Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

16.3.14

7 Langkah Selamat Dari Banjir: Seri Panduan Bagi Keselamatan Keluarga

 buku 3

Banjir kerap terjadi di Indonesia, baik di perkotaan maupun perdesaan, termasuk Ibukota Republik Indonesia – Jakarta. Kisah yang memilukan di saat saya menulis buku ini adalah kejadian banjir bandang di Manado dan sekitarnya, orang yang terjebak dan terisolir baik di bangunan maupun di atas kendaraan sambil menunggu bantuan terlihat di banyak tempat. Demikian pula masyarakat Jakarta yang sedang berjibaku terhadap banjir yang mengunjunginya tanpa terlebih dahulu melakukan langkah antisipasi dan bersiaga – padahal banjir rutin datang ke daerah mereka. Kesiapsiagaan individu memang belum menjadi budaya bagi masyarakat, ini juga terlihat pada masyarakat lainnya yang terkena banjir.
Berangkat dari pengalaman itulah maka saya menuliskan kembali buku seri panduan bagi keselamatan keluarga – kali ini adalah 7 Langkah Selamat dari Banjir. Buku ini berisi 7 langkah sederhana dan mudah diikuti oleh anggota keluarga.
Kesiapsiagaan individu dan keluarga sangatlah penting, karena dalam situasi darurat kitalah yang pertama kali menghadapinya. Buku ini sengaja dibuat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan individu dan keluarga dalam menghadapi banjir, semoga setelah membaca buku ini pembaca langsung memperaktekkan langkah-langkah kesiapsiagaan di rumah tangganya.
Berikut ini adalah komentar dari praktisi kebencanaan yang berpengalaman mengenai buku ini:
“7 Langkah Selamat dari Banjir” – panduan keselamatan keluarga yang ditulis oleh Ujang Dede Lasmana merupakan buku yang pantasnya dimiliki dan dipraktikkan oleh setiap keluarga yang tinggal di daerah rawan banjir. Ke-7 langkah itu, yaitu : 1) kenali; 2) buat rencana kedaruratan; 3) siapkan tas dan tahu penggunaannya (P3K); 4) simulasi; 5) langkah bila banjir; 6) jaga komunikasi; dan 7) membersihkan rumah. Semua langkah ini membantu keluarga untuk lebih siap menghadapi banjir, yang merupakan kejadian bencana paling sering terjadi di Indonesia. Selamat untuk kang Ujang!” (dr. H.Iskandar Leman, MDM ; Pendiri dan Mantan Sekretaris Jenderal MPBI –Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia).

“Buku ini dibuat agar kita dan keluarga mampu bertahan selama 72 jam pertama saat bencana banjir. Buku ini wajib dimiliki setiap keluarga yang tinggal di daerah rawan banjir, karena buku ini sangat pas dengan karakteristik Jabodetabek yang sering di landa banjir.
Sukarelawan PMI-pun wajib membaca buku ini”. (Gerald Reza Lasut ; Kepala Markas PMI Kota Tangerang Selatan).

Buku ini bisa diunduh gratis Disini atau Copy Link berikut dan Paste pada Browser:
http://www.mediafire.com/download/i6lwvxab929hx0v/selamat_dari_banjir_dengan_7_langkah-ready.pdf


 Share Me

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih. View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

23.5.11

30 Menit di Kota Padang: Pembelajaran untuk Kesiapsiagaan dan Peringatan Dini Tsunami dari Gempa Bumi 30 September 2009

RINGKASAN EKSEKUTIF
Gempa bumi di Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 menelan lebih dari
1.000 jiwa dan mencederai lebih banyak lagi. Untunglah, gempa bumi ini tidak
menyebabkan tsunami yang menghancurkan. Pusat Peringatan Tsunami Nasional
(NTWC) di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jakarta hanya
mengeluarkan informasi gempa bumi, namun bukan peringatan potensi tsunami. Tetapi,
getaran kuat gempa menyebabkan kepanikan dan ketakutan yang meluas terhadap
tsunami di kalangan masyarakat Padang.
Kira-kira enam minggu setelah gempa bumi, GTZ IS-GITEWS melakukan penelitian
lapangan di Padang untuk mengetahui apa yang telah terjadi setelah gempa bumi selesai.
Studi ini berfokus pada 30 menit pertama setelah getaran: yaitu perkiraan waktu tiba
gelombang tsunami di pantai Padang setelah suatu gempa bumi besar yang berasal dari
sumber dekat dengan pantai Sumatra Barat. Bagaimanakah masyarakat Padang bereaksi
setelah gempa bumi berakhir? Apakah mereka memiliki akses ke informasi resmi tentang
gempa bumi secara cepat? Apakah yang dilakukan pemerintah dan lembaga
penanggulangan bencana setempat untuk segera menyampaikan informasi kepada publik?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang dibahas di dalam kertas kerja “30 Menit di Kota
Padang: Pembelajaran untuk Kesiapsiagaan dan Peringatan Dini Tsunami dari Gempa
Bumi 30 September 2009”.
Studi ini menggunakan perpaduan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pencari
data mewawancarai 200 orang. Peneliti lapangan melakukan wawancara informal dengan
anggota masyarakat dan pelaku utama dari lembaga penanggulangan bencana dan
lembaga terkait. Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI), sebuah LSM di Padang, dan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendukung penelitian lapangan.
Proyek penelitian Last Mile Evacuation (UNU-EHS) mendukung analisis data.
Sebuah seminar pada akhir Januari 2010, yang dituanrumahi oleh BPBD dan didukung
oleh GTZ IS-GITEWS membahas temuan-temuan penelitian dan memberikan
rekomendasinya ke perwakilan tingkat tinggi pemerintah kota. Rekomendasi tersebut
telah diintegrasikan ke dalam Peraturan Wali Kota mengenai Peringatan Dini Tsunami
Kota Padang, yang disahkan pada bulan April 2010.
Temuan dan simpulan mengenai reaksi masyarakat dan akses ke informasi:
Setengah dari warga yang diwawancarai di dalam survei menjauhi daerah pantai
dalam waktu yang relatif pendek (15 menit setelah getaran 83% dari responden
tersebut telah pergi). Pemicu evakuasi adalah gempa bumi yang kuat. Namun, dalam
situasi ketiadaan informasi resmi, banyak orang pergi ke pantai untuk melihat apakah air
laut menyurut. Karena hal itu tidak terjadi, sebagian besar mereka memutuskan untuk
tidak mengungsi. Waktu yang diperlukan dari saat air mulai surut hingga kedatangan
gelombang pertama hanyalah beberapa menit. Orang tidak akan memiliki cukup waktu
untuk melarikan diri.
Secara umum, informasi resmi tidak tersedia dalam 30 menit pertama setelah
gempa bumi. Sebagian besar masyarakat tidak menerima informasi resmi apa pun
mengenai apakah ada ancaman tsunami atau tidak. Informasi utama tersebar dari mulut
ke mulut dan berdasarkan kasak-kusuk. Seiring dengan waktu, terdapat berita bahwa
tidak ada ancaman tsunami dan masyarakat boleh kembali ke rumah. Informasi tersebut
diudarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Padang dan diumumkan oleh Wali
Kota. Perlahan-lahan berita ini menyebar ke makin banyak orang. Penggunaan frekuensi
ii
Radio FM untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat adalah pilihan yang tepat.
Namun, karena perkiraan waktu tiba tsunami untuk Padang sangat pendek, informasi
yang diberikan 1 jam setelah getaran akan terlambat.
Proses evakuasi terhambat oleh kemacetan lalu lintas yang parah. Masyarakat
umumnya melarikan diri dengan sepeda motor dan mobil. Karena itu terjadi kemacetan
lalu lintas yang parah. Banyak kecelakaan juga terjadi. Jalur evakuasi yang ditetapkan
tidak cukup untuk menyalurkan massa. Warga, tampaknya, tidak mempertimbangkan
evakuasi vertikal sebagai pilihan dalam penyelamatan diri. Evakuasi berlangsung hanya
sebagai gerakan horisontal menjauh dari pantai dan mengarah ke daratan. Kenyataan
bahwa orang-orang bergerak ke arah laut makin menciptakan kekacauan.
Ada kekurangan pemahaman mengenai sistem peringatan dini, namun orang-orang
mempercayai pemerintah untuk menyediakan informasi yang akurat secara
langsung setelah gempa bumi. Sebagian besar responden hanya memiliki gambaran
kabur mengenai cara kerja sistem peringatan dini tsunami secara menyeluruh. Dari sudut
pandang mereka, hal terpenting adalah mendapatkan informasi akurat dan resmi secepatcepatnya.
Masyarakat percaya kepada pemerintah daerah, khususnya Wali Kota. Mereka
percaya bahwa pemerintah akan menyediakan informasi yang akurat secara langsung
setelah gempa bumi.
Temuan dan simpulan tentang penyebaran informasi oleh pihak pemerintah:
Informasi dari BMKG mencapai pemerintah di Padang dalam 5 menit setelah
gempa bumi. Pusat Pengendalian Operasi (PUSDALOPS) Padang menerima informasi
dari BMKG via internet secara cepat. Gempa bumi membuat beberapa operator telepon
seluler tidak berfungsi. Karena itu, SMS sama sekali tidak cocok sebagai sumber
(tunggal) untuk menerima informasi dari BMKG.
Pemerintah baru menyebarkan informasi dan arahan kepada masyarakat umum
kira-kira 30 menit setelah gempa bumi. Tidak ada komunikasi antara Wali Kota dan
PUSDALOPS. Pada hari itu, kedua pelaku ini bergerak sendiri-sendiri. Wali Kota tidak
dapat menerima informasi dari BMKG lewat SMS. PUSDALOPS hanya dapat
menyampaikan informasi lewat radio komunikasi, namun tidak kepada masyarakat yang
lebih luas. Informasi dari BMKG sampai ke sebuah lembaga pemerintah Padang kira-kira
5 menit setelah gempa bumi, namun baru tersedia bagi masyarakat kira-kira 20 hingga 25
menit kemudian, saat Wali Kota telah menerima informasi dan mengumumkannya di
RRI. Lagi-lagi, jika membandingkan waktu tiba tsunami dan waktu yang diperlukan
untuk menyampaikannya kepada masyarakat, yang dapat disimpulkan adalah informasi
datang terlambat.
Lembaga pemerintah dan lembaga lainnya menerima informasi dengan cepat dari
PUSDALOPS lewat jaringan radio komunikasi. Fakta bahwa channel VHF tertentu
ditetapkan sebagai frekuensi darurat memungkinkan penyebaran informasi yang cepat di
antara lembaga-lembaga. Lembaga-lembaga itu lalu dapat meneruskan informasi pada
frekuensi masing-masing. Namun, hanya beberapa lembaga menyediakan informasi
bahwa tidak ada ancaman tsunami kepada publik.
Radio FM setempat menyampaikan informasi kepada publik. RRI Padang mampu
mengudara kira-kira 15 menit setelah gempa bumi. Namun, pada saat itu mereka belum
menerima informasi dari BMKG. Pro News FM dan Classy FM, menerima informasi dari
PUSDALOPS via VHF atau mengunduhnya dari situs web BMKG secara cepat. Namun
stasiun mereka lumpuh karena kekurangan cadangan tenaga listrik (ProNews) atau karena
masalah dengan peralatan penyiaran (Classy FM)
iii
Saran:
Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai tanda peringatan dini alam dan
reaksi terhadapnya.
Para pemangku kepentingan di Padang telah menyepakati strategi
reaksi yang layak. Strategi tersebut mengacu pada (1) gempa bumi yang kuat sebagai
pemicu pertama evakuasi segera, dan (2) informasi dari BMKG dan/atau pihak
berwenang setempat yang mengarahkan masyarakat untuk evakuasi atau membatalkan
evakuasi. Strategi ini perlu diakui secara resmi dan dipromosikan secara luas. Kegiatan
sosialisasi perlu menyampaikan strategi tersebut kepada masyarakat dan menjelaskan
bahwa mengandalkan tanda peringatan dini alam berupa menyurutnya air laut sebagai
petunjuk untuk tsunami yang menjelang bukanlah pilihan bagi Kota Padang.
Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai sistem peringatan dini dan
bagaimana sistem tersebut dapat membantu masyarakat. Masyarakat harus memiliki
pemahaman dasar tentang cara kerja InaTEWS (Sistem Peringatan Dini Tsunami
Indonesia) dan rantai komunikasi peringatan dini. Kegiatan sosialisasi pada tingkat
masyarakat serta kampanye media harus dilakukan untuk meneruskan pengetahuan ini
kepada masyarakat. Kegiatan-kegiatan ini juga perlu memastikan bahwa orang-orang
mengetahui sumber informasi dan jenis arahan yang dapat mereka terima setelah gempa
bumi. Organisasi-organisasi seperti LSM lokal KOGAMI dan Palang Merah Indonesia
(PMI) memainkan peran penting dalam penjangkauan masyarakat. Namun, materi
informasinya perlu dikaji dan disesuaikan dengan skema reaksi yang disepakati.
Memberikan Pusat Pengendalian Operasi Padang wewenang dan mandat untuk
membuat keputusan dan langsung menyebarkan arahan kepada masyarakat. Pusat
Pengendalian Operasi di Padang menerima informasi dari BMKG dalam hitungan menit
setelah gempa bumi. Karena itu, PUSDALOPS harus diberi wewenang untuk membuat
keputusan tentang apakah masyarakat Padang harus evakuasi atau tidak, dan untuk segera
menyebarkan arahan kepada publik tanpa persetujuan Wali Kota lebih dahulu. Ini
mengikuti logika Prosedur Operasi Standar (SOP) pengambilan keputusan yang
menerjemahkan peringatan baku dari BMKG menjadi reaksi baku pada tingkat lokal.
Hasil studi menunjukkan bahwa masyarakat memercayai informasi dari pemerintah
setelah gempa bumi, khususnya arahan langsung dari Wali Kota. Hal itu perlu
dipertimbangkan dalam SOP. PUSDALOPS dan Wali Kota perlu membangun hubungan
via frekuensi radio VHF langsung setelah gempa bumi berakhir. Jika dalam kedaruratan
komunikasi ini dapat dibangun sebelum informasi dari BMKG datang, Wali Kota dapat
langsung dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dan penyebaran arahan. Jika
tidak, Pusat Pengendalian Operasi akan langsung menyebarkan arahan kepada
masyarakat. Wewenang PUSDALOPS ini perlu dijelaskan kepada publik.
Menyediakan sumber daya manusia, teknis dan anggaran yang cukup untuk Pusat
Pengendalian Operasi Padang guna menunaikan tugasnya. Pentingnya BPBD dan
PUSDALOPS sebagai satuan di bawah BPBD dalam kesiapsiagaan dan peringatan dini
tsunami perlu diakui secara penuh dalam kebijakan lokal. Peraturan Wali Kota tentang
Peringatan Dini Tsunami adalah sebuah langkah penting. Kebutuhan anggaran BPBD dan
PUSDALOPS juga perlu dimasukkan ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah.
Hanya dengan dukungan penuh pemerintah menyangkut sumber daya manusia dan teknis
BPBD dan PUSDALOPS akan mampu melaksanakan tugasnya.
Memperluas cakupan sistem penyebaran peringatan publik di Padang. Studi ini
menunjukkan bahwa informasi resmi mencapai sangat sedikit orang di dalam 30 menit
pertama setelah gempa bumi. Komunikasi radio (via FM dan VHF) telah terbukti sebagai
solusi yang amat andal untuk penyebaran informasi. Sebaiknya sistem penyebaran
iv
peringatan lewat pelantang masjid dan channel FM diperluaskan, serta dikaji kembali
perjanjian tentang frekuensi radio FM lokal sebagai sumber informasi resmi. Promosi
penggunaan radio FM oleh masyarakat sebagai sumber informasi untuk publik adalah
penting.
Menciptakan beberapa sambungan langsung dengan BMKG. Penggunaan beberapa
saluran komunikasi untuk menerima informasi dari BMKG adalah penting. Untuk
menghindari kemacetan informasi, beberapa lembaga (pemerintah, non-pemerintah dan
swasta) memerlukan sambungan langsung ke BMKG. Stasiun radio lokal dapat
memperoleh informasi langsung dari BMKG dan meneruskannya kepada masyarakat
dan/atau menerima informasi dari pihak berwenang setempat via radio komunikasi.
Menyediakan infrastruktur evakuasi yang memadai dan mempromosikan prosedur
yang jelas. Segera setelah gempa bumi di Padang, jalan-jalan tersumbat oleh kendaraan,
yang membuat evakuasi hampir mustahil. Rencana pembuatan bangunan evakuasi
vertikal di zona bahaya tsunami telah tersedia di Padang, namun harus diimplementasikan
secepatnya. Rencana evakuasi untuk Kota Padang perlu ditelaah berdasarkan peta bahaya
tsunami resmi (yang telah disepakati pada bulan April 2010) dan infrastruktur evakuasi.
Rencana itu perlu disetujui secara resmi, disebarkan secara luas di kalangan lembaga
pemerintah dan non-pemerintah serta disampaikan kepada masyarakat. Dengan demikian,
rencana (dan peta) evakuasi resmi bagi kota ini dapat berfungsi sebagai rujukan baik
untuk kegiatan perencanaan evakuasi pada tingkat kelurahan dan RW/RT maupun di
tingkat keluarga dan lembaga.

Silahkan klik disini untuk versi lengkap. Untuk download peta evakuasi tsunami kota Padang disini.




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

28.1.11

The SPHERE Project Handbook (2011) Revision Process

The Handbook revision process is moving ahead. We have now started the production process for the English version and translation into French, Spanish, Arabic and Russian. ADH (Germany) is translating the Handbook into German.

As we have announced before, we encourage you to organise a translation of the Handbook into your language. Since 1998, the Handbook has been translated into 40 languages. If you are interested in translating the Handbook, please contact the Sphere Project office. We will have the English text available as of January 2011.

What is new in the 2011 edition of the Sphere Handbook?

A. Background

The purpose of the revision process was not to change the qualitative standards, nor to overhaul the Handbook, but to update the qualitative and quantitative indicators and guidance notes as needed, and to improve the overall structure and consistency of the text.

However, the revision process revealed that a number of issues needed particular attention and significant changes. Consequently, the Humanitarian Charter was completely re-written, the common standards significantly changed, and a stronger focus on protection was introduced. The four technical chapters are all to some extent re-structured.

Like earlier revisions, this process was broadly consultative, and based on establishing consensus for the changes that were made. Besides producing an updated manual, the revision process also provided invaluable opportunities for discussion and consultation within each sector. It thus made an important contribution to the overall coherence of the humanitarian sector. A large number of individuals and organisations have contributed to the 2009-2010 revision process, be that by providing the capacity of a revision focal point, by organising a consultation meeting, or by providing substantive input.

B. Overall changes:

1. Emerging issues

A number of emerging issues are now integrated in the Handbook:

- cash transfer

- civil-military relations

- early recovery

Furthermore, the humanitarian reform process has been taken into account, particularly by stressing the importance of coordination.


2. New and strengthened cross-cutting issues

The impact of climate change, disaster risk reduction and psycho-social issues have been added as cross-cutting issues in this new edition. There are ten of such issues: children, elderly, gender, HIV and AIDS, people with disabilities, protection, psycho-social, climate change, disaster risk reduction and the environment. They have all been strengthened. In addition, vulnerability and context analysis have been strengthened in the sectoral chapters.

Moreover, education in emergencies is now more embedded and highlighted in the text, as part of the Sphere-INEE companionship agreement.

C. Specific changes:

1. What is Sphere

This important introduction to the Handbook is being re-written to communicate the key messages around Sphere more clearly.


2. The Humanitarian Charter

The Humanitarian Charter has changed significantly. It is now easier to read, and structured more coherently around a number of common humanitarian principles that govern the actions of states, non state actors and indeed all members of society.

Reaffirming the primacy of the humanitarian imperative, the Humanitarian Charter spells out three overarching principles, which are based on both legal and moral/ethical considerations:

- The right to life with dignity;

- The right to protection and security;

- The right to receive humanitarian assistance

It also introduces the principles – during armed conflict – of impartiality, the distinction between civilians and combatants, proportionality, precaution and impartial relief, as well as the principle of non-refoulement.


3. Protection

The consultation process highlighted the need to address protection more substantially in the Sphere Handbook. Given developments in the sector, a specific section is being devoted to protection. This section is currently being drafted and is complemented by the mainstreaming of protection as cross-cutting issue within the other sectors.


4. Core minimum standards for all sectors

This chapter (still in draft form) is structured around six core standards. They are a practical expression of the Common Principles described in the Humanitarian Charter and the entry point to the technical minimum standards. Each sectoral chapter assumes the companion use of this chapter to fulfil its own standard.

The core standards are

1. People-centred humanitarian response

(includes participation, community mobilisation, psychosocial, complaints and redress, information sharing)

2. Coordination and collaboration

(addressed to those who are coordinated, not to the coordinating bodies)

3. Assessment

(2004 initial assessment standard expanded to cover initial, rapid and in-depth assessments)

4. Analysis and design

(includes parts of the 2004 response and targeting standards)

5. Performance, transparency and learning

(combines the 2004 monitoring and evaluation standards and includes accountability as a principle)

6. Aid worker performance

(linked to PiA and to HAP benchmark 2)

With this structure, the core standards focus more specifically on community-centred response and give more visibility to coordination and to performance and learning. The two “people standards” (standards 5 and 6) are maintained but have changed significantly/ have been strengthened.

It is important to highlight the collaboration with other Quality and Accountability initiatives, in particular with HAP and People in Aid, to ensure the coherence and complementarity between the publications and making sure one reinforces the other.

D. Structural changes:

1. The overall Handbook structure

The overall Handbook structure remains unchanged, except for the new protection text at the beginning of the Handbook. A specific attempt was made to improve the coherence between the different sections of the book.


2. The minimum standards

In order to make the Handbook more practical, a new structure was introduced, essentially dividing the current list of key indicators belonging to each minimum standard into key actions and key indicators.

The role of the guidance notes remains the same, with a stronger emphasis on the importance of contextualising indicators and indicating that the do-no-harm principle takes precedence.

The new structure is as follows:

- Minimum standards are qualitative in nature and specify the minimum levels to be attained in humanitarian response/ the provision of [sector];

- Key actions are necessary activities and inputs to be taken in order to meet the minimum standards;

- Key indicators are ‘signals’ that show whether a standard has been attained. They provide a way of measuring and communicating the processes and results of key actions; they relate to the minimum standard, not the key action;

- Guidance notes include specific points to consider when applying the minimum standards, key actions and key indicators in different situations. They provide guidance on tackling practical difficulties, benchmarks or advice on priority issues. They may also include critical issues relating to the standards, actions or indicators, and describe dilemmas, controversies or gaps in current knowledge.

E. Timeline:

The launch of the English version of the Sphere Handbook 2011 edition is now envisaged between the 1st and 2nd quarter of 2011. The Spanish, French, Arabic and Russian translations are envisaged to be published in June 2011. The two main reasons of this delay have been the Haiti response (most revision focal points and working group members have been involved), and the development of the new text on protection.



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

16.4.10

Perpustakaan Maya

Literatur mengenai pemetaan partisipatif sangat dibutuhkan oleh banyak praktisi dan manajer dalam kegiatan yang berbasis masyarakat/mengedepankan partisipatif masyarakat.

Oleh karena itu berikut ini saya tempelkan di blog ini daftar literature dan video yang bermanfaat. Baik itu mengenai manajemen bencana, pemetaan dan pemetaan partisipatif dan juga manual ”how to” pemanfaatan GPS yang saat ini semakin merakyat. Kedepan diharapkan bantuan kawan-kawan untuk memberikan link terhadap literatur-literatur mengenai bencana, pemetaan dan manual atau video lainnya yang terkait. Terima kasih atas bantuan kawan-kawan selama ini, misalnya memberikan koordinat kantor PMI segala level (Nasional, Provinsi, dan Kota/Kabupaten).


Daftar Literatur Yang Dapat di Unduh
Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.



Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series




Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx




Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS




Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana




Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana




Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD




Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI







Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI




Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI






Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif





Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana




Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI





Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource





Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko




UpGrade Your Device

Download Google Earth


Google Earth Versi 5.0

Unggah Google Earth versi terbaru






Download MapSource Mutakhir
MapSource software version 6.15.6

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya






Up Date software unit Garmin Anda
Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya




Video About Garmin GPS

Daftar dibawah ini Berisikan Film-film Mengenai GPS Garmin, dibuat secara amatir oleh pecinta GPS Garmin dan dimuat di YouTube



eTrex Vista HCx the Movie

Film mengenai eTrex Vista HCx dari YouTube, bermanfaat bagi pengguna eTrex Vista HCx




Garmin Oregon 300 is Waterproof the Movie

Film mengenai Garmin Oregon 300 dari YouTube, Test mengenai waterproof




Garmin Colorado 300 the Movie

Film mengenai Garmin Colorado 300 dari YouTube





Garmin Oregon 300 the Movie

Film mengenai Garmin Oregon 300 dari YouTube




Garmin Nuvi 205 the Movie

Film mengenai Garmin Nuvi 205 dari YouTube



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

17.2.10

30 Menit Mahir GPSMap 76CSx

Untuk memenuhi kebutuhan rekan-rekan terhadap manual singkat GPS Garmin tipe Map 76CSx, maka saya unggah manual singkat itu disini.

Manual ini berisi tentang:
Bab I
Mengoperasikan GPSMAP 76CSx
Bagian-bagian GPSMAP 76CSx
Tampilan
Fungsi-fungsi
Spesifikasi
Bar Status dan Waktu
Perawatan GPS
Mengaktifkan GPS
Mengganti/Memasang Batere
Mengkalibrasi Kompas GPS
Kartu Memory MicroSD™ & File gmapsupp.img untuk Peta GPS
Halaman Satellite
Halaman Peta (Fungsi Zoom-In dan Zoom-Out, Menampilkan atau Menyembunyikan Data Fields & Merubah Isi Data Fields)
Up Grade Piranti Lunak GPS Anda


Bab II
Track

Menggunakan Fasilitas Track
Merubah Nama Track

Bab III
Mark

Menggunakan Fasilitas Mark
Memasukkan data koordinat ke dalam GPS
Merubah Nomor Mark Menjadi Nama
Merubah Simbol Mark


Bab IV
Find

Menemukan Waypoint
Mencari Kota (Cities)
Mencari PoI (Point of Interest)

Bab 5
Highway

Bab 6
Setup

Menyetel Waktu
Menyetel Unit
Menyetel Datum
Menyetel Distance/Speed
Menyetel Vertical Spd
Proximity Waypoints
Menyetel bunyi alarm proximity
Mengaktifkan alarm atau mematikan alarm proximity)

Agar buku ini enak dibaca, mudah dibawa dan ringkas, diharapkan kepada rekan-rekan setelah mencetak manual ini agar memotong manual mengikuti tepi biru manual, kemudian dijilid dengan menggunakan kawat spiral pada bagian atas manual.

Semoga buku ini bermanfaat, saya tunggu umpan baliknya.

Mengirimkan komentar? Klik disini atau tulis dikotak yang telah disediakan atau kirim ke D.Astrajingga[at]gmail[dot]com.

16.12.09

Buku: SIG & Wisata Bahari

Sistem Informasi Geografi (SIG) bukanlah teknologi baru dalam dunia ilmu komputer. Keandalannya dalam menganalisis suatu masalah secara spasial telah menarik minat sebagian besar orang untuk mengimplementasikan teknologi ini dalam berbagai bidang.

Buku ini hadir untuk memberikan pemahaman konsep dan imlplementasi SIG secara sederhana dengan mengambil contoh kasus perencanaan wisata bahari menggunakan aplikasi ArcView 3.2 dan ERMapper 6.4. Arcview 3.2 sengaja digunakan dalam buku ini karena kemudahannya dan banyak dipakai diberbagai instansi dan perguruan tinggi. Sedangkan ERMapper 6.4 adalah aplikasi pengolah citra yang cukup mudah digunakan dan belum banyak orang memanfaatkan kecanggihan aplikasi ini.

Salah satu kelebihan buku ini adalah dapat menjelaskan bagaimana mengolah citra dalam ERMapper 6.4 lalu mengkombinasikan citra hasil olahan tersebut dengan peta-peta rupa bumi di dalam ArcView 3.2. Langkah demi langkah dapat diikuti dengan mudah sehingga pembaca atau pengguna SIG dapat memahami cara-cara mengolah citra dan menganalisis data spasial dari berbagai sumber.

Pembahasan yang sederhana pada setiap bab dalam buku ini akan memudahkan para pembaca memahami konsep dan implementasi SIG. Oleh karena itu, bagi anda yang ingin mempelajari dan mengembangkan SIG untuk memecahkan suatu masalah secara spasial, buku ini sangat layak dijadikan pegangan sekaligus memperkaya khasanah pengetahuan Anda di bidang SIG. (Diambil dari teks Kover belakang buku)

Judul Buku: Sistem Informasi Geografi - menggunakan aplikasi ArcView 3.2
Penulis: Muhamad Jafar Elly
Penerbit: Graha Ilmu Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2009. Edisi Pertama
VIII + 142 hlm,; 23 cm
ISBN 978-979-756-497-1
harga: Rp 34.800 (15 Desember 2009; Toko Buku Gramedia Blok M)

20.10.09

Buku-buku Google Earth

Google earth merupakan aplikasi pemetaan interaktif yang dikeluarkan Google, dapat menampilkan peta bola dunia, foto satelit, keadaan topografi, terrain yang dapat dioverlay dengan jalan, bangunan, lokasi, ataupun informasi geografis lainnya. Dengan Google Earth kita dapat merencanakan perjalanan, mencari tempat wisata, bandara, rumah makan, hotel, rumah sakit, sekolah dan memberikan koordinat lintang dan bujur. Google Earth dapat menampilkan foto satelit resolusi rendah yang menggambarkan gunung, laut, hutan, sampai foto satelit resolusi tinggi yang dapat menggambarkan objek-objek seperti jalan, rumah, perkantoran.

Judul Buku: Google Earth
Penulis: Yeyep Yousman
Penyunting: Fl. Sigit Suryantoro
Penerbit: CV.Andi, Yogyakarta
Cetakan:
XII + 148 hlm,; 14X21 cm
ISBN 978-979-29-0371-3


Anda ingin menjelajah dunia? Pasti

Tapi, bagimana dengan keuangan dan waktu yang terbatas? Jangan Khawatir!

Google Inc. telah meluncurkan 2 aplikasi GIS, yakni Google Earth dan Google Maps yang memungkinkan Anda mengunjungi berbagai tempat di dunia tanpa harus beranjak dari depan komputer Anda.

Kedua aplikasi tersebut menawarkan banyak fitur menarik yang mengasyikkan untuk ditelusuri lebih jauh.

Nah buku ini siap memandu Anda mengeksplorasi berbagai tempat di dunia dengan kedua aplikasi tersebut, baik untuk sekedar menghibur diri maupun untuk tujuan lain yang lebih serius. Selamat mencoba!

Judul Buku: Menjelajah Dunia dengan Google Earth & Maps
Penulis: Efisitek.com
Penyunting: Ngadiyo
Penerbit: CV. Yrama Widya
Cetakan: pertama, Desember 2006
184 hlm,; 12,5X19,5 cm
ISBN 979-543-493-4


Saat masih sekolah, kita dikenalkan dengan Globe (bola dunia). Melalui globe tersebut, kita bisa melihat peta bumi dalam ukuran kecil. Namun, kita tidak bisa melihat kondisi sebenarnya di muka bumi. Dengan kemajuan teknologi, terutama komputer, sekarang kita bisa melihat kondisi bumi, seperti jalan raya, pegunungan, bangunan, tempat rekreasi, dan tempat bersejarah.

Semuanya bisa kita nikmati di Google Earth, sebuah software yang memetakan permukaan bumi dari berbagai posisi yang dikumpulkan dari pemetaan satelit dan foto udara dalam bentuk tiga dimensi. Melalui salah satu fiturnya,kita bisa mengelilingi bumi seolah-olah menerbangkan pesawat terbang. Bahkan, dengan software ini juga kita bisa menjelajahi ruang angkasa secara maya.

Buku ini mejelaskan berbagai fitur yang dimiliki Google Earth secara sederhana, sehingga bisa dijadikan panduan bagi Anda yang baru menggunakannya

Judul Buku: Mengoptimalkan Peta Dunia Interaktif di Internet
Penulis: Andy Krisianto
Penyunting: Sudarma S.
Penerbit: mediakita
Cetakan: pertama, 2008
VIII + 128 hlm,; 15X23 cm
ISBN 979-794-140-X▲

Komentar? Klik Disini

1.8.08

Buku Membaca Peta

Penulis: George Moore

ISBN: 979-781-581-1 ; 979-781-580-3 ; 979-781-579-X

Jumlah Halaman: Jilid 1: 28 halaman ; Jilid 2: 29 halaman ; Jilid 3 : 28 halaman

Penerbit: Erlangga




Ke-tiga buku ini merupakan buku yang ditujukan untuk siswa/i SD kelas 1 s/d 6. Perbuku untuk dua tingkatan kelas. Jilid 1 untuk kelas 1 dan 2 dst.



Berisi tentang bagaimana membaca peta, mengartikan simbol-simbol dalam peta dan juga mencari landmark. Selain berisi soal-soal juga berisi kunci jawaban diakhir bagian buku.



Buku terbitan erlangga ini cocok digunakan tidak hanya bagi siswa/i SD namun juga bagi orang dewasa yang sedang latihan peta dan juga mereka yang ingin meningkatkan kemampuan mereka membaca peta.

16.7.08

SEGERA TERBIT, BUKU SIGAP PMI

Markas Pusat PMI dengan bantuan Palang Merah Denmark akan menerbitkan buku Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP).

Buku 1 berisi Pengenalan Peta, SIG, bagaimana membaca peta, Pemanfaatan Google Earth, Particiatory Risk Mapping

Buku 2 berisi how to menggunakan GPS, mengolah data GPS dengan menggunakan MapSource.
Kedua buku ini ditulis oleh Ujang Dede Lasmana.

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader