Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label BNPB dan BPBD. Show all posts
Showing posts with label BNPB dan BPBD. Show all posts

25.8.13

SURVIVAL – Teknik Bertahan Hidup Disaat & Pasca Bencana : Peluncuran Buku

Disaat seseorang menghadapi bencana atau kedaruratan, secara reflex ia pasti akan mempertahankan hidupnya. Situasi bencana dan kedaruratan sangatlah berbeda, karena situasi saat itu adalah situasi yang sangat dinamis, mudah berubah, penuh ketidakpastian dan disekeliling kita banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan untuk tetap bertahan hidup, selain korban yang tewas dan terluka yang membuat hati terenyuh. (Tentulah kondisi ini sangat berbeda dengan survival di “alam terbuka” seperti yang dilakoni rekan-rekan pecinta alam)
Bagaimana kita menghadapi situasi seperti itu?
Untuk memenuhi ini, Ujang Dede Lasmana, menulis buku yang memberikan informasi, langkah apa yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup dan membantu sesama penyintas. Buku ini berbeda dengan buku panduan survival yang selama ini banyak beredar karena buku ini memberikan langkah sederhana, singkat dan sistematis mengenai bagaimana bertahan hidup dalam situasi bencana.
Buku ini berisikan:
1. Pendahuluan Dan Prinsip Dasar Survival
2. Modal Dasar Survival
3. Bahaya Dan Bencana
4. Pentingnya Tetap Beraktivitas Dan Bergerak Di Pasca Bencana
5. Bagaimana Menyelamatkan Diri Disaat:
a. Gempa
b. Terperangkap Di Bangunan Runtuh
c. Terjadinya Banjir Dan Kedaruratan Di Air
d. Tsunami
e. Gunung Meletus
f. Didalam Ruangan Yang Terbakar
6. Teknik Pertolongan Pertama Medis Dan Trauma
7. Teknik Mencari Dan Menolong Korban Di Dalam Bangunan
Buku ini penting dibaca oleh masyarakat Indonesia, karena Indonesia rawan bencana. Alas kepulauan Indonesia yang terdiri atas lempeng-lempeng yang sangat aktif sehingga memberikan ancaman gempa dan tsunami. Alas itupun dipaku oleh jejeran gunung berapi yang sangat aktif, baik di daratan maupun di lautan sehingga memberikan ancaman berupa letusan gunung api. Termasuk kondisi perkotaan yang sangat cepat perkembangannya, memberikan ancaman yang khas urban (bangunan tinggi yang runtuh, banjir yang melanda ruang bawah tanah, dan kebakaran mengancam kota-kota seperti ini). You named we have it, demikian teman saya menjawab pertanyaan kawannya terhadap pertanyaan “Indonesia memiliki ancaman bencana apa saja?
Sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT, buku ini diedarkan secara gratis melalui daring. Silahkan dipergunakan secara bijak dan bertanggungjawab.
Buku ini bisa diunduh Disini atau Copy link berikut dan Paste pada browser: http://www.mediafire.com/download/9mrgolbwav03o1d/survival_teknik_bertahan_hidup_disaat_dan_pasca_bencana4.pdf
Untuk melihat buku disini atau copy link berikut: http://www.mediafire.com/view/9mrgolbwav03o1d/survival_teknik_bertahan_hidup_disaat_dan_pasca_bencana4.pdf
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.



Share Me Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih. View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

22.3.13

Ketangguhan Bangsa Terhadap Bencana: Dimulai Dari Keluarga



Kemarin, saya diminta untuk menjadi narasumber dalam workshop Penanggulangan Bencana oleh PMI Kota Tangerang Selatan. Diadakan di Markas baru yang terletak di Jalan. Cendekia – dekat SMA Insan Cendikia Serpong.
Tema yang saya sajikan adalah kesiapsiagaan bencana untuk tingkat keluarga. Dengan pertimbangan, sudah banyak organsisasi kemanusiaan, LSM dan PBB yang melaksanakan program kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Program tersebut mengedepankan masyarakat sebagai sebuah kelompok yang siap siaga disaat darurat, namun masih sedikit menyinggung tentang kesiapsiagaan bagi masyarakat untuk level keluarga per keluarga. Padahal, seorang penolong bagi komunitasnya belum tentu bisa menolong lingkungannya bila keluarganya belum terjamin keamanan, keselamatan dan kelangsungan hidupnya. Demikianpula bagi pekerja kemanusiaan yang selalu keluar masuk desa, mendaki dan menuruni gunung untuk membuat suatu masyarakat menjadi siaga, namun sudahkah ia menyiapkan keluarganya?
Pemerintah mencanangkan menjadi Negara yang tangguh atau resiliens terhadap bencana, namun itu tidak akan terwujud bila kesiapsiagaan dan ketangguhan tidak dimulai dari keluarga. Kesiapsiagaan keluarga adalah pondasi ketangguhan Negara terhadap bencana. Keluarga yang memiliki kelentingan atau cepat pulih pasca bencana menyumbang porsi terbesar dalam ketangguhan bangsa. Keluarga yang siaga akan mendukung kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko sebagai sebuah budaya bagi peradaban Indonesia.
Pada lokakarya tersebut ada tujuh langkah sederhana yang saya ajukan untuk membuat keluarga tangguh dan survive disaat bencana atau kedaruratan terjadi. Ketujuh langkah ini dijalankan sejak masa sebelum terjadi bencana sampai setelah bencana terjadi. Langkah 1 – 4 adalah pada fase Pra-Bencana, sedangkan langkah 5 disaat terjadi bencana/kedaruratan, untuk langkah 6 – 7 dilakukan setelah bencana/kedaruratan terjadi. Tergantung jenis bencana/kedaruratannya, langkah  bisa saja masuk pada fase saat bencana, misalnya banjir. Namun begitu, persipakan ketujuh langkah tersebut sejak anda selesai membaca tulisan ini.
Ke-7 langkah tersebut adalah:

  1. Kenali Ancaman di Sekitar Rumah
  2. Buat Rencana Darurat Untuk Keluarga
  3. Siapkan Tas Darurat
  4. Amankan Rumah dan Lakukan Simulasi Bersama Seluruh Anggota Keluarga
  5. Tindakan Melindungi Diri Disaat Kedaruratan Terjadi
  6. Bagaimana Memberikan Pertolongan Darurat
  7. Jaga Komunikasi dan Waspadai Bahaya Susulan

Ketujuh langkah yang berurutan tersebut di atas saling terkait dalam pelaksanaannya.
Langkah 1: Kenali Ancaman di Sekitar Rumah
Langkah awal dalam upaya menyelamatkan dan membuat keluarga yang siaga adalah mengenali dan memahami lingkungan sekitar dimana kita tinggal. Untuk memahaminya, kita bisa melakukan observasi dan menanyakan apakah daerah tempat tinggal pernah terkena bencana (misalnya, banjir, longsor, kebakaran, gempa bumi, tsunami, dll) kepada warga yang sudah lebih lama dari anda tinggal didaerah tempat tinggal anda, atau anda bisa ke Markas PMI setempat untuk menanyakan apakah daerah anda pernah terkena bencana.
Buatlah daftar ancaman-ancaman tersebut dan kajilah apakah rumah anda sudah aman atau belum. Sebagai contoh, untuk gempa bumi, daftar berikut bisa digunakan untuk mengkaji apakah rumah anda tahan gempa.

  1. Apakah ada jalur darurat untuk keluar dari rumah selain pintu utama?
  2. Apakah berdasarkan cetak biru rumah anda sudah tahan gempa?
  3. Apakah kaca-kaca yang di rumah anda sudah terlindung apabila gempa pecahannya tidak mencelakai penghuni?
  4. Apakah lemari-lemari sudah kokoh berdiri?
  5. Apakah asesoris rumah seperti lampu gantung, hiasan foto dan lukisan sudah terpasang dengan kuat dan tidak mudah jatuh?
  6. Apakah tabung gas di rumah anda aman di tempatnya dan tidak mudah terjatuh disaat ada guncangan?

Beberapa pertanyaan tadi bisa dijadikan acuan keamanan rumah anda.

Langkah 2: Buat Rencana Darurat Untuk Keluarga
Bila anda sudah tahu ancaman-ancaman yang ada, maka selanjutnya buatlah rencana darurat untuk keluarga. Rencana darurat ini harus dibahas oleh semua anggota keluarga (termasuk pembantu rumah, tukang kebun, kerabat yang tinggal bersama anda) untuk akhirnya nantinya difahami oleh semua penghuni rumah.
Tentukan jalur evakuasi sehingga mempermudah keluarga menuju tempat aman yang telah disepakati. Gunakanlah peta interaktif untuk menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul, misalnya menggunakan Google Earth atau Google Map, Street Map dll.
Tentukan titik kumpul disaat anda tidak bisa menjangkau rumah karena berbagai hal akibat bencana/kedaruratan. Penentuan titik kumpul yang disepakati anggota keluarga akan mereduksi kepanikan disaat keluarga tidak berkumpul karena sedang mejalankan aktivitas sehari-hari, misalnya di kantor, sekolah, pasar dll. Dengan adanya titik kumpul maka akan menghemat waktu pertemuan dan tidak ada saling mencari yang membuang waktu. Seringkali terjadi disaat adanya bencana/kedaruratan secara insting si Ibu akan menuju sekolah untuk menyelamatkan anaknya, dan si anak cepat-cepat ingin pulang karena merasa rumahlah tempat yang aman. Dalam proses ini bisa jadi tidak bertemu karena jalan yang dilalui berbeda dan akan menambah kepanikan. Apa yang terjadi bila tahu rumah sudah tak layak dihuni akibat bencana? kepanikan dan saling kehilangan niscaya terjadi.
Juga catatlah nomor-nomor darurat dalam buku khusus, jangan andalkan menyimpannya hanya di hape, BB anda semata. Kemudian taruhlah di tas darurat anda.

Langkah  3: Siapkan Tas Darurat, Peralatan Darurat dan Ketahui Cara Menggunakannya
Langkah kesiapsiagaan berikutnya adalah siapkan tas darurat dan siapkan Tas Pertolongan Pertama (First Aid) kemudian isilah tas-tas tersebut. Sediakanlah APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Kemudian pelajarilah bagaimana cara memberikan pertolongan pertama, menggunakan alat-alat darurat dan juga bagaimana menggunakan APAR. Anda bisa meminta bantuan PMI dan Pemadam Kebakaran untuk tahu bagaimana cara menggunakannya.
Tas darurat bisa diisikan dengan makanan darurat dan minuman darurat untuk sejumlah keluarga anda, untuk persiapan selama 3 hari. Juga masukkan lampu senter dan batere cadangannya. Power Bank  yang sudah terisi penuh untuk tenaga cadangan alat komunikasi anda. Masukkan pula baju cadangan, selimut, kantong tidur, perlengkapan dan keperluan kelompok rentan (kanak-kanak dan balita, lansia dan ibu hamil serta anggota keluarga yang menderita penyakit tertentu). Bagi anda yang Muslim perhatikan kehalalan pangan dan minum cadangan anda. Isi tas bisa disesuaikan dengan kebutuhan keluarga anda.
Letakkan tas darurat, tas PP dan APAR di tempat yang mudah terlihat dan mudah dijangkau namun jauh dari jangkauan anak-anak. Untuk tas darurat anda bisa menggunakan tas travel biasa atau container plastic yang banyak dijual di toko serba ada, kemudian berikan tulisan cukup besar “TAS DARURAT” dengan warna mencolok, bisa kombinasi merah dan kuning.
Untuk tas PP banyak dijual dipasaran, terutama toko outdoor, yakinkan anda menggunakan tas PP seukuran tas ransel, bukan tas PP individu (seukuran tas pinggang).

Langkah  4: Amankan Rumah dan Lakukan Simulasi Bersama Seluruh Anggota Keluarga
Langkah ke-empat ini dilakukan setelah kita tahu dan mengidentifikasi bagian-bagian yang berbahaya di rumah. Cara mengamankan yang sederhana terhadap pecahan kaca misalnya adalah melapisinya dengan plastic transparent yang banyak dijual di pasaran. Menguatkan posisi lemari agar tidak rubuh disaat ada guncangan adalah dengan mengikatnya ke dinding, cara sederhana adalah memasang engsel di sisi lemari dan sisi tembok. Untuk tabung gas adalah dengan menggunakan ban dalam bekas. Ikatkan tabung dengan ban dalam tersebut ke dinding.
Bagi anda yang akan membangun rumah, buatlah rumah tahan gempa. Silahkan melihat situs rumah aman gempa, dengan cara ketikkan rumah tahan atau aman gempa di mesin pencari Mbah Google.
Jangan lupa, setelah anda membuat rencana darurat maka saatnya anda melakukan simulasi sederhana dan menyenangkan bagi penghuni rumah. Caranya?
Setelah anda memiliki rencana darurat plus jalur evakuasi dan titik kumpul, uji cobalah di akhir pekan sambil berolah raga pagi. Fun dan bermanfaat serta menyehatkan bukan?

Langkah  5: Tindakan Melindungi Diri Disaat Kedaruratan Terjadi
Disaat bencana atau kedaruratan terjadi, anda harus bisa mengambil langkah mengamankan dan menyelamatkan diri.

  1. Misalnya untuk gempa:
  2. Lindungi kepala
  3. Sembunyi dikolong meja atau tempat tidur. Bila disekitar anda tidak ada meja atau tempat tidur: meringkuklah ditempat anda sambil tetap melindungi kepala.
  4. Jauhi kaca
  5. Setelah gempa reda segera menuju kelapangan terbuka
  6. Bila anda berada di kendaraan, segeralah berhenti dan berjongkok atau meringkuk di sisi kendaraan. Jangan di Kolong kendaraan.
  7. Jangan gunakan lift atau tangga jalan.


Langkah  6: Bagaimana Memberikan Pertolongn Darurat
Setelah terjadinya bencana atau kedaruratan sering diiringi dengan adanya kasus darurat lainnya, misalnya terluka, patah tulang atau ancaman kebakaran pasca gempa akibat putusnya atau bocornya gas dilingkungan atau rumah anda.
Pada langkah ini diharapkan anda sudah mempelajari pertolongan pertama, sehingga anda bisa memberikan bantuan hidup dasar (pijat jantung luar dan pernafasan buatan), menghentikan pendarahan, pertolongan patah tulang, luka dan evakuasi atau pemindahan korban terluka/sakit. Juga diharapkan anda sudah belajar bagaimana menggunakan APAR disaat anda menemukan kebakaran awal.

Langkah  7: Jaga Komunikasi dan Waspadai Bahaya Susulan
Jagalah komunikasi dengan kerabat anda di saat bencana dan pasca. Ikuti perkembangan terakhir terkait bencana dan ancaman lanjutan dari lembaga yang terpercaya. Hati-hati dengan rumor dan berita menyesatkan. Berita menyesatkan pasca gempa kerap terjadi dengan menginformasikan akan terjadi gempa kembali dengan kekuatan yang lebih kuat dan disebutkan waktunya. Ingat, kejadian gempa belum bisa diramalkan, carilah informasi gempa ke BMKG, baik disitusnya – www.bmkg.go.id maupun ikuti melalui media social sejak saat ini. Demikianpula anda sebaiknya memiliki nomor darurat dari lembaga terkait lainnya.

Demikian sumbang fikiran saya semoga berguna, Insya Allah saya akan kembali berbagi tips keselamatan di lain waktu.images.jpg


Share Me Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

22.4.12

Bagaimana Kesiapan Jabodetabek Terhadap Potensi Gempa Diatas 6SR?

Berbagai ahli sudah bicara tentang potensi gempa di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) namun sudah sampai dimana kesiapan daerah tersebut?

Sudahkah masyarakat dan pemerintah menyadari ancaman tersebut?
Bagaimana gempa pernah memporakporandakan Jakarta dan sekitarnya?


Sejarah Gempa di Jakarta dan Sekitarnya
Dalam catatan sejarah, Jakarta (entah itu Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, DKI Jakarta atau yang lebih tua dari itu) pernah luluh lantak di guncang gempa berkekuatan besar. Peradaban pernah terganggu dengan masifnya di kota Si Pitung itu. Jumlah korban terhitung banyak pada masanya dan bencana ikutan menyertainya seperti kolera, tipus, kelaparan, dll.

Misalnya waktu itu tanggal 5 Januari 1699 Batavia mengalami guncangan yang hebat akibat rambatan gempa di Jawa Barat, saat itu Gunung Salak meletus. Gempa susulan terjadi sampai beberapa hari sesudahnya. Dimana sejumlah guncangan seperti yang tercatat dalam Makalah "Historical Evidence for Major Tsunamis in the Java Subduction Zone" dari Asia Research Institute, terjadi selama tiga perempat jam hingga satu jam. Tepian kali Ciliwung longsor, pepohonan tumbang di seantaro Jakarta, ribuan kubik lumpur ditumpahkan dan sampai di Jakarta, sungai Ciliwung tersumbat demikianpula kanal-kanal Oud Batavia (Jakarta lama). Sehingga banjir lumpur mengepung Jakarta yang baru saja di guncang gempa besar. Kondisi lingkungan tak sehat dan semakin parah (demikian tulisan Sir Thomas Stamford raffless dalam bukunya History of Java). Seakan Jakarta menerima 2 paket sekaligus, gempa dan banjir lumpur. Dampak lainnya: 28 orang tewas, 49 gedung batu yang kokoh hancur, hampir semua rumah mengalami kerusakan.

Walaupun gempa 1699 sering dikaitkan dengan letusan Salak namun beberapa ahli menduga pusat gempa berada di selatan Jakarta, berupa gempa seismik. Hingga saat ini penyebab pasti gempa ini masih menjadi misteri.

Sedangkan pada tahun 1757 Jakarta kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7SR di pantai utara Jakarta, berdasarkan catatan NGDC (National Geophysical Data center - United States Department of Commerce) gempa ini diiringi dengan tsunami dengan ketinggian 1 – 3 meter. Kerusakan banyak terjadi di sekitar pantai utara Jakarta bagian timur, dimana Cilincing yang terparah. Kemudian gempa kembali menghantam Jakarta yaitu pada 1780, korban jiwa juga masif pada waktu itu.

Kemudian 27 Agustus 1883 Jakarta kembali menerima dampak dari daerah lain, yaitu letusan Gunung Krakatau yang memicu tsunami setinggi 35 meter. Nyawa melayang di Pulau Jawa bagian barat dan Selatan Pulau Sumatra termasuk Jakarta tercatat 36 ribu jiwa melayang.

27 Februari 1903 juga terjadi gempa besar yang juga berefek sampai Jakarta. Gempa ini sering dikaitkan oleh para ahli adalah gempa yang mirip seperti yang terjadi pada tahun 1699 yaitu akibat letusan Gunung Salak. Jika terbukti berkorelasi maka ada potensi pengulangan dengan siklus 200-an yang mengancam Jakarta.

Nah di tahun 2000-an pun Jakarta masih sering terkena goncangan gempa. misalnya 9 Agustus 2007 terjadi gempa 7,5 SR di laut lepas pantai indramayu pada kedalaman 290 km, yang menggoyang Jakarta.

Kemudian pada Jum’at sore 16 Oktober 2009 pukul 16:52 WIB, USGS – National Earthquake Center menyebut kekuatannya sebesar 6,1SR dengan kedalaman 50,6 km di bawah pulau panaitan. Gempa ini membuat panik sebagian warga Jakarta.

Sebelumnya Agustus 2009 Jakarta juga merasakan gempa akibat gempa di kawasan Jawa Barat bagian selatan yang diguncang gempa 7SR. Dan yang paling anyar adalah gempa yang terjadi pada minggu pagi (15 April 2012), pukul 02:26:39 WIB dini hari. Gempa berkekuatan 6SR yang berlokasi di selatan Ujung Kulon ini membangunkan sebagian warga Jakarta dan sekitarnya. Walaupun tidak ada laporan kerusakan.

Gempa-gempa tersebut bukanlah sekedar deretan lini masa sejarah masa lalu, bagi para pakar gempa dan manajemen bencana ini adalah petunjuk bahwa bencana yang sama bisa berulang di Jakarta dan sekitarnya. Karena fakta membuktikan bahwa sejarah gempa selalu terulang dalam periode waktu tertentu. Sehingga kota Jakarta dan sekitarnya dengan lebih dari 15 juta jiwa haruslah selalu siap menghadapi skenario terburuk.


Bagaimana Gempa Mengancam Jakarta?

Indonesia adalah negara yang beralasakan pada tiga tikar dunia yang dikenal dengan lempeng, yaitu Lempeng Eurasia (dikenal pula dengan Lempeng Sunda), Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik, belum lagi ada bagian Indonesia yang bersentuhan dengan lempeng kecil, misalnya Lempeng Filipina. Pada masing-masing lempeng terdapat ratusan (mungkin ribuan) sesar yang aktif maupun dalam kondisi “tidur”. Masing-masing tepi lempeng bertumbukan dan ada yang bertipe subduksi, yang bila tumbukan atau terjadi pelepasan energi akibat tekanan pada lokasi pertemuan lempeng maka gempa bumi akan terjadi. Banyak Kota-kota Besar di Indonesia, Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang dan ratusan kota lainnya terletak pada daerah ini, daerah ini dikenal dengan nama sabuk api atau the ring of fires.

Pertemuan Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia disebut Sunda Megathrust, dimana Lempeng Indo-Australia menusuk ke bawah Lempeng Eurasia. Lempeng Indo-Australia membentang dari arah utara melewati Mentawai, Sumatera Barat, sampai ke Selat Sunda. Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda berasal dari sekitar Mentawai sampai ke arah Nusa Tenggara. Titik temu atau batas antara dua lempeng inilah yang bisa menciptakan gempa maha dahsyat. Bila terjadi hujaman dahsyat ke bawah lempeng Eurasia maka akan terjadi sesar naik dengan kekuatan yang luar biasa. Potensi guncangan ibarat bom waktu itu bisa menimbulkan guncangan sekitar 8,8 SR atau bahkan 9 SR. Secara keseluruhan, jalur Megathrust ini menjulur dari Myanmar, mengarah ke pantai barat Sumatera, lalu di Selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara.

Hamparan lempeng raksasa berkilo-kilometer baik di Lempeng Indo-Australia ataupun di Lempeng Eurasia itu memiliki segmen-segmen sendiri di masing-masing lokasi. Setiap segmen itu juga memiliki karakteristik dan perilaku khas masing-masing. Pergerakan di segmen-segmen itulah yang kemudian menciptakan gempa-gempa sedang di beberapa titik yang belakangan biasa disebut sesar geser atau pergerakan di internal lempeng.

Subagyo, ahli Gempa dari ITB menyatakan “Jangan pernah sekalipun memimpikan seberapa dahsyat guncangan tercipta bila Sunda Megathrust bergerak naik. Megathrust terakhir terjadi pada 2004 di Bumi Nangroe Aceh Darussalam. Tsunami menyapu bibir pantai hingga ke Banda Aceh. Gempa dan tsunami menyapu bersih bibir pantai 7 negara lainnya. Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Mundur lagi ke belakang, gempa dahsyat yang diakibatkan sesar naik di Sunda Megathrust juga pernah terjadi tahun 1960 yang mengakibatkan gelombang tsunami. Saat itu, gempa yang mengguncang Chili mencapai 9,5 skala richter. Itu merupakan gempa terkuat yang pernah tercatat. Sedikitnya akibat gempa itu 140 orang dilaporkan tewas di Jepang, 61 di Hawaii dan 32 di Filipina. Sekitar tahun 1800an diperkirakan pernah terjadi gempa dahsyat di Mentawai akibat sesar naik Sunda Megathrust.”

Berdasarkan Irwan meilano, seorang anggota tim revisi peta gempa Indonesia yang melalukan penelitian pada radius 500 km dari pusat kota Jakarta, mengungkapkan bahwa ada 12 sumber gempa yang mengelilingi Jakarta dan membuat Jakarta sangat rawan gempa besar.

Ke- 12 sumber itu adalah:

1. Sesar Semangko dengan prediksi kekuatan (magnitude) gempa maksimal 7,6 SR,
2. Sesar Sunda kekuatan maksimal 7,2 SR,
3. Sesar Cimandiri dengan 7,6 SR,
4. Sesar Baribis,
5. Sesar Lembang dengan kekuatan maksimal 6,5 SR.
6. Sesar Opak dengan kekuatan maksimal 6,4 SR,
7. Sesar Lasem kekuatan maksimal 6,5 SR,
8. Sesar Pati 6,8 SR,
9. Sesar Bumiayu,
10. Subduksi Sumatera yang berada dalam radius 210 Km dengan kekuatan maksimal 8,2 SR,
11. Subduksi Jawa dalam radius 172 Km dengan kekuatan maksimal 8,1 SR dan
12. Subduksi Dalam dengan radius 120 Km memiliki kekuatan maksimal 7,8 SR.


Selain kenyataan bahwa ada 12 sumber gempa, Jakarta juga mengalami peningkatan probabilitasnya terhadap gempa, demikian yang seperti yang dikatakan sang Ustadz Gempa Danny Hilman. Probabilitas gempa di Jakarta kini adalah 0,2 g (gravitasi) naik dari angka 0,15 g pada 2002.

Jakarta memang benar-benar ada dalam bayang-bayang gempa, apalagi dengan kenyataan yang ramai dibicarakan para ahli yaitu adanya sesar gempa di Jakarta, yang melintang dari wilayah Ciputat sampai Kota (sesar atau patahan ini disebut juga Sesar Ciputat). Memang pada penelitian di tahun 2006, sesar yang tergolong patahan tua itu dikatakan dalam kondisi tidak aktif/tidur. Tapi, dia bisa “terbangun” kembali. Misalnya, jika sesar itu dirangsang oleh gempa dengan kekuatan di atas 7 SR.

Bagaimana tanah Jakarta? Menurut Encyclopedia of World Geography, Jakarta dibangun diatas tanah yang tidak stabil, sehingga rambatan gempa jadi lebih hebat, demikian yang dikatakan Professor Masyhur Irsyam sang Ketua Tim 9 (Tim Revisi Peta Gempa Indonesia). Dan kawasan Jakarta Utara memiliki kondisi batuan dasar yang memungkinkan terjadinya percepatan rambatan. Bila kita melihat sejarah pada gempa 1699 dimana pusat gempanya bukan di Jakarta namun karena jenis batuan ini maka percepatan rambatan terjadi sehingga guncangannya lebih kuat daripada kekuatan gempa di sumbernya.

Kondisi tanah Jakarta ini sangat berpengaruh pada tingkat keparahannya, misalnya pada gempa 1757 kerusakan di Jakarta bagian utara adalah yang terparah dan Setiabudi di daerah Jakarta Selatan adalah daerah terparah kedua. Kenapa? Karena kedua daerah ini memiliki kondisi tanah yang berbeda.

Oleh karena itu, sejalan dengan Tim 9, identifikasi sumber gempa melalui data seismisitas baik historis maupun instrumental, pemetaan sesar aktif, dan pemantauan deformasi kerak merupakan aspek pentging untuk diperhitungkan.


Apakah Masyarakat Jakarta dan Sekitarnya Sudah Tahu Ancaman Gempa di Jakarta adalah Nyata?
Boleh dikatakan 95% masyarakat Jakarta dan sekitarnya tidak tahu, dengan begitu 5% masyarakatnya tahu. Namun tahukah anda siapa saja yang 5% itu? Mereka adalah Peneliti Gempa dan Bencana, Praktisi Penanggulangan Bencana, Aparat Pemerintah (inipun hanya segelintir dari mereka dan segelintir dari mereka yang bekerja terkait dengan bencana saja yang tahu), Presiden dan Wapres, Staf Ahli Presiden bidang bencana, Kepala BNPB, segelintir wartawan dan segelintir masyarakat yang kritis terhadap penanggulangan bencana dan keselamatan.

Jadi, masih banyak masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang belum tahu dan mereka wajib diberitahu karena UUD 1945 menyatakan bahwa negara menjamin segenap tumpah darah Indonesia, kemudian UU 24/207 tentang Penanggulangan Bencana yang salah satu pasalnya menyatakan bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi tentang potensi dan ancaman bencana. Bila sampai ada masyarakatnya yang tidak tahu karena pemerintah tidak memberitahu dengan cara yang tepat dan sistematis serta berkelanjutan, maka pemerintah sudah mengabaikan rakyat Indonesia yang seharusnya mereka lindungi dan yang menjalankan roda pemerintahan bisa dikenai sanksi sesuai UU 24/2007.

Sudahkah Pemerintah Kota Tangerang, Pemkot Bekasi dan Kabupaten Bekasi serta Kota Depok mendirikan BPBD? Namun, ada satu (lagi) yang masih mengganjal di DKI Jakarta. Kenapa masih ada dualisme dalam penanggulangan bencana yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DamkarPB). Prinsip dalam penanggulangan bencana adalah kesatuan rencana, kesatuan tindak dan kesatuan komando, namun apakah bisa dengan adanya dua SKPD ini terjadi? Belum lagi masih banyak SKPD lain yang menganggap BPBD adalah “anak baru” dan gak tahu apa-apa.


Bagaimana Mengurangi Risiko Bencana?
Pengurangan risiko bencana gempa dapat dilakukan melalui 7 upaya dan oleh siapa saja, berikut ini adalah contohnya:

1. Peraturan Daerah dan Institusionalisasi
a. Rencana Penanggulangan Bencana
b. Rencana Pengurangan Risiko Bencana

2. Pengetatan Standar Bangunan

3. Sistem Kedaruratan Terpadu
a. Incident Command System
b. Rencana Kontinjensi
c. Rencana Operasi
d. Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi

4. Sistem Peringatan Dini dan Sistem Evakuasi

5. Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan
a. Pelatihan PB
b. Penyuluhan
c. Partisipasi

6. Perubahan Perilaku dan Budaya
a. Upaya Bersama Pengurangan Risiko Bencana Gempa
b. Keluarga Tangguh
c. Kelurahan/Desa Tangguh

7. Simulasi


Bahan dasar dari ke-tujuh pondasi diatas adalah:
1. Peta Kerawanan Gempa Indonesia tahun 2010 yang diikuti dengan pembuatan peta mikrozonasi oleh Pemda.

2. Peta kondisi lingkungan saat ini (perumahan, perkantoran, industri, kepadatan penduduk dan lifeline – jalur jalan, jalur air, jalur listrik, jalur gas, jembatan)

3. Asesmen Kerentanan dan kapasitas yang memasukkan aspek antropologi, sosiologi dan religi.


5 pilar penanggulangan PB harus bekerja sama dalam hal ini, yaitu: 1) Pemerintah, 2) Peneliti, 3) Lembaga Kemanusiaan, 4) Sektor Swasta/Private, dan 5) Masyarakat.


Kerjasama, Berbagi Peran Dan Saling Mengandalkan
Contoh dari apa yang harus dan bisa pemerintah lakukan adalah: misalnya dalam hal pengetatan standar bangunan, pemerintah memiliki kewajiban untuk membuatnya, menjalankan dan mengawasi penerapannya di lapangan. Menerapkan parameter Hazard atau Ancaman gempa sesuai tingkat bahayanya pada desain, konstruksi gedung, serta infrastruktur di wilayah Jakarta merupakan salah satu dari serangkaian upaya pengurangan risiko bencana gempa. Karena bencana gempa dapat terjadi karena kegagalan menerapkan parameter ini.

Peta gempa yang sudah dilansir oleh pemerintah pusat di tahun 2010 harus digunakan sebagai bahan pertimbangan utama dalam ketahanan bangunan. Hal ini dilakukan oleh Departemen Pekerjaan Umum. Karena yang membunuh bukanlah gempanya, namun bangunannya. Untuk pemerintah DKI Jakarta, pembuatan peta mikrozonasi kerentanan gempa yang merupakan kelanjutan dari peta rawan gempa 2010 sudah saatnya dilaksanakan. Karena peta ini adalah modal dasar dalam pembuatan segala kebijakan. Rencana Penanggulangan PB yang sudah dilakukan oleh BPBD DKI harus bisa diimplementasikan oleh SKPD dan instansi terkait, demikianpula rencana pengurangan risiko bencana.

Hanya yang perlu khalayak atau masyarakat luas ketahui adalah bahwa apa yang dilakukan ini bukanlah untuk menghindarkan terjadinya gempa namun itu merupakan upaya untuk mengurangi dampak bila gempa terjadi. Dengan kata singkat: gempa tetap terjadi namun dampak dapat diminimalisir.

Kapan terjadinya gempa sampai saat ini belum dapat diprediksi begitupula kekuatannya dan daya rusaknya, namun lini masa dalam sejarah dan hasil penelitian para ahli gempa dan penanggulangan bencana dapatlah dijadikan sebuah upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan.

Promosi dan penyuluhan dengan berbasis anthropologi sangat diperlukan dan aksi nyata penyusunan rencana kontinjensi gempa, peningkatan pemahaman tentang gempa, peningkatan keterampilan penyelamatan diri serta pengurangan risiko bencana gempa dan simulasi-simulasi penyelamatan diri sudah harus dimulai.

Pembangunan sistem darurat terpadu harus dilaksanakan secara bersama-sama, bukan hanya pemerintah daerah. Karena berjalan atau tidaknya sistem ini akan berpulang pada kepemilikan sistem oleh para pelakunya. Bila sejak awal tidak ada keterlibatan pihak atau pemangku kepentingan lain maka pemda tidak akan bisa mengaktivasinya. Demikian pula sistem peringatan dini dan sistem evakuasi yang efektif.

Belajar dari kejadian gempa dan tsunami di Jepang Maret tahun lalu, banyak jiwa terselamatkan karena berjalannya ketiga sistem ini (sistem darurat terpadu, sistem peringatan dini dan sistem evakuasi) ditambah pengetahuan masyarakat yang segera mampu mengambil inisiatif mengungsi begitu terjadi gempa dengan ciri-ciri tertentu dapat mengakibatkan tsunami. Memang 20.000 jiwa harus melayang pada bencana tersebut, namun bisa diperhitungkan bila itu tidak terjadi di Jepang maka jumlah korban akan berlipat sepuluh kali.

Simulasi harus sering dilakukan. Hanya saja sudah menjadi karakter bangsa Indonesia yang meremehkan simulasi, padahal simulasi yang berulang dan diikuti dengan sungguh-sungguh akan menanamkan refleks terarah evakuasi disaat dibutuhkan. Semua ini harus dilakukan secara efektif dan efisien oleh kelima pilar penanggulangan bencana. Karena diantara mereka harus tumbuh sikap kerjasama (bukan sekedar sama-sama kerja), berbagi peran dan saling mengandalkan. Saling emngandalkan karena masing-masing pilar memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki pilar lainnya. Yuk kita siaga bencana. (Jakarta; 21 April 12)


Yang harus diingat: walaupun DKI dalam tulisan ini yang terancam gempa, namun gempa tidak memandang batas administrasi, jadi Jabodetabek haruslah siaga dan saling bersinergi.


Note: Tulisan ini berasal dari berbagai sumber. Diolah demi kepentingan penyadaran kesiapsiagaan bencana, bukan menantang bencana.

Sumber:
1. http://www.bnpb.go.id/website/asp/berita_list.asp?id=812 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:47 siang.
2. http://teknologi.vivanews.com/news/read/305082-12-sumber-gempa-kepung-jakarta diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:35 WIB Pagi.
3. http://www.pgis-sigap.blogspot.com/2011/03/tahun-1757-pernah-ada-gempa-dan-tsunami.html diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:19 WIB siang
4. http://nasional.vivanews.com/news/read/305432-bengkulu-jabar-waspada-siklus-gempa-1875 diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 10:45 WIB pagi
5. http://metro.vivanews.com/news/read/305630-misteri-penyebab-gempa-besar-jakarta-1699 diunduh pada 21 april 2012 pukul 10:47 WIB pagi
6. http://sorot.vivanews.com/news/read/166557-gempa-jakarta--siapkah-kita- diunduh 21 Apr. 12 pukul 10:31 WIB pagi
7. http://fokus.vivanews.com/news/read/304968-hujaman-di-sunda-megathrust diunduh pada 21 Apr. 12 pukul 10:30 WIB Pagi.
8. http://teknologi.vivanews.com/news/read/299206--kapal-hantu--tsunami-terlihat-di-kanada diunduh pada 21 Apr. 12, pukul 11:00 siang

Share Me


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

13.4.12

Pelatihan “Kepemimpinan dan Managemen Kedaruratan (Leadership and Management in Emergencies)

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) akan menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan “Kepemimpinan dan Managemen Kedaruratan (Leadership and Management in Emergencies)” yang akan dilaksanakan pada 24 – 26 April 2012 di Jakarta.

Yang diharapkan terlibat dalam pelatihan ini adalah : Staf yang ada berada dalam posisi kepemimpinan atau manajemen tim inti dari semua program atau bidang. Peserta sebaiknya staf sudah agak lama atau senior, yang akan diutus untuk mengelola beberapa bidang suatu tanggap darurat skala kecil sampai menengah. Program ini menguji beberapa aspek kunci manajemen dan kepemimpinan dalam situasi kedaruratan.
Jumlah peserta dibatasi hanya 30 peserta

Fasilitator utama pelatihan ini adalah : Avianto Amri, anggota aktif MPBI dan bersertifikasi internasional sebagai pelatih dalam kepemimpinan dan manajemen kedaruratan. Dia memiliki pengalaman luas dalam menyampaikan pelatihan di tingkat internasional, khususnya di Negara-negara Asia Tenggara. Dia telah melakukan pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Tanggap Darurat lebih dari 100 jam pelatihan dan telah melatih lebih dari 180 direktur dan manager senior di Asia. Pelatihan ini diperkaya oleh pengalaman kerjanya di bencana besar, termasuk di Haiti (2010), Pakistan (2010), Cambodia (2011), Thailand (2011), Filipina (2012), dan di Indonesia (sejak 2006 sampai saat ini). Dia juga berpengalaman memfasilitasi beragam topik pelatihan dalam system koordinasi antar lembaga, Hak-hak Anak, Standar Minimum INEE dalam Pendidikan, dan Respons Tahap Pertama untuk Staf garis depan.

Melalui surat ini, kami mengundang lembaga Bapak/Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam mengikuti/mengirimkan peserta untuk pelatihan ini.
Untuk informasi lebih rinci silakan menghubungi Sekretariat MPBI :
Sdr. Verdy , Telp/fax. 021-445 880 79, HP: 0811-8701980
e-mail: profesionalisasipbmpbi@yahoo.co.id


TOR
Leadership and Management in Emergencies
24-26 April 2012 – Jakarta, Indonesia


Rationale

In the period of 5 years, between 2002 – 2006, it was recorded more than 3,000 disasters happened in Indonesia and the number of affected people every year relatively continue to increase, where women and children are among the most vulnerable groups. In the other hand, the number of humanitarian agencies responding to crisis/ emergencies in Indonesia also continues to grow. A significant growth is observed for local Non Government Organizations (NGOs) and also in the private sectors where there are more and more private enterprises established their emergency/ crisis response teams with the support from their Corporate Social Responsibility (CSR) funding.

Looking at these facts, MPBI recognizes that there is an increase number of agencies working in the humanitarian sector and also with relatively new staffs with limited experiences. These agencies must increase its capacity, and review some of the existing mechanisms and systems in order to ensure that affected people realize their rights in emergencies. Decision makers within these agencies need to be equipped with a set of basic knowledge, skills and attitudes that will allow them to achieve results effectively for humanitarian emergency response. This course contributes to meet this need.

Purpose

To develop stronger humanitarian leadership of humanitarian agencies through capacity building on leadership and management skills for key team leader or managerial positions

Course learning objectives


At the end of the course participants will be able to:

· Describe what is expected in an operation during emergencies and explain the mechanisms that senior managers can use in order to ensure that it fulfils its commitments for emergency response.
· Be aware of, and be able to identify the main internationally agreed humanitarian frameworks (Humanitarian Charter, Red Cross / NGO Code of Conduct, Sphere Minimum Standards, and INEE Minimum Standards) and identify the implications of them for the management emergency response
· Identify the characteristics of effective leadership and management that are particularly important for emergency response
· Understand the existing mechanisms and procedures that managers should use to fulfil their institutional accountabilities (such as cluster coordination, rapid need assessment, program design, and donor mapping).
· Identify further learning needs that can be included in personal development plans

Who is this training for?


Existing staff in key team leader or management positions from all programme areas or discipline are targeted. Participants would be middle to senior staff, who are likely to be called upon to manage some aspect of a small-medium scale emergency response. This programme examines key aspects of management and leadership in emergency situations and is for existing


How the course will run

These learning materials assume that an "Experiential Learning" approach will be used during their implementation. Experiential Learning is a process quite different from the prevailing behavioral, rational idealist, and traditional educational theories. These materials were developed using participant’s experience, both past and present, as a central element in their learning process. If the sessions are followed as suggested participants’ new learning will be mostly "discovered" by participants, rather than explained or lectured by instructors. However there will be information that will need to be shared in forms of lecture and transmitted as instruction. Some information that will fall into this category may include organizational expectations, operating procedures, and other policy related issues.

The “face-to face” learning event is a three-day workshop (approx. 24 hours) and combines different learning techniques and group dynamics. The main added value of the workshop is to maximize collective/group learning and personal interaction resulting from a combination of participant’s previous experiences (what they bring in their “suitcase”) and new content/know-how from the facilitators and/or other colleagues.

An important part of the workshop is the simulation exercise in which participants test themselves, in a non-threatening but highly demanding environment, with regards to their skills, competences, know-how and attitudes vis-a-vis leadership and management for emergency response.

Pre-workshop reading will be given and some preparation time will be set aside during the course. The training will be conducted in Bahasa Indonesia.

Certificate

Please note that participants will be presented with a certificate by MPBI if they have completed all the pre-workshop reading assignment and attended all the days of the training

Workshop fee

The fee for the workshop is IDR 3,500,000.- (payable in full at least 10 days advance of the training). The fee includes the cost of tuition, training material, lunch, plus morning and afternoon tea/coffee breaks. All participants are responsible for any associated travel expenses to and from Jakarta, airport transfer, accommodation, evening meals, health/accident insurance and other personal expenses.

About the facilitator

The lead facilitator of this training is Avianto Amri, an active member of MPBI and a certified international facilitator on leadership and management in emergencies. He has an extensive experience in delivering training at the international level, particularly South East Asia countries. He has delivered more than 100 hours of training on Leadership and Management in Emergencies and has trained more than 180 directors and senior managers across Asia. The training will be enriched by his work experiences working in major emergencies, including in Haiti (2010), Pakistan (2010), Cambodia (2011), Thailand (2011), the Philippines (2012), and in Indonesia (since 2006 until present).

He also has the experiences delivering trainings in the topics of IASC’s cluster coordination system, Child Rights and Participation in Emergencies, INEE Minimum Standards, and First Phase Response for Frontline staff.


Please contact MPBI Secretariat, Mr. Verdy, tel/fax. 021-445 880 79, HP: 0811-8701980 e-mail: profesionalisasipbmpbi@yahoo.co.id for application.





Kepemimpinan dan Manajemen dalam Kedaruratan
Jakarta, 24-26 April 2012

Latarbelakang


Dalam jangka 5 tahun, antara tahun 2002-2006, terekam lebih 3000 kejadian bencana terjadi di Indonesia dan jumlah penduduk yang terkena dampak tiap tahunnya semakin meningkat, di mana perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling terkena dampak bencana. Di samping itu jumlah lembaga kemanusiaan yang menanggapi krisis/kedaruratan di Indonesia juga terus meningkat. Pertambahan yang signifikan dapat diamati pada sektor organisasi non pemerintahan lokal dan juga di sektor bisnis yang membentuk tim kedaruratan atau tim reaksi cepat dengan dukungan dana tanggungjawab sosial perusahaannya.

Mengamati fakta ini, MPBI menyadari ada pertambahan jumlah lembaga baru yang bekerja dalam sektor kemanusiaan dengan staff-staff yang juga relatif baru dengan pengalaman yang terbatas. Lembaga-lembaga ini harus meningkatkan kemampuannya, dan mengetahui beberapa mekanisme dan prosedur yang sudah ada untuk memastikan agar penduduk terkena bencana terpenuhi hak-haknya dalam kedaruratan. Para pengambil keputusan dalam lembaga-lembaga ini perlu dilengkapi dengan seperangkat pengetahuan dasar, ketrampilan dan sikap yang akan membantu mereka mencapai hasil yang efektif untuk melakukan respons darurat kemanusiaan. Pelatihan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ini.


Tujuan

Untuk menguatkan kepemimpinan para pimpinan dan manajer lembaga-lembaga dalam menjalankan misi kemanusiaan melalui pengembangan kapasitas dalam kepemimpinan dan ketrampilan-ketrampilan manajemen untuk para pimpinan tim atau di pihak manajemen.


Sasaran pembelajaran pelatihan

Pada akhir kursus mitra latih sudah mampu:

· Menjelaskan apa yang diharapkan dari suatu kegiatan pada tanggap darurat dan menjelaskan mekanisme yang dapat digunakan oleh manager senior untuk memastikan pemenuhan komitmen lembaganya dalam respons tanggap darurat;
· Lebih sadar, dan lebih mampu mengidentifikasi kerangka kerja utama di bidang kemanusiaan (mengerti mengenai Piagam Kemanusiaan, Kode Etik Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dan ORNOP Kemanusiaan, Standar-standar Minimum Sphere, dan Standar-standar minimum INEE) dan mengidentifikasi kaitannya dalam manajemen tanggap darurat;
· Mengidentifikasi karakteristik kepemimpinan dan manajemen efektif yang khususnya penting dalam tanggap darurat;
· Memahami mekanisme dan prosedur yang sudah ada yang perlu digunakan oleh para manager untuk memenuhi akuntabilitas kelembagaannya (misalnya koordinasi cluster, pengkajian cepat kebutuhan darurat, perencanaan program, dan pemetaan donor); dan
· Mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran lebih lanjut yang dapat dimasukkan dalam rencana pengembangan SDM.


Pelatihan ini buat siapa?

Pelatihan ini ditujukan untuk staf yang ada berada dalam posisi pimpinan atau tim manajemen inti dari semua program atau bidang. Peserta sebaiknya staf sudah senior, yang akan ditugaskan untuk mengelola program tanggap darurat skala kecil sampai menengah. Pelatihan ini akan menguji beberapa aspek kunci manajemen dan kepemimpinan dalam situasi kedaruratan.


Bagaimana pelatihan ini akan dilaksanakan?

Bahan pembelajarannya menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman. Pembelajaran berbasis pengalaman adalah suatu proses belajar yang berbeda dengan teori-teori pendidikan tradisional yang menggunakan metoda perilaku atau idealis rasional. Bahan-bahan ini dikembangkan dengan menggunakan pengalaman para mitra latih, baik pengalaman masa lalu mapun masa kini, sebagai suatu unsur utama dalam proses pembelajaran. Jika sesi-sesi ini diikuti seperti yang disarankan kepada para mitra latih, maka hampir dapat dipastikan pembelajaran baru akan ditemukan oleh para mitra latih, bukan sekadar yang dijelaskan atau diajarkan oleh para pelatih. Akan tetapi ada informasi yang perlu dibagikan dalam bentuk paparan dan instruksi. Beberapa informasi disampaikan dengan cara ini termasuk harapan organisasi, prosedur kegiatan, dan hal-hal berkaitan dengan kebijakan.

Kesempatan belajar “face-to face” (temu muka) selama lokakarya tiga hari (kira-kira 24 jam) dan menggabungkan beberapa teknik pembelajaran yang berbeda dan dinamika kelompok. Nilai tambah kursus ini adalah memaksimalkan pembelajaran bersama dan interaksi pribadi yang menghasilkan suatu kombinasi pengalaman mitra kursus (yang mereka bawa dalam ‘tas’ mereka) dan pengetahuan baru dari fasilitator dan atau mitra latih lainnya.

Bagian penting dalam pelatihan ini adalah satu hari latihan simulasi di mana mitra kursus menguji diri mereka sendiri, dalam kondisi yang aman namun sangat menantang, mengenai ketrampilan, kompetensi, pengetahuan dan sikap-sikap kepemimpinan dan manajemen untuk tanggap darurat.

Bacaan pra-lokakarya akan diberikan dan beberapa persiapan disyaratkan sebelum mengikuti kursus. Pelatihan ini akan dilakukan Bahasa Indonesia, namun pada saat simulasi, bahan ajar akan menggunakan bahasa Inggris.

Sertifikat

Agar dicatat bahwa mitra kursus akan diberikan sertifikat oleh MPBI bila mereka melengkapi seluruh tugas pra-kursus dan mengikuti seluruh sesi selama kursus.


Biaya kursus

Biaya latih Rp 3,500,000.- (dibayar selambatnya 10 hari sebelum pelatihan). Biaya pelatihan termasuk biaya bimbingan, bahan kursus, makan siang, kue dan teh/kopi pada rehat pagi dan siang. Mitra latih bertanggung jawab langsung pada seluruh biaya lainnya misalnya biaya perjalanan dari dan ke Jakarta, transporttasi dari dan ke bandara, penginapan, makan malam, asuransi kesehatan/kecelakaan dan biaya-biaya lainnya.


Fasilitator

Fasilitator utama pelatihan ini adalah Avianto Amri, anggota aktif MPBI dan bersertifikasi internasional sebagai pelatih dalam kepemimpinan dan manajemen kedaruratan. Dia memiliki pengalaman luas dalam menyampaikan pelatihan di tingkat internasional, khususnya di Negara-negara Asia Tenggara. Dia telah melakukan pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Tanggap Darurat lebih dari 100 jam pelatihan dan telah melatih lebih dari 180 direktur dan manager senior di Asia. Pelatihan ini diperkaya oleh pengalaman kerjanya di bencana besar, termasuk di Haiti (2010), Pakistan (2010), Cambodia (2011), Thailand (2011), Filipina (2012), dan di Indonesia (sejak 2006 sampai saat ini).

Dia juga berpengalaman memfasilitasi beragam topik pelatihan dalam system koordinasi antar lembaga, Hak-hak Anak, Standar Minimum INEE dalam Pendidikan, dan Respons Tahap Pertama untuk Staf garis depan.


Share Me

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

16.1.12

Logo Segitiga Biru Diatas Dasar Jingga: Logo BNPB

Kenapa yah, logo penanggulangan bencana di hampir tiap negara menggunakan atau menyertakan logo segitiga biru dengan latar belakang jingga? Kalau kita minta bantuan Mbah Google untuk mencari logo-logo lembaga atau badan penanggulangan bencana maka kita akan menemukan banyak negara yang menyertakan atau menggunakan logo tersebut.

Ternyata lambang itu punya nilai yang tinggi loh, bahkan sederajat dengan lambang Palang Merah/Bulan sabit Merah. Selama ini yang banyak diketahui orang adalah hanya lambang Palang Merah/Bulan Sabit Merah saja yang merupakan lambang perlindungan, dimana orang yang menggunakan lambang itu, gedung yang menggunakan lambang itu, termasuk kendaraannya akan mendapat perlindungan disaat konflik bersenjata (perang) dan tidak boleh dijadikan obyek serangan militer.
Organisasi yang menggunakan lambang segitiga biru dengan dasar jingga juga mendapat perlindungan, dan itu ada aturannya yang berlaku internasional dan pengaturannya ada dalam dokumen yang sama dengan perlindungan terhadap lambang Palang Merah/Bulan sabit Merah, yaitu Konvensi Jenewa 1949 – yang dikuatkan dalam Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1949 mengenai Konflik Internasional (untuk lebih jelas silahkan lihat disini dan disini).
Siapakah organisasi atau lembaga yang boleh menggunakan lambang itu? Organisasi atau lembaga yang boleh menggunakannya adalah mereka yang menjalankan fungsi perlindungan masyarakat. Berangkat dari sinilah organisasi penanggulangan bencana mengadopsi lambang segitiga biru dengan latar belakang jingga, baik secara sadar maupun ikut-ikutan karena melihat sebagian besar di dunia organisasi penanggulangan bencana menggunakan logo ini.

Apapun yang terjadi, baik sadar maupun ikut-ikutan, lembaga yang menggunakannya haruslah mengetahui nilainya dan juga aturannya. Bagi yang ikut-ikutan harus membuka mata dan menyadari bahwa logo itu bukanlah sekedar segitiga namun ada aturannya.

Nah, di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang merupakan pemegang mandat penanggulangan bencana mengadopsi logo ini, pertanyaannya sudah tahukah lembaga itu dan juga mereka yang bekerja di badan tersebut dari tingkat nasional (BNPB) sampai tingkat Kabupaten/Kota (BPBD/Badan Penanggulangan Bencana Daerah), serta juga masyarakat dan lembaga mitra lainnya mengenai logo ini?. Semoga mereka memahaminya. Memang secara pragmatis tahu atau tidak arti ini tidak akan mempengaruhi kinerja BNPB dan BPBD saat ini, karena yang utama adalah bagaimana mengelola risiko bencana dengan baik sehingga kerugian dan korban jiwa bisa direduksi bila bencana masih belum bisa dihilangkan.
Namun arti lambang ini akan memiliki nilai lebih disaat negara dalam situasi konflik bersenjata, dan para Pihak yang bertikai harus mengetahui ini dan memberikan perlindungan kepada organisasi ini dalam menjalankan fungsinya melindungi masyarakat.
Jadi bukan hanya lambang Palang Merah dan Bulan sabit Merah yang mendapat perlindungan, logo perlindungan masyarakat yang diwakili segitiga ini juga merupakan lambang perlindungan.


Berikut ini beberapa contoh penggunaan lambang segitiga biru diatas dasar jingga:
1. National Directorate General for Disaster Management of Hungary






2. The Western regional branch of the National Disaster Management Organisation (NADMO)Ghana.











Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

View My Profile on View ujang lasmana's profile on LinkedIn

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader