Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label PMI Risk Mappers. Show all posts
Showing posts with label PMI Risk Mappers. Show all posts

5.7.12

Garmin BaseCamp: Tool Untuk Merencanakan Perjalanan

Kawan-kawan Garminerz, ada kabar gembira buat kita, yaitu: Garmin kini melansir software pemetaan selain MapSource. Software ini sangat berguna bagi kawan-kawan pejalan, karena dengan software ini kita bisa membuat perencanaan jalur/track yang akan kita lalui, selain bisa sebagai pembuat Point Of Interests dan juga Route dan bisa mengunggah hasil kerja kita ke GPS Garmin kita. Software ini diberi nama BaseCamp.

Seperti MapSource, BaseCamp juga bisa diinstal dengan peta Indonesia dari navigasidotnet dan juga peta sejenis yang kompatibel dengan Garmin. BaseCamp bisa diambil disini.

Bagaimana hubungan dengan MapSource sang Kakak?, Si Adik ini tetap bisa membaca hasil kerja yang kita buat di MapSource. Yuk kita belajar bareng menggunakannya.

Share Me

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

22.4.12

Bagaimana Kesiapan Jabodetabek Terhadap Potensi Gempa Diatas 6SR?

Berbagai ahli sudah bicara tentang potensi gempa di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) namun sudah sampai dimana kesiapan daerah tersebut?

Sudahkah masyarakat dan pemerintah menyadari ancaman tersebut?
Bagaimana gempa pernah memporakporandakan Jakarta dan sekitarnya?


Sejarah Gempa di Jakarta dan Sekitarnya
Dalam catatan sejarah, Jakarta (entah itu Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, DKI Jakarta atau yang lebih tua dari itu) pernah luluh lantak di guncang gempa berkekuatan besar. Peradaban pernah terganggu dengan masifnya di kota Si Pitung itu. Jumlah korban terhitung banyak pada masanya dan bencana ikutan menyertainya seperti kolera, tipus, kelaparan, dll.

Misalnya waktu itu tanggal 5 Januari 1699 Batavia mengalami guncangan yang hebat akibat rambatan gempa di Jawa Barat, saat itu Gunung Salak meletus. Gempa susulan terjadi sampai beberapa hari sesudahnya. Dimana sejumlah guncangan seperti yang tercatat dalam Makalah "Historical Evidence for Major Tsunamis in the Java Subduction Zone" dari Asia Research Institute, terjadi selama tiga perempat jam hingga satu jam. Tepian kali Ciliwung longsor, pepohonan tumbang di seantaro Jakarta, ribuan kubik lumpur ditumpahkan dan sampai di Jakarta, sungai Ciliwung tersumbat demikianpula kanal-kanal Oud Batavia (Jakarta lama). Sehingga banjir lumpur mengepung Jakarta yang baru saja di guncang gempa besar. Kondisi lingkungan tak sehat dan semakin parah (demikian tulisan Sir Thomas Stamford raffless dalam bukunya History of Java). Seakan Jakarta menerima 2 paket sekaligus, gempa dan banjir lumpur. Dampak lainnya: 28 orang tewas, 49 gedung batu yang kokoh hancur, hampir semua rumah mengalami kerusakan.

Walaupun gempa 1699 sering dikaitkan dengan letusan Salak namun beberapa ahli menduga pusat gempa berada di selatan Jakarta, berupa gempa seismik. Hingga saat ini penyebab pasti gempa ini masih menjadi misteri.

Sedangkan pada tahun 1757 Jakarta kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7SR di pantai utara Jakarta, berdasarkan catatan NGDC (National Geophysical Data center - United States Department of Commerce) gempa ini diiringi dengan tsunami dengan ketinggian 1 – 3 meter. Kerusakan banyak terjadi di sekitar pantai utara Jakarta bagian timur, dimana Cilincing yang terparah. Kemudian gempa kembali menghantam Jakarta yaitu pada 1780, korban jiwa juga masif pada waktu itu.

Kemudian 27 Agustus 1883 Jakarta kembali menerima dampak dari daerah lain, yaitu letusan Gunung Krakatau yang memicu tsunami setinggi 35 meter. Nyawa melayang di Pulau Jawa bagian barat dan Selatan Pulau Sumatra termasuk Jakarta tercatat 36 ribu jiwa melayang.

27 Februari 1903 juga terjadi gempa besar yang juga berefek sampai Jakarta. Gempa ini sering dikaitkan oleh para ahli adalah gempa yang mirip seperti yang terjadi pada tahun 1699 yaitu akibat letusan Gunung Salak. Jika terbukti berkorelasi maka ada potensi pengulangan dengan siklus 200-an yang mengancam Jakarta.

Nah di tahun 2000-an pun Jakarta masih sering terkena goncangan gempa. misalnya 9 Agustus 2007 terjadi gempa 7,5 SR di laut lepas pantai indramayu pada kedalaman 290 km, yang menggoyang Jakarta.

Kemudian pada Jum’at sore 16 Oktober 2009 pukul 16:52 WIB, USGS – National Earthquake Center menyebut kekuatannya sebesar 6,1SR dengan kedalaman 50,6 km di bawah pulau panaitan. Gempa ini membuat panik sebagian warga Jakarta.

Sebelumnya Agustus 2009 Jakarta juga merasakan gempa akibat gempa di kawasan Jawa Barat bagian selatan yang diguncang gempa 7SR. Dan yang paling anyar adalah gempa yang terjadi pada minggu pagi (15 April 2012), pukul 02:26:39 WIB dini hari. Gempa berkekuatan 6SR yang berlokasi di selatan Ujung Kulon ini membangunkan sebagian warga Jakarta dan sekitarnya. Walaupun tidak ada laporan kerusakan.

Gempa-gempa tersebut bukanlah sekedar deretan lini masa sejarah masa lalu, bagi para pakar gempa dan manajemen bencana ini adalah petunjuk bahwa bencana yang sama bisa berulang di Jakarta dan sekitarnya. Karena fakta membuktikan bahwa sejarah gempa selalu terulang dalam periode waktu tertentu. Sehingga kota Jakarta dan sekitarnya dengan lebih dari 15 juta jiwa haruslah selalu siap menghadapi skenario terburuk.


Bagaimana Gempa Mengancam Jakarta?

Indonesia adalah negara yang beralasakan pada tiga tikar dunia yang dikenal dengan lempeng, yaitu Lempeng Eurasia (dikenal pula dengan Lempeng Sunda), Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik, belum lagi ada bagian Indonesia yang bersentuhan dengan lempeng kecil, misalnya Lempeng Filipina. Pada masing-masing lempeng terdapat ratusan (mungkin ribuan) sesar yang aktif maupun dalam kondisi “tidur”. Masing-masing tepi lempeng bertumbukan dan ada yang bertipe subduksi, yang bila tumbukan atau terjadi pelepasan energi akibat tekanan pada lokasi pertemuan lempeng maka gempa bumi akan terjadi. Banyak Kota-kota Besar di Indonesia, Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang dan ratusan kota lainnya terletak pada daerah ini, daerah ini dikenal dengan nama sabuk api atau the ring of fires.

Pertemuan Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia disebut Sunda Megathrust, dimana Lempeng Indo-Australia menusuk ke bawah Lempeng Eurasia. Lempeng Indo-Australia membentang dari arah utara melewati Mentawai, Sumatera Barat, sampai ke Selat Sunda. Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda berasal dari sekitar Mentawai sampai ke arah Nusa Tenggara. Titik temu atau batas antara dua lempeng inilah yang bisa menciptakan gempa maha dahsyat. Bila terjadi hujaman dahsyat ke bawah lempeng Eurasia maka akan terjadi sesar naik dengan kekuatan yang luar biasa. Potensi guncangan ibarat bom waktu itu bisa menimbulkan guncangan sekitar 8,8 SR atau bahkan 9 SR. Secara keseluruhan, jalur Megathrust ini menjulur dari Myanmar, mengarah ke pantai barat Sumatera, lalu di Selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara.

Hamparan lempeng raksasa berkilo-kilometer baik di Lempeng Indo-Australia ataupun di Lempeng Eurasia itu memiliki segmen-segmen sendiri di masing-masing lokasi. Setiap segmen itu juga memiliki karakteristik dan perilaku khas masing-masing. Pergerakan di segmen-segmen itulah yang kemudian menciptakan gempa-gempa sedang di beberapa titik yang belakangan biasa disebut sesar geser atau pergerakan di internal lempeng.

Subagyo, ahli Gempa dari ITB menyatakan “Jangan pernah sekalipun memimpikan seberapa dahsyat guncangan tercipta bila Sunda Megathrust bergerak naik. Megathrust terakhir terjadi pada 2004 di Bumi Nangroe Aceh Darussalam. Tsunami menyapu bibir pantai hingga ke Banda Aceh. Gempa dan tsunami menyapu bersih bibir pantai 7 negara lainnya. Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Mundur lagi ke belakang, gempa dahsyat yang diakibatkan sesar naik di Sunda Megathrust juga pernah terjadi tahun 1960 yang mengakibatkan gelombang tsunami. Saat itu, gempa yang mengguncang Chili mencapai 9,5 skala richter. Itu merupakan gempa terkuat yang pernah tercatat. Sedikitnya akibat gempa itu 140 orang dilaporkan tewas di Jepang, 61 di Hawaii dan 32 di Filipina. Sekitar tahun 1800an diperkirakan pernah terjadi gempa dahsyat di Mentawai akibat sesar naik Sunda Megathrust.”

Berdasarkan Irwan meilano, seorang anggota tim revisi peta gempa Indonesia yang melalukan penelitian pada radius 500 km dari pusat kota Jakarta, mengungkapkan bahwa ada 12 sumber gempa yang mengelilingi Jakarta dan membuat Jakarta sangat rawan gempa besar.

Ke- 12 sumber itu adalah:

1. Sesar Semangko dengan prediksi kekuatan (magnitude) gempa maksimal 7,6 SR,
2. Sesar Sunda kekuatan maksimal 7,2 SR,
3. Sesar Cimandiri dengan 7,6 SR,
4. Sesar Baribis,
5. Sesar Lembang dengan kekuatan maksimal 6,5 SR.
6. Sesar Opak dengan kekuatan maksimal 6,4 SR,
7. Sesar Lasem kekuatan maksimal 6,5 SR,
8. Sesar Pati 6,8 SR,
9. Sesar Bumiayu,
10. Subduksi Sumatera yang berada dalam radius 210 Km dengan kekuatan maksimal 8,2 SR,
11. Subduksi Jawa dalam radius 172 Km dengan kekuatan maksimal 8,1 SR dan
12. Subduksi Dalam dengan radius 120 Km memiliki kekuatan maksimal 7,8 SR.


Selain kenyataan bahwa ada 12 sumber gempa, Jakarta juga mengalami peningkatan probabilitasnya terhadap gempa, demikian yang seperti yang dikatakan sang Ustadz Gempa Danny Hilman. Probabilitas gempa di Jakarta kini adalah 0,2 g (gravitasi) naik dari angka 0,15 g pada 2002.

Jakarta memang benar-benar ada dalam bayang-bayang gempa, apalagi dengan kenyataan yang ramai dibicarakan para ahli yaitu adanya sesar gempa di Jakarta, yang melintang dari wilayah Ciputat sampai Kota (sesar atau patahan ini disebut juga Sesar Ciputat). Memang pada penelitian di tahun 2006, sesar yang tergolong patahan tua itu dikatakan dalam kondisi tidak aktif/tidur. Tapi, dia bisa “terbangun” kembali. Misalnya, jika sesar itu dirangsang oleh gempa dengan kekuatan di atas 7 SR.

Bagaimana tanah Jakarta? Menurut Encyclopedia of World Geography, Jakarta dibangun diatas tanah yang tidak stabil, sehingga rambatan gempa jadi lebih hebat, demikian yang dikatakan Professor Masyhur Irsyam sang Ketua Tim 9 (Tim Revisi Peta Gempa Indonesia). Dan kawasan Jakarta Utara memiliki kondisi batuan dasar yang memungkinkan terjadinya percepatan rambatan. Bila kita melihat sejarah pada gempa 1699 dimana pusat gempanya bukan di Jakarta namun karena jenis batuan ini maka percepatan rambatan terjadi sehingga guncangannya lebih kuat daripada kekuatan gempa di sumbernya.

Kondisi tanah Jakarta ini sangat berpengaruh pada tingkat keparahannya, misalnya pada gempa 1757 kerusakan di Jakarta bagian utara adalah yang terparah dan Setiabudi di daerah Jakarta Selatan adalah daerah terparah kedua. Kenapa? Karena kedua daerah ini memiliki kondisi tanah yang berbeda.

Oleh karena itu, sejalan dengan Tim 9, identifikasi sumber gempa melalui data seismisitas baik historis maupun instrumental, pemetaan sesar aktif, dan pemantauan deformasi kerak merupakan aspek pentging untuk diperhitungkan.


Apakah Masyarakat Jakarta dan Sekitarnya Sudah Tahu Ancaman Gempa di Jakarta adalah Nyata?
Boleh dikatakan 95% masyarakat Jakarta dan sekitarnya tidak tahu, dengan begitu 5% masyarakatnya tahu. Namun tahukah anda siapa saja yang 5% itu? Mereka adalah Peneliti Gempa dan Bencana, Praktisi Penanggulangan Bencana, Aparat Pemerintah (inipun hanya segelintir dari mereka dan segelintir dari mereka yang bekerja terkait dengan bencana saja yang tahu), Presiden dan Wapres, Staf Ahli Presiden bidang bencana, Kepala BNPB, segelintir wartawan dan segelintir masyarakat yang kritis terhadap penanggulangan bencana dan keselamatan.

Jadi, masih banyak masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang belum tahu dan mereka wajib diberitahu karena UUD 1945 menyatakan bahwa negara menjamin segenap tumpah darah Indonesia, kemudian UU 24/207 tentang Penanggulangan Bencana yang salah satu pasalnya menyatakan bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi tentang potensi dan ancaman bencana. Bila sampai ada masyarakatnya yang tidak tahu karena pemerintah tidak memberitahu dengan cara yang tepat dan sistematis serta berkelanjutan, maka pemerintah sudah mengabaikan rakyat Indonesia yang seharusnya mereka lindungi dan yang menjalankan roda pemerintahan bisa dikenai sanksi sesuai UU 24/2007.

Sudahkah Pemerintah Kota Tangerang, Pemkot Bekasi dan Kabupaten Bekasi serta Kota Depok mendirikan BPBD? Namun, ada satu (lagi) yang masih mengganjal di DKI Jakarta. Kenapa masih ada dualisme dalam penanggulangan bencana yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DamkarPB). Prinsip dalam penanggulangan bencana adalah kesatuan rencana, kesatuan tindak dan kesatuan komando, namun apakah bisa dengan adanya dua SKPD ini terjadi? Belum lagi masih banyak SKPD lain yang menganggap BPBD adalah “anak baru” dan gak tahu apa-apa.


Bagaimana Mengurangi Risiko Bencana?
Pengurangan risiko bencana gempa dapat dilakukan melalui 7 upaya dan oleh siapa saja, berikut ini adalah contohnya:

1. Peraturan Daerah dan Institusionalisasi
a. Rencana Penanggulangan Bencana
b. Rencana Pengurangan Risiko Bencana

2. Pengetatan Standar Bangunan

3. Sistem Kedaruratan Terpadu
a. Incident Command System
b. Rencana Kontinjensi
c. Rencana Operasi
d. Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi

4. Sistem Peringatan Dini dan Sistem Evakuasi

5. Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
a. Pelatihan PB
b. Penyuluhan
c. Partisipasi

6. Perubahan Perilaku dan Budaya
a. Upaya Bersama Pengurangan Risiko Bencana Gempa
b. Keluarga Tangguh
c. Kelurahan/Desa Tangguh

7. Simulasi


Bahan dasar dari ke-tujuh pondasi diatas adalah:
1. Peta Kerawanan Gempa Indonesia tahun 2010 yang diikuti dengan pembuatan peta mikrozonasi oleh Pemda.

2. Peta kondisi lingkungan saat ini (perumahan, perkantoran, industri, kepadatan penduduk dan lifeline – jalur jalan, jalur air, jalur listrik, jalur gas, jembatan)

3. Asesmen Kerentanan dan kapasitas yang memasukkan aspek antropologi, sosiologi dan religi.


5 pilar penanggulangan PB harus bekerja sama dalam hal ini, yaitu: 1) Pemerintah, 2) Peneliti, 3) Lembaga Kemanusiaan, 4) Sektor Swasta/Private, dan 5) Masyarakat.


Kerjasama, Berbagi Peran Dan Saling Mengandalkan
Contoh dari apa yang harus dan bisa pemerintah lakukan adalah: misalnya dalam hal pengetatan standar bangunan, pemerintah memiliki kewajiban untuk membuatnya, menjalankan dan mengawasi penerapannya di lapangan. Menerapkan parameter Hazard atau Ancaman gempa sesuai tingkat bahayanya pada desain, konstruksi gedung, serta infrastruktur di wilayah Jakarta merupakan salah satu dari serangkaian upaya pengurangan risiko bencana gempa. Karena bencana gempa dapat terjadi karena kegagalan menerapkan parameter ini.

Peta gempa yang sudah dilansir oleh pemerintah pusat di tahun 2010 harus digunakan sebagai bahan pertimbangan utama dalam ketahanan bangunan. Hal ini dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Karena yang membunuh bukanlah gempanya, namun bangunannya. Untuk pemerintah DKI Jakarta, pembuatan peta mikrozonasi kerentanan gempa yang merupakan kelanjutan dari peta rawan gempa 2010 sudah saatnya dilaksanakan. Karena peta ini adalah modal dasar dalam pembuatan segala kebijakan. Rencana Penanggulangan PB yang sudah dilakukan oleh BPBD DKI harus bisa diimplementasikan oleh SKPD dan instansi terkait, demikianpula rencana pengurangan risiko bencana.

Hanya yang perlu khalayak atau masyarakat luas ketahui adalah bahwa apa yang dilakukan ini bukanlah untuk menghindarkan terjadinya gempa namun itu merupakan upaya untuk mengurangi dampak bila gempa terjadi. Dengan kata singkat: gempa tetap terjadi namun dampak dapat diminimalisir.

Kapan terjadinya gempa sampai saat ini belum dapat diprediksi begitupula kekuatannya dan daya rusaknya, namun lini masa dalam sejarah dan hasil penelitian para ahli gempa dan penanggulangan bencana dapatlah dijadikan sebuah upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan.

Promosi dan penyuluhan dengan berbasis anthropologi sangat diperlukan dan aksi nyata penyusunan rencana kontinjensi gempa, peningkatan pemahaman tentang gempa, peningkatan keterampilan penyelamatan diri serta pengurangan risiko bencana gempa dan simulasi-simulasi penyelamatan diri sudah harus dimulai.

Pembangunan sistem darurat terpadu harus dilaksanakan secara bersama-sama, bukan hanya pemerintah daerah. Karena berjalan atau tidaknya sistem ini akan berpulang pada kepemilikan sistem oleh para pelakunya. Bila sejak awal tidak ada keterlibatan pihak atau pemangku kepentingan lain maka pemda tidak akan bisa mengaktivasinya. Demikian pula sistem peringatan dini dan sistem evakuasi yang efektif.

Belajar dari kejadian gempa dan tsunami di Jepang Maret tahun lalu, banyak jiwa terselamatkan karena berjalannya ketiga sistem ini (sistem darurat terpadu, sistem peringatan dini dan sistem evakuasi) ditambah pengetahuan masyarakat yang segera mampu mengambil inisiatif mengungsi begitu terjadi gempa dengan ciri-ciri tertentu dapat mengakibatkan tsunami. Memang 20.000 jiwa harus melayang pada bencana tersebut, namun bisa diperhitungkan bila itu tidak terjadi di Jepang maka jumlah korban akan berlipat sepuluh kali.

Simulasi harus sering dilakukan. Hanya saja sudah menjadi karakter bangsa Indonesia yang meremehkan simulasi, padahal simulasi yang berulang dan diikuti dengan sungguh-sungguh akan menanamkan refleks terarah evakuasi disaat dibutuhkan. Semua ini harus dilakukan secara efektif dan efisien oleh kelima pilar penanggulangan bencana. Karena diantara mereka harus tumbuh sikap kerjasama (bukan sekedar sama-sama kerja), berbagi peran dan saling mengandalkan. Saling emngandalkan karena masing-masing pilar memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki pilar lainnya. Yuk kita siaga bencana. (Jakarta; 21 April 12)


Yang harus diingat: walaupun DKI dalam tulisan ini yang terancam gempa, namun gempa tidak memandang batas administrasi, jadi Jabodetabek haruslah siaga dan saling bersinergi.


Note: Tulisan ini berasal dari berbagai sumber. Diolah demi kepentingan penyadaran kesiapsiagaan bencana, bukan menantang bencana.

Sumber:
1. http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=812 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:47 siang.
2. http://teknologi.vivanews.com/news/read/305082-12-sumber-gempa-kepung-jakarta diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:35 WIB Pagi.
3. http://www.pgis-sigap.blogspot.com/2011/03/tahun-1757-pernah-ada-gempa-dan-tsunami.html diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:19 WIB siang
4. http://nasional.vivanews.com/news/read/305432-bengkulu-jabar-waspada-siklus-gempa-1875 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:45 WIB pagi
5. http://metro.vivanews.com/news/read/305630-misteri-penyebab-gempa-besar-jakarta-1699 diunduh pada 21 april 2012 pukul 10:47 WIB pagi
6. http://sorot.vivanews.com/news/read/166557-gempa-jakarta--siapkah-kita- diunduh 21 Apr. 12 pukul 10:31 WIB pagi
7. http://fokus.vivanews.com/news/read/304968-hujaman-di-sunda-megathrust diunduh pada 21 Apr. 12 pukul 10:30 WIB Pagi.
8. http://teknologi.vivanews.com/news/read/299206--kapal-hantu--tsunami-terlihat-di-kanada diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:00 siang

Share Me


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

19.3.12

Pelatihan GIS untuk Kesehatan Masyarakat oleh CDU dan Amarilys

Minggu kemarin sejak senin sampai kamis (12-15 Maret 2012) saya mengikuti pelatihan yang di laksanakan oleh Amarilys (sebuah perkumpulan yang anggotanya para dokter yang berdedikasi tinggi dalam pelayanan kesehatan di Indonesia).

Pelatihan ini menggunakan opensource software. Pelatih utama pelatihan ini adalah Rohan Fisher dari Charles Darwin University (CDU) – Australia. Materi yang disampaikan sangat berguna apalagi Openjump (software GIS gratis) yang digunakan memiliki kelebihan dapat menampilkan chart pada peta hasil olah. Walaupun pelatihan ini temanya untuk kesehatan masyarakat, setelah selesai saya yakin ini bisa digunakan di ranah penanggulangan bencana yang sedang saya geluti.


Perkenalan dengan pemetaan kesehatan

Materi ini dibuka dengan pemutaran film pemaparan keberhasilan John Snow dalam pemecahan kasus kolera di London tahun 1754. Pemecahan itu melalui pemetaan, sehingga distribusi penyakit bisa diketahui dan juga apa penyebabnya. Penyebabnya adalah penggunaan air dari pompa yang tercemar.


Perkenalan dengan Sistem Informasi Geografis

GIS tidaklah mahal, GIS tidaklah sulit, GIS adalah menyenangkan. Itulah kesimpulan yang saya ambil dari materi kali ini. Kenapa? Karena:

1. Kita tidak perlu menggunakan sotware GIS yang mahal, gunakan saja yang gratisan misalnya OpenJump, openStreet, EpiMap dll. Biar gratis bukan hasil bajakan loh.
2. Dengan menggunakan Software ini, saya saja yang tidak memiliki background gis bisa menggunakannya.
3. Menyenangkan? Tentu ! karena dari input, proses sampai hasil sangat membuat kita mengembangkan diri dan santai.

Kita bisa menggunakan software SIG yang opensource jadi gratiskan, hasilnya? Tetap saja bagus bahkan karena bisa membuat chart maka bisa lebih berbicara dari selembar peta saja.

Bagaimana menggunakan OpenJump? Sabar yah nanti saya coba dulu di ranah kebencanaan dan bila sudah jadi maka saya share ...


Share Me



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

23.10.11

Menset Radius Bahaya Letusan Gunung Api dengan GPS Garmin

Indonesia merupakan wilayah yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi, rangkaian ini disebut dengan cincin api atau the ring of fire. Dalam sebulan bisa beberapa gunung berapi di Indonesia aktif dan mengancam masyarakat yang ada di sekitarnya. Sebut saja misalnya disaat tulisan ini dibuat, gunung Marapi di Sumatera Barat sedang menunjukkan ancamannya.

Disaat sebuah gunung berapi mengancam terjadinya bencana, ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akan melansir jarak bahaya suatu daerah dengan pusatnya adalah kawah. Misalnya, 13 Km dari kawah adalah daerah berbahaya. Nah, para sukarelawan yang bertugas menyelamatkan jiwa para warga disekitar gunung itu harus tahu jarak ini, baik untuk keselamatan orang yang akan dibantunya, juga yang terpenting adalah keselamatan dirinya. Jangan sampai malah memasuki jarak bahaya sehingga keselamatan terancam. Bagaimana caranya? Kan sulit juga untuk mengukur jarak apakah dibawah 13 Km atau diatas 13 Km.

GPS dapat digunakan sebagai alat pemberi peringatan bila sukarelawan memasuki jarak kurang dari 13 Km ini. Saya contohkan adalah GPS Garmin keluarga Etrex dan Map.

Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Ketahui koordinat kawah yang dilansir oleh PVMBG athttp://www.blogger.com/img/blank.gifau sumber lain yang bisa dipercaya. Menurut GeoHack Koordinat Kawah Marapi adalah: 0° 22′ 51.6″ S, 100° 28′ 22.8″ E. Dalam studi kasus berikut yang bersumber dari sini, daerah yang harus di jauhi adalah 3 Km dari kawah. Untuk daftar koordinat gunung berapi di Indonesia bisa dilihat disini sebagai acuan.

2. Masukkan koordinat gunung Marapi tersebut dengan cara:
a. Klik Mark
b. Ganti nomor di field atas dengan nama Marapi Kawah
c. Ganti Location dengan koordinat Kawah Marapi 0° 22′ 51.6″ S, 100° 28′ 22.8″ E
d. Klik OK
e. Data telah tersimpan

3. Buka halaman Main Meu > Klik Proximity, kemudian:
a. Pilih field yang masih titik-titik > klik > tampil halaman Find > klik Waypoints
b. Temukan Marapi Kawah > Klik
c. Klik Use yang terletak di kanan bawah
d. Tampil halaman Proximity Waypoints > pindahkan kursor ke field Radius pada baris Marapi Kawah > Klik
e. Ketikkan jarak bahaya yang pada studi kasus ini adalah 3 Km, bila sudah > klik OK (akan sangat arif bila anda tidak memasukkan jarak pas 3 Km, lebihkanlah, karena kondisi dilapangan bisa berubah dengan cepat)
f. Maka data sudah tersimpan
g. Hasilnya adalah bila anda mengaktifkan GPS dan anda mencapai radius yang tadi kita ketikkan maka alarm GPS akan berbunyi untuk memberitahukan anda. Mohon diingat, suara alarm ini kecil sehingga anda kami harap terus memantau GPS yang anda bawa demi keselamatan.

4. Untuk memilih bunyi alarm pada fungsi ini, klik Proximity Alarm Tones di bagian bawah halaman Proximity Waypoints. Jangan lupa beri tanda centang pada Proximity Alarms yang berada di bagian bawah halaman Proximity Alarm Tones.

5. Bila anda telah berhasil, maka pada halaman Map akan tampil garis putus-putus yang melingkari titik/waypoint(s) yang anda beri fungsi proximity.

Demikian share dari saya, semoga bermanfaat, dan jangan lupa: Utamakan Keselamatan.

http://www.blogger.com/img/blank.gif


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

26.9.11

Sukarelawan Penanggulangan Bencana dan Pisau Lipat

Hampir setahun lalu, Gunung Merapi mempertunjukkan kekuatan dan ancamannya. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi [Provinsi DIY dan Jawa Tengah] yang jumlahnya ratusan ribu harus mengungsi dari sekitar lereng Merapi tidak sedikit juga yang membawa hewan ternaknya). Demikian pula [mungkin jumlahnya hampir ribuan] mereka yang menamakan dirinya sukarelawan yang akan membantu para penyintas Gunung Merapi.

Bukanlah saat ini tulisan ini membahas tentang nasib penyintas, namun saya akan membahas nasib seorang, yah hanya seorang, yang seorang itu adalah sukarelawan yang harus ditangkap polisi dan mendekam bulanan di balik jeruji ruang tahanan kantor polisi salah satu propinsi yang terdampak. Kenapa dia sampai mengalami nasib seperti itu? Apakah ia melakukan seperti yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku sukarelawan di Aceh namun malah mencuri barang bantuan ? bukan, ia bukan ditangkap karena itu, tapi ia ditangkap karena membawa pisau lipat, pisau lipat yang umum digunakan oleh pekerja dan sukarelawan kemanusiaan disaat menjalankan tugasnya.

Alasan penangkapan karena ia melanggar aturan mengenai negara dalam bahaya dan darurat (konflik bersenjata). Lalu apakah karena aturan itu sehingga pisau lipat yang saya yakin akan dapat menyelamatkan banyak nyawa justru tidak boleh dibawa oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk menyelamatkan ? apakah polisi yang dilapangan bekerjasama dengan kita akan memperlakukan kita seperti itu ? Saya rasa polisi akan tetap menjadi kawan kita apakah disaat bersama-sama menjalankan tugas mulia menyelamatkan jiwa sesama atau disaat tidak dalam status bencana.

Saya dalam tulisan ini akan berbagi pengalaman bagaimana agar kita (sukarelawan penanggulagan bencana/ tim rescue atau penyelamat) akan aman membawa pisau dan justru akan dimaklumi oleh rekan kita dari anggota kepolisian.

Hargai Polisi sebagai aparat penjaga keamanan dan keselamatan rakyat Indonesia
Bila kita berjumpa polisi yang sedang bertugas melakukan razia senjata tajam atau api atau narkoba, atau yang sepele razia lalu lintas, lakukanlah hal berikut :
1. Berlakulah sopan dengan polisi bila ia memberhentikan kita dan menanyakan diri kita serta meminta menggeledah tas kita, bagaimanapun ia memang memiliki wewenang melakukan razia demi keamanan dan keselamatan rakyat Indonesia.

2. Berikan salam, kemudian anda bisa membuka pertanyaan dengan : "Selamat Malam [sesuai situasi tentunya] Pak/Bu, ada yang bisa saya bantu ?"

3. Berikan identitas diri dan surat tugas yang diminta oleh Polisi sehingga Polisi bisa mengidentifikasikan kita sebagai tim penyelamat.

4. Jawablah segala pertanyaan Polisi dengan profesional. Tim Penyelamat, dan Sukarelawan adalah orang yang terlatih untuk tidak mengutamakan emosi dalam menghadapi situasi apapun, betulkan kawan ? Emosi hanya akan membangkitkan emosi pihak lain.

Tips aman membawa pisau lipat:
Disaat bertugas dilapangan baik itu respons bencana maupun kegiatan kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko bencana, saya selalu membawa pisau lipat tipe Rescue Tool, namun saya tidak "polos" dalam membawa pisau. Saya membekali diri dengan hal-hal yang bersifat administratif, berikut ini pengalaman saya disaat bertugas atas nama PMI:
1. Surat tugas dari lembaga dimana saya bertugas.

2. Kartu Pengenal dari lembaga saya bertugas atau lebih dikenal dengan ID Card.
Di belakang kartu pengenal PMI biasanya ada tulisan permohonan bantuan kepada Pihak TNI/Polri dan Pemerintahan setempat untuk membantu pemegang kartu tersebut sehingga ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

3. KTP

4. Buku Petunjuk Pelaksanaan Satgana PMI.
Nah untuk Kawan-kawan di PMI, buku ini penting untuk selalu dibawa disaat bertugas karena buku ini memiliki kekuatan hukum, didalamnya mencantumkan bahwa buku ini adalah panduan yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat PMI untuk dijalankan disegala jajaran dan tingkatan PMI dari Nasional sampai Desa.
Dan dibuku ini pula dicantumkan bahwa pisau lipat adalah perlengkapan perorangan dari anggota Satgana PMI [lihat Bab III, hal. 11 tentang Perlengkapan Perorangan] selain itu pisau jenis lain sebagai perlengkapan operasional [lihat juga Bab III, hal 11 tentang Perlengkapan Operasional]. Sehingga buku ini dapat membantu kawan-kawan anggota PMI yang sedang bertugas sebagai satgana bila menghadapi situasi dimana ada razia.

5. Jaga hubungan baik dengan kepolisian dimana kita ditugaskan.

Bagaimana bila organisasi tempat kita bersumbangsih belum seperti PMI?
Mungkin tips yang juga pernah saya dan beberapa teman saya lakukan bisa dilakukan teman-teman, berikut ini mungkin berguna:
Bekali diri anda dengan:
1. Surat tugas dari organisasi anda.

2. Kartu Pengenal dari organisasi anda.

3. KTP.

Bila sudah lengkap :
1. Datanglah ke Polsek atau Polres dimana Organisasi anda berada, jelaskan siapa anda dan anda menjalankan tugas dari organisasi apa dan berkantor dimana serta akan ditugaskan ke daerah bencana mana.

2. Mintalah surat jalan dari kepolisian tersebut, mintalah kepada kepolisian untuk mencantumkan bahwa anda membawa pisau [baik itu pisau lipat atau pisau P3K, atau pisau lainnya yang terkait dengan penugasan anda].

3. Bila anda sudah mendapatkan surat jalan tersebut dan juga sudah berada di daerah penugasan, segeralah melaporkan diri ke kepolisian setempat dengan menunjukkan surat jalan anda dan tunjukkan barang-barang yang tertera di surat jalan bila diminta.

4. Saya yakin, bila ini anda lakukan, pihak kepolisian pasti akan menyambut anda dengan baik bahkan akan memberikan perlindungan dan bantuan. Rekan saya bahkan sampai diberikan makan segala loh, sudah dianggap seperti kawan oleh polisi-polisi tersebut walaupun baru kenal.

Naik Pesawat
Nah ini juga momok bagi beberapa rekan yang akan bertugas dan membawa pisau lipat, mereka takut disita oleh pihak bandara. Langkah berikut ini pernah saya dan juga beberapa teman saya lakukan tanpa kehilanga pisau lipat:
1. Jangan bawa pisau kedalam kabin, masukkan saja ke dalam tas yang akan dimasukkan dalam bagasi pesawat, lebih baik lagi bila dimasukkan ke dalam sarung pisau.
2. Bisa juga pisau tidak dimasukkan kedalam bagasi, tetapi anda titipkan kepada pihak maskapai penerbangan sebagai Security Item yang artinya pisau ini nantinya akan dititipkan kepada pilot dan bisa kita ambil dibagian Lost & Found. Pada saat check in sampaikan niat anda ke petugas nanti ia akan membantu anda.
3. Jangan sampai lupa seperti yang pernah saya alami, pisau terbawa sampai pemeriksaan mau naik pesawat, hasilnya pisau V********x kesayangan saya disita, huhuhu sedihnya.

Selamat bertugas, semoga aman dan selamat.




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

24.8.11

Peta [Baru] NavNet Untuk GPS Garmin, Mudik Pake GPS Yuk!?



Kawan-kawan, Navigasi[dot]net rutin memberikan peta untuk GPS anda. Kali ini versi yang diluncurkan dalam rangka HUT RI adalah versi 2.11.
Versi ini lebih lengkap dibandingkan versi terdahulunya. Saya lebih mempercayakan peta ini dibandingkan peta lain untuk GPS saya, karena dibuat oleh anak Indonesia maka peta ini lebih tinggi akurasinya, lebih banyak info terkini dan gratissss.

Bagaimana menggunakan peta ini di GPS anda? ikutilah langkah berikut :
1. Unduhlah file gmapsupp.img yang ada disini.
2. Kopi file tersebut bila sudah terunduh.
3. Paste di folder garmin di micro-sd GPS anda, bila yang anda gunakan adalah micro-sd baru maka buatlah terlebih dahulu folder garmin, kemudian di folder ini paste-lah file yang tadi dikopi
4. Sekarang peta anda sudah bisa digunakan, tinggal anda masukkan lagi ke slot kartu memori yang ada di GPS anda. Jangan lupa, GPS garmin hanya bisa membaca peta dengan nama file gmapsupp.img

Selamat bernavigasi.


View ujang lasmana's profile on LinkedIn
http://www.blogger.com/img/blank.gif
GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

26.5.11

Siap Siaga di Rumah

Kesiapsiagaan bencana bisa dimulai dari rumah, namun ini biasanya yang sering terlupakan. Biasanya sibuk bagaimana menyiapsiagakan kantor kita, sekolah kita dll. Namun lupa menyiapkannya dirumah.

Berikut ini ada 7 langkah kesiapsiagaan yang bisa dilakukan dirumah, semoga bermanfaat dan bisa menyelamatkan orang yang kita cintai.

7 langkah tersebut, misalnya untuk gempa adalah:
1. Identifikasikan hazard yang potensial menjadi bencana disekitar rumah kita.
2. Buatlah Rencana Kedaruratan.
3. Siapkan tas P3K dan tas darurat.
4. Identifikasi kondisi bangunan rumah anda. Kemudian perbaiki rumah sesuai dengan temuan kita, misalnya rumah kita tidak aman bila terjadi gempa.
5. Bila terjadi gempa selamatkan diri dengan melakukan: DROP, COVER & HOLD ON.
6. Setelah gempa, cek apakah anggota keluarga anda ada yang terluka dan apakah ada kerusakan dirumah anda.
7. Bila aman, lanjutkan tindakan anda sesuai dengan perencanaan darurat yang sudah anda sepakati beserta keluarga.

IDENTIFIKASI HAZARD
Kenalilah hazard yang potensial menimbulkan bencana, misalnya:
1. apakah daerah rumah anda memiliki sejarah banjir, gempa bumi, tanah longsor dll. Ini bisa berdasarkan obrolan dengan orang yang sudah lama tinggal didaerah anda atau melalui internet.
2. bila ada sejarah atau memang memiliki potensi, maka identifikasi juga tempat-tempat atau lembaga yang bisa dijadikan tempat pertolongan, misalnya klinik atau rs, markas PMI, dll.
3. identifikasikan bagian mana dirumah anda yang potensial menyebabkan cidera bila terjadi gempa.
a. Daerah yang terdapat kaca
b. Meja yang lemah
c. Lemari yang bisa jatuh
d. Pajangan yang dapat menimpa bila terjadi gempa
e. Untuk lengkapnya yang membutuhkan cek listnya boleh kontak diriku.

4. apakah ada daerah aman yang bisa dijadikan titik kumpul keluarga bila terjadi bencana?
5. lihatlah atau print peta daerah anda, anda bisa menggunakan google earth, google map dan penyedia peta lainnya.


BUATLAH RENCANA KEDARURATAN
Bila anda sudah mengenali daerah anda lanjutkan tindakan anda dengan langkah berikut:
1. kumpulkan anggota keluarga termasuk siapapun yang tinggal bersama anda (pembantu, tukang kebun supir, dll) untuk mendiskusikan ancaman yang ada disekitar rumah dan apa yang bisa dilakukan.
2. beritahukan bagian mana dirumah yang lemah dan dapat menimbulkan cidera, dan buat rencana penguatan atau perbaikan,
a. misalnya mengamankan kaca agar bila gempa dan kaca pecah tidak menciderai dengan menempelkan stiker bening di kaca
b. mengikat atau menempelkan lemari ke dinding, ini bisa pakai besi L, yang satu ke lemari yang satunya ke dinding.
c. Memperkuat cantelan lampu hias.
d. Memplester atau mengaci dinding rumah yang belum diaci
3. diskusikan lokasi titik temu yang aman, taruh dalam peta yang sudah diprin
4. buatlah daftar no telepon penting dan semua anggota keluarga memilikinya, jangan hanya mengandalkan nomor yang disimpan dalam hape, bagaimana bila hape hilang, tertinggal dll, maklum dalam kondisi darurat.
5. Bila anda memiliki balita, bisa anda buatkan dalam selembar kertas yang nantinya dilaminating sebuah data yang berisi nama anda dan pasangan, nama anak tercinta, alamat, no telpon yang mudah dihubungi. Kemudian di taruh dikantong pakaiannya, jadi buat kecil saja yang penting bisa dibaca. Ini juga bisa anda aplikasikan bila anda jalan-jalan bersama balita anda ke tempat ramai.
6. bekali anggota keluarga dengan peluit, dengan peluit anggota keluarga yang menghadapi masalah, misalnya terjebak maka bisa memberikan informasi dengan meniupkan peluit. Bawalah selalu peluit tersebut, masukkan di kantung atau di kalungi.
7. Buatlah perencanaan dari a sampai z, setelah itu bahas bersama seluruh anggota keluarga, jangan lupa ajak sikecil walaupun menurut kita mereka masih belum mengerti siapa tahu mereka bisa merekam proses dan berguna.


SIAPKAN TAS P3K DAN TAS DARURAT
Langkah berikutnya adalah siapkan dua jenis tas yang bisa menyelamatkan anda dan keluarga, yaitu tas pertolongan pertama dan tas darurat.

Isi tas pertolongan pertama bisa anda tanya pada Mbah Google dengan mengetikkannya, hehehe, paling tidak tas itu berisi:
1. Pembalut: bisa mitella atau kain segitiga dan verband
2. Verband elastis
3. Kassa steril
4. Antiseptik, misalnya dari keluarga dine: betadine, iodine povidone dan dine-dine yang lainnya.
5. plester obat, misalnya dari keluarga plast: tensoplast, hansaplast dll.
6. gunting
7. pinset
8. obat-obatan yang biasa dikonsumsi keluarga
9. senter
10. masker
11. sarung tangan latex

Sedangkan tas darurat berisikan (siapkan untuk 3 hari), diantaranya:
1. minuman dalam kemasan
2. makanan siap santap
3. selimut
4. alas tidur
5. mp3, biasanya ada radionya nah ini berfungsi untuk keep in touch dengan berita terkini
6. lampu senter
7. korek api
8. bila memungkinkan tenda doom

BUAT RUMAH ANDA AMAN
Buatlah rumah kita aman. Berdasarkan temuan dari hasil identifikasi buatlah tindak lanjutnya, misalnya penguatan bangunan, pengamanan peralatan yang ada dalam rumah (lihat poin pada pembuatan rencana darurat, no2).

Sediakan alat pemadam api ringan (APAR) dirumah dan pelajari bagaimana menggunakannya. Ingat anggota keluarga harus tahu bagaimana menggunakan APAR ini.


DROP, COVER & HOLD ON
Bila terjadi gempa ada tiga tindakan yang dapat menyelamatkan, yaitu: JANGAN PANIK, DROP, COVER & HOLD ON.
1. JANGAN PANIK, pelatihan dan kesiapan akan membuat kita tidak panik. Panik dapat membunuh dan mengacaukan perencanaan darurat yang sudah kita buat.
2. DROP, bila terjadi gempa segeralah ”menjatuhkan” tubuh anda ke lantai, meringkuklah seperti janin didalam perut, bisa anda menjatuhkan ke kolong meja, tempat tidur dll.
3. COVER, lindungi kepala anda dari reruntuhan dan kejatuhan. Gunakan bantal, tas dll yang lebut namun mampu melindungi kepala.
4. HOLD ON, berpeganganlah pada kaki-kaki meja atau tempat tidur. Berpegangan memberikan efek psikologis rasa aman.


CEK KELUARGA DAN RUMAH
Setelah gempa reda ceklah kondisi keluarga anda, apakah ada yang terluka? Bila ada segera berikan pertolongan pertama, bila tidak mampu segera bawa ke instalasi medis terdekat.
Kemudian cek kondisi rumah anda, apakah masih aman untuk ditinggali.


LANJUTKAN RENCANA ANDA
Lanjutkan segala perencanaan anda sesuai yang anda buat dan kabarkan kondisi anda ke keluarga lainnya agar mereka terus mendapat info terbaru dari anda dan keluarga.




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

10.5.11

Akhirnya! Bisa Berfoto di Depan Peta Evakuasi Kota Padang

Sejak tanggal 2 sampai 6 May 2011, saya berkesempatan mengunjungi Kota Padang. Kunjungan saya kali ini adalah untuk mengadakan pelatihan untuk program API Perubahan bagi Komite Pengarah Provinsi Sumatera Barat.

Akhirnya, dengan saya mengunjungi Kota Padang pasca saya tergabung dalam program Disaster Risk Reduction – Awareness Campaign & Government Capacity Building saya berkesempatan melihat dan berfoto (hmm narsis yah) dengan latar peta evakuasi tsunami kota Padang.
Maklum saya belum sempat melihat secara langsung peta itu sejak dipasang di bulan Oktober 2010 lalu.

Berikut ini foto-foto saya dan kawan-kawan dengan latar belakang peta evakuasi.▲

Seorang pengunjung melihat peta dimalam hari dengan menggunakan senter


Salah seorang staf Mercy Corps (Moeslem) memberikan keterangan bagaimana membaca peta dan juga apa yang bisa dilakukan disaat ada peringatan tsunami.


Saya, Moslem dan Dini melangkah bersama, hmmm mau makan jagung bakar dulu ah


Foto narsis a la Dini



Nah akhirnya bisa foto juga dengan latar belakang peta evakuasi yang dibuat secara partisipatif


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

9.5.11

Product Review: Victorinox Flashlight, menemani Rescuer Dalam Bertugas

Lampu penerangan handheld (senter) merupakan salah satu peralatan yang diperlukan Rescuer dalam menjalankan tugasnya. Kualitas menjadi pilihan penting dalam memilih senter, dan untuk ini Victorinox menjawab kebutuhan tersebut.

Victorinox meluncurkan lampu senter/flashlight dengan lampu LED. Tiga tipe dihaturkan untuk bisa membantu anggota tim Rescue dalam menjalankan tugasnya, yaitu Victorinox AA-Cell LED Flashlight dengan baterai tipe AA, Victorinox AAA-Cell LED Flashlight dengan baterai tipe AAA, dan Victorinox C-Cell LED Flashlight dengan baterai tipe C.


Spesifikasi masing-masing senter ini adalah:


PRODUCT DETAILS Victorinox AA-Cell LED Flashlight (Sku: V2A-MR)
• 4.8 Watt
• 3.5+ burn hours
• 225' Effective Range
• 2-mile Signal Visibility
• Length 5.6", head Width 1"
• End Cap Width 0.08"
• Weight 4.45Oz.
• Energy-efficient LED for longer battery life
• Lanyard IncludedTwo AA Batteries Included

PRODUCT DETAILS Victorinox AAA-Cell LED Flashlight (Sku: V3A-MR)
• 2.0 Watt
• 3.5+ burn hours
• 125' Effective Range
• 1.5 Mile Signal Visibility
• Energy-effecient LED for longer battery life
• Length 4.7", Head Width 0.75"
• End Cap Width 0.60"
• Weight 2.14 Oz.
• Lanyard Included
• Two AAA Batteries included

PRODUCT DETAILS Victorinox C-Cell LED Flashlight (Sku: V2A-MR)
• 5.8 Watt
• 3.5+ burn hours
• 275' Effective Range
• 2.5-mile Signal Visibility
• Length 7", Head Width 1.5"
• Weight 12.35 Oz.
• Energy-efficient LED for longer battery life
• Lanyard included
• Two C Batteries included


Bagaimana menggunakannya?

Untuk menyalakannya kita cukup memutar kepala senter, demikian pula saat kita ingin mengganti baterai (hanya saja arah putaran berbeda).
Nah dengan pendekatan ini maka lampu tidak akan menyala bila tertekan atau hal lain disaat ditaruh didalam tas atau saku.

Video mengenai senter ini bisa dilihat:


Lampu ini tergolong kedap air. Dan ulir pegangan membuat pegangan kita menjadi mantap disaat menggunakannya. Bentuknya yang kompak, kuat dan ringan sangatlah cocok bagi para rescuer dan backpacker.

Karena menggunakan bohlam LED maka senter ini lebih efisien sampai 10 kali dibandingkan tipe bohlam biasa, sehingga hal ini memperpanjang usia baterai. Lampu LED menghasilkan kombinasi yang brilian baik hot spot maupun balok perifer untuk menerangi baik kisaran panjang dan pendek. Sirkuit elektronik memastikan lampu tidak redup selama masa pakai baterai

Karena brilian-nya sehingga pancarannya sangat terang, dan pasti sangat membantu rescuer maupun backpakers dalam menjalankan tugasnya.

Jangkauan lampu sangat jauh, misalnya tipe Victorinox AA-Cell LED Flashlight sejauh sampai dengan 2 mil.

Logo Victorinox pada kepala senter memberikan kesan kokoh terhadap kualitas dan pelayanan sehingga menaikkan image sang pengguna. Pada beberapa dealer resmi, kita bisa menambahkan logo atau nama kita pada senter ini dengan menggunakan tehnik engrave, sehingga juga memberikan kesan yang kokoh terhadap pengguna.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

5.5.11

Tsunami Mappers: Software Simulasi Tsunami

Aplikasi peta ini menunjukkan bagaimana jika sebuah pantai terkena tsunami. Tinggal cari lokasi Anda, masukkan arah dan tinggi gelombang. Klik ganda pada titik awal tsunami. Lihat efeknya.

This mapplet shows how your local beach could be affected by a tsunami.
Simply type in your location and click 'Find' to center the map. Then enter the wave height, the direction for the wave to travel, and double click on the tsunami starting point.

Silahkan klik disini/here.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

7.4.11

Masyarakat Indonesia Harus Belajar Pertolongan Pertama

Letak geografis Indonesia yang berada di sabuk gunung api, menyebabkan Indonesia rawan terhadap bencana. Ancaman gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan longsor membayangi rakyat Indonesia. Berdasar data BMKG, setiap hari pasti terjadi gempa baik diatas 5SR maupun di bawah 5SR.

Luka merupakan dampak yang umum terjadi disaat bencana terjadi. Bila luka tersebut tidak segera ditangani dengan benar maka kefatalan bisa saja terjadi.

Bertolak dari kondisi ini, diharapkan masyarakat Indonesia dibekali dengan keterampilan Pertolongan Pertama. Memang pemerintah sudah memiliki cukup banyak tenaga terlatih siaga bencana (bila saya hanya berpatokan pada kuantitas atau jumlah saja), namun kondisi geografis pulalah yang terkadang menyebabkan suatu daerah terisolasi akibat terputusnya akses menuju dan keluar dari daerah bencana. Bidan desa yang merupakan ujung tombak (dan memang ini terbukti) biasanya langsung bertindak memberikan pertolongan pertama, namun tetap saja waktu menjadi taruhannya.

Kondisi tertentu, menyebabkan korban bencana membutuhkan pertolongan yang segera, bila tidak adanya tenaga terlatih awam maka penyelamatan jiwa menjadi semakin jauh dari harapan.

Dengan diberikannya masyarakat pelatihan pertolongan pertama yang adekwat dan memenuhi persyaratan atau standar maka risiko kematian, kecacatan atau semakin bertambahnya keparahan menjadi berkurang.

Pelatihan Pertolongan Pertama bagi Masyarakat merupakan sebuah kebutuhan di daerah yang rawan bencana, living with risk harus diperkuat dengan keterampilan pertolongan pertama.▲



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

4.4.11

Gempa di Cilacap belum tentu hanya mengancam Cilacap

Pagi dini hari tadi sekitar jam 3:15 WIB, saya terbangun karena handphone saya menerima SMS, dan ternyata dari BMKG yang berisi info telah terjadi gempa 7,1 SR di Cilacap dan berpotensi tsunami. Alhamdulillah 50 menit kemudian BMKG mengakhiri info potensi tsunami (tsunami tidak terdeteksi terjadi).

Sesaat setelah saya membaca maka tidak hanya Cilacap dalam fikiran saya yang terancam tsunami, pantai selatan jawa bagian tengah dan barat juga terancam. Jadi, berapa kabupaten dan kota yang terancam? Apakah karena panik sehingga saya berfikiran seperti itu? Mari kita lihat alasan saya berikut ini untuk menilai apakah kepanikan atau karena fikiran sistematis terhadap spasial?

Berikut ini adalah info yang saya terima:
Info Gempa Mag:7.1 SR, 04-Apr-11 03:06:39 WIB, Lok:10.01 LS, 107.69 BT (293 km BaratDaya CILACAP-JATENG), Kedlmn:10 Km, Potensi TSUNAMI utk dtrskn pd msyrkt :: BMKG.

Konsep sederhana berikut membuat saya berfikiran bukan hanya cilacap yang terancam:
1. Gempa di kota a belum tentu hanya kota a yang merasakan dan terdampak.
2. Gempa di kota a belum tentu kerusakannya lebih parah dari kota b yang dilalui sesar/patahan gempa yang terjadi.
3. Bila terjadi tsunami maka gelombang tsunami akan menjalar ke segala arah, bukan hanya membidik satu kota.

Berangkat dari sana, kemudian otak spasial saya otomatis menginformasikan kota-kota apa saja yang harus waspada. Selanjutnya bukan hanya teman-teman PMI Jateng yang saya infokan, tapi Jabar juga.

“Khayalan” terhadap peta setelah info gempa merusak atau adanya ancaman tsunami selalu membayang di fikiran saya. Sehingga gempa di selatan Jawa bukan tidak mungkin juga mengancam kota wisata Bali bila pusat gempa dan kekuatannya di bagian timur pulau Jawa. Ini kebalikan kejadian gempa dini hari tadi yang terjadi di barat/tengah pulau Jawa.

Kawan-kawan ingatkan saat gempa di Tasikmalaya? Dan kerusakan bukan hanya di Tasikmalaya, bahkan banyaknya di Kabupaten Bandung dan guncangannya sempat terasa sampai Jakarta.
Demikianpula saat gempa 11 Maret 2011 di Jepang yang membangkitkan tsunami besar, tsunami itu juga mencapai Papua dan menimbulkan kerusakan dan juga korban jiwa.

Jadi janganlah kita terlena hanya kota yang tercantum dalam warning, karena biasanya yang tercantum adalah kota terdekat. Bila kita lihat info lebih lengkap dari BMKG dan dari USGS maka semakin jelas bahwa kota yang tercantum hanyalah sebagai rujukan. Sehingga analisa kemungkinan kerusakan dapat kita prediksi melalui peta risiko atau minimal peta SD yang dijual dipinggir jalan. Dengan peta ini maka kita bisa melakukan prediksi sebelum kita mendapat info yang lebih jelas, sehingga kesiapsiagaan dan response bisa lebih cepat dilakukan dan tepat.

Ini info lengkap dari BMKG:
Tanggal04/04/2011-03:06:39 WIB Kekuatan7.1 SR Kedalaman10 Km Lokasi10.0 LS 107.69 BT
Pusat gempa berada pada 293 km BaratDaya CILACAP-JATENG , 303 km BaratDaya TASIKMALAYA-JABAR , 306 km BaratDaya CIAMIS-JABAR , 334 km BaratDaya PURWOKERTO-JATENG , 437 km Tenggara JAKARTA-INDONESIA


Dan ini dari USGS:
6.7 Mw - SOUTH OF JAVA, INDONESIA
Preliminary Earthquake Report
Magnitude 6.7 Mw
Date-Time 3 Apr 2011 20:06:42 UTC; 4 Apr 2011 03:06:42 near epicenter; 4 Apr 2011 03:06:42 standard time in your timezone
Location 9.786S 107.748E
Depth 24 km
Distances 241 km (150 miles) ENE (71 degrees) of Christmas Island; 279 km (173 miles) SSW (192 degrees) of Tasikmalaya, Java, Indonesia; 316 km (196 miles) S (176 degrees) of Bandung, Java, Indonesia; 421 km (262 miles) SSE (165 degrees) of JAKARTA, Java, Indonesia


Berdasarkan data BMKG, gempa tersebut juga dirasakan diberbagai kota:
Pusat gempa berada di laut293 km BaratDaya Cilacap Dirasakan (MMI):
IV Cilacap, IV Pangandaran, II Karangkates , II Denpasar, II Jogja, II Cisarua, II Purworejo.


Bahkan pagi ini ada beberapa kawan dikantor yang juga menceritakan merasakan goyangan pada jam yang berdekatan dengan waktu kejadian gempa Cilacap dan bisa jadi Jakarta juga sebenarna tadi malam merasakan dengan intensitas MMI yang rendah.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

1.4.11

Participatory Photo Mapping for Fun & Disaster Risk Reduction

TAHUN LALU SAYA berkenalan dengan seorang konsultan GIS yang bekerja untuk GTZ, dialah Bapak Y. Martin Hardiono. Kebetulan saat itu saya ingin membuat peta evakuasi di Kota Padang yang ditujukan untuk masyarakat awam, dan GTZ telah memulainya untuk BPBD Kota Padang.

Pak Martin yang juga seorang Garminerz (saya menggunakan istilah ini untuk orang yang sering menggunakan GPS Garmin, terutama untuk hobby, yah walaupun sering juga akhirnya digunakan untuk pekerjaan) membuat saya banyak diskusi dan belajar dengannya mengenai GIS dan GPS.

Beliau memperkenalkan saya dengan sebuah “Boys Toy” yaitu Geosetter. Dengan geosetter kita bisa meng-geotagging foto-foto hasil jalan-jalan ataupun hasil asesmen kita.
Nah, hasil geotagging pada foto-foto kita dapat dimuat di GoogleEarth.

HASIL GEOTAGGING DAPAT kita gunakan untuk menyimpan memori perjalanan kita, dan juga untuk membantu pejalan lain untuk menapaktilasi perjalanan kita atau paling tidak mengunjungi tempat-tempat yang kita sarankan dikunjungi oleh pejalan lain.

Tempat-tempat wisata yang indah, misalnya tempat indah yang baru saya kunjungi yaitu Bukit Lengkisau di Painan Pesisir selatan yang secara kebetulan dan mungkin sulit dijumpai lagi yaitu adanya pelangi kembar di atas Painan.

Dan juga tempat-tempat kuliner yang membuat lidah kita menari-nari karena lezatnya.
Bagaimana caranya kita meng-geotagging foto-foto kita dengan menggunakan geosetter? Berikut ini tips singkatnya:
1. Buka aplikasi geosetter
2. Unggah foto-foto yang akan di-geotagging
3. Masukkan koordinat yang sudah kita dapat melalui GPS
4. Bisa juga dimasukkan info-info yang diperlukan yang nantinya akan tampil bila foto kita diklik di jendela GoogleEarth. Nah kawan-kawan bisa narsis disini dengan mengisikan info-info artist, Caption Writer, Credit, Copy writer dengan nama kawan-kawan.
5. Save hasil geotagging
6. Klik icon GoogleEarth, dan ….. tunggu sampai GoogleEarth menampilkan hasilnya.
7. Mudahkan?

Untuk langkah detilnya saya sedang menyusunnya, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa selesai. Tapi sepertinya langkah singkat di atas juga mudah dilakukan kawan-kawan.


APLIKASI INI BISA kita manfaatkan juga untuk kegiatan yang disebut dengan Participatory Photo Mapping, terutama untuk kegiatan kesiapsiagaan bencana dan juga upaya pengurangan risiko bencana atau dalam payung besar manajemen bencana.

PMI yang sudah memanfaatkan pendekatan Participatory Risk Mapping dan juga telah banyak memiliki Disaster Risk Mappers tentunya dapat memanfaatkan tekhnik ini dan juga aplikasi ini.

Untuk ditempat kerja saya yang sekarang, Mercy Corps, saya pasti akan memanfaatkannya.

Seperti yang sudah dilakukan para Mappers PMI, dimana dulunya mereka mengambil foto dan koordinat untuk program Pengurangan Risiko terpadu Berbasis Masyarakat (Pertama) dan hasilnya digunakan untuk perencanaan kontinjensi dan pengurangan risiko di desa mitra. Maka dengan aplikasi ini akan lebih mudah mengerjakannya.

Ayo para Risk Mappers kita gunakan aplikasi ini. Buktikan kita mampu dan berkembang keterampilan kita.

UNTUK RISK MAPPERS akan saya kirimkan lewat e-mail contoh hasil kerja saya, tinggal klik dan kawan-kawan lihat hasilnya di GoogleEarth, tunggu yah.

BAGAIMANA MEMANFAATKAN HASIL participatory photo mapping dalam ranah manajemen bencana? Seperti yang pernah Risk Mappers lakukan di daerah program, yaitu dengan menampilkan peta dan foto-foto terkait hazard, vulnerability dan capacity kemudian didiskusikan bersama diantara masyarakat di desa yang bersangkutan, biasanya yang memfasilitasi diskusi adalah masyarakat sudah terlatih – Sibat (kelompok siaga bencana) misalnya. Hal ini dilakukan setelah dilakukan analisa baik antara praktisi menajemen bencana maupun masyarakat lokal.
Juga bisa dilakukan dengan berbagi data antara para aktor manajemen bencana (pemerintah, masyarakat, badan kemanusiaan –LSM, peneliti dan juga dunia usaha).

Data geotagging yang dilakukan dengan menggunakan geosetter sangat mudah dibagikan kepada mitra, dengan mengirimkan file yang sudah berbentuk KMZ. Selanjutnya bisa dilakukan analisa secara partisipatif walaupun tidak berada dalam ruangan atau organisasi yang sama dan juga tekhnik yang tidak sama pula, hasilnya bisa digunakan bersama.

Perubahan perilaku ke arah yang positif diharapkan dapat terfasilitasi dan akhirnya mudah diterima oleh masyarakat. Dengan mendiskusikan sesuatu yang nyata (foto-foto) dan juga pengalaman yang ada.

SECARA RINGKAS, ALUR pelaksanaan pemetaan & foto secara partisipatif adalah:
1. Buat perencanaan pemetaan risiko secara partisipatif bersama-sama dengan masyarakat
2. Pengambilan data (spasial, info dan juga foto) dilapangan
3. Kompilasi data
4. Analisa
5. Diskusikan hasil yang sudah diolah dengan masyarakat untuk mendapatkan umpan balik dan juga informasi baru/tambahan atau perbaikan
6. Buat perencanaan – juga dengan menggunakan data risiko lainnya (misalnya hasil survey awal, survey perilaku/KAP):
a. Perencanaan kontinjensi
b. Perencanaan upaya pengurangan risiko
c. Standar Operating Procedures (SOP)
7. Presentasikan hasil kepada pemangku kepentingan (stake holder) dan juga berbagi dengan mereka. Sehingga hasil-hasil perencanaan yang dibuat dimasyarakat dapat di”injeksikan” kepada kebijakan pemerintah yang sudah ada atau yang belum ada, sehingga pelaksanaan dilapangan akan terjadi komunikasi dan koordinasi yang baik. Bila kebijakan pemerintah daerah belum ada diharapkan perencanaan desa dapat menjadi bahan rangsangan agar pemda segera memiliki kebijakan (Perda, Perbup, Perwako, Rencana Kontinjensi, SOP dll).

Kegiatan itu selayaknya dilakukan dengan partisipasi penuh masyarakat.

JANGANLAH NEGERI KITA yang rawan bencana membuat kita hanya merasa takut dan pasrah tanpa upaya, mari kita siaga.
Tuhan, tidak akan merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mau merubahnya. ▲


Keterangan foto:
1. Perkebunan teh disepanjang jalan menuju Danau Atas (S1°04’25.2” E100°45’06.6”) dan Danau Bawah (S1°00’34.0” E100°43’52.2”) di Kabupaten Solok Sumatera Barat. Untuk dapat melihat kedua danau kembar sekaligus, anda dapat berkunjung ke Panorama di S1°02’39.6” E100°44’24.0”.
2. Kota painan dilihat dari lokasi evakuasi (S1°20’31.4” E100°35’12.0”) yang dibangun oleh pemerintah setempat di perbukitan.
3. Salah satu petunjuk evakuasi di Painan Kab. Pesisir Selatan (S1°20’59.1” E100°34’45.9”), disamping kediaman salah seorang pemimpin Kab. Pesisir Selatan.




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

22.3.11

Peta Evakuasi Tsunami Kota Padang, Launched By Walikota Padang + Peta per Sektor

Pada 30 September 2010 lalu, Walikota Padang: Bapak Dr. Fauzi Bahar meluncurkan peta evakuasi Kota Padang.

Peta ini dibuat dengan pendekatan partisipatif dari hampir semua komponen kebencanaan di Kota Padang, sebut saja: BPBD Kota Padang, Mercy Corps, GTZ, PMI Kota Padang, KSR Unit Proklamator, Bivac, Galapagos, Minang Geografis dan SKPD Kota Padang serta yang lainnya, dan juga Do’a kawan-kawan Mappers PMI se-Indonesia. Juga sumber data personal, seperti: Martin Hardiono dan Ujang Dede Lasmana & hasil Ellen keliling kota Padang, teman-teman BPBD Kota Padang, dan Willy Wicaksono.

Pengolahan data GIS oleh Pak Martin Hardiono dan Ellen Law. Sedangkan desain grafis oleh Pak Lek Iwan (nama aslinya Iswanto ).


Nah untuk membantu mereka yang membutuhkan, ini saya upload petanya.







Peta Per Area:







Peta ini pertama kali dicetak oleh Mercy Corps melalui program Disaster Risk Reduction – Awareness Campaign & Government Capacity Building.
Staf program ini adalah:
1. Ujang Dede Lasmana: Manajer Program
2. Wawan B: Team Leader for Awareness Campaign Team
3. M. Tasyrif: Team Leader for Government Capacity Building Team
4. Iswanto: PO for Awareness Campaign
5. Olla : PO for Government Capacity Building
6. Hengky : PO for Government Capacity Building
7. Harmi “Baron” Diarmi : PO for Government Capacity Building



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader