Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Kegiatan Ujang. Show all posts
Showing posts with label Kegiatan Ujang. Show all posts

22.3.13

Ketangguhan Bangsa Terhadap Bencana: Dimulai Dari Keluarga



Kemarin, saya diminta untuk menjadi narasumber dalam workshop Penanggulangan Bencana oleh PMI Kota Tangerang Selatan. Diadakan di Markas baru yang terletak di Jalan. Cendekia – dekat SMA Insan Cendikia Serpong.
Tema yang saya sajikan adalah kesiapsiagaan bencana untuk tingkat keluarga. Dengan pertimbangan, sudah banyak organsisasi kemanusiaan, LSM dan PBB yang melaksanakan program kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Program tersebut mengedepankan masyarakat sebagai sebuah kelompok yang siap siaga disaat darurat, namun masih sedikit menyinggung tentang kesiapsiagaan bagi masyarakat untuk level keluarga per keluarga. Padahal, seorang penolong bagi komunitasnya belum tentu bisa menolong lingkungannya bila keluarganya belum terjamin keamanan, keselamatan dan kelangsungan hidupnya. Demikianpula bagi pekerja kemanusiaan yang selalu keluar masuk desa, mendaki dan menuruni gunung untuk membuat suatu masyarakat menjadi siaga, namun sudahkah ia menyiapkan keluarganya?
Pemerintah mencanangkan menjadi Negara yang tangguh atau resiliens terhadap bencana, namun itu tidak akan terwujud bila kesiapsiagaan dan ketangguhan tidak dimulai dari keluarga. Kesiapsiagaan keluarga adalah pondasi ketangguhan Negara terhadap bencana. Keluarga yang memiliki kelentingan atau cepat pulih pasca bencana menyumbang porsi terbesar dalam ketangguhan bangsa. Keluarga yang siaga akan mendukung kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko sebagai sebuah budaya bagi peradaban Indonesia.
Pada lokakarya tersebut ada tujuh langkah sederhana yang saya ajukan untuk membuat keluarga tangguh dan survive disaat bencana atau kedaruratan terjadi. Ketujuh langkah ini dijalankan sejak masa sebelum terjadi bencana sampai setelah bencana terjadi. Langkah 1 – 4 adalah pada fase Pra-Bencana, sedangkan langkah 5 disaat terjadi bencana/kedaruratan, untuk langkah 6 – 7 dilakukan setelah bencana/kedaruratan terjadi. Tergantung jenis bencana/kedaruratannya, langkah  bisa saja masuk pada fase saat bencana, misalnya banjir. Namun begitu, persipakan ketujuh langkah tersebut sejak anda selesai membaca tulisan ini.
Ke-7 langkah tersebut adalah:

  1. Kenali Ancaman di Sekitar Rumah
  2. Buat Rencana Darurat Untuk Keluarga
  3. Siapkan Tas Darurat
  4. Amankan Rumah dan Lakukan Simulasi Bersama Seluruh Anggota Keluarga
  5. Tindakan Melindungi Diri Disaat Kedaruratan Terjadi
  6. Bagaimana Memberikan Pertolongan Darurat
  7. Jaga Komunikasi dan Waspadai Bahaya Susulan

Ketujuh langkah yang berurutan tersebut di atas saling terkait dalam pelaksanaannya.
Langkah 1: Kenali Ancaman di Sekitar Rumah
Langkah awal dalam upaya menyelamatkan dan membuat keluarga yang siaga adalah mengenali dan memahami lingkungan sekitar dimana kita tinggal. Untuk memahaminya, kita bisa melakukan observasi dan menanyakan apakah daerah tempat tinggal pernah terkena bencana (misalnya, banjir, longsor, kebakaran, gempa bumi, tsunami, dll) kepada warga yang sudah lebih lama dari anda tinggal didaerah tempat tinggal anda, atau anda bisa ke Markas PMI setempat untuk menanyakan apakah daerah anda pernah terkena bencana.
Buatlah daftar ancaman-ancaman tersebut dan kajilah apakah rumah anda sudah aman atau belum. Sebagai contoh, untuk gempa bumi, daftar berikut bisa digunakan untuk mengkaji apakah rumah anda tahan gempa.

  1. Apakah ada jalur darurat untuk keluar dari rumah selain pintu utama?
  2. Apakah berdasarkan cetak biru rumah anda sudah tahan gempa?
  3. Apakah kaca-kaca yang di rumah anda sudah terlindung apabila gempa pecahannya tidak mencelakai penghuni?
  4. Apakah lemari-lemari sudah kokoh berdiri?
  5. Apakah asesoris rumah seperti lampu gantung, hiasan foto dan lukisan sudah terpasang dengan kuat dan tidak mudah jatuh?
  6. Apakah tabung gas di rumah anda aman di tempatnya dan tidak mudah terjatuh disaat ada guncangan?

Beberapa pertanyaan tadi bisa dijadikan acuan keamanan rumah anda.

Langkah 2: Buat Rencana Darurat Untuk Keluarga
Bila anda sudah tahu ancaman-ancaman yang ada, maka selanjutnya buatlah rencana darurat untuk keluarga. Rencana darurat ini harus dibahas oleh semua anggota keluarga (termasuk pembantu rumah, tukang kebun, kerabat yang tinggal bersama anda) untuk akhirnya nantinya difahami oleh semua penghuni rumah.
Tentukan jalur evakuasi sehingga mempermudah keluarga menuju tempat aman yang telah disepakati. Gunakanlah peta interaktif untuk menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul, misalnya menggunakan Google Earth atau Google Map, Street Map dll.
Tentukan titik kumpul disaat anda tidak bisa menjangkau rumah karena berbagai hal akibat bencana/kedaruratan. Penentuan titik kumpul yang disepakati anggota keluarga akan mereduksi kepanikan disaat keluarga tidak berkumpul karena sedang mejalankan aktivitas sehari-hari, misalnya di kantor, sekolah, pasar dll. Dengan adanya titik kumpul maka akan menghemat waktu pertemuan dan tidak ada saling mencari yang membuang waktu. Seringkali terjadi disaat adanya bencana/kedaruratan secara insting si Ibu akan menuju sekolah untuk menyelamatkan anaknya, dan si anak cepat-cepat ingin pulang karena merasa rumahlah tempat yang aman. Dalam proses ini bisa jadi tidak bertemu karena jalan yang dilalui berbeda dan akan menambah kepanikan. Apa yang terjadi bila tahu rumah sudah tak layak dihuni akibat bencana? kepanikan dan saling kehilangan niscaya terjadi.
Juga catatlah nomor-nomor darurat dalam buku khusus, jangan andalkan menyimpannya hanya di hape, BB anda semata. Kemudian taruhlah di tas darurat anda.

Langkah  3: Siapkan Tas Darurat, Peralatan Darurat dan Ketahui Cara Menggunakannya
Langkah kesiapsiagaan berikutnya adalah siapkan tas darurat dan siapkan Tas Pertolongan Pertama (First Aid) kemudian isilah tas-tas tersebut. Sediakanlah APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Kemudian pelajarilah bagaimana cara memberikan pertolongan pertama, menggunakan alat-alat darurat dan juga bagaimana menggunakan APAR. Anda bisa meminta bantuan PMI dan Pemadam Kebakaran untuk tahu bagaimana cara menggunakannya.
Tas darurat bisa diisikan dengan makanan darurat dan minuman darurat untuk sejumlah keluarga anda, untuk persiapan selama 3 hari. Juga masukkan lampu senter dan batere cadangannya. Power Bank  yang sudah terisi penuh untuk tenaga cadangan alat komunikasi anda. Masukkan pula baju cadangan, selimut, kantong tidur, perlengkapan dan keperluan kelompok rentan (kanak-kanak dan balita, lansia dan ibu hamil serta anggota keluarga yang menderita penyakit tertentu). Bagi anda yang Muslim perhatikan kehalalan pangan dan minum cadangan anda. Isi tas bisa disesuaikan dengan kebutuhan keluarga anda.
Letakkan tas darurat, tas PP dan APAR di tempat yang mudah terlihat dan mudah dijangkau namun jauh dari jangkauan anak-anak. Untuk tas darurat anda bisa menggunakan tas travel biasa atau container plastic yang banyak dijual di toko serba ada, kemudian berikan tulisan cukup besar “TAS DARURAT” dengan warna mencolok, bisa kombinasi merah dan kuning.
Untuk tas PP banyak dijual dipasaran, terutama toko outdoor, yakinkan anda menggunakan tas PP seukuran tas ransel, bukan tas PP individu (seukuran tas pinggang).

Langkah  4: Amankan Rumah dan Lakukan Simulasi Bersama Seluruh Anggota Keluarga
Langkah ke-empat ini dilakukan setelah kita tahu dan mengidentifikasi bagian-bagian yang berbahaya di rumah. Cara mengamankan yang sederhana terhadap pecahan kaca misalnya adalah melapisinya dengan plastic transparent yang banyak dijual di pasaran. Menguatkan posisi lemari agar tidak rubuh disaat ada guncangan adalah dengan mengikatnya ke dinding, cara sederhana adalah memasang engsel di sisi lemari dan sisi tembok. Untuk tabung gas adalah dengan menggunakan ban dalam bekas. Ikatkan tabung dengan ban dalam tersebut ke dinding.
Bagi anda yang akan membangun rumah, buatlah rumah tahan gempa. Silahkan melihat situs rumah aman gempa, dengan cara ketikkan rumah tahan atau aman gempa di mesin pencari Mbah Google.
Jangan lupa, setelah anda membuat rencana darurat maka saatnya anda melakukan simulasi sederhana dan menyenangkan bagi penghuni rumah. Caranya?
Setelah anda memiliki rencana darurat plus jalur evakuasi dan titik kumpul, uji cobalah di akhir pekan sambil berolah raga pagi. Fun dan bermanfaat serta menyehatkan bukan?

Langkah  5: Tindakan Melindungi Diri Disaat Kedaruratan Terjadi
Disaat bencana atau kedaruratan terjadi, anda harus bisa mengambil langkah mengamankan dan menyelamatkan diri.

  1. Misalnya untuk gempa:
  2. Lindungi kepala
  3. Sembunyi dikolong meja atau tempat tidur. Bila disekitar anda tidak ada meja atau tempat tidur: meringkuklah ditempat anda sambil tetap melindungi kepala.
  4. Jauhi kaca
  5. Setelah gempa reda segera menuju kelapangan terbuka
  6. Bila anda berada di kendaraan, segeralah berhenti dan berjongkok atau meringkuk di sisi kendaraan. Jangan di Kolong kendaraan.
  7. Jangan gunakan lift atau tangga jalan.


Langkah  6: Bagaimana Memberikan Pertolongn Darurat
Setelah terjadinya bencana atau kedaruratan sering diiringi dengan adanya kasus darurat lainnya, misalnya terluka, patah tulang atau ancaman kebakaran pasca gempa akibat putusnya atau bocornya gas dilingkungan atau rumah anda.
Pada langkah ini diharapkan anda sudah mempelajari pertolongan pertama, sehingga anda bisa memberikan bantuan hidup dasar (pijat jantung luar dan pernafasan buatan), menghentikan pendarahan, pertolongan patah tulang, luka dan evakuasi atau pemindahan korban terluka/sakit. Juga diharapkan anda sudah belajar bagaimana menggunakan APAR disaat anda menemukan kebakaran awal.

Langkah  7: Jaga Komunikasi dan Waspadai Bahaya Susulan
Jagalah komunikasi dengan kerabat anda di saat bencana dan pasca. Ikuti perkembangan terakhir terkait bencana dan ancaman lanjutan dari lembaga yang terpercaya. Hati-hati dengan rumor dan berita menyesatkan. Berita menyesatkan pasca gempa kerap terjadi dengan menginformasikan akan terjadi gempa kembali dengan kekuatan yang lebih kuat dan disebutkan waktunya. Ingat, kejadian gempa belum bisa diramalkan, carilah informasi gempa ke BMKG, baik disitusnya – www.bmkg.go.id maupun ikuti melalui media social sejak saat ini. Demikianpula anda sebaiknya memiliki nomor darurat dari lembaga terkait lainnya.

Demikian sumbang fikiran saya semoga berguna, Insya Allah saya akan kembali berbagi tips keselamatan di lain waktu.images.jpg


Share Me Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

19.3.12

Pelatihan GIS untuk Kesehatan Masyarakat oleh CDU dan Amarilys

Minggu kemarin sejak senin sampai kamis (12-15 Maret 2012) saya mengikuti pelatihan yang di laksanakan oleh Amarilys (sebuah perkumpulan yang anggotanya para dokter yang berdedikasi tinggi dalam pelayanan kesehatan di Indonesia).

Pelatihan ini menggunakan opensource software. Pelatih utama pelatihan ini adalah Rohan Fisher dari Charles Darwin University (CDU) – Australia. Materi yang disampaikan sangat berguna apalagi Openjump (software GIS gratis) yang digunakan memiliki kelebihan dapat menampilkan chart pada peta hasil olah. Walaupun pelatihan ini temanya untuk kesehatan masyarakat, setelah selesai saya yakin ini bisa digunakan di ranah penanggulangan bencana yang sedang saya geluti.


Perkenalan dengan pemetaan kesehatan

Materi ini dibuka dengan pemutaran film pemaparan keberhasilan John Snow dalam pemecahan kasus kolera di London tahun 1754. Pemecahan itu melalui pemetaan, sehingga distribusi penyakit bisa diketahui dan juga apa penyebabnya. Penyebabnya adalah penggunaan air dari pompa yang tercemar.


Perkenalan dengan Sistem Informasi Geografis

GIS tidaklah mahal, GIS tidaklah sulit, GIS adalah menyenangkan. Itulah kesimpulan yang saya ambil dari materi kali ini. Kenapa? Karena:

1. Kita tidak perlu menggunakan sotware GIS yang mahal, gunakan saja yang gratisan misalnya OpenJump, openStreet, EpiMap dll. Biar gratis bukan hasil bajakan loh.
2. Dengan menggunakan Software ini, saya saja yang tidak memiliki background gis bisa menggunakannya.
3. Menyenangkan? Tentu ! karena dari input, proses sampai hasil sangat membuat kita mengembangkan diri dan santai.

Kita bisa menggunakan software SIG yang opensource jadi gratiskan, hasilnya? Tetap saja bagus bahkan karena bisa membuat chart maka bisa lebih berbicara dari selembar peta saja.

Bagaimana menggunakan OpenJump? Sabar yah nanti saya coba dulu di ranah kebencanaan dan bila sudah jadi maka saya share ...


Share Me



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

2.3.12

Aku dan UU Lambang PMI

Beberapa waktu ini, beredar cerita bahwa saya bergabung dengan salah satu LSM yang “menjalankan” fungsi kepalangmerahan walaupun sudah ada organisasi yang menjalankannya yaitu PMI. Dalam kiprahnya itu, saya diisukan menjadi salah satu administrator jejaring sosial yang melaksanakan fungsi menggagalkan lahirnya UU Lambang Palang Merah.

Sudah setidaknya 3 (tiga) saudara saya dari PMI Kota dan Kabupaten di DKI dan Jawa Barat yang bertanya langsung ke saya mengenai ini. Saya bersyukur mereka bertanya langsung ke saya, sehingga saya tahu issue yang sedang di tembakkan ke saya kali ini setelah issue-issue yang lainnya.

Perlu Kawan-kawan ketahui, saya masih berada di belakang organisasi resmi yang diakui oileh ICRC dan anggota IFRC, tidak mungkin saya pindah ke lain hati. Ingatkah Kawan-kawan disaat UU mengenai PB dalam proses kelahirannya, justru saya bersama dengan Kawan-kawan MPB I dan INGO’s, NGO’s terus berjuang memasukkan PMI ke dalamnya dan akhirnya berhasil, walaupun pada saat-saat terakhir akan disyahkannya UU tersebut oleh DPR Ketua Umum PMI menarik diri.

Mengenai mengapa admin tersebut sangat tahu seluk beluk PMI dan Konvensi Jenewa, saya yakin karena mereka mau belajar, seperti teman-teman di PMI. Karena pengetahuan mengenai kepalangmerahan/bulan sabit merah sangat terbuka dan siapapun bisa membaca bahkan melakukan penelitian tentangnya.

Sehingga dengan ini saya sampaikan kepada Saudara-saudaraku dan Teman-temanku, juga mereka yang tidak mau berteman dengan saya lagi: saya masih berada di belakang PMI dan tidak akan berpaling ke organisasi yang tidak sesuai dengan Konvensi Jenewa, Statuta ICRC dan KepPres RIS.

Untuk teman (yang satu itu) yang “memasarkan” issue negatif tentang saya ini, semoga sadar bahwa anda bukan yang Maha kuasa dan mampu mengatur hidup saya.


Share Me



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

6.12.11

5 Desember: International Volunteer Day

Betapa bangganya saya, hari ini di hari Sukarelawan Internasional saya dapat bersama-sama dengan sukarelawan pengurangan risiko bencana dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berasal dari SAR Sampoerna, Pasag, Kappala, Muhammadiyah, Yakkum, Perkumpulan Skala, Lingkar dan juga komunitas-komunitas. Sukarelawan ini terbukti berperan besar dalam penanggulangan bencana di Indonesia, sejak fase pra sampai pasca bencana.

Mereka berkumpul disini dalam kegiatan Konferensi Nasional ke-7 Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat, yang diadakan di Cangkringan Sleman. Konferensi kali ini sangat berbeda dengan Konferensi-konferensi sebelumnya. Karena konferensi kali ini dilaksanakan di kompleks hunian sementara masyarakat penyintas erupsi merapi tahun lalu, konferensi sebelumnya dilakukan di hotel.

Para sukarelawan yang hadir dikegiatan ini, mungkin tidak seterkenal sukarelawan response, namun mereka sangat dikenal oleh masyarakat penyintas, kenapa? Karena mereka tetap ada setelah gonjang ganjing berita padam. Mereka terus bekerja untuk membuat penyintas kembali berdaya, disaat mereka mulai dilupakan. Mereka bekerja bukan untuk disorot di kamera media, tapi karena jiwa samaritan mereka.
Kawan-kawan sukarelawan, baik prb maupun response saya haturkan dirgahayu, mari terus berkarya demi Indonesia yang lebih baik dan berketahanan.




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

26.9.11

Sukarelawan Penanggulangan Bencana dan Pisau Lipat

Hampir setahun lalu, Gunung Merapi mempertunjukkan kekuatan dan ancamannya. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi [Provinsi DIY dan Jawa Tengah] yang jumlahnya ratusan ribu harus mengungsi dari sekitar lereng Merapi tidak sedikit juga yang membawa hewan ternaknya). Demikian pula [mungkin jumlahnya hampir ribuan] mereka yang menamakan dirinya sukarelawan yang akan membantu para penyintas Gunung Merapi.

Bukanlah saat ini tulisan ini membahas tentang nasib penyintas, namun saya akan membahas nasib seorang, yah hanya seorang, yang seorang itu adalah sukarelawan yang harus ditangkap polisi dan mendekam bulanan di balik jeruji ruang tahanan kantor polisi salah satu propinsi yang terdampak. Kenapa dia sampai mengalami nasib seperti itu? Apakah ia melakukan seperti yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku sukarelawan di Aceh namun malah mencuri barang bantuan ? bukan, ia bukan ditangkap karena itu, tapi ia ditangkap karena membawa pisau lipat, pisau lipat yang umum digunakan oleh pekerja dan sukarelawan kemanusiaan disaat menjalankan tugasnya.

Alasan penangkapan karena ia melanggar aturan mengenai negara dalam bahaya dan darurat (konflik bersenjata). Lalu apakah karena aturan itu sehingga pisau lipat yang saya yakin akan dapat menyelamatkan banyak nyawa justru tidak boleh dibawa oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk menyelamatkan ? apakah polisi yang dilapangan bekerjasama dengan kita akan memperlakukan kita seperti itu ? Saya rasa polisi akan tetap menjadi kawan kita apakah disaat bersama-sama menjalankan tugas mulia menyelamatkan jiwa sesama atau disaat tidak dalam status bencana.

Saya dalam tulisan ini akan berbagi pengalaman bagaimana agar kita (sukarelawan penanggulagan bencana/ tim rescue atau penyelamat) akan aman membawa pisau dan justru akan dimaklumi oleh rekan kita dari anggota kepolisian.

Hargai Polisi sebagai aparat penjaga keamanan dan keselamatan rakyat Indonesia
Bila kita berjumpa polisi yang sedang bertugas melakukan razia senjata tajam atau api atau narkoba, atau yang sepele razia lalu lintas, lakukanlah hal berikut :
1. Berlakulah sopan dengan polisi bila ia memberhentikan kita dan menanyakan diri kita serta meminta menggeledah tas kita, bagaimanapun ia memang memiliki wewenang melakukan razia demi keamanan dan keselamatan rakyat Indonesia.

2. Berikan salam, kemudian anda bisa membuka pertanyaan dengan : "Selamat Malam [sesuai situasi tentunya] Pak/Bu, ada yang bisa saya bantu ?"

3. Berikan identitas diri dan surat tugas yang diminta oleh Polisi sehingga Polisi bisa mengidentifikasikan kita sebagai tim penyelamat.

4. Jawablah segala pertanyaan Polisi dengan profesional. Tim Penyelamat, dan Sukarelawan adalah orang yang terlatih untuk tidak mengutamakan emosi dalam menghadapi situasi apapun, betulkan kawan ? Emosi hanya akan membangkitkan emosi pihak lain.

Tips aman membawa pisau lipat:
Disaat bertugas dilapangan baik itu respons bencana maupun kegiatan kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko bencana, saya selalu membawa pisau lipat tipe Rescue Tool, namun saya tidak "polos" dalam membawa pisau. Saya membekali diri dengan hal-hal yang bersifat administratif, berikut ini pengalaman saya disaat bertugas atas nama PMI:
1. Surat tugas dari lembaga dimana saya bertugas.

2. Kartu Pengenal dari lembaga saya bertugas atau lebih dikenal dengan ID Card.
Di belakang kartu pengenal PMI biasanya ada tulisan permohonan bantuan kepada Pihak TNI/Polri dan Pemerintahan setempat untuk membantu pemegang kartu tersebut sehingga ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

3. KTP

4. Buku Petunjuk Pelaksanaan Satgana PMI.
Nah untuk Kawan-kawan di PMI, buku ini penting untuk selalu dibawa disaat bertugas karena buku ini memiliki kekuatan hukum, didalamnya mencantumkan bahwa buku ini adalah panduan yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat PMI untuk dijalankan disegala jajaran dan tingkatan PMI dari Nasional sampai Desa.
Dan dibuku ini pula dicantumkan bahwa pisau lipat adalah perlengkapan perorangan dari anggota Satgana PMI [lihat Bab III, hal. 11 tentang Perlengkapan Perorangan] selain itu pisau jenis lain sebagai perlengkapan operasional [lihat juga Bab III, hal 11 tentang Perlengkapan Operasional]. Sehingga buku ini dapat membantu kawan-kawan anggota PMI yang sedang bertugas sebagai satgana bila menghadapi situasi dimana ada razia.

5. Jaga hubungan baik dengan kepolisian dimana kita ditugaskan.

Bagaimana bila organisasi tempat kita bersumbangsih belum seperti PMI?
Mungkin tips yang juga pernah saya dan beberapa teman saya lakukan bisa dilakukan teman-teman, berikut ini mungkin berguna:
Bekali diri anda dengan:
1. Surat tugas dari organisasi anda.

2. Kartu Pengenal dari organisasi anda.

3. KTP.

Bila sudah lengkap :
1. Datanglah ke Polsek atau Polres dimana Organisasi anda berada, jelaskan siapa anda dan anda menjalankan tugas dari organisasi apa dan berkantor dimana serta akan ditugaskan ke daerah bencana mana.

2. Mintalah surat jalan dari kepolisian tersebut, mintalah kepada kepolisian untuk mencantumkan bahwa anda membawa pisau [baik itu pisau lipat atau pisau P3K, atau pisau lainnya yang terkait dengan penugasan anda].

3. Bila anda sudah mendapatkan surat jalan tersebut dan juga sudah berada di daerah penugasan, segeralah melaporkan diri ke kepolisian setempat dengan menunjukkan surat jalan anda dan tunjukkan barang-barang yang tertera di surat jalan bila diminta.

4. Saya yakin, bila ini anda lakukan, pihak kepolisian pasti akan menyambut anda dengan baik bahkan akan memberikan perlindungan dan bantuan. Rekan saya bahkan sampai diberikan makan segala loh, sudah dianggap seperti kawan oleh polisi-polisi tersebut walaupun baru kenal.

Naik Pesawat
Nah ini juga momok bagi beberapa rekan yang akan bertugas dan membawa pisau lipat, mereka takut disita oleh pihak bandara. Langkah berikut ini pernah saya dan juga beberapa teman saya lakukan tanpa kehilanga pisau lipat:
1. Jangan bawa pisau kedalam kabin, masukkan saja ke dalam tas yang akan dimasukkan dalam bagasi pesawat, lebih baik lagi bila dimasukkan ke dalam sarung pisau.
2. Bisa juga pisau tidak dimasukkan kedalam bagasi, tetapi anda titipkan kepada pihak maskapai penerbangan sebagai Security Item yang artinya pisau ini nantinya akan dititipkan kepada pilot dan bisa kita ambil dibagian Lost & Found. Pada saat check in sampaikan niat anda ke petugas nanti ia akan membantu anda.
3. Jangan sampai lupa seperti yang pernah saya alami, pisau terbawa sampai pemeriksaan mau naik pesawat, hasilnya pisau V********x kesayangan saya disita, huhuhu sedihnya.

Selamat bertugas, semoga aman dan selamat.




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

10.5.11

Akhirnya! Bisa Berfoto di Depan Peta Evakuasi Kota Padang

Sejak tanggal 2 sampai 6 May 2011, saya berkesempatan mengunjungi Kota Padang. Kunjungan saya kali ini adalah untuk mengadakan pelatihan untuk program API Perubahan bagi Komite Pengarah Provinsi Sumatera Barat.

Akhirnya, dengan saya mengunjungi Kota Padang pasca saya tergabung dalam program Disaster Risk Reduction – Awareness Campaign & Government Capacity Building saya berkesempatan melihat dan berfoto (hmm narsis yah) dengan latar peta evakuasi tsunami kota Padang.
Maklum saya belum sempat melihat secara langsung peta itu sejak dipasang di bulan Oktober 2010 lalu.

Berikut ini foto-foto saya dan kawan-kawan dengan latar belakang peta evakuasi.▲

Seorang pengunjung melihat peta dimalam hari dengan menggunakan senter


Salah seorang staf Mercy Corps (Moeslem) memberikan keterangan bagaimana membaca peta dan juga apa yang bisa dilakukan disaat ada peringatan tsunami.


Saya, Moslem dan Dini melangkah bersama, hmmm mau makan jagung bakar dulu ah


Foto narsis a la Dini



Nah akhirnya bisa foto juga dengan latar belakang peta evakuasi yang dibuat secara partisipatif


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

13.8.10

Anak-anak Lebih Siaga

Mercy Corps melaksanakan lomba poster di tiga daerah secara simultan di Pesisir Selatan, Padang Pariaman dan Padang. Uniknya bukan hanya lomba poster yang digawein oleh staf Mercy Corps, namun juga beberapa permainan dan kuis yang berhadiah.

Menanamkan rasa siaga dan memperkenalkan upaya pengurangan risiko sejak dini terhadap anak-anak memang sudah menjadi cara yang efektif. Inovasi dibutuhkan untuk bisa menjangkau pemahaman dan logika anak-anak. metode klasikal dimana guru menyampaikan materi satu arah mungkin hanya cocok untuk mencapai tujuan menambah pengetahuan, namun untuk mengembangkan nalar dan daya analitik untuk menyikapi upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko membutuhkan tekhnik khusus apalagi bila kita menginginkan mereka dapat mempraktekkan dalam kehidupannya sebagai bagian dari hidupnya.

Pelatihan partisipatif yang dikemas dalam permainan dan kuis diyakini dapat menambah pengetahuan si anak didik, apalagi diikuti dengan diskusi yang tidak mengutamakan kebenaran atau kesalahan dari pendapat si anak akan dapat meningkatkan penalaran dan daya analitik si anak (apalagi bila mengutamakan kebetulan, salah kan walaupun akar katanya dekat: betul dan benar, karena tidak pernah ada pahlawan pembela kebetulan yang ada adalah pahlawan pembela kebenaran, hihihi) untuk bisa menyikapi suatu masalah dengan harapan mereka dapat melakukan/mempraktekan baik secara sadar maupun tidak sadar.

Permainan ular dan tangga kesiapsiagaan bencana yang dikembangkan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) digunakan oleh Mercy Corps sebagai salah satu inovasi dalam menanamkan kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana.

Dalam Permainan ini peserta diminta untuk memberikan pendapatnya mengenai kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana sesuai dengan pernyataan yang ada pada kotak-kotak ular tangga. Pion dalam permainan ini adalah si anak itu sendiri sedangkan dadu yang digunakan adalah dadu segede gaban (menyontek istilah kawanku di PMI Pusat, Mas Dwi Haryadi, yang merujuk sesuatu yang besar, hehehe apa kabar Mas Dwi?).

Saat, sebut saja saat si Upik atau si Ujang (wah ternyata nama Ujang itu di budaya Minang adalah nama panggilan untuk anak laki-laki yah sama donk sama di Sunda) melempar dadu kemudian dadu menunjukkan sejumlah titik tertentu maka ia harus melangkah sesuai jumlah titik itu (wah ini mah sama atuh dengan ular tangga yang biasa, yah emang pada dasarnya sama Tong), selanjutnya si Upik atau si Ujang harus membaca kalimat yang ada dikotaknya yang baru dan kemudian memberikan tanggapan, jawaban atau pendapatnya. Tidak ada jawaban yang akan disalahkan loh dalam permainan ini, bila salahpun maka fasilitator akan melemparkan diskusi ke peserta lain atau penonton lain dengan kalimat yang halus sehingga si anak tidak merasa dihakimi.

Hukuman dalam permainan ini sama dengan ular tangga yang biasa yaitu dia akan turun ke kotak sebelumnya, namun dalam permainan ini dibuat suatu kondisi sehingga mengapa si anak harus turun atau naik sebagai penghargaan. Misalnya begitu sampai di suatu kotak maka tertulis: Kamu lupa membawa tas siaga maka kamu harus turun, nah seperti sebelumnya maka si anak yang bersangkutan harus memberikan alasan kenapa ia harus turun dan apa manfaat tas siaga dan apa saja yang ada dalam tas siaga. Demikian pula sebaliknya untuk penghargaan, misalanya: Kamu telah menanam pohon bakau maka kamu naik.


Pertunjukkan boneka juga dilakukan oleh staf Mercy Corps. Dalam pertunjukan ini diramu sedemikian rupa sehingga anak-anak tertawa, sedih, mencekam dll lain-lain perasaan, komunikasi dua arah juga dibangun dalam pertunjukkan ini. Tanya jawab antara dua boneka atau boneka dengan penonton atau sebaliknya bisa terbangun.

Kisah yang mengusik hati adalah disaat anak-anak diminta untuk bernyanyi maka sebagian besar anak dari ketiga daerah justru menyanyikan lagu-lagu dewasa, semisal lagu yang dinyanyikan oleh Luna Maya (salah satu katanya adalah Ku menunggu, lanjutannya saya ga hapal tapi yang saya tahu itu lagu pernah dinyanyikan Luna Maya, saya tahunya lagu Ridho Irama wakakakakak) dan juga lagunya wali Mencari jodoh, tidak ada anak-anak yang menyanyikan lagu anak-anak. Nah pas para gurunya diminta bernyanyi maka lagu yang paling dinyanyikan para guru adalah: disana senang, disini senang (wah memang jauh yah jarak masa antara murid dan guru).

yang membuat sedih lagi adalah disaat ada pertanyaan tentang dimana ibu kota Indonesia dan nama presiden RI banyak yang salah menjawab. Disaat diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya banyak juga anak-anak yang menyanyi dengan salah baik lirik maupun irama, waduh.

Namun dibalik itu semua yang membuat saya bangga adalah ternyata anak-anak lebih siaga dibandingkan guru mereka (saya menulis dengan senyum dikulum nih).

Lagu Bila ada gempa sangat familiar diantara anak-anak.

Kalau ada gempa Lindungi Kepala
Kalau ada gempa sembunyi di kolong meja

Kalau ada gempa menjauh dari kaca

Kalau ada gempa lari ke tempat terbuka
. Δ






Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

17.7.10

Simulasi Gempa di Mercy Corps

Kesiapsiagaan terhadap bencana harus dilakukan dimana saja, termasuk di kantor Mercy Corps Padang. Sebagai Badan Kemanusiaan yang berkhidmat dala Upaya Pengurangan Risiko Bencana maka kesiapsiagaan dimulai dari lingkungan sendiri.

Kelompok Kerja Penyusunan Rencana Kontinjensi kantor Mercy Corps Padang sepakat untuk melakukan simulasi tahap demi tahap, dimulai dari bagaimana seluruh staf dan siapapun yang ada di kantor saat simulasi itu dilakukan keluar dari kantor. Waktu dihitung sejak warning dikeluarkan sampai orang terakhir keluar dari kantor.

Warning dari simulasi gempa ini adalah saya meniup peluit panjang sebanyak tiga kali.

Pagi hari tanggal 21 Juni 2010, pokja RenKon (Endang, Wahyudi, Dasci dan Saya) rapat untuk membahas simulasi yang akan dilakukan, termasuk material apa yang harus disiapkan dan pelatihan apa yang diperlukan.

Sore harinya simulasi dimulai. Pluit saya bunyikan dengan panjang sebanyak 3 kali. Segera saja kawan-kawan berlarian menyelamatkan diri, ada seorang tamu dari UN yang menanyakan ada apa dan dijelaskan tujuan simulasi kami oleh rekannya. Ia pun ikut ambil bagian dari simulasi ini dengan ikut berlari keluar kantor.

Semua staf Mercy Corps termasuk acting director ibu Janice Yaden mengikuti simulasi dan juga dua mahasiswa yang sedang magang di Mercy Corps Padang, Teroon dan Jose.

Wajah serius dan konyol memang terlihat dari rekan-rekan yang mendukung simulasi ini, dan simulasi seperti ini akan terus dilakukan disaat-saat mendatang. Bila terasa gema melupakan gempa, maka segera saja saya bunyikan peluit panjang 3 kali. Siap-siap yah kawan-kawan.

Berdasarkan evaluasi kawan-kawan maka beberapa hal menjadi catatan:

  1. waktu yang 51 detik adalah waktu yang terlalu lama, kita harus memperbaiki catatan waktu ini.
  2. kawan-kawan dari lantai 2, nah ini juga lantai saya, memiliki kerentanan tinggi, karena khawatir disaat menuju luar dan bangunan colaps maka akan tertimbun. Perlu dicari jalan keluar yang aman tanpa harus melalui lantai dasar.
  3. simulasi selanjutnya harus menjadikan titik kumpul menjadi titik yang harus dicapai.

Selamat bersimulasi, temukan cara teraman untuk menyelamatkan diri dan bersiap menyelamatkan jiwa orang lain. Δ

Tulisan ini pernah dimuat di http://petapartisipatif.wordpress.com/2010/06/25/ada-gempa-di-kantor-mercy-corps/#more-55

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

23.6.10

Dua Pelangi di Painan

Malam hari menuju Painan untuk meninjau pelatihan VCA didahului dengan hati yang kesal karena disaat saya akan memasang GPS Garmin ETrex Vista HCx dibracket ternyata tidak bisa dipasang. Saya pikir saya terbalik memasangnya, ternyata setelah saya lihat clipper di belakang GPS sudah ada bagian yang patah. Duh, siapa yang mematahkan yah? Memang sih sebelumnya GPS saya ada yang meminjam untuk memetakan Kota Padang (mencari titik-titik landmark Kota Padang dan meeting point pengungsian) tapi apa iya mereka? Soalnya mereka tidak cerita kalau baru mematahkannya. Mudah-mudahan ada yang mengaku deh (mode sedih : ON)

Kegalauan saya, walaupun saya juga penjual GPS, apakah di rumah ada spare clipper tersebut. Bila tidak ada maka kenyamanan saya menggunakan GPS akan terganggu, memangnya enak selama perjalanan pegangin GPS terus?

VCA Training
Kawan-kawan Mercy Corps, program ACGC, melaksanakan pelatihan VCA di tiga kota/kabupaten secara marathon. Kota Padang memulai rangkaian pelatihan ini, dilanjutkan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan terakhir Kab. Pesisir Selatan.

Peserta pelatihan ini diutamakan adalah pegawai Pemda masing-masing kota/kabupaten, diantaranya adalah Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) atau Kesbangpolinmas bagi kabupaten yang belum memiliki BPBD, kemudian Bappeda, DisHub, DKP, Polri, TNI, PMI, dll.

Pelatihan VCA ini dibantu fasilitator dari Jemari Sakato – sebuah LSM Lokal yang berkhidmat dalam peningkatan kapasitas pemda dan masyarakat serta pendekatan partisipatif.

Jumlah peserta tidak sebanyak undangan yang disebarkan namun pelaksanaan pelatihan tetaplah menarik dan sesuai dengan tujuan. Pelatihan di Pesisir Selatan dilaksanakan di Hotal Adhi Karya (S01°20’33.3” E100°34’44.9”)

VCA (Vulnerability & Capacity Assessment) adalah sebuah pendekatan dalam melakukan pengkajian risiko bencana dengan melihat unsur-unsur kerentanan dan kapasitas yang ada di daerah yang sedang dikaji atau daerah tetangga.
Untuk mendapatkan data-data kerentanan dan kapasitas yang valid maka pendekatan Pengkajian Perdesaan Partisipatif (PRA = Participatory Rural Appraisals) digunakan sebagai alat pengumpul data. Sehingga data-data spasial (keruangan), sejarah desa, aktivitas masyarakat dan juga kelembagaan yang ada didaerah yang sedang dikaji bisa kita dapatkan dan dianalisa sehingga kita bisa mengambil langkah-langkah yang tepat dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana dan yang lebih luasnya dalam manajemen bencana.

Prinsip partisipatif yang digunakan dalam VCA memiliki dampak juga bahwa dalam pelaksanaanya akan terjadi proses saling belajar antara fasilitator dan masyarakat yang terlibat.

Dua Pelangi di Langit Langkisau Painan

Setelah pelatihan VCA hari pertama di Painan selesai saya Tanya kepada Iwan (Sang Photographer) apakah dia pernah ke langkisau, dan ternyata dia belum pernah – termasuk juga Mas Wawan Bossnya Iwan. Yah sudah, saya kontak Mappers PMI Pesisir Selatan (Ismaizondra) untuk ke Bukit Lengkisau dan mengejar Sunset disana. Bersama-sama kami menuju bukit Lengkisau yang indah, tidak ketinggalan kami membawa sisa-sia snack pelatihan untuk cemilan kami.

Begitu sampai di Bukit Lengkisau (S01°20’26.4” E100°34’26.6”), kami langsung mengambil posisi memfoto dan difoto, jepret – jepret – jepret.

Kemudian kami bercengkrama, bercerita dan bercanda ngalor ngidul.

Keindahan Lengkisau memang membuat kami memuji Sang Pencipta, Subhanallah.

Disisi selatan terlihat kota Painan yang dari sisi Risiko Bencana, terletak pada posisi yang sangat berisiko demikian pula diarah utara terlihat bagian kota yang lain yang tak kalah risikonya. Perlu diambil langkah-langkah manajemen risiko oleh Pemerintah, Masyarakat (beberapa Nagari telah memiliki kelompok-kelompok siaga bencana – PMI menyebutnya SIBAT dan Mercy Corps menyebutnya Kelompok Siaga Bencana), Badan-badan Kemanusiaan (PMI dan Mercy Corps sudah memulainya), dunia usaha, dan perguruan tinggi (Universitas Andalas ditunggu sumbangsihnya disini)

Bukit Lengkisau terkenal dengan sering melaksanakan kejuaran Paralayang dan bahkan sampai terkenal ke mancanegara. Dan posisi kami duduk saat ini adalah tempat para atlet paralayang launching untuk terbang dan melayang.

Awan berarak memperhatikan kami yang terus bercengkrama dan bercanda serta saling memfoto. Bakwan atau Bala-bala yang kami bawa dari tempat pelatihan menjadi menu yang nikmat apalagi dimakan dengan cabai segar wuihhh sedapppppppp. Sampai-sampai Mas Wawan menghabiskan cabai rawit yang ada, nikmatnya memang memakan cabai dibandingkan dengan saus sambel katanya.

Kemudian, entah siapa yang berteriak (saya lupa) pertama kali, “lihat! Ada pelangi” dan sejurus kemudian kami mengarahkan pandangan kami kearah telunjuk kawan kami mengarah. Yups, terlihat pelangi yang indah. Segera saya memfotonya, namun karena saya memang amatir dan tidak tahu bagaimana mengambil foto pelangi jadi hasilnya yah kurang menyenangkan.

Kemudian saya lihat ada pelangi lain di atas pelangi pertama. Subhanallah, indahnya pemandangan sore itu. Sudah beberapa kali saya ke Lengkisau dan baru kali ini saya mendapat kesempatan yang seperti ini. Alhamdulillah.
Selanjutnya, sudah bisa ditebak, jepret – jepret – jepret Iwan dan Izon memfoto dua pelangi diatas Painan.




Setelah puas dan juga suara azan maghrib sudah berkumandang segera kami menuju Painan. Kemudian Izon punya ide untuk bakar ikan nanti malam di kantor Mercy Corps.


Ikan Bakar Nan Nikmat

Di kantor Mercy Corps Pesisir Selatan (S01°21’00.4” E100°34’46.7”), semua staf sibuk mencari link di internet untuk bisa menyaksikan siaran langsung piala dunia 2010 yang di gelar di Afrika Selatan.

Sekitar jam 7-an, kami meluncur mencari makan malam. Dan tibalah di rumah makan (S01°20’36.4” E100°34’51.5”) yang menyediakan berbagai makanan yang membuat kami cocok, setiap orang bisa memilih makanan sesuai seleranya, untuk rasa tidak mengecewakanlah.

Sekembalinya kami dikantor Mercy Corps, kembali kegiatan facebookan (Gatot), mencari link piala dunia (Tasyrif) dan mengutak-atik foto (Iwan) kami di Lengkisau dilakukan.

Tiba-tiba “tin tin”, terlihat mobil Ambulans PMI Pesisir Selatan menepi di muka kantor Mercy Corps. Turunlah rombongan Sukarelawan PMI dengan membawa ikan, alat bakar dan bumbu-bumbunya.

Ikan laut nan segar ini menurut kawan-kawan PMI didapat dari Pak Tanjung (salah seorang Sibat yang pernah saya latih menggunakan GPS untuk memetakan daerahnya beberapa tahun yang lalu), memang persaudaraan diantara Sukarelawan bukan hanya dibibir namun didunia nyata hal itu terbukti.
Segera mereka (Mercy Corps dan PMI) menyiapkan bumbu-bumbu ala minang (pedasnya sambal, asamnya cuka dan rempah-rempah lainnya segera menyeruak relung nafsu lidah kami).

Dengan menggunakan bensin, bara disiapkan. Tumpukan batok kelapa diatas bensin disusun sedemikian rupa, dan api dinyalakan. Asap langsung menyeruak dari batok yang terbakar dilanjutkan dengan api yang membesar dan membubung. Ikan siap dibakar, menunggu bara jadi.

Begitu bara sudah jadi, ikan kakap hitam yang besar ditaruh diatas bara. Singkat cerita matanglah sang ikan dilanjutkan dengan membakar ikan kakap merah dan ikan sejenis tongkol. Sambil membakar ikan-ikan gelombang dua, kami sikat ikan kakap hitam itu di meja rapat. Untunglah nasi sisa makan siang masih ada, jadi kawan-kawan dapat menikmati ikan bakar dengan nasi. Saya sih cukup konsentrasi dengan ikannya saja, kan makan nasi sudah sering, makan ikan bakar yang senikmat ini kan jarang.

Nah ikan gelombang kedua yang ada ikan kakap merahnya ini yang sangat nikmat, maklumlah kakap merah itukan memang ikan yang sangat nikmat. Disaat saya mengoperasi kepala ikan kakap merah ini saya teringat masakan kepala ikan kakap merah buatan ibuku, hmmmmmmm nikmatnya gulai kepala ikan buatan ibuku melintas pikiranku, kerinduan akan keluarga membuatku berhenti sejenak – teringat anakku Aza yang sedang rindu berat (sering menelepon dan bilang betapa kangennya Ia kepadaku beberapa hari ini), istriku Maya yang sedang mengandung anak keduaku. Aku merindukan mereka, semua keluargaku.

Sampai bosan dan mabuk kami makan ikan bakar yang dibawa kawan-kawan PMI. Memang terasa disini, persaudaraan diantara para pekerja kemanusiaan.

Kapan lagi kami bisa menikmati ini.

Segera! Karena kami pasti akan menikmati tugas dan kuliner.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
GPS murah di sini,
kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

18.6.10

Sup Kaki & Peta Evakuasi

Seusai saya, Olla, & Ellen berdiskusi dengan Pak Dedy Kepala BPBD Kota Padang dan Willy Wicaksono (biasa dipanggil Wicak) untuk membahas kelanjutan pembuatan peta lipat jalur evakuasi di Kota Padang, kami tiba dikantor dan ditanya oleh Bu Endang apakah kami mau makan siang dengan Sup Kaki Khas Padang? Keruan saja saya jawab mau – maklumlah lapar dari pagi belum makan (?). Ini juga dengan pertimbangan sup kaki itu pasti biasa saja tidak ada yang lebih istimewa dibanding saya makan sup kaki sapi selama ini.

Di kantor yang menunggu sup itu adalah Panji, Sherly “Ai”, Bu Endang sendiri, Indra, Wahyu, Yeni dan Ellen, sedangkan Olla tidak mau makan lagi sudah kenyang katanya. Sedangkan Ellen memesan sup daging


Peta Lipat jalur Evakuasi Kota Padang
Sambil menunggu sup datang, akan saya ceritakan perkembangan kami membuat peta lipat.

Terinspirasi dengan perjalanan saya (beberapa) kali ke Bangkok, saat penumpang tiba di bandara bangkok maka ia akan disuguhkan berbagai jenis peta, baik itu peta wisata, belanja dan informasi lainnya. Sehingga mereka yang baru datang ke Bangkok akan dengan mudah menjelajahi Bangkok.

Juga terinspirasi dengan perjalanan ke Phuket (bukan karena semboyan good guy goes to heaven, bad guy goes to Phuket loh), sebuah kota yang sempat luluh lantak akibat tsunami 2004 yang juga melanda Aceh dan Sumatera Utara. Dan saat saya berkunjung di 2009 kehidupan pariwisata sudah pulih, apakah wisatawan sudah lupa dengan peristiwa itu? Dimana ratusan wisatawan meregang nyawa dihantam tsunami yang dahsyat. Ternyata wisatawan merasa aman berwisata disana, kenapa? Karena peta evakuasi mudah didapat, dalam bentuk lipatan sehingga bisa masuk ke dalam saku dan juga tanda-tanda jalur evakuasi, daerah berbahaya, daerah aman dan titik berkumpul mudah sekali kami ketemui, termasuk didaerah yang boleh dikatakan daerah merah (XXX) wisata.

Sempat saya bertanya ke beberapa wisatawan, dan jawabannya tidak jauh berbeda, mereka merasa aman karena tahu kemana mereka bisa menyelamatkan diri dimanapun mereka berada dan juga aparat keselamatan (polisi dan penyelamat) serta pihak swasta penyelenggara wisata sudah bahu membahu dalam manajemen bencana agar wisata mereka kembali pulih. Walaupun daerah itu termasuk rawan tsunami namun dengan kerjasama yang keras diantara semua pihak terlihat sektor wisata mendapat dukungan dan keuntungan sehingga wisatawan tidak takut untuk datang dan investor juga merasa aman dan nyaman berinvestasi disana, kenapa? Karena sudah ada rencana kontinjensi dan SOP yang jelas serta manajemen bencana yang jelas. Sebenarnya dalam UU No 24/2007 tentang Manajemen Bencana di Indonesia juga diungkapkan bahwa bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab dalam manajemen bencana, namun juga Badan kemanusiaan (ini sudah pasti), masyarakat, peneliti dan perguruan tinggi, serta pihak swasta. Kelima pihak ini di Indonesia sudah mulai bergeliat untuk bahu membahu dalam manajemen bencana, walaupun masih dijumpai beberapa kepala daerah tidak mau menjalankan amanat undang-undang dengan alasan “bila kita menyiapkan rencana kontinjensi bencana, SOP dan mendirikan BPBD serta menerbitkan Perda Penanggulangan Bencana maka investor dan wisatawan akan kabur”, bukankah ini pemikiran yang sangat terbalik?

Mercy Corps, di Propinsi Sumatera Barat menjalankan dua (2) program Pengurangan Risiko Bencana: 1) bertajuk P3DM (Public-Private Partnership Disaster Management) – nah dalam program inilah Mercy Corps membantu Pemda untuk menjalin kemitraan antara Masyarakat, Pemerintah dan sektor Swasta dalam Manajemen Bencana yang terintegrasi; dan 2) yang kedua (kebetulan saya Manajer Programnya) adalah Peningkatatan Kesadaran Masyarakat dan Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pengurangan Risiko, kegiatan ini menjalin kemitraan yang semakin kuat antara Masyarakat dan Pemda serta kampanye kesiapsiagaan, program ini bertajuk DRR ACGC.

Nah salah satu kegiatan yang program saya lakukan adalah membuat peta evakuasi yang nantinya akan disebarluaskan ke masyarakat Kota padang dan wisatawan lokal maupun mancanegara, peta ini haruslah peta yang mudah dibaca, difahami dan mudah dibawa. Dalam peta itu juga akan memuat pesan-pesan kesiapsiagaan.

Bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Kota Padang dan GTZ, Mercy Corps sudah memulai langkah-langkah yang diperlukan. Tim Mercy Corps dalam pembuatan peta ini adalah:
1. Ujang Dede Lasmana, DRR ACGC Program Manager
2. Ellen, Mahasiswa Canada yang sedang magang di Mercy Corps dan kebetulan ahli GIS
3. Wawan, Team Leader untuk Kampanye Peningkatan Kesadaran
4. Iwan, Pelaksana Proyek bidang Kampanye Peningkatan Kesadaran
5. Olla, Pelaksana Proyek wilayah Padang.

Mengikuti langkah BPBD dan GTZ, maka tanggal 23 & 24 Juni 2010 akan diadakan workshop pemetaan yang hasil akhirnya adalah akan dihasilkannya 2 jenis peta, yaitu 1 untuk masyarakat (peta A), dan 1 untuk pemerintah sebagai bahan penentuan RTRW (peta B). Hasil dari peta inilah yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan peta lipat evakuasi. Selanjutnya akan dilakukan Pemetaan Partisipatif untuk pembuatan peta tingkat Kelurahan.

Selanjutnya bagaimana nasib peta ini, akan dilanjutkan setelah workshop tanggal 23 & 24 Juni 2010, soalnya sup kakinya sudah datang nih.


Sup Kaki itu ternyata seperti makan kaki Chomper
Dahsyat!!!! Sup Kaki itu memang Duahsyat …
Kedatangan sup kaki membuat kepanikan kami, kepanikan yang disebabkan ukuran kaki yang besar, sup itu menyertakan tulang kaki sapi bukan hanya dagingnya. Besar-besar kaki sapinya, kuahnya melimpah. Tidak biasanya sup kaki seperti ini.

Segera saja kami masing-masing mencari wadah yang cukup untuk kuah dan kaki itu, ternyata tidak ada satupun mangkuk yang mampu menampungnya, akhirnya improvisasi berlaku. Segera saya ambil wadah plastik besar, dan panji menggunakan ceret air untuk tempat sup kakinya, yang lain menggunakan wadah yang cukup besar juga.

Sedotan (pipet) menemani makan kami, bukan untuk menyedot minuman, namun untuk menyedot sumsum kaki sapi, hmmmmmmm nikmatnya membuat lidah kami menari-nari.

Kenikmatan menyedot sumsum membuat kami semua merasakan hal yang sama dari rasa nikmat yang wuaaaaaaaaah indahnya.

Pak Wahyu sangat menikmati tulang yang dimilikinya. Ai dengan nikmatnya menarik daging dari tulang dan Panji dengan semangatnya menuang kuah sup dari ceretnya.

Akhirnya, tulang-tulang itu bersih putih dari segala yang menempel (daging, urat, sumsum).

Ternyata masih ada sesi lain setelah makan sup, Indra masih juga menyikat KFC yang dibawa oleh Dewi. Saya dan Panji juga nyobain sih, dan Yeni juga menikmati sup dari KFC. Wah wah hari itu “makan” day yah?

Puas sekali makan sup kaki yang seharga 18.000 ini, ditambah kedatangan jeruk sebagai penurun kolesterol.

Ayo datang ke Padang dan nikmati Sup Kaki


Tulisan ini sudah dimuat disini
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

13.6.10

Menjelajahi Sumatera Barat

Apalagi kegiatan Pejalan dengan GPS yang bisa dilakukan di saat libur panjang di padang, selain membelah Sumatera Barat dengan Garmin tercinta yang telah di install peta Indonesia lengkap dari Navigasi.Net.

Bersama dengan mitra kerja di Mercy Corps Padang, saya memanfaatkan waktu liburan panjang dengan menyusuri jalan-jalan menuju kota-kota dan daerah wisata terkenal di Sumatera Barat.

Kota Bukit Tinggi menjadi tujuan yang akan kami capai di hari pertama selain merasakan tajamnya kelokkan yang terkenal yaitu kelok 44.

Bersama saya, yang kemudian dibagi menjadi 2 tim, di mobil 1 ada Saya, Panji, Dewi, Wahyu, dan Allen (anak Canada yang sedang “magang” di Mercy Corps), sedangkan di mobil lainnya ada Nas “Koto”, Atta, dan Ridwan beserta keluarga (istri dan satu anak perempuan yang imut).

Setelah gagal merayu Umar “Brother” Yanto untuk ikut bersama kami, kami berangkat sebelum jam 10 pagi. Mampir terlebih dahulu di supermarket Adinegoro untuk membeli perbekalan air dan makanan yang berguna buat dijalan.

Sebelumnya saya menginstalasi terlebih dahulu bracket GPS Garmin Etrex Vista HCx di kaca depan sisi pandangan saya.

Panji mengendarai kendaraan kami dengan bertanggung jawab, membuat kami merasa aman dan nyaman. Ditambah pula GPS yang saya gunakan sejak awal perjalanan sangat bermanfaat, misalnya menemukan jalur tersingkat, dan juga memudahkan kawan kami menemukan pompa bensin terdekat untuk sekedar mengunjungi kamar kecil.

Kelokan 44
Kami tepat sekali mencapai masjid disisi danau Maninjau disaat Azan berkumandang. Shalatlah kami disini, dan kaum perempuan yang mendapat kemuliaan dari Allah (tidak perlu Shalat Jum’at seperti halnya Kaum laki-laki) berkesempatan untuk melihat-lihat danau Maninjau dan pedesaan disekitarnya. Berfoto dan mengambil foto Danau Maninjau dan aktivitas masyarakat setempat.

Selepas Shalat, perjalanan dilanjutkan dengan penuh semangat untuk menjelajahi Kelokan 44, setelah belok kiri tanjakan langsung menyapa kami dan tak lama kemudian diujung kelokkan terpampang tulisan Kelok 1. Dan … petualangan menjejak kelokan-kelokan tajam berjumlah 44 dimulai. Disetiap kelokkan terpampang tulisan kelok yang ke sekian, walaupun pemandangan penunjuk kelok ini menjadi tidak nyaman dipandang akibat tampilnya papan iklan calon-calon pemimpin di Sumatera barat, tapi kami memakluminya, kan sebentar lagi pilkada dan mereka harus dikenal pemilihnya.

Di kelok 32 kami mampir disebuah restoran yang memiliki pemandangan indah ke Danau Maninjau, sayang saat itu sedang berawan dan berkabut membuat kami tidak dapat menikmati hijaunya pegunungan dan jernihnya air danau. Walaupun begitu tetap saja kami berfoto dan memfoto pemandangan indah Danau Maninjau.

Menu makanan yang khas dan cita rasa yang memuaskan birahi lidah kami membuat kami menikmati setiap suapannya. Sambal cabai hijau membuat kami menjadi segar kembali, walaupun ada teman kami yang terganggu pencernaanya akibat cabai ini (maklum sebelumnya juga memang sudah terasa perutnya sudah mulai tidak beres sejak kemarin – ini pengakuannya loh). Ikan bakarnya enakloh dan juga favoritku – Gule Pakis.

Usai makan, perjalanan kami lanjutkan. Tidak banyak yang dapat ditulis dalam sisa perjalanan kecuali yang saya ingat adalah pemandangan hijau yang menyejukkan perut yang kenyang dan rasa kantuk menyerang maka tertidurlah saya. Tak tahu berapa lama saya tertidur yang pasti saya dibangunkan oleh kawan saya – Wahyu – yang tidak bisa tidur dengan mengatakan bahwa kami sudah sampai di Bukit Tinggi.

Bukit Tinggi … Kami datang
Sesampai di Bukit Tinggi di sore hari, acara pertama adalah mencari hotel, maklum kami belum membooking hotel dan yang pasti bila tidak cepat-cepat mencari hotel maka bisa jadi kami tidur di mobil. Padatnya lalu lintas dan variasi nomor polisi kendaraan yang ada membuktikan banyaknya orang luar Bukit Tinggi yang mengunjunginya diliburan panjang ini.

Setelah mencari-cari hotel karena selalu saja kalimat “penuh” yang ditemui oleh kami akhirnya, Alhamdulillah kami dapat hotel sederhana, namanya Hotel Asean.

Selepas check-in, kami melanjutkan berputar-putar di Kota Bukit tinggi dan tujuan utamanya adalah Ngarai Sihanok (jangan menduga kalau ngarai ini untuk mengenang raja Kamboja yah, karena memang tidak ada hubungannya) yang ada gua Jepangnya.

Ngarai Sihanok dan Gua Jepang
Begitu masuk area Ngarai Sihanok setelah membayar karcis Rp. 4000,- perorang, sibuk kami mencari-cari mana Gua Jepangnya, yang asli orang Minang ternyata juga bingung dimana Guanya.

Setelah diketemukan maka kami berfoto dimulut Gua. Begitu masuk ke dalam mulut gua dan baru beberapa tingkat maka ketidakpuasan langsung melanda saya. Gua Jepang sudah tidak alami lagi, dindingnya sudah ditutup oleh campuran semen dan pasir.

Anak tangga yang curam akan membuat mereka yang tidak pernah melatih fisiknya akan cepat lelah (nah loh turun saja bisa membuat lelah bagaiman naiknya?), kelelahan memang bisa membuat seseorang disorientasi dan bahkan sampai ngaco. Seorang anak yang memakai seragam SLTP terlihat lelah setelah menuruni mulut gua, begitu sampai diujung tangga tidak jauh dari sana ada cabang gua yang bertuliskan Amunisi, nah mungkin karena kelelahan membuat anak remaja tersebut salah membaca (sudah membaca dengan suara keras, mengumumkan ke orang lain, salah lagi), yang dia baca dan sampaikan ke teman-temannya adalah “lihat ternyata ini ruang imunisasi” dan gerrrrrrrr teman-temannya yang masih waras ditambah saya dan Panji langsung tertawa geli. Memangnya tentara Jepang masih dalam masa pertumbuhan?

Setelah saya tidak puas dengan kondisi yang tidak alami lagi, kami bergerak keluar gua, dan begitu sampai di mulut gua kami berlomba menaiki tangga dan juga menghitung berapa jumlah anak tangganya.

Umur tidak pernah bohong loh Kawan-kawan, kelelahan melanda kami yang old soldier ini. Saking otot ini tiba-tiba menjadi tegang, disaat sudah sampai ujung gua dan tidak ada lagi anak tangga maka kaki kita masih melangklah seakan-akan masih ada anak tangga. Ternyata lelahnya masih saya rasakan sampai hari senin, wuih tos kolotn ya Jang?

Kembali kami berfoto setelah sampai diluar gua, silahkan bandingkan wajah kami sebelum masuk dengan setelah keluar.

Berburu pernak-pernik outdoor second
Mendengar bahwa di bukit tinggi ada toko yang menjual barang-barang alam bebas bekas dan biasanya produksi luar negeri, membuat kami pada malam harinya langsung mengatur siasat bahwa pagi hari esok sebelum melanjutkan membelah Sumbar kami harus mengunjungi pasar Atas (Ateh) untuk membeli barang-barang yang mungkin langka.

Memang toko outdoor di Bukit Tinggi banyak dan mereka menjual merek-merek terkenal Indonesia, seperti eiger, dll. Saya mengunjungi 3 toko dari sekian banyak, karena lagi defisit keuangan maka saya tidak membeli satupun.

Kembali ke Pasar Ateh, disini kami menjumpai banyak tas-tas, pakaian dan sepatu alam bebas bermerk luar dengan harga yang bisa jadi murah bila anda mampu menawarnya. Menawar adalah kata kunci di pasar ini.

Kembali Membelah Jalanan Menuju Istana Besar Pagaruyung
Di Bukit Tinggi kami mendapat kawan baru (baru untuk dijalan, dikantor sih orang lama), Yeni dan Ai bergabung dengan kami.

Kembali kami mengaktifkan GPS, mencari dan mengklik tempat tujuan (Point of Interest), Istana Pagaruyung. Untung peta yang kami gunakan adalah peta navigasi.net yang lengkap (Navigasi.Net V 1.72), sehingga begitu tampil tujuan Istana Pagaruyung langsunglah saya klik dan GO! Menuju Pagaruyung.

GPS Garmin Etrex Vista HCx + Peta navigasi.net memandu kami dengan baik, menghemat waktu dan tujuan yang tepat.

Pemandangan indah selalu ada di depan mata kami. Sesampainya di Istana Pagaruyung kami lihat istana tersebut sedang dibangun ulang setelah terbakar. Bangunan nan megah 95% telah berdiri dengan kokoh sekokoh masyarakat Minang disaat mengalahkan pasukan Majapahit dalam adu kerbau.

Banyak pengunjung yang datang hari itu, anak-anak terlihat berfoto, bercerita tentang kerajaan Pagaruyung sebatas pengetahuan mereka namun serius, seakan-akan mereka adalah sejarahwan.

Terlihat kesibukan para pekerja yang terus serius memahat kayu untuk dinding istana. Garis-garis ukiran dan warna kuning, merah dan hitam yang mendominasi ukiran terlihat indah dan gagah, mengingatkan kegagahan pasukan Pagaruyung dan keindahan alam Sumatera Barat.

Puas di istana, selanjutnya adalah makan siang (akhirnya, sudah lapar perut ini sejak tadi). Setelah mencari kesana kemari restoran mana yang enak, akhirnya dengan bantuan Ai yang punya teman didaerah ini makanlah kami disebuah restoran yang sangat terkenal enaknya ayam goreng mereka. Ayam goreng yang kecil ayamnya namun garing dan nikmat rasanya.

Tak disangka tak diduga, hadir dua piring (wuih terbit liurku mengingatnya kembali) gulai jengkol, sejak saya ada di Padang kali ini baru sekaranglah saya mendapat menu ini kembali. Dan yang tak disangka dan diduga selanjutnya adalah, kawan kami yang berasal dari Canada (namanya Ellen), ternyata setelah mencicipi gule jengkol dia sangat suka dan sampai makan satu piring, wuih. Sontak kami saling melihat setelah tahu hal itu.

Danau Singkarak, dan Bantal kapuk …. Ayo Aktifkan GPS!
Selesai makan siang yang terlambat kami menuju Danau Singkarak. Selain ingin melihat keindahan danau juga ingin melihat persiapan dan lintasan yang akan digunakan dalam Tour de Singkarak 2010.

Segera saja saya mainkan jemari saya di GPS Garmin, PoI Danau Singkaraklah yang saya cari. Ketemu dan langsung klik Go To. Jalur yang di sarankan GPS dengan peta Navigasi.Net-pun aktif, pintasnya jalur dan juga cepatnya membuat kami dapat menghemat waktu. Panji (yang juga ahli GIS) yang sudah pernah menempuh jarak ini mengakui bahwa jalur yang disarankan GPS ternyata lebih singkat sehingga menghemat waktu dan bisa sampai Danau Atas dan Danau Bawah di saat matahari masih bersinar.

Sepanjang jalan, mobil kami penuh dengan tawa dan canda, hanya saja kasihan juga dengan Ellen yang terkadang candaan kita berbahasa Indonesia sehingga hanya kami yang Indo sajalah yang tertawa, maaf yah Ellen.

Jalur yang kami lewati serasa indah, karena jalur jalan berada di tepi Danau Singkarak. Hanya saja sekali lagi kabut menghalangi keindahan nan hijau pemandangan Danau Singkarak.

Sepanjang jalan terlihat banyaknya pedagang kasur, bantal dan kawannya yaitu guling. Saya belum begitu peduli dengan hal itu, namun disaat panji cerita tentang perjalanannya dengan kawan yang saat ini tidak ikut bersama kami tentang pengrajin bantal (dkk) dari kapuk yang ada di sekitar danau barulah saya lebih tertarik lagi mengenai banyaknya toko teman tidur itu. Memang terlihat banyaknya pohon kapuk disekitar danau.

Ingat kebutuhan saya dikamar, maka saya ambil keputusan untuk membeli bantal dan guling, apalagi dengan pertimbangan aroma bantal kapuk sangat harum dan seakan tidur di alam bebas. Setelah Dewi membantu tawar menawar maka saya membeli satu set. Selesai membayar, kami langsung tancap gas. Sebelumnya disaat saya tawar menawar beberapa kawan memuaskan nafsunya untuk berfoto dan memfoto di tepi danau.

Kembali kami bercengkrama, bercanda dan tidur yang selalu gagal karena saling mengganggu. Bang Wahyu, katanya mau tidur kok malah bangun sih saya tanya?

Tiba-tiba wahyu yang mungkin memendam kemarahan karena tidak bisa tidur tiba-tiba berteriak: “lihat! Henry Dunant mencalonkan diri menjadi Bupati” sontak kami melihat arah ujung telunjuknya mengarah kemana. Oow ternyata benar salah satu calon bupati bernama Henry Dunant. Wah PMI harus dukung tuh.

Danau Atas dan Danau Bawah
Hujan menyapa kami disaat berbelok di simpang menuju Danau Atas (Ateh) dan Danau bawah. Jalan yang berkelok dengan pemandangan perkebunan the membuat saya dan Panji teringat pada masa-masa dimana Puncak Jawa Barat masih sepi dan jalannya masih kecil (sekitar tahun 80-an). Teringat juga disaat saya, Bapak dan Mamah menuju Bandung disaat saya kecil, jalan yang berkelok, kebun dan kabut sedetik membuat saya teringat itu.

Di suatu tempat kami berhenti dan kembali memuaskan birahi memfoto, dan difoto. Nah dalam tim ini adaloh yang maunya difoto terus, siapa yah?

Pemandangan pegunungan, kebun teh dan kabut menjadi pendamping foto wajah kami.

Mengingat waktu yang semakin gelap maka langsung perjalanan kami teruskan menuju danau kembar.

Sesampainya kami di panorama, kami dapat melihat kedua danau, hanya tinggal menoleh ke kiri dan kanan maka kita bisa melihat kedua danau itu. Langsung saja jiwa kami langsung saling kontak dan sepakat akan dilanjutkan dengan kemping di minggu-minggu depan.

Sayang hanya sebentar kalmi melihat keindahan danau kembar, selanjutnya gelap menyapa, dingin bertamah.

Kesepakatan yang diambil disini adalah kita kemping dalam waktu dekat.

Ke Padang Kami Kembali dan Berniat Besok Bangun Siang
Sampai di Padang, maksudnya tempat kostku, sekitar jam setengah delapan.
Pasang sarung guling dan bantal, hmmmmmmmmm wangi kapux, besoknya bangun siang.

Kesimpulan Peta Navigasi.Net
Peta yang ditampilkan navigasi.Net banyak membantu, walaupun masih banyak daerah yang belum terpetakan namun jalan utama yang telah ada dipeta sangat membantu. Di daerah Padang pariaman ada jalan yang terputus karena ini adalah jalan tembus yang baru selesai dibangun.

Peta Kota Bukit Tinggi banyak membantu pencarian PoI dan lokasi-lokasi yang kami tuju.

Ada niat buat membuat track dan PoI yang nantinya dikirim ke Navigasi.Net untuk memperkaya peta Navigasi.Net.

Tulisan ini dimuat juga di www.petapartisipatif.wordpress.com

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader