutama di pantai bila setelah terjadi gempa, seperti bila setelah gempa pantai surut tiba-tiba maka akan terjadi tsunami sehingga harus mencari tempat yang tinggi untuk menghindari pantai. Untuk itu pemerintah juga perlu menyediakan sarana penunjang seperti tanda-tanda penunjuk arah untuk evakuasi termasuk jalan yang harus dilalui, menyediakan lokasi yang tinggi menjauhi pantai, alarem atau sirene dsb. Dalam jangka panjang pemerintah perlu juga mengatur tata ruang wilayah yang berbasis geologi, membangun infrastruktur wilayah pesisir yg berhubungan dengan antisipasi tsunami seperti penanaman bakau atau jalur hijau di pantai sebagai penahan gelombang, mensyaratkan bangunan tahan gempa dalam pengeluaran ijin-ijin bangunan baru.

Pada intinya bahwa bencana seperti gempabumi maupun tsunami belum dapat diramalkan hingga saat ini. Teknologi yang ada belum dapat meramalkan kapan terjadi bencana. Yang dapat dilakukan adalah bagaimana mampersiapkan bila sewaktu-waktu bencana terjadi sehingga dapat meminimalisir akibat yang terjadi.(oleh: Eko Palmadi)

Share Me

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

22.4.12

Bagaimana Kesiapan Jabodetabek Terhadap Potensi Gempa Diatas 6SR?

Berbagai ahli sudah bicara tentang potensi gempa di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) namun sudah sampai dimana kesiapan daerah tersebut?

Sudahkah masyarakat dan pemerintah menyadari ancaman tersebut?
Bagaimana gempa pernah memporakporandakan Jakarta dan sekitarnya?


Sejarah Gempa di Jakarta dan Sekitarnya
Dalam catatan sejarah, Jakarta (entah itu Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, DKI Jakarta atau yang lebih tua dari itu) pernah luluh lantak di guncang gempa berkekuatan besar. Peradaban pernah terganggu dengan masifnya di kota Si Pitung itu. Jumlah korban terhitung banyak pada masanya dan bencana ikutan menyertainya seperti kolera, tipus, kelaparan, dll.

Misalnya waktu itu tanggal 5 Januari 1699 Batavia mengalami guncangan yang hebat akibat rambatan gempa di Jawa Barat, saat itu Gunung Salak meletus. Gempa susulan terjadi sampai beberapa hari sesudahnya. Dimana sejumlah guncangan seperti yang tercatat dalam Makalah "Historical Evidence for Major Tsunamis in the Java Subduction Zone" dari Asia Research Institute, terjadi selama tiga perempat jam hingga satu jam. Tepian kali Ciliwung longsor, pepohonan tumbang di seantaro Jakarta, ribuan kubik lumpur ditumpahkan dan sampai di Jakarta, sungai Ciliwung tersumbat demikianpula kanal-kanal Oud Batavia (Jakarta lama). Sehingga banjir lumpur mengepung Jakarta yang baru saja di guncang gempa besar. Kondisi lingkungan tak sehat dan semakin parah (demikian tulisan Sir Thomas Stamford raffless dalam bukunya History of Java). Seakan Jakarta menerima 2 paket sekaligus, gempa dan banjir lumpur. Dampak lainnya: 28 orang tewas, 49 gedung batu yang kokoh hancur, hampir semua rumah mengalami kerusakan.

Walaupun gempa 1699 sering dikaitkan dengan letusan Salak namun beberapa ahli menduga pusat gempa berada di selatan Jakarta, berupa gempa seismik. Hingga saat ini penyebab pasti gempa ini masih menjadi misteri.

Sedangkan pada tahun 1757 Jakarta kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7SR di pantai utara Jakarta, berdasarkan catatan NGDC (National Geophysical Data center - United States Department of Commerce) gempa ini diiringi dengan tsunami dengan ketinggian 1 – 3 meter. Kerusakan banyak terjadi di sekitar pantai utara Jakarta bagian timur, dimana Cilincing yang terparah. Kemudian gempa kembali menghantam Jakarta yaitu pada 1780, korban jiwa juga masif pada waktu itu.

Kemudian 27 Agustus 1883 Jakarta kembali menerima dampak dari daerah lain, yaitu letusan Gunung Krakatau yang memicu tsunami setinggi 35 meter. Nyawa melayang di Pulau Jawa bagian barat dan Selatan Pulau Sumatra termasuk Jakarta tercatat 36 ribu jiwa melayang.

27 Februari 1903 juga terjadi gempa besar yang juga berefek sampai Jakarta. Gempa ini sering dikaitkan oleh para ahli adalah gempa yang mirip seperti yang terjadi pada tahun 1699 yaitu akibat letusan Gunung Salak. Jika terbukti berkorelasi maka ada potensi pengulangan dengan siklus 200-an yang mengancam Jakarta.

Nah di tahun 2000-an pun Jakarta masih sering terkena goncangan gempa. misalnya 9 Agustus 2007 terjadi gempa 7,5 SR di laut lepas pantai indramayu pada kedalaman 290 km, yang menggoyang Jakarta.

Kemudian pada Jum’at sore 16 Oktober 2009 pukul 16:52 WIB, USGS – National Earthquake Center menyebut kekuatannya sebesar 6,1SR dengan kedalaman 50,6 km di bawah pulau panaitan. Gempa ini membuat panik sebagian warga Jakarta.

Sebelumnya Agustus 2009 Jakarta juga merasakan gempa akibat gempa di kawasan Jawa Barat bagian selatan yang diguncang gempa 7SR. Dan yang paling anyar adalah gempa yang terjadi pada minggu pagi (15 April 2012), pukul 02:26:39 WIB dini hari. Gempa berkekuatan 6SR yang berlokasi di selatan Ujung Kulon ini membangunkan sebagian warga Jakarta dan sekitarnya. Walaupun tidak ada laporan kerusakan.

Gempa-gempa tersebut bukanlah sekedar deretan lini masa sejarah masa lalu, bagi para pakar gempa dan manajemen bencana ini adalah petunjuk bahwa bencana yang sama bisa berulang di Jakarta dan sekitarnya. Karena fakta membuktikan bahwa sejarah gempa selalu terulang dalam periode waktu tertentu. Sehingga kota Jakarta dan sekitarnya dengan lebih dari 15 juta jiwa haruslah selalu siap menghadapi skenario terburuk.


Bagaimana Gempa Mengancam Jakarta?

Indonesia adalah negara yang beralasakan pada tiga tikar dunia yang dikenal dengan lempeng, yaitu Lempeng Eurasia (dikenal pula dengan Lempeng Sunda), Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik, belum lagi ada bagian Indonesia yang bersentuhan dengan lempeng kecil, misalnya Lempeng Filipina. Pada masing-masing lempeng terdapat ratusan (mungkin ribuan) sesar yang aktif maupun dalam kondisi “tidur”. Masing-masing tepi lempeng bertumbukan dan ada yang bertipe subduksi, yang bila tumbukan atau terjadi pelepasan energi akibat tekanan pada lokasi pertemuan lempeng maka gempa bumi akan terjadi. Banyak Kota-kota Besar di Indonesia, Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang dan ratusan kota lainnya terletak pada daerah ini, daerah ini dikenal dengan nama sabuk api atau the ring of fires.

Pertemuan Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia disebut Sunda Megathrust, dimana Lempeng Indo-Australia menusuk ke bawah Lempeng Eurasia. Lempeng Indo-Australia membentang dari arah utara melewati Mentawai, Sumatera Barat, sampai ke Selat Sunda. Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda berasal dari sekitar Mentawai sampai ke arah Nusa Tenggara. Titik temu atau batas antara dua lempeng inilah yang bisa menciptakan gempa maha dahsyat. Bila terjadi hujaman dahsyat ke bawah lempeng Eurasia maka akan terjadi sesar naik dengan kekuatan yang luar biasa. Potensi guncangan ibarat bom waktu itu bisa menimbulkan guncangan sekitar 8,8 SR atau bahkan 9 SR. Secara keseluruhan, jalur Megathrust ini menjulur dari Myanmar, mengarah ke pantai barat Sumatera, lalu di Selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara.

Hamparan lempeng raksasa berkilo-kilometer baik di Lempeng Indo-Australia ataupun di Lempeng Eurasia itu memiliki segmen-segmen sendiri di masing-masing lokasi. Setiap segmen itu juga memiliki karakteristik dan perilaku khas masing-masing. Pergerakan di segmen-segmen itulah yang kemudian menciptakan gempa-gempa sedang di beberapa titik yang belakangan biasa disebut sesar geser atau pergerakan di internal lempeng.

Subagyo, ahli Gempa dari ITB menyatakan “Jangan pernah sekalipun memimpikan seberapa dahsyat guncangan tercipta bila Sunda Megathrust bergerak naik. Megathrust terakhir terjadi pada 2004 di Bumi Nangroe Aceh Darussalam. Tsunami menyapu bibir pantai hingga ke Banda Aceh. Gempa dan tsunami menyapu bersih bibir pantai 7 negara lainnya. Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Mundur lagi ke belakang, gempa dahsyat yang diakibatkan sesar naik di Sunda Megathrust juga pernah terjadi tahun 1960 yang mengakibatkan gelombang tsunami. Saat itu, gempa yang mengguncang Chili mencapai 9,5 skala richter. Itu merupakan gempa terkuat yang pernah tercatat. Sedikitnya akibat gempa itu 140 orang dilaporkan tewas di Jepang, 61 di Hawaii dan 32 di Filipina. Sekitar tahun 1800an diperkirakan pernah terjadi gempa dahsyat di Mentawai akibat sesar naik Sunda Megathrust.”

Berdasarkan Irwan meilano, seorang anggota tim revisi peta gempa Indonesia yang melalukan penelitian pada radius 500 km dari pusat kota Jakarta, mengungkapkan bahwa ada 12 sumber gempa yang mengelilingi Jakarta dan membuat Jakarta sangat rawan gempa besar.

Ke- 12 sumber itu adalah:

1. Sesar Semangko dengan prediksi kekuatan (magnitude) gempa maksimal 7,6 SR,
2. Sesar Sunda kekuatan maksimal 7,2 SR,
3. Sesar Cimandiri dengan 7,6 SR,
4. Sesar Baribis,
5. Sesar Lembang dengan kekuatan maksimal 6,5 SR.
6. Sesar Opak dengan kekuatan maksimal 6,4 SR,
7. Sesar Lasem kekuatan maksimal 6,5 SR,
8. Sesar Pati 6,8 SR,
9. Sesar Bumiayu,
10. Subduksi Sumatera yang berada dalam radius 210 Km dengan kekuatan maksimal 8,2 SR,
11. Subduksi Jawa dalam radius 172 Km dengan kekuatan maksimal 8,1 SR dan
12. Subduksi Dalam dengan radius 120 Km memiliki kekuatan maksimal 7,8 SR.


Selain kenyataan bahwa ada 12 sumber gempa, Jakarta juga mengalami peningkatan probabilitasnya terhadap gempa, demikian yang seperti yang dikatakan sang Ustadz Gempa Danny Hilman. Probabilitas gempa di Jakarta kini adalah 0,2 g (gravitasi) naik dari angka 0,15 g pada 2002.

Jakarta memang benar-benar ada dalam bayang-bayang gempa, apalagi dengan kenyataan yang ramai dibicarakan para ahli yaitu adanya sesar gempa di Jakarta, yang melintang dari wilayah Ciputat sampai Kota (sesar atau patahan ini disebut juga Sesar Ciputat). Memang pada penelitian di tahun 2006, sesar yang tergolong patahan tua itu dikatakan dalam kondisi tidak aktif/tidur. Tapi, dia bisa “terbangun” kembali. Misalnya, jika sesar itu dirangsang oleh gempa dengan kekuatan di atas 7 SR.

Bagaimana tanah Jakarta? Menurut Encyclopedia of World Geography, Jakarta dibangun diatas tanah yang tidak stabil, sehingga rambatan gempa jadi lebih hebat, demikian yang dikatakan Professor Masyhur Irsyam sang Ketua Tim 9 (Tim Revisi Peta Gempa Indonesia). Dan kawasan Jakarta Utara memiliki kondisi batuan dasar yang memungkinkan terjadinya percepatan rambatan. Bila kita melihat sejarah pada gempa 1699 dimana pusat gempanya bukan di Jakarta namun karena jenis batuan ini maka percepatan rambatan terjadi sehingga guncangannya lebih kuat daripada kekuatan gempa di sumbernya.

Kondisi tanah Jakarta ini sangat berpengaruh pada tingkat keparahannya, misalnya pada gempa 1757 kerusakan di Jakarta bagian utara adalah yang terparah dan Setiabudi di daerah Jakarta Selatan adalah daerah terparah kedua. Kenapa? Karena kedua daerah ini memiliki kondisi tanah yang berbeda.

Oleh karena itu, sejalan dengan Tim 9, identifikasi sumber gempa melalui data seismisitas baik historis maupun instrumental, pemetaan sesar aktif, dan pemantauan deformasi kerak merupakan aspek pentging untuk diperhitungkan.


Apakah Masyarakat Jakarta dan Sekitarnya Sudah Tahu Ancaman Gempa di Jakarta adalah Nyata?
Boleh dikatakan 95% masyarakat Jakarta dan sekitarnya tidak tahu, dengan begitu 5% masyarakatnya tahu. Namun tahukah anda siapa saja yang 5% itu? Mereka adalah Peneliti Gempa dan Bencana, Praktisi Penanggulangan Bencana, Aparat Pemerintah (inipun hanya segelintir dari mereka dan segelintir dari mereka yang bekerja terkait dengan bencana saja yang tahu), Presiden dan Wapres, Staf Ahli Presiden bidang bencana, Kepala BNPB, segelintir wartawan dan segelintir masyarakat yang kritis terhadap penanggulangan bencana dan keselamatan.

Jadi, masih banyak masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang belum tahu dan mereka wajib diberitahu karena UUD 1945 menyatakan bahwa negara menjamin segenap tumpah darah Indonesia, kemudian UU 24/207 tentang Penanggulangan Bencana yang salah satu pasalnya menyatakan bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi tentang potensi dan ancaman bencana. Bila sampai ada masyarakatnya yang tidak tahu karena pemerintah tidak memberitahu dengan cara yang tepat dan sistematis serta berkelanjutan, maka pemerintah sudah mengabaikan rakyat Indonesia yang seharusnya mereka lindungi dan yang menjalankan roda pemerintahan bisa dikenai sanksi sesuai UU 24/2007.

Sudahkah Pemerintah Kota Tangerang, Pemkot Bekasi dan Kabupaten Bekasi serta Kota Depok mendirikan BPBD? Namun, ada satu (lagi) yang masih mengganjal di DKI Jakarta. Kenapa masih ada dualisme dalam penanggulangan bencana yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DamkarPB). Prinsip dalam penanggulangan bencana adalah kesatuan rencana, kesatuan tindak dan kesatuan komando, namun apakah bisa dengan adanya dua SKPD ini terjadi? Belum lagi masih banyak SKPD lain yang menganggap BPBD adalah “anak baru” dan gak tahu apa-apa.


Bagaimana Mengurangi Risiko Bencana?
Pengurangan risiko bencana gempa dapat dilakukan melalui 7 upaya dan oleh siapa saja, berikut ini adalah contohnya:

1. Peraturan Daerah dan Institusionalisasi
a. Rencana Penanggulangan Bencana
b. Rencana Pengurangan Risiko Bencana

2. Pengetatan Standar Bangunan

3. Sistem Kedaruratan Terpadu
a. Incident Command System
b. Rencana Kontinjensi
c. Rencana Operasi
d. Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi

4. Sistem Peringatan Dini dan Sistem Evakuasi

5. Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
a. Pelatihan PB
b. Penyuluhan
c. Partisipasi

6. Perubahan Perilaku dan Budaya
a. Upaya Bersama Pengurangan Risiko Bencana Gempa
b. Keluarga Tangguh
c. Kelurahan/Desa Tangguh

7. Simulasi


Bahan dasar dari ke-tujuh pondasi diatas adalah:
1. Peta Kerawanan Gempa Indonesia tahun 2010 yang diikuti dengan pembuatan peta mikrozonasi oleh Pemda.

2. Peta kondisi lingkungan saat ini (perumahan, perkantoran, industri, kepadatan penduduk dan lifeline – jalur jalan, jalur air, jalur listrik, jalur gas, jembatan)

3. Asesmen Kerentanan dan kapasitas yang memasukkan aspek antropologi, sosiologi dan religi.


5 pilar penanggulangan PB harus bekerja sama dalam hal ini, yaitu: 1) Pemerintah, 2) Peneliti, 3) Lembaga Kemanusiaan, 4) Sektor Swasta/Private, dan 5) Masyarakat.


Kerjasama, Berbagi Peran Dan Saling Mengandalkan
Contoh dari apa yang harus dan bisa pemerintah lakukan adalah: misalnya dalam hal pengetatan standar bangunan, pemerintah memiliki kewajiban untuk membuatnya, menjalankan dan mengawasi penerapannya di lapangan. Menerapkan parameter Hazard atau Ancaman gempa sesuai tingkat bahayanya pada desain, konstruksi gedung, serta infrastruktur di wilayah Jakarta merupakan salah satu dari serangkaian upaya pengurangan risiko bencana gempa. Karena bencana gempa dapat terjadi karena kegagalan menerapkan parameter ini.

Peta gempa yang sudah dilansir oleh pemerintah pusat di tahun 2010 harus digunakan sebagai bahan pertimbangan utama dalam ketahanan bangunan. Hal ini dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Karena yang membunuh bukanlah gempanya, namun bangunannya. Untuk pemerintah DKI Jakarta, pembuatan peta mikrozonasi kerentanan gempa yang merupakan kelanjutan dari peta rawan gempa 2010 sudah saatnya dilaksanakan. Karena peta ini adalah modal dasar dalam pembuatan segala kebijakan. Rencana Penanggulangan PB yang sudah dilakukan oleh BPBD DKI harus bisa diimplementasikan oleh SKPD dan instansi terkait, demikianpula rencana pengurangan risiko bencana.

Hanya yang perlu khalayak atau masyarakat luas ketahui adalah bahwa apa yang dilakukan ini bukanlah untuk menghindarkan terjadinya gempa namun itu merupakan upaya untuk mengurangi dampak bila gempa terjadi. Dengan kata singkat: gempa tetap terjadi namun dampak dapat diminimalisir.

Kapan terjadinya gempa sampai saat ini belum dapat diprediksi begitupula kekuatannya dan daya rusaknya, namun lini masa dalam sejarah dan hasil penelitian para ahli gempa dan penanggulangan bencana dapatlah dijadikan sebuah upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan.

Promosi dan penyuluhan dengan berbasis anthropologi sangat diperlukan dan aksi nyata penyusunan rencana kontinjensi gempa, peningkatan pemahaman tentang gempa, peningkatan keterampilan penyelamatan diri serta pengurangan risiko bencana gempa dan simulasi-simulasi penyelamatan diri sudah harus dimulai.

Pembangunan sistem darurat terpadu harus dilaksanakan secara bersama-sama, bukan hanya pemerintah daerah. Karena berjalan atau tidaknya sistem ini akan berpulang pada kepemilikan sistem oleh para pelakunya. Bila sejak awal tidak ada keterlibatan pihak atau pemangku kepentingan lain maka pemda tidak akan bisa mengaktivasinya. Demikian pula sistem peringatan dini dan sistem evakuasi yang efektif.

Belajar dari kejadian gempa dan tsunami di Jepang Maret tahun lalu, banyak jiwa terselamatkan karena berjalannya ketiga sistem ini (sistem darurat terpadu, sistem peringatan dini dan sistem evakuasi) ditambah pengetahuan masyarakat yang segera mampu mengambil inisiatif mengungsi begitu terjadi gempa dengan ciri-ciri tertentu dapat mengakibatkan tsunami. Memang 20.000 jiwa harus melayang pada bencana tersebut, namun bisa diperhitungkan bila itu tidak terjadi di Jepang maka jumlah korban akan berlipat sepuluh kali.

Simulasi harus sering dilakukan. Hanya saja sudah menjadi karakter bangsa Indonesia yang meremehkan simulasi, padahal simulasi yang berulang dan diikuti dengan sungguh-sungguh akan menanamkan refleks terarah evakuasi disaat dibutuhkan. Semua ini harus dilakukan secara efektif dan efisien oleh kelima pilar penanggulangan bencana. Karena diantara mereka harus tumbuh sikap kerjasama (bukan sekedar sama-sama kerja), berbagi peran dan saling mengandalkan. Saling emngandalkan karena masing-masing pilar memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki pilar lainnya. Yuk kita siaga bencana. (Jakarta; 21 April 12)


Yang harus diingat: walaupun DKI dalam tulisan ini yang terancam gempa, namun gempa tidak memandang batas administrasi, jadi Jabodetabek haruslah siaga dan saling bersinergi.


Note: Tulisan ini berasal dari berbagai sumber. Diolah demi kepentingan penyadaran kesiapsiagaan bencana, bukan menantang bencana.

Sumber:
1. http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=812 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:47 siang.
2. http://teknologi.vivanews.com/news/read/305082-12-sumber-gempa-kepung-jakarta diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:35 WIB Pagi.
3. http://www.pgis-sigap.blogspot.com/2011/03/tahun-1757-pernah-ada-gempa-dan-tsunami.html diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:19 WIB siang
4. http://nasional.vivanews.com/news/read/305432-bengkulu-jabar-waspada-siklus-gempa-1875 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:45 WIB pagi
5. http://metro.vivanews.com/news/read/305630-misteri-penyebab-gempa-besar-jakarta-1699 diunduh pada 21 april 2012 pukul 10:47 WIB pagi
6. http://sorot.vivanews.com/news/read/166557-gempa-jakarta--siapkah-kita- diunduh 21 Apr. 12 pukul 10:31 WIB pagi
7. http://fokus.vivanews.com/news/read/304968-hujaman-di-sunda-megathrust diunduh pada 21 Apr. 12 pukul 10:30 WIB Pagi.
8. http://teknologi.vivanews.com/news/read/299206--kapal-hantu--tsunami-terlihat-di-kanada diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:00 siang

Share Me


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

17.4.12

Tanah Rawa, Jakarta Utara dan Barat Berpotensi Rasakan Gempa Lebih Besar

Kondisi tanah rupanya punya pengaruh besar bagi kekuatan goyangan gempa. Ahli dari ITB mengatakan tanah yang berjenis lunak bisa membuat getaran gempa terasa lebih kuat.

"Tanah lunak bisa memperbesar goyangan hingga 2-2,5 kali dari kekuatan gempa," jelas Ketua Pusat Mitigasi Bencana ITB Masyur Irsyam dalam diskusi bertajuk 'Mitigasi Gempa' di Gedung Krida Bhakti Setneg, Jl Veteran no 12, Jakarta Pusat, Selasa (17/4/2012).

Ada dua wilayah di Jakarta yang tanahnya tergolong lunak, yakni Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kedua wilayah itu memang dekat dengan pantai dan rawa-rawa.

"Tanah lunak itu biasanya bisa berupa rawa. Kalau dipasang tiang pancang dia akan langsung jatuh. Tapi pada umumnya di dekat pantai," jelas Masyur.

Namun meskipun lunak, bukan berarti kedua wilayah ini tidak bisa berdiri bangunan bertingkat. Hanya saja spesifikasinya harus khusus.

"Bisa tetap dibangun bangunan tapi memang harus khusus, beda daripada kalau dibangun di tanah sedang atau tanah keras," katanya.

Sedangkan untuk wilayah lainnya seperti Jakarta Pusat, Timur, dan selatan tanahnya tergolong sedang. Makin jauh dari pesisir maka tanahnya semakin keras.(gah/nrl)

Sumber: detik

Share Me

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

14.4.12

Apakah gempa 2012 ini terpicu atau akan memicu ?

Interaksi stress dan gempa. Gempa terlihat merembet.

Ketika mengeplot gempa di sekitar Sebelah Barat Aceh ini serta mengeplot NER (Ninety East Ridge) dan IFZ (Investigatir Fracture Zone), kita dapat melihat kira-kira hubungan antara satu gempa dengan gempa lain. Kalau yang sebelumnya kita melihat bagaimana gempa merambat sepanjang zona subduksi di barat/selatan Sumatera, lihat gambar disebelah ini.

“Wah kalau di plot satu-satu memang bisa terlihat “perjalanan gempa”-nya, ya Pakdhe”

Kini, dengan mencoba menggambar dan memplot gempa, data-data tektonik serta informasi kegempaan lainnya, kita dapat merlihat bagaimana kira-kira hubungan antara sesar ini dengan pergerakan lempeng Samodera Hindia.

Yang (saya) masih belum dimengerti apakah gempa di Samodera Hindia ini terpicu oleh gempa sumatera yang berturut-turut ataukah justru gempa ini kan memicu gempa Sumatera. Kemungkinan besar memang akan “saling menyahut”. Kalau begitu memang kita tetap harus waspada akan potensi-potensi gempa di sebelah selatan Padang-Benhttp://www.blogger.com/img/blank.gifgkulu yang sudah diidentifikasi sebelumnya.

Gambar dibawah ini memperlihatkan bagaimana gempa yang berada disekitar NER ini berjalan seperti kaki yang berjalan kiri - kanan – kiri - kanan.

“Wah berarti gempa besar di Aceh tahun 2004 itu peluit perintah majuuu jalan ! “

Sepanjang NER memang berupa sebuah pembatas antara bagian kerak Samodera Hindia di sebelah barat dan timur. NER ini bia dilihat di dalam tulisan sebelumnya disini Jejak perjalanan tektonik : Plate India



Gambar yang sebelah kiri memperlihatkan bagaimana dua potong lempengan yang akan bergerak kiri-kanan-kiri-kanan bergantian. Dan tentusaja ketika sedang bergerak akan menimbulkan gempa.

Selama ini sangat jarang dijumpai gempa di sepanjang NER, sehingga banyak yang menganggap daerah ini daerah aseismic, atau daerah batas yang tidak (sedikit sekali) menunjukkan gejala kegempaan. Namun kita tahu bahwa dua gempa besar kemarin mungkin pertanda bahwa daerah inipun tidak boleh terlewatkan. Ternyata di daerah-daerah deket dengan ujungnya yang berdekatan dengan zona subduksipun bisa tertahan dan menjadi daerah yang berpotensi gempa besar juga.

Gambar diatas menunjukkan adanya pemekaran kerak samodera (MOR – Mid Oceanic Ridge) disebelah selatan Samodera Hindia yang terus menerus menekan dan membawa kerak ini hingga menunjam kebawah di zona subduksi. Masing-masing potongan lempeng ini bisa memiliki kecepatan yang tidak sama, sehingga masing-masing potongannya saling bergesekan. Selama ini tidak terekam geseran yang menyebabkan gempa besar, sehingga disebut aseismic boundary (batas yg tidak menyebabkan gempa) seperti yang terlihat disebelah ini.

Coba tengok, dimana lokasi NER dan lihat sepinya gempa di daerah ini.







Hindari pantai bila merasakan getaran gempa.
Kenali gejalanya




Pengetahuan ini perlu dimengerti juga dalam prosedur mitigasi menghindari bahaya tsunami seperti yang sudah ditulis disini tentang bagaimana menghindari tsunami. Walaupun tidak menimbulkan tsunami yang sangat besar, goyangan gempa ini mampu merusak bangunan. Juga perlu diperhatikan bahwa ketika berada dipantai kita merasakan gempa, kita tidak tahu dari mana gempa itu berasal. Maka prosedur menghindari pinggir pantai bila terjadi gempa masih valid.
Kalau memang gempa-gempa ini saling berinteraksi, tentusaja gampar paling atas yang memperlihatkan adanya regangan atau stress cukup besar di sebelah selatan Sumatera masih perlu diwaspadai. Mungkin juga perlu diperbaharui apabila gempa-gempa ini telah merupah tatanan regangan yang ada.
“Yang penting tetap waspada kan Pakdhe ?” Posted on 12 April 2012 by Rovicky



Share Mehttp://www.blogger.com/img/blank.gif

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.http://www.blogger.com/img/blank.gif

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

16.1.12

Logo Segitiga Biru Diatas Dasar Jingga: Logo BNPB

Kenapa yah, logo penanggulangan bencana di hampir tiap negara menggunakan atau menyertakan logo segitiga biru dengan latar belakang jingga? Kalau kita minta bantuan Mbah Google untuk mencari logo-logo lembaga atau badan penanggulangan bencana maka kita akan menemukan banyak negara yang menyertakan atau menggunakan logo tersebut.

Ternyata lambang itu punya nilai yang tinggi loh, bahkan sederajat dengan lambang Palang Merah/Bulan sabit Merah. Selama ini yang banyak diketahui orang adalah hanya lambang Palang Merah/Bulan Sabit Merah saja yang merupakan lambang perlindungan, dimana orang yang menggunakan lambang itu, gedung yang menggunakan lambang itu, termasuk kendaraannya akan mendapat perlindungan disaat konflik bersenjata (perang) dan tidak boleh dijadikan obyek serangan militer.
Organisasi yang menggunakan lambang segitiga biru dengan dasar jingga juga mendapat perlindungan, dan itu ada aturannya yang berlaku internasional dan pengaturannya ada dalam dokumen yang sama dengan perlindungan terhadap lambang Palang Merah/Bulan sabit Merah, yaitu Konvensi Jenewa 1949 – yang dikuatkan dalam Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1949 mengenai Konflik Internasional (untuk lebih jelas silahkan lihat disini dan disini).
Siapakah organisasi atau lembaga yang boleh menggunakan lambang itu? Organisasi atau lembaga yang boleh menggunakannya adalah mereka yang menjalankan fungsi perlindungan masyarakat. Berangkat dari sinilah organisasi penanggulangan bencana mengadopsi lambang segitiga biru dengan latar belakang jingga, baik secara sadar maupun ikut-ikutan karena melihat sebagian besar di dunia organisasi penanggulangan bencana menggunakan logo ini.

Apapun yang terjadi, baik sadar maupun ikut-ikutan, lembaga yang menggunakannya haruslah mengetahui nilainya dan juga aturannya. Bagi yang ikut-ikutan harus membuka mata dan menyadari bahwa logo itu bukanlah sekedar segitiga namun ada aturannya.

Nah, di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang merupakan pemegang mandat penanggulangan bencana mengadopsi logo ini, pertanyaannya sudah tahukah lembaga itu dan juga mereka yang bekerja di badan tersebut dari tingkat nasional (BNPB) sampai tingkat Kabupaten/Kota (BPBD/Badan Penanggulangan Bencana Daerah), serta juga masyarakat dan lembaga mitra lainnya mengenai logo ini?. Semoga mereka memahaminya. Memang secara pragmatis tahu atau tidak arti ini tidak akan mempengaruhi kinerja BNPB dan BPBD saat ini, karena yang utama adalah bagaimana mengelola risiko bencana dengan baik sehingga kerugian dan korban jiwa bisa direduksi bila bencana masih belum bisa dihilangkan.
Namun arti lambang ini akan memiliki nilai lebih disaat negara dalam situasi konflik bersenjata, dan para Pihak yang bertikai harus mengetahui ini dan memberikan perlindungan kepada organisasi ini dalam menjalankan fungsinya melindungi masyarakat.
Jadi bukan hanya lambang Palang Merah dan Bulan sabit Merah yang mendapat perlindungan, logo perlindungan masyarakat yang diwakili segitiga ini juga merupakan lambang perlindungan.


Berikut ini beberapa contoh penggunaan lambang segitiga biru diatas dasar jingga:
1. National Directorate General for Disaster Management of Hungary






2. The Western regional branch of the National Disaster Management Organisation (NADMO)Ghana.











Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

8.1.12

7 Gunung Berapi Di Indonesia Dalam Status Siaga

7 gunung berapi dari 127 gunung berapi di Indonesia saat ini dalam kondisi status Siaga (Level III) oleh PVMBG. Situs resmi BNPB telah melansir informasi ini dan saat ini sedang disusun rencana kontinjensinya dipimpin oleh BNPB/BPBD setempat. Ketujuh gunung itu adalah Gunung Papandayan (Jawa Barat), Karangetang dan Lokon (Sulawesi Utara), Ijen (Jawa Timur), Gamalama (Maluku Utara), Krakatau (Banten dan Lampung), dan Lewotolo (NTT).

Ketujuh gunung ini berada pada kepulauan sunda besar dan kepulauan sunda kecil.

Berikut ini adalah daftar gunung-gunung tersebut, termasuk di dalamnya adalah karakteristiknya dan juga koordinat puncaknya:

1. G. Papandayan – Garut, Jawa Barat. Koordinat 7.32°S 107.73°E dengan ketinggian 2,665 meter dpl. Tipe letusan eksplosif, magmatik. Bahaya primer dari gunung ini adalah awan panas, aliran lava, hujan abu. Sedangkan bahaya sekundernya adalah lahar dingin. KRB III radius 5 km. Luas daerah bahaya 92,9 km2. Saat ini tidak ada pengungsi.
2. G. Anak Krakatau – Selat Sunda, Jawa Barat dan Lampung. Gunung ini terletak di 6.102°S 105.423°E selat sunda dan memiliki ketinggian 813 meter dpl. Gunung ini memiliki tipe letusan magmatik dengan lava basaltik dengan SiO2 rendah. Bahaya primer dari gunung Anak Krakatau adalah aliran lava, eflata dan hujan abu. Daerah yang terdampak hanya sekitar pulaunya saja dengan KRB radius 3 km yang tidak ada penduduk. Masih dalam fasa membangun sehingga sering meletus tetapi tidak dahsyat. Letusan dahsyat akan terjadi sesudah 3-16 abad setelah letusan 1883.
3. G. Ijen – Jawa Timur. Memiliki ketinggian 2,799 meter dpl dan puncaknya pada koordinat 8.058°S 114.242°E. Tipe lutusan gunung ini adalah freatik dengan bahaya primer air asam pH <1 dan gas beracun dari danau kawah yang mengalir ke kali Banyupahit hingga muara sungai, lahar letusan, abu vulkanik dan awan panas. Bahaya sekunder berupa perluasan awan panas dan lahar hujan. KRB atau kawasan rawan bahaya gunung ini adalah 1,5 km. Penduduk terancam 9.000 orang.
4. G. Gamalama – Maluku Utara. Gunung ini terletak 0.80°N 127.33°E dengan ketinggian 1,715 meter dpl. Tipe letusan eksplosif dengan bahaya primer berupa aliran lava, awan panas, lontaran batu pijar dan hujan abu, sedangkan bahaya sekunder berupa lahar dingin. KRB III = 2,5 km. Saat ini pengungsi akibat lahar dingin sebanyak 3.638 jiwa atau 896 KK.
5. G. Lewotolo – NTT. Gunung dengan ketinggian 1,423 meter ini memiliki tipe letusan eksplosif dengan bahaya primer berupa bom gunung api, awan panas dan aflata, sedangkan bahaya sekunder berupa lahar dingin. Puncak gunung ini terletak pada koordinat 8.272°S 123.505°E. Uniknya, daerah bahaya gunung Lewotolo berbentuk lingkaran dengan jari-jari 5 km. Penduduk yang terancam 16.000 jiwa. Saat tulisan ini di lansir 500 jiwa mengungsi. Sejak tahun 1660 hingga saat ini belum pernah terjadi letusan hebat yang menyebabkan jatuhnya korban manusia.
6. G. Lokon terletak di provinsi Sulawesi Utara dengan puncaknya pada 1.358°N 124.792°E. gunung dengan tipe letusan eflata (bom dan lava) ini memiliki bahaya primer berupa aliran lava dan awan panas serta bahaya sekunder lahar dingin. KRB III = 3,5 km. Penduduk terancam sebanyak 12.000. pengungsian belum ada.
7. Gunung yang dalam status siaga di provinsi Sulawesi Utara lainnya adalah gunung Karangetang yang berketinggian 1,784 meter dan berlokasi pada 2.78°N 125.40°E. tipe letusan gunung api ini adalah eksplosif dengan bahaya primer aliran lava, awan panas dan semburan bom pijar, sedangkan bahaya sekunder berupa lahar dingin. KRB gunung saat ini adalah 5 km. Saat ini belum tercatat ada pengungsi.

Kesiapsiagaan memang diperlukan di Indonesia yang kaya akan hazard yang berpotensi menjadi bencana. Diharapkan semua daerah yang memiliki ancaman bencana membuat rencana kontinjensi dan melaksanakan program kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat.

Berikut ini dapat anda jadikan acuan apa-apa saja yang sebaiknya dilakukan bila anda berada di daerah gunung api yang sedang aktif:
1. Jaga hubungan informasi dengan pihak berwenang, misalnya BPBD (Badan Penanggulangan Bencana daerah), atau PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana geologi), untuk mendapatkan informasi terkini tentang gunung dan status daerah anda. Ingat pengalaman gunung Merapi di tahun 2010 yang KRB dan status-nya bisa berubah dengan cepat.
2. Kenali daerah anda, mana daerah yang berbahaya dan mana daerah yang aman.
3. Susunlah rencana keluarga anda bila terjadi letusan
4. Tentukan titik temu keluarga anda
5. Siapkan tas pertolongan pertama dan tas darurat di rumah anda
6. Bila sudah terjadi hujan abu, gunakan masker dan kacamata demi kesehatan anda dan keluarga
7. Tutup sumber air bersih agar terlindung dari abu gunung.
8. Jaga hubungan komunikasi dengan keluarga dan kerabat anda.

Tulisan lain yang berguna terkait tulisan ini adalah: Menset Radius Bahaya Letusan Gunung Api dengan GPS Garmin


Sumber:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_volcanoes_in_Indonesia
2. http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=713
3. http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=712




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader