Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Lokasi Gempa

Gambar ini menunjukkan lokasi gempa terakhir di Indonesia

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Compass

Penunjuk Arah

GPS Constellation

A visual example of the GPS constellation in motion with the Earth rotating. Notice how the number of satellites in view from a given point on the Earth's surface, in this example at 45°N, changes with time.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label GPS Garmin eTrex Vista CX. Show all posts
Showing posts with label GPS Garmin eTrex Vista CX. Show all posts

12.8.10

BPBD Kota Padang Latihan GPS

Untuk meningkatkan kapasitas personilnya, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota padang dibawah kepemimpinan Bapak Dedi Hanidal mengadakan pelatihan pemanfaatan GPS dalam manajemen bencana. Kecepatan dan ketepatan pertolongan dan bantuan disyaratkan kepada BPBD dalam menjalankan aktivitasnya.

GPS yang merupakan tekhnologi yang dengan cepat dan akurasi tinggi dapat menunjukkan suatu atau beberapa lokasi dimuka bumi dimanapun kita berada, dapat dimanfaatkan dalam manajemen bencana – baik pada fase pra, tanggap darurat dan pasca bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi).

Pada fase pra bencana, GPS dapat digunakan dalam upaya pengurangan risiko. Sebut saja pemetaan risiko (hazards, vulnerability dan capacity). Untuk kesiapsiagaan, GPS berguna untuk penentuan titik-titik pos-pos bantuan yang diproyeksikan akan diperlukan bila bencana atau “sesuatu” terjadi.

Saat tanggap darurat, GPS dapat digunakan untuk memberikan tanggapan atau bantuan terhadap suatu kejadian. Misalnya mencari titik atau lokasi terjadi keruntuhan (colapse) pada struktur bangunan. Atau menuju lokasi bencana secara umum. Juga untuk distribusi kelompok bantuan pada kejadian bencana yang masiv (misalnya G30S 2009 di Sumbar).

Untuk rehab-rekon juga bisa digunakan untuk penentuan titik atau lokasi rehab-rekon.

Bila pendekatan GPS digunakan pada keseluruhan manajemen bencana tersebut, maka sharing informasi, akuntabilitas dan ketepatan & kecepatan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.

Memahami ini, Pak Ruswendi (Kepala Seksi) Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Padang meminta Mercy Corps untuk membantu memberikan pelatihan pemanfaatan GPS dalam manajamen bencana.
Sesuai dengan mandatnya dalam program pengurangan risiko – peningkatan kesadaran dan peningkatan kapasitas pemda, Mercy corps mengirimkan Ujang Dede Lasmana dan Wawan Budiyanto untuk membantu BPBD Kota Padang.

Dalam sesi pertama kali ini, Ujang dan Wawan memberikan materi dasar-dasar pemanfaatan GPS. Dasar-dasar itu diantaranya adalah:
1. Tombol-tombol GPS
2. Cara mengaktifkan
3. Cara mensetting GPS
4. Cara mengkalibrasi kompas
5. Fungsi Mark
6. Fungsi Track
7. Fungsi Find

Pada dasarnya staf BPBD Kota padang sudah bisa dan tahu fungsi GPS, karena pernah dilakukan pelatihan oleh UNDP, namun itu masih kurang menurut mereka.

Antusiasme peserta dalam menerima materi ini membuat pelaksanaan materi menjadi lebih detil dan masuk ke praktek lapangan yang awalnya hanya diskenariokan sekitar kantor BPBD menjadi lebih jauh dan seakan-akan mereka harus segera memberikan pertolongan kepada masyarakat di lokasi tertentu.

Peserta dibagi ke dalam dua tim, masing-masing tim diminta untuk segera meluncur ke lokasi yang ditentukan oleh instruktur. Instruktur hanya memberikan koordinatnya saja bukan nama gedungnya, koordinat itu adalah:
1. S0°56’592″ E100°22’039″
2. S0°57’265″ E100°21’551″

Segeralah kedua tim meluncur, tak ada mobil, sepeda motor mereka gunakan untuk mencapainya (duh semangatnya Bapak-bapak ini, Pak Ruswendi langsung mengendarai motornya dan asistennya dibonceng membawa GPS dan siap untuk menjadi navigator, disisi lain ada yang ternyata bannya kempes).

Mereka ditugaskan pula untuk menghubungi instruktur bila sudah mencapai target dan mendeskripsikan lokasi kejadian.

Dan. Berhasil! tim yang dipimpin Pak Ruswendi berhasil mencapai target, diikuti tim Pak Zas yang mencapai lokasi yaitu RS. M. Jamil.

Kembali ke ruang pelatihan di gedung BPRR Kota Padang dengan peluh membasahi wajah mereka namun karena memang mereka-mereka adalah orang lapangan dan memiliki semangat yang tinggi untuk menyelamatkan sesama, lelah tidak mereka rasakan dan malah menantang dengan mencari titik lainnya, walah Pak semangat sekali kalian. Tapi maaf yahPak, kami dibatasi waktu. Lanjutkan lain kali yah Pak.

Alhamdulillah, para peserta puas dengan pelatihan dan menginginkan pelatihan pemanfaatan GPS dilanjutkan untuk fungsi yang lain serta pelatihan mencari titik diadakan lagi. Sekarang tinggal menunggu jadwal yang pas untuk Mercy Corps dan BPBD untuk mengadakannya lagi dan diharap dengan peserta yang lebih banyak.

Memang fungsi find sangat banyak berguna bila peta kita sudah diinstal dengan peta dari navigasi.net. GPS akan menunjukkan jalan mana yang bisa dilalui sebagai referensi. Maklumlah peta navigasi.net terbilang cukup lengkap, untuk padang juga cukup lengkap, hanya painan yang harus ada sukarelawan yang mau memetakannya dan mengirimkannya ke navigasi.net untuk diupdate di peta.








Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

20.7.10

Pelatihan GPS di Mercy Corps

Pemanfaatan GPS di ranah LSM yang berkhidmat dalam pengurangan risiko dan pemberdayaan masyarakat dan juga dalam bidang penyelamatan sudah ramai digunakan. Hal ini karena manfaatnya yang besar, kemudahan dalam penggunaannya dan harga yang sesuai dengan manfaatnya.

Berangkat dari keinginan memberikan pelayanan yang efektif dan efisien sesuai dengan visi dan misinya, Mercy Corps Padang mengadakan pelatihan GPS dan meminta saya untuk membantu dalam memberikan materi di pelatihan itu. Hari yang saya pilih adalah hari Jum’at tanggal 9 Juli 2010.

Tantangan dari pelatihan ini adalah bervariasinya GPS yang tersedia di Kantor Mercy Corps Padang, untungnya merk GPS yang ada adalah Garmin. Tipe GPS Garmin yang kami gunakan dalam pelatihan ini adalah GPSMap76CSx, GPS Map60CSx, eTrex Vista HCx dan eTrex Vista Venture.

Memang pada dasarnya, staf Mercy Corps Padang sudah sering dan tahu memanfaatkan GPS, terutama fungsi Mark dan Track, sehingga dalam pelatihan ini selain merefresh pengetahuan juga memperkenalkan peta keluaran Navigasi.Net dan juga GeoSetter. Pemanfaatan peta Indonesia yang lengkap dari navigasi.Net memang sudah menjadi andalan saya sejak dahulu, sehingga dalam pelatihan ini-pun peta tersebut yang saya manfaatkan.

Pemanfaatan GeoSetter akan bermanfaat untuk pemasaran organisasi dan juga untuk monitoring dan evaluasi program/proyek. Untuk bagaimana memanfaatkan GeoSetter silahkan klik Disini.

Untuk melihat bagaimana mereka berlatih, silahkan lihat foto-foto berikut:


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

1.4.10

Bikers Wajib Berhelm SNI

Hari ini, tanggal 1 April (mudah-mudahan bukan April Mop), semua bikers wajib pakai helm berstandar Nasional Indonesia (SNI).

Karena Garminerz (pengguna GPS Garmin) banyak juga yang merangkap sebagai bikers, termasuk saya hehehe, maka saya input helm-helm keluaran mana saja yang sudah ber-SNI dan merek terkenal dan mahal mana yang belum. Helm mahal dan keluaran luar negeri memang biasanya sudah berstandar internasional misalnya DOT, namun karena yang disorot adalah helm SNI jadi tetap saja kita musti hati-hati, kan tidak semua yang dijalan tahu SNI dan DOT itu apa.

Di sadur dari detik.com inilah daftarnya:

Berikut merek-merek helm yang sudah ber-SNI :
1. NHK
2. GM
3. VOG
4. MAZ
5. MIX
6. INK
7. KYT
8. MDS
9. BMC
10. HIU
11. JPN
12. BESTI
13. CROSX
14. SMI
15. SHC
16. OTOKOGI
17. CABERG
18. HBC
19. Cargloss Helmet

Sebentar lagi jumlah itu akan bertambah.

Sementara helm-helm bermerek terkenal yang belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain :

1. Nolan
2. Arai
3. AGV
4. Shoei
5. Shark
6. KBC dan lainnya.

Garminerz! Selamat bernavigasi yang aman. Patuhi Lalu Lintas, dan Empati kepada sesama pengguna jalan.

Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

8.1.10

Bikers Kok disuruh lewat tol

Teman saya pernah berkomentar seperti ini:"Bikers Kok disuruh lewat tol" saat ia sedang mengendarai motor dan berkali-kali diminta oleh GPS-nya untuk masuk ke jalan tol. Entah apakah dia akhirnya memarahi GPS-nya atau tidak?

Bagaimana agar GPS anda (bila anda bikers) tidak memberikan arah untuk masuk ke jalan tol?

1. Buka jendela Setup Menu
2. Klik Routing
3. Pindahkan kursor ke tombol Follow Road Options…
4. Centang Toll Roads
5. Selesai
6. Selamat menunggangi motor anda, Please safety thinks.

Untuk komentar klik disini.

15.12.09

Menyimpan Track ke dalam Memory Card

Banyak kawan-kawan yang menanyakan bagaimana caranya menyimpan data Track ke memory card, salah satu diantaranya adalah GPS ETrex Vista HCx hanya mampu menyimpan 20 track saja. Seandainya hanya memetakan satu RT atau bahkan satu RW saja sih masih tidak masalah, namun bagaimana bila satu desa di daerah rural? wah kan luas bener tuh pasti tidak cukup ruangnya.

Nah, berikut ini cara menyimpan data track ke dalam memory card. Cara ini untuk ETRex Vista HCx, Vista Cx, (HCx atau Cx Series), MapSeries (60 dan 76 CSx) adalah mirip, jadi silahkan mencoba yah:

1. Buka halaman Track
2. Pilih Setup
3. Tampil jendela Track Log Setup
4. Klik Data Card Setup
5. Tampil jendela Data Card Tracks
6. Centang Log Track To Data Card
7. Selesai
8. Silahkan mencoba
(Saya mencobanya dengan menggunakan ETrex Vista HCx)

Kemudian bagaimana cara kerjanya?
Seperti kita membuat Track sebelumnya, setelah selesai pada jendela Track akan tersimpan data Track yang baru kita simpan.

Nah, bedanya adalah: saat kita buka jendela Data Card Tracks maka akan terlihat disana data Tracks yang kita buat dengan extention .gpx. Misalnya 20091215.gpx

Bila kita menghapus data yang ada di jendela Tracks (data tersimpan di GPS) maka kita tidak akan menghapus data yang ada pada memory card.

Untuk memberikan komentar silahkan klik judul atau disini.

5.12.09

ToT Risk Mapping/PGIS for DM: Arcview

Selain menggunakan MapSource, kali ini untuk mengolah database kami menggunakan Arcview.

Setelah data didapat dengan menggunakan GPS (Garmin ETrex Vista HCx, Cx, Vista dan Legend) dengan bantuan DNR Garmin kami olah dalam ArcView.

Dalam sesi ini, dipelajari bagaimana membuat poligon, line dan database untuk sistem informasi geografisnya.



Silahkan tulis komentar disini. ▲

25.7.09

Perawatan GPS

Seperti halnya perkakas elektronik umumnya, maka GPS-pun harus dirawat dengan baik agar GPS saat digunakan tidak bermasalah.

GPS yang kita gunakan memang termasuk barang “badak”, namun tetap saja butuh tindakan atau perlakuan yang layak. Misalnya adalah pembersihan, dan penyimpanan.

Selain itu juga pengiriman barang ke mitra kita, misalnya saya pernah mendapat kiriman GPS yang kebetulan dipinjam oleh kawan di sulawesi, hanya dibungkus amplop coklat biasa tanpa ada tindakan pengamanan dari goncangan.

Pembersihan:
1. Gunakan sabun untuk menyeka GPS, atau gunakan cairan yang memang dikhususkan untuk membersihkan barang elektronik. Bila anda akan menyekanya, teteskan cairan ke bahan yang lembut sebelum diseka ke GPS. Kemudian keringkan.
2. Bersihkan GPS secara berkala.


Penyimpanan:
Bila GPS sedang tidak digunakan maka sebaiknya:
1. Keluarkan baterai GPS dari GPS.
2. Simpan GPS dalam wadah kedap udara, lebih baik dalam wadah tersebut juga diletakkan silica gel.
3. Jangan disimpan pada suhu diatas 70° C atau dibawah -15°.

Bila anda ingin mengirimkan GPS melalui paket, ingatlah bahwa barang elektronik itu barang yang mudah rusak karena benturan atau goncangan.

Maka bila anda ingin mengirimkan GPS ke mitra anda melalui jasa kurir, sebaiknya:

1. Bungkus GPS dengan menggunakan bahan yang dapat meredam goncangan dan benturan. Anda bisa menggulungnya dengan bahan kain yang tebal
2. Tuliskan BARANG PECAH BELAH pada bungkus/kemasan paket GPS
3. Jangan sekali-kali hanya membungkusnya dengan amplop biasa !!!

22.7.09

Spesifikasi GPS Garmin Tipe HCx


PMI dalam melakukan pemetaan dalam pendekatan PGIS menggunakan GPS keluaran Garmin. Pertama kali menggunakan Tipe ETrex Vista, kemudian Vista Cx dan saat ini HCx. walaupun tidak total menggunakan HCx (Tetap menggunakan versi terdahulu), namun HCx-lah sekarang yang menjadi andalan.

Apa yah spesifikasi HCx? nah ini terkadang banyak ditanyakan ke saya, baik lewat e-mail, YM, Skype atau saat bertemu langsung diwaktu pelatihan atau pas kebetulan berpapasan.

Nah untuk itu kali ini saya posting spesifikasi GPS Garmin Tipe HCx.


Nah ini dia spesifikasinya
1) Fisik
a) Selubung: Kedap air, Rugged, fully gasketed.
b) Ukuran: P4,2” x L2,2” x T1,2”
c) Berat: Sekitar 159 gr, dengan batere
d) Temperatur: -15° – 70° C
e) Display: P1,3” x L1,7”, 256-color, Resolusi tinggi, transreflective TFT (176x220 pixels) Backlit

Catatan untuk suhu: tingkatan suhu tergantung pada batere yang digunakan. Beberapa jenis batere dapat rusak pada suhu tinggi.

2) Tampilan
a) Antena: Built-In
b) Kompas: Akurasi; +/-5 derajat, resolusi; 1 derajat, dikalibrasi oleh pengguna
c) Altimeter: Akurasi; +/-10 kaki, resolusi; 1 kaki, dikalibrasi oleh pengguna.

3) Tenaga
a) Sumber: Dua batere 1,5 volt, ukuran AA; 12 V DC kabel adapter, atau Adapter PC/USB
b) Konsumsi Tenaga: maks. 0,5 watt
c) Daya Tahan Batere: Sampai 25 jam,

4) Tingkat akurasi
a) GPS: <10 meter, 95%
b) DGPS: 3 – 5 meter, 95%
c) Velositas: 0,05 meter/detik (steady state)
d) Interface: Garmin Proprietary (USB)
e) Lama Simpan Data: Indefinity; no memory battery required
f) Daya Simpan Peta: Tergantung pada kapasitas yang diformat pada kartu microSD.
Spesifikasi ini diterjemahkan secara bebas dari manual yang ada di tiap pembelian baru GPS Garmin Tipe HCx

7.7.09

Step By Step Instal Peta dari Navigasi.Net

Peta yang bersumber dari Navigasi.Net ternyata cukup lengkap dan banyak membantu saya saat Tour of Duty di daerah dan juga disaat saya mencari lokasi-lokasi semisal rumah sakit, dan PoI (Points of Interest) lainnya. Tinggal klik menu find, tentukan PoI-nya dan silahkan meluncur.

Berikut ini saya akan berbagi langkah-langkah untuk menginstal peta dari Navigasi.Net untuk GPS Garmin dan Mapsource.

Saya asumsikan anda sudah mendownload petanya, dan anda mendownload lengkap untuk versi penuh.

1. Klik dua ikon Navigasi.Net yang berwarna oranye dengan segitiga menunjuk ke bawah.


2. Tampil jendela konfirmasi untuk mendownload peta. (Saat tulisan ini dibuat, versi 1.59).


3. Klik Next

4. Tampil jendela License Agreement, klik I accept the agreement

5. Dilanjutkan dengan tampilnya kotak Maps Instalation. Pilih Install maps for MapSource application, untuk menginstalasi peta untuk aplikasi MapSource. Bila anda memilih ini maka MapSource anda akan memuat peta Indonesia lengkap.

Pilih Create Garmin map (GMAPSUPP.IMG), untuk membuat peta GPS Garmin anda.

Atau pilih keduanya, untuk mendapatkan peta MapSource dan peta Garmin. Saya memilih keduanya.

Kemudian Klik Next



6. Tampil jendela Select Destination Location, pilihlah tempat anda akan menyimpan instalasi peta.

Pilih MapSource Custumization yang sesuai, saya memilih Full custumize.

Klik Next.

7. Jendela Select Garmin Map Data Directory

Jendela ini untuk memilih mana yang akan anda install:
• Bila anda memilih Full custumize: Support : Rino, Nuvi series, Garmin Mobile XT, 60CSX, 76CSX, eTrex Vista
Original Road: direkomendasikan hanya untuk Garmin mobile PC
Basic: direkomendasikan untuk: Garmin model lama (tidak support untuk: 3D/Bird view map display)

8. Klik next, selanjutnya anda siap untuk menginstalasi.
9. Selamat mencoba.

Untuk menampilkan peta pada GPS
Lihat hasil instalasi pada directory yang anda pilih, cari file dengan ekstensi GMAPSUPP.IMG kemudian kopikan pada kartu memori GPS anda.

Untuk lebih lengkap Klik disini

5.6.09

Pembekalan Pemetaan Risiko secara Partisipatif bagi Staf, Sukarelawan, dan Sibat PMI Daerah Jateng dan DIY – Prog. Pertama/ICBRR

Tanggal 4 sampai 5 Juni 2009, PMI Jateng dan DIY yang menjalankan program Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat/Integrated Communitay Based Risk Reduction mengadakan pelatihan penyegaran sebagai persiapan sebelum mereka memetakan desa/kelurahannya masing-masing.

6 PMI Cabang mengirimkan utusannya, yaitu Magelang, Klaten (Jateng), Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunung Kidul (DIY).

Lokasi pelatihan di adakan di hotel Nidya (07˚48.368’S 110˚21.032’E).



Proses penyegaran dilakukan selama dua hari ini yaitu kegiatan pengambilan data pada blok-blok tertentu dengan membagi 6 kelompok berdasarkan asal PMI Cabang di hari pertama, yang dilanjutkan pada analisa data, pengolahan dan pembuatan peta display dan peta tumpang susun pada hari kedua.

Diskusi dan transfer pengetahuan berjalan, dimana masyarakat yang diwakili Sibat memberikan gambaran daerahnya termasuk pengetahuan lokal yang ada di daerahnya (daerah rawan bencana, kerentanan, kapasitas, pantangan, daerah terlarang dll.).

Dengan GPS Garmin eTrex Vista Cx dan HCx mereka dengan antusias menjelajahi sekitaran hotel, Patangpuluhan, Wirobrajan dan sekitarnya.

Diskusi membangun terjadi antara saya dan perwakilan dari PMI Cab Sleman, terkait dengan pemanfaatan peta yang sudah dibuat stakeholder lain sebagai peta dasar. Termasuk diskusi daerah-daerah mana yang dipetakan bila waktu tidak mencukupi sedangkan daerah sangat luas.

Untuk daerah luas dan waktu tidak mencukupi, beberapa hal bisa dilakukan, pengalaman dari Lampung Barat, Sulawesi Selatan, Barat dan Utara, dan Jawa Barat:
1. Hanya memetakan daerah yang paling rawan, dengan tetap memperhatikan bahwa tetap kita berupaya memetakan desa pada titik-titik penting, misalnya balai desa/kelurahan, kapasitas (mis, rumah dokter, sibat dll.), tempat evakuasi, jalur evakuasi, dll.).
2. Untuk penentuan daerah yang paling rawan, harus memperhatikan pendapat dan persepsi masyarakat, dengan kata lain masyarakat yang menentukan daerahnya. Bukan kita yang dari luar.
3. Pihak manajemen dan donor, berdasarkan laporan kegiatan pemetaan terdahulu, seharusnya tidak memangkas waktu dari 7 hari menjadi 5 hari.

Selanjutnya para peserta akan memetakan daerahnya masing-masing. Selamat memetakan.

26.5.09

Jalan-jalan dengan GPS plus Peta Baru

Setelah mengunduh peta baru dari navigasinet, gps saya semakin lengkap datanya.

Nah untuk membuktikan apakah benar-benar lengkap dan tepat datanya saya beberapa kali mengujicobanya. Pertama kali di ujicoba di Jogjakarta, kemudian makassar, Surabaya dan Jakarta.

Bagaimana hasilnya?


OK, pertama-tama saya kenalkan dulu GPS yang saya gunakan. GPS yang saya gunakan adalah etrex vista Cx.

Untuk di jogja karena keterbatasan waktu, sama seperti di Makassar dan Surabaya, maka hasilnya tidak banyak didapat.

Terkait dengan alat, mungkin karena semakin banyak data yang ada di gps dan juga jenis gps saya yang agak jadul (maklum bukan HCx), maka gps saya itu sekarang agak lama dalam hal menampilkan peta dan juga kalkulasi maupun rekalkulasi arah.

Hasil yang signifikan adalah di Surabaya, yaitu salahnya penempatan nama jalan Mendokan Asri Utara, disana tertulis Mendokan Ayu Utara, nah salahnya adalah seharusnya nama jalan itu ada di seberangnya Mendokan Asri Utara yang tertulis Mendokan Ayu Utara. Sedangkan Mendokan Asri Utara tidak ada.

Untuk Jakarta, saya dan isteri merasakan manfaat yang positif yaitu semakin mudah dan cepat mendapatkan lokasi yang dicari, ditambah lagi semakin lengkapnya peta di sekitaran rumah kami.

Namun begitu, penunjukkan arah dari bandara Soetta ke rumah saya yang lewat pintu belakang Soetta agak sedikit ngaco, yaitu diminta untuk balik kearah depan. Namun setelah rekalkulasi akhirnya ditunjukkan juga jalan yang benar (hehehe), lewat Tangerang.

OK, yang utama dengan versi peta yang baru semakin mudah saya mendapatkan alamat yang dituju.

20.5.09

Global Positioning System: Significant Challenges in Sustaining and Upgrading Widely Used Capabilities


The Global Positioning System (GPS), which provides position, navigation, and timing data to users worldwide, has become essential to U.S. national security and a key tool in an expanding array of public service and commercial applications at home and abroad. The United States provides GPS data free of charge. The Air Force, which is responsible for GPS acquisition, is in the process of modernizing GPS. In light of the importance of GPS, the modernization effort, and international efforts to develop new systems, GAO was asked to undertake a broad review of GPS. Specifically, GAO assessed progress in (1) acquiring GPS satellites, (2) acquiring the ground control and user equipment necessary to leverage GPS satellite capabilities, and evaluated (3) coordination among federal agencies and other organizations to ensure GPS missions can be accomplished. To carry out this assessment, GAO's efforts included reviewing and analyzing program documentation, conducting its own analysis of Air Force satellite data, and interviewing key officials.


It is uncertain whether the Air Force will be able to acquire new satellites in time to maintain current GPS service without interruption. If not, some military operations and some civilian users could be adversely affected. (1) In recent years, the Air Force has struggled to successfully build GPS satellites within cost and schedule goals; it encountered significant technical problems that still threaten its delivery schedule; and it struggled with a different contractor. As a result, the current IIF satellite program has overrun its original cost estimate by about $870 million and the launch of its first satellite has been delayed to November 2009--almost 3 years late. (2) Further, while the Air Force is structuring the new GPS IIIA program to prevent mistakes made on the IIF program, the Air Force is aiming to deploy the next generation of GPS satellites 3 years faster than the IIF satellites. GAO's analysis found that this schedule is optimistic, given the program's late start, past trends in space acquisitions, and challenges facing the new contractor. Of particular concern is leadership for GPS acquisition, as GAO and other studies have found the lack of a single point of authority for space programs and frequent turnover in program managers have hampered requirements setting, funding stability, and resource allocation. (3) If the Air Force does not meet its schedule goals for development of GPS IIIA satellites, there will be an increased likelihood that in 2010, as old satellites begin to fail, the overall GPS constellation will fall below the number of satellites required to provide the level of GPS service that the U.S. government commits to. Such a gap in capability could have wide-ranging impacts on all GPS users, though there are measures the Air Force and others can take to plan for and minimize these impacts. In addition to risks facing the acquisition of new GPS satellites, the Air Force has not been fully successful in synchronizing the acquisition and development of the next generation of GPS satellites with the ground control and user equipment, thereby delaying the ability of military users to fully utilize new GPS satellite capabilities. Diffuse leadership has been a contributing factor, given that there is no single authority responsible for synchronizing all procurements and fielding related to GPS, and funding has been diverted from ground programs to pay for problems in the space segment. DOD and others involved in ensuring GPS can serve communities beyond the military have taken prudent steps to manage requirements and coordinate among the many organizations involved with GPS. However, GAO identified challenges in the areas of ensuring civilian requirements can be met and ensuring GPS compatibility with other new, potentially competing global space-based positioning, navigation, and timing systems.

For more documents:
Full Report:
http://www.gao.gov/new.items/d09670t.pdf
Highlight page: http://www.gao.gov/highlights/d09670thigh.pdf

13.4.09

Majalah Mobil (Car Magazine) Perang Mengulas GPS



Setelah AutoBild dan AutoExpert mengulas GPS kini disusul majalah Audiomobil, mereka seakan perang menampilkan edisi khusus GPS. Cara uji produk yang mereka lakukan memiliki kemiripan dan juga tetap ada perbedaan.

Kali ini Audiomobil menguji 16 produk GPS model Handheld, Box, dan Handphone. Nah disini sedikit bedanya dari ulasan majalah sebelumnya.

Saya percaya mereka menampilkan ini karena ingin membantu pembacanya dalam memilih gadget yang tepat bagi kebutuhannya dan sesuai dengan kantongnya.

Betulkah sasarannya adalah wanita yang mengemudikan kendaraannya? karena saya pernah membaca sebuah buku yang judul dan penulisnya lupa, bahwa terbanyak yang membeli GPS adalah wanita. Hal ini disebabkan karena wanita lebih suka membaca peta sesuai dengan arah pandangannya, tidak seperti peta yang umumnya menampilkan utara di atas.







Terlepas dari itu, memang GPS telah menjadi kebutuhan masa kini. Bahkan saya pernah membaca beberapa kendaraan (mobil dan motor) yang menempelkan sticker yang berbunyi: Follow Me! I Have GPS. Maksudnya ikuti dia biar tidak tersesat atau ikuti dia memiliki GPS yah?





Keenambelas produk GPS yang diulas di Audiomobil itu adalah Mio C320b, My Guide 3218, Dauf Auf 3501,
My Guide 4228, Avix AXPND351, Dauf Auf 4302, Garmin Nuvi 205W, Swans Ice DVD-701, Nokia 5800 Xpress Music, Skeleton SKT-3301 GPS, Avix AX3TVD76GH, Avix AXPND71, Oris IO2770, Caska K130, AVT NV-01, dan AVT NV-02.





Belilah Gadget yang sesuai, jangan malu bertanya dengan ahlinya atau yang telah memilikinya.

6.3.09

25 Pages GPS Guide in AutoExpert Magazine


Alhamdulillah,akhirnya kebeli juga majalah AutoExpert edisi Januari-Februari 2009 setelah sampai Jakarta dari “jalan-jalan” penugasan kantor untuk asesmen daerah program PERTAMA PMI (Sulawesi Tenggara). Kenapa sih sampe-sampe saya segitu gembiranya bisa dapetin majalah itu? Padahal kan sudah edisi “basi” (edisi Jan-Feb di beli di bulan Maret). Teringat mottoku, ga ada majalah atau buku bekas – selama belon pernah dibaca berarti masih baru, hehehe.

Tertarik dengan iklannnya yang memuat panduan GPS dalam 25 halaman, jelas membuat saya tertarik dan kesengsem untuk membelinya. Pas beli, ga ngecewain Bro. Isinya bagus banget.






Halaman awal berisi sejarah GPS yang update banget, dilanjutkan dengan apa fungsi GPS, baik di dunia militer maupun sipil dan bagaimana mengoptimalkannya. Halaman berikutnya tentang bagaimana GPS bekerja? Fitur-fitur GPS tak ketinggalan pula dibahas. Juga ulasan singkat GPS-GPS keluaran produsen terkenal, yaitu: GPS MIO C320b, MyGuide m.imove4228, Garmin Oregon 300i (wah saya kesengsem banget nih sama GPS yang satu ini), Garmin Nuvi 205Wi, Garmin Nuvi 550i, dan Garmin Nuvi 710i.



Tidak ketinggalan juga mengulas merk-merk lain yang ”kurang dikenal”, dan GPS phone yang telah beredar.



Jadi beneran majalah itu bak panduan lengkap tentang GPS dan bisa dijadikan rujukan untuk kita dalam membeli GPS yang cocok buat kita. Sehingga menghindarkan kita membeli gadget hanya karena trend saja.



Memang berbeda dengan yang dimuat di majalah AutoBild Indonesia pada edisi 151 (11-17 Februari 2009, dimana Autobild mengulas dengan cara membandingkan masing-masing Navigation Personal Devices. Saya juga pernah mengulas di http://pgis-sigap.blogspot.com/2009/02/test-produk-gps-portable-di-majalah.html

2.3.09

Sudah Punya GPS? : Persiapan Untuk Para Pelancong/Traveler, Petualang dan Pemudik


Bagi anda yang menyukai perjalanan wisata, petualang dan pemudik tentu memerlukan alat bantu navigasi untuk memudahkan perjalanan anda. Alat bantu atau yang umum dikenal dengan nama Personal Navigation Devices (PND) tentulah sangat bermanfaat bagi anda. Global Positioning System (GPS) adalah salah satunya yang saat ini umum beredar dipasaran yang ditujukan untuk membantu anda, menikmati perjalanan.



Garmin, Mio, Magellan adalah merk-merk yang sudad tidak di sangsikan lagi kehandalanya dalam membantu navigasi anda. Merk-merk itu sudah membanjiri pasaran.



Bagi pemudik mungkin bisa saja mengatakan “saya sudad hafal jalan dan tidak perlu alat bantu navigasi, baik itu peta maupun GPS (Global Positioning System)” Namun bukan tidak mungkin sebenarnya ada jalan yang tidak umum atau jalan pintas baru yang sebenarnya bisa membantu anda memintas jalan. Paling tidak GPS bisa membantu anda menunjukkan lokasi ATM, pom bensin atau kantor polisi terdekat.





Namun, tidak semua jenis GPS sesuai dengan kebutuhan anda. Bila waktu perjalanan anda banyak dihabiskan diatas mobil maka akan berbeda dengan kebutuhan bagi mereka yang banyak menghabiskan waktunya diatas kakinya sendiri (pejalan kaki), pengendara sepeda atau motor.



Hal ini dikarenakan GPS yang diperuntukkan penggunaannya di mobil memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dari pada ukuran ideal, wakil dari GPS ini adalah GPS Garmin nuvi 205Wi , Mio C230, dan My Guide imove 3218. Selain ukurannya, dia membutuhkan adaptor AC. Sehingga tidak cocok bagi pejalan kaki ataupun pengendara sepeda atau motor.

Bagi pejalan kaki dan bikers (sepeda angin maupun motor), umumnya bisa menggunakan GPS Garmin type Etrex Vista HCx atau Map76CSXi (untuk yang versi Indonesia ada kode i dibelakangnya). Kedua jenis ini pernah saya gunakan untuk menemani perjalanan saya, hasilnya memuaskan.



Sebelum menggunakan GPS ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar GPS tetap berguna bagi anda dan tidak membahayakan anda.




Kartu Peta



Beberapa GPS seperti GPS Garmin type Etrex Vista HCx dan Map76CSXi membutuhkan Micro SD yang memuat peta daerah-daerah tertentu (untuk Kota-kota besar di Indonesia sudah tersedia). Bila tidak maka petanya masih kosong atau hanya memuat peta dasar saja. Ada penjual yang menggratiskan kartu ini bila membeli GPS di tokonya, ada juga yang dijual dengan harga terpisah. Harganya bervariasi, ada yang mencapai Rp. 500.000,-. Jadi pada saat mau membeli tanyakan apakah kartu petanya gratis atau harus membayar lagi.



Keselamatan pribadi:

1. Tempatkan GPS ditempat yang tidak menghalangi pandangan anda terhadap jalan, ataupun spion.

2. Gunakan breket GPS keluaran resmi dari pabrik GPS yang anda gunakan. Jangan hanya diletakkan di Dashboard, sehingga bila ada hentakan pada kendaraan GPS tidak terpental sehingga bisa menciderai kita.

3. Gunakan perekat yang kuat untuk menempelkan breket di dashboard atau stang kendaraan anda.

4. Jangan 100% percaya dengan apa yang ditunjukkan GPS anda, pepatah “malu Bertanya Sesat di Jalan” masih berlaku. Apalagi GPS untuk mobil bisa mengeluarkan suara yang terkadang membuat kita bingung atau panik.

5. Pikirkan tentang keamanan diri dan alat, hindari daerah “merah” (rawan kriminialitas), bila memang harus melewatinya tidak ada salahnya bila kita menyimpan atau mengambil tindakan pengamanan.



Selamat bertualang, ...

27.1.09

Risk mapping Training in CBDRM - Nahdlatul Ulama


Tenyata NU tidak hanya berkutat dibidang pembinaan keimanan Umat melalui tahlil dan pengajian-pengajian loh, tapi juga melaksanakan program Upaya Pengurangan Risiko Bencana. Ini buktinya.



Pada tanggal 25-29 Januari 2009 CBDRM (Community Based Disaster Risk Management) Nahdlatul ‘Ulama (NU) mengadakan pelatihan PDRA (Partcipatory Disaster Risk Assessment) untuk wilayah Jakarta Barat (Disusul untuk wilayah Jember dan Magelang – dimulai 29 Januari 2009). Pelatihan PDRA ini merupakan rangkaian pelatihan yang sudah dan akan dilaksanakan.





Pada pelatihan ini dimasukkan materi PGIS – SIGaP. Saya didaulat untuk menjadi fasilitator pada pelatihan ini, dan sebagai narasumber untuk PGIS adalah Kawan saya Muhammad Taufik dari PMI Jakarta Barat (Untuk Magelang: Mas Danang AP(PMI Jawa Tengah) ; dan Jember: I Wayan “Batoe” Winata (PMI Bali).



Pelatihan PDRA dan nanti saat pelaksanaannya menggunakan tools-tools PRA (Participatory Rural Appraisal). Hanya saja sesuai judulnya maka informasi yang di cari dititikberatkan pada informasi dalam ranah kebencanaan, misalnya Hazards, Kerentanan, Kapasitas dan komponen-komponen risiko.



Pelatihan di Jakarta Barat dilaksanakan di Kantor PC NU Jakarta Barat, di Cengkareng Barat tepatnya. Diikuti 26 peserta dari 5 DCS (Disaster Care Santri – Santri Peduli Bencana): DCS Kedoya Utara (Pondok Pesantren Asy Syidiqiyah), DCS Kedoya Selatan, DCS Rawa Buaya, DCS Grogol Petamburan, dan DCS Kali Deres.



Proses pelatihan/praktek lapangan selalu diwarnai hujan, maklumlah musim hujan dan katanya karena tahun baru china (emang bener yah, ada hubungannya antara hujan dengan tahun baru China?), malah pada saat mau praktek ke lapangan hari kedua pemetaan, fasilitator dan narasumber terjebak banjir, peserta dan panitia harus gulung celana karena lokasi pelatihan di kepung banjir. Pelatihan yang ”menyenangkan” karena bisa langsung melihat dan memetakan daerah yang selalu terkena banjir. Juga membuka wawasan peserta bahwa tidak hanya daerahnya saja yang parah diserang banjir.



Selamat berlatih dan mengaplikasikannya didaerah masing-masing.

9.12.08

Kota Menara, Minahasa Selatan. “Kota” di kaki Gunung Soputan


Salah satu desa mitra PMI dalam program upaya pengurangan risiko ada di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.



Desa itu bernama Kota Menara.



Nama yang rada ganjil, apa lagi untuk yang baru mendengar nama desa Kota Menara. Kok ada kota, namun statusnya desa?



Saat ini desa tersebut sedang melakukan pembangunan mitigasi saluran air atau kanal yang bertujuan mengurangi risiko banjir akibat air yang melimpas tanpa ada kanal, sehingga menghantam desa secara langsung.



Nah untuk yang mau tahu, kenapa desa itu adalah Kota Menara dan dimana letaknya serta dimana letak proyek mitigasinya, silahkan baca artikel ini lebih lanjut.





Minggu lalu, saya mendapat tugas melakukan monitoring ke desa ini. Sebuah desa di lereng G. Soputan. Desa ini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Minahasa Selatan.



Begitu mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado (1°32'N, 124°55'E), saya langsung dijemput oleh Franky, driver Palang Merah Denmark (DRC) dan rekan Mappers PMI, Edward Mengko. Tidak langsung ke kantor, karena mendarat jam 1 siang WIT. Jadi kita ke restoran untuk makan Woku Belanga, makanan favorit saya bila datang ke Manado. Banyaknya rempah dan herbal pada woku membuat saya segar dan ”roh” saya kumpul semua (hehehe).



Setelah itu di Markas Daerah PMI Sulut (1°27'24.35"N, 124°48'25.60"E), rapat untuk membahas perkembangan program di Minahasa Selatan dan Sangihe bersama Hans dari Palang Merah Denmark dan Mercy Rampengan dari PMI Daearah Sulawesi Utara.



Keesokan harinya, saya, Hans, Mercy, Cornel, Pegy dan Sherly, diantar Franky berangkat menuju Amurang, ibu kota Minahasa Selatan. Kegiatan pertama bertemu Ketua PMI Cabang Minahasa Selatan dan dilanjutkan ke lokasi pelatihan Korps Sukarela PMI Cab. MinSel. Selanjutnya menuju Kota Menara, sebuah kota namun bukan kota.



Begitu menginjakkan kaki di D. Kota Menara, langsung terlihat kesibukan masyarakatnya yang sedang membangun kanal untuk menghindari limpasan air hujan. Kemudian kami melakukan tugas monitoring.



Pada saat bincang-bincang dengan Hukum Tua, di P. Jawa dikenal dengan Kepala Desa, saya baru tahu bahwa nama Desa Kota Menara memiliki sejarahnya sendiri dan ternyata itu adalah kependekan dari nama desa itu yang sangat panjang.



Nama lengkap desa itu adalah Kanonang Oleh Tolongan Allah Mendapat Negri Alasan Rakyat Asli, nah dari nama yang panjang ini disingkat menjadi Kota Menara.



Nah baru tahulah, bahwa memang kota yang ada di Kota Menara bukanlah status administrasi wilayah yang berbentuk kota.





Mitigasi Pembangunan Kanal



Dari wawancara dan bedah Dokumen Perencanaan Upaya Pengurangan Risiko D. Kota Menara, ternyata pembangunan kanal yang saat ini dilakukan tidak seratus persen dibiayai oleh PMI (dengan donor dari DRC), namun bersama-sama dengan swadaya masyarakat dan dukungan pemda Kab. Minsel.



Dari panjang total Kanal 238 m, ternyata 100 m-nya adalah swadaya dan bantuan pemda. Jadi PMI 138 m. Kenapa masyarakat mau swadaya? Karena masyarakat merasa perlu untuk mengurangi risiko. Mereka bilang, sebelum PMI datang ke D. Kota Menara, mereka selalu kebanjiran disamping terkena dampak letusan G. Soputan yang tergolong sering, dan tidak atahu harus bagaimana serta hanya menunggu bantuan dari luar saja. Setelah PMI datang sih bukan berarti hal itu berkurang, namun paling tidak mereka jadi tahu bahwa mereka bisa mengurangi risiko bencana, baik melalui mitigasi struktural ataupun non-struktural.



Mitigasi non-struktural yang telah dilakukan diantaranya adalah pelatihan kesiapsiagaan bencana dan upaya pengurangan risiko, pembentukan tim siaga bencana, dan pelatihan pertolongan pertama, serta dilakukannya pemetaan risiko bencana secara partisipatif, survey dasar dan asesmen kerentanan dan kapasitas.



Nah dari pemetaan partisipatif, survey dan asesmen ini masyarakat membuat daftar upaya pengurangan risiko. Dan salah satunya adalah perlunya pembangunan kanal ini.



Kanal yang di biayai oleh PMI terletak di N1° 10’ 18.3”, E124° 42’ 57.2” s/d N1° 10’ 14.7”, E124° 42’ 58.8” dan kanal swadaya terletak di N1° 10’ 14.5”, E124° 42’ 58.6” s/d N1° 10’ 17.9”, E124° 42’ 57.8”. Dari pembangunan ini paling tidak sekitar 210 KK mendapatkan manfaat.





Sumbangsih dan Dukungan Pemda



Salah satu tujuan dari program ini adalah memberdayakan masyarakat lokal agar mampu mengurangi risiko baik dengan upaya sendiri maupun upaya dari luar. Dan untuk mendapatkan dukungan dari luar, baik itu pemda ataupun dunia usaha melalui CSR (Corporate Social Responsible) maka masyarakat harus memiliki kemampuan advokasi, nah melalui pendampingan dan pelatihan yang difasilitasi PMI, saat ini HukumTua Kota Menara dan tim siaga bencana berbasis masyarakat (Sibat) D. Kota Menara mampu mengadvokasi pemda setempat dan berhasil mendapat dukungan kegiatan pembanguan kanal, perbaikan dan pengaspalan jalan yang berguna untuk evakuasi disaat G. Soputan meletus, serta perbaikan atap rumah masyarakat yang rusak akibat letusan Soputan yang terakhir beberapa waktu lalu.



Salah satu keberhasilan masyarakat dalam mengadvokasi adalah mereka memiliki data-data baseline survey, asesmen kerentanan dan kapasitas desa terkait dengan ancaman bencana dan juga yang terpenting adalah mereka memiliki peta risiko bencana yang telah mereka buat sendiri melalui kegiatan pemetaan risiko secara partisipatif.



Seperti yang terungkap dalam wawancara dengan staf pemda Kab. Minsel, mereka sangat terbantu dengan adanya data-data tersebut. Dan meminta agar PMI dapat membantu desa-desa lainnya agar memiliki keterampilan tersebut. Sehingga bantuan mereka dapat tepat sasaran.

1.12.08

Pelatihan Disaster Risk Mapping (Training) Program Community Awareness PMI Daerah Nanggroe Aceh Darussalam


Dalam kaitannya dengan pelaksanaan program peningkatan kapasitas penanggulangan bencana di PMI NAD maka beberapa waktu lalu dilaksanakan Pelatihan Disaster Risk Mapping tepatnya pada tanggal 11 sampai dengan 20 Agustus 2008 bertempat di desa Pudeng Kec. Lhoong Kab. Aceh Besar, uniknya pelatihan ini beda dengan beberapa pelatihan yang sering dilaksanakan oleh beberapa program di daerah NAD dimana Pelatihan ini bertempat langsung di salah satu desa (tepatnya menggunakan Balai PPK Pudeng) yang akan dipetakan oleh para peserta sebagai media praktek dari mereka belajar tentang Pemetaan Risiko Bencana selama pelatihan dan memang target akhir dari pelatihan ini adalah Pembuatan Peta Risiko Bencana untuk 3 Desa yaitu desa Pudeng, desa Meunasah Pasi dan desa Meunasah Lhok.




Pelatihan ini diikuti oleh 23 Peserta yang merupakan utusan dari tiap-tiap PMI Cabang sedaerah NAD sedangkan untuk PMI Cabang Bener Meriah mengirim utusan paling banyak yaitu 4 orang karena 3 desa di Kab. Bener Meriah merupakan desa program dari program Community Awareness (CA) kerjasam PMI dengan Francis Red Crooss (FRC), dimana FRC merupakan donor dari kegiatan Pelatihan Disaster Risk Mapping ini.



Selama pelatihan peserta mendapatkan beberapa materi mulai dari Ke-Palang Merahan sampai tenteng Pemetaannya sendiri termasuk materi GPS, SIGaP dan cara pembuatan Peta Tumpang Susun / Overlay dan Peta Display sampai ke pembuatan Data Base dengan Analisa Peta yang pada intinya semua materi sesuai dengan Silabus yang diberikan dari Divisi Diklat PMI Pusat.



Untuk targetan terakhir dari pelatihan Disaster Risk Mapping ini yaitu pembuatan Peta Risiko Bencana untuk 3 desa, alhamdulillah meski banyak hambatan tapi pada akhirnya bisa diselesaikan sampai dengan Presentasi Peta yang dibuat kepada masyarakat 3 desa tersebut oleh peserta dan didampingi oleh Fasilitator yang dimobilisasi PMI Pusat.



Mudah-mudahan pelatihan ini kedepannya bisa sangat bermanfaat ,umumnya bagi PMI Daerah NAD serta khususnya bagi para peserta pelatihan .Dimana pemetaan Risiko Bencana biasanya merupakan salah satu program yang di laksanakan oleh program-program Community Based yang ada di PMI.


( Asep “ Menir “ Kusnandar/KSR PMI Kab. Bandung/SATGANA PMI daerah Jawa Barat)

21.11.08

Dasar-dasar GPS (GPS Basic)


Masih banyak yang mau tahu apa itu GPS, tulisan ini mungkin bisa membantu untuk mengerti GPS.


Apalagi sekarang GPS sudah menjadi “teman” hidup manusia yang suka travelling, adventuring bahkan oleh orang yang suka nyasar tapi malu bertanya di jalan.


OK deh silahkan terus bacanya



SISTEM GPS

1. Satelit GPS mengelilingi bumi 2x sehari

2. Satelit ini mentransmisikan signal ke bumi

3. Signal tsb digunakan untuk menghitung posisi

4. GPS membedakan waktu yang ditransmisikan untuk menghitung posisi

5. Waktu tsb dihitung sebagai jarak dari beberapa Satelit GPS untuk hitung posisi di bumi & permukaannya, termasuk exosphere


DASAR KERJA GPS

1. GPS harus memiliki setidaknya 3 satelit utk hitung posisi 2D & pergerakannya.

2. Dengan 4 satellites, GPS kita dapat menghitung posisi 3D position (latitude, longitude & ketinggian).

3. Dengan informasi posisi, GPS dapat menghitung data lain spt :kecepatan, arah, lintasan, jarak tempuh, jarak ke tujuan, matahari terbit &terbenam dll




BERAPA AKURAT GPS ITU

1. GPS umumnya memiliki 12 chanel secara parallel

2. Faktur atmosfir dapat mengurangi ketepatan

3. GPS untuk penerbangan dapat mencapai ketepatan s/d +/- 15 meters.

4. WAAS (Wide Area Augmentation System) dapat menekan ketepatan ke +/- 3 - 8 meters.

5. Tidak ada alat khusus atau biaya extra untuk mendapatkan signal WAAS, selama Negara t ersebut memasang WAAS ground / koresi satelit.Sedang Differential GPS (DGPS) dapat menekan error s/d +/- 3-5 meter.

6. DGPS terdiri dari alat yang menerima signal dan mentransmisikan ulang untuk mengoreksi posisi, alat ini dipakai utk penerbangan, di Halim Airport ada 2 unit DGPS untuk meningkatkan ketepatan. Untuk koreksi ini GPS kita harus memiliki differential beacon receiver and antenna to their GPS, seperti pada GPS295 dimana kita dapat menyetel frequensi dari beacon tersebut.


REFERENSI PETA

1. Secara umum referensi peta khususnya penerbangan yang digunakan ialah WGS 84

2. WGS 84 adalah referensi tetap yang digunakan termasuk pemodelan bumi yang terdiri ari data primer & sekunder

3. Data primer ialah bentuk lonjong dari bumi, kecepatan putar melingkar serta masa bumi yang termasuk dalam referensi elips Sedangkan data sekunder ialah data model gravitasi bumi.

4. Seluruh data navigasi (udara) distandardkan dengan WGS 84 standard untuk memenuhi persyaratan RNAV (Radio Navigasi) untuk memenuhi global referensi.


GPS Satellite

1. GPS satellite pertama diluncurkan tahun 1978.

2. 24 satelit di capai pada tahun 1994, sekarang telah lebih dari 30 GPS satelit berorbit diatas bumi kita.

3. Usia dari Satellite rata rata 10 thn, setelah itu ada pergantian /perawatan rutin.

4. berat Satelit sekitar +/- 2,000 pounds (hamper 1 ton)

5. Lebar antenna solar panelnya +/- 17 feet / 5 meter.

6. Power Transmisinya 7. Posisi orbit sekitar +/- 12,000 miles diatas permukaan bumi.

7. Kecepatan jelajahnya 7,000 mph.

8. GPS Satelit menggunakan tenaga SOLAR. Tapi disediakan Backup baterai untuk menghindari Gerhana Matahari Total

9. Tenaga yang digunakan untuk menjaga orbitnya ialah beberapa roket kecil


GPS SIGNAL

1. Signal GPS ada 2 signal L1 & L2

2. L1 bekerja pada frequency 1575 MHz pada gelombang UHF band.

3. bergerak langsung lurus (line of sight) menembus awan, kaca & plastik.

4. Yang menghambat transmisinya ialah Objek padat spt: gedung, pohon,gunung, dll.


GPS SIGNAL ADA 3 INFORMASI:

1. Pseudorandom code(I.D. code) : ialah informasi yang dikirimkan ke unit penerima bahwa unit kita menerima signal seperti pada halaman satilit ditunjukan dengan diagram batang BAR.

2. Ephemeris data : ialah data kekuatan signal serta informasi waktu

3. Almanac data: ialah info tentang dimana lokasi Satelit sebenarnya yang menunjukan posisi satelit pada halaman GPS Satellite status.


SUMBER KESALAHAN

1. Keterlambatan dari pantulan Ionosphere & troposphere : terjadi penurunan ketepatan akibat dari keterlambatan waktu saat signal saat menembus lapisan ini, namun GPS dapat mengkoreksi dengan mengasumsikan factor kesalahan rata rata.

2. Eror dari Pantulan signal: hal ini terjadi jika signal GPS berpantulmelalui objek spt bangunan atau gunung sebelum dia diterima unit kita.

3. Kesalahan Waktu dari unit kita: Ketepatan waktu / jam dari unit kita tidak setepat jam Atom di GPS satelit (GPS memakai Atomic Clock). Untuk itu ada sedikit error waktu.

4. Orbital errors - dikenal sebagai ephemeris errors, hal ini terjadi jika ada pergeseran dari orbit / laporan dari satelit untuk posisinya.

5. Jumlah satelit yang diterima: Tambah banyak signal yang diterima tambah tinggi ketepatannya,

6. Banugnan, gunung, gangguan elektronik, bahkan pohon rindang dapat mengurangi ketepatan.

7. Posisi relative dari Satelit / gangguan sisi miring: hal ini terjadi jika posisi satelit terletak pada sudut yang sangat lebar atau sangat dekatatau hamper berhimpitan satu sama lain sehingga perhitungan ketepatan berkurang.

8. Penurunan degradasi yang diatur oleh departemen pertahanan Amerika /SA (selective availability): hal ini dilakukan untuk menghindari militer menggunakan ketepatan dalam hal khusus, dan militer bahkan menggunakan /mengatur orbit yang terfokus pada area tertentu seperti apda perangteluk, SA ini telah di hapuskan, karena pihak sipil khususnya penerbangan sipil mengajukan keberatan akhirnya pada May2000, pemerintah menghapuskan SA ini agar penerbangan sipil memiliki ketepatan yang lebih baik.


OPERASIONAL & PERAWATAN GPS

1. Umumnya GPSD ada berbagai macam kegunaan, mulai dari handheld, GPS genggam,Penerbangan, kelautan, serta geologi yang memiliki keakuratan cukup tinggi.

2. Pada umumnya semua GPS memiliki fungsi seperti computer, karena ada input, proses dan output, bahkan beberapa prosesor menggunakan Intel sebagai otak / fungsi hitungnya.

3. Saat GPS ditemukan, Aquiringnya (menangkap satelit signal) membutuhkan waktu yang cukup lama, atau GPS baru yang sudah berpindah tempat jauh dan sudah sangat lama tidak dinyalakan membutuhkan waktu sampai puluhan menit, umumnya 10 s/d 15 menit untuk produk baru, sedang untuk yang sudah dinyalakan bias ditekan disekitar 2 s/d 3 menit, tergantung jenisnya, dan tekniknya, biasanya memberikan autolocate membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada didefinisikan posisinya, atau di recycle matikan dan nyalakan lagi. Kadang dengan menggerakan posisi untuk mencapai posisi antenna yang optimal dapat mempercepat proses. Ada yang menyulitkan jika di dalam mobil menggunakan kaca film yang menggunakan UV protective yang tinggi.


Perawatan / trouble shooting

Kenapa kadang GPS suka mati sendiri: Hal ini dapat terjadi 2 kemungkinan, software atau hardware; dalam software biasanya ada bugs atau komando yang tidak sesuai dengan yang direncanakan, sedangkan untuk hardware biasanya battery connector jika menyimpan baterai pada suatu kurun yang lama sehingga terjadi pengembunan aatu penguapan yang dapat menyebabkan korosi (bad Contact) atau jika spring / per pada baterai kurang kuat akan
mematikan GPS saat terkena guncangan, dan jika sering terjadi maka instant power ON
& OFF akan memperpendek usia GPS. PERINGATAN: JANGAN LUPA LEPAS BATTEREI JIKA TIDAK DIGUNAKAN DLM PERIODE YANG LAMA.


Operasional

Setelah menyalakan GPS aspek utilisasi lainnya tergantung pemakai, dari operasional GPS yang sangat optimal dapat dirasakan pada bidang penerbangan karena selain fungsi lateral ada fungsi vertical. Dimana fungsi vertical yang digunakan antara lain untuk menentukan kapan pesawat harus menurunkan ketinggian dengan rate of descent yang tidak menyakitkan kuping
misalnya dibawah 500ft/min.



DATABASE / PROGRAM GPS

Database GPS ada berbagai jenis Baseline program / memory : program ini ditulis pada software yang berupa perhitungan, yang sistemnya dibuat permanent (non user editable),
kecuali dengan program khusus. Extended Program / memory: untuk extended Program biasanya seperti hardisk yang dipartisi dimana pada partisi asli hanya ROM (Read Only Memory)
sedang pada partisi lainnya RW (Read Write), untuk GarminII / GPS12 / yang lebih lama tidak ada fungsi externalnya yang besar, sehingga hanya dialokasikan untuk waypoint & Track saja, sedang untuk yang lebih besar seperti GPS SPIII / 295 terdapat external program dan external memorycard untuk peta. PERINGATAN: Jangan lupa membackup data anda, karena saat internal battery weak maka RAM (memory) bisa hilang.



Sumber : http://geodesi.info/?pilihan=headlines&menu=lihat&hid=10

19.11.08

Perawatan GPS


Seperti halnya perkakas elektronik umumnya, maka GPS-pun harus dirawat dengan baik agar GPS saat digunakan tidak bermasalah.



GPS yang kita gunakan memang termasuk barang “badak”, namun tetap saja butuh tindakan atau perlakuan yang layak. Misalnya adalah pembersihan, dan penyimpanan.



Selain itu juga pengiriman barang ke mitra kita, misalnya saya pernah mendapat kiriman GPS yang kebetulan dipinjam oleh kawan di sulawesi, hanya dibungkus amplop coklat biasa tanpa ada tindakan pengamanan dari goncangan.





Pembersihan:

1. Gunakan sabun untuk menyeka GPS, atau gunakan cairan yang memang dikhususkan untuk membersihkan barang elektronik. Bila anda akan menyekanya, teteskan cairan ke bahan yang lembut sebelum diseka ke GPS. Kemudian keringkan.

2. Bersihkan GPS secara berkala.



Penyimpanan:

Bila GPS sedang tidak digunakan maka sebaiknya:

1. Keluarkan baterai GPS dari GPS.

2. Simpan GPS dalam wadah kedap udara, lebih baik dalam wadah tersebut juga diletakkan silica gel.

3. Jangan disimpan pada suhu diatas 70° C atau dibawah -15°.



Bila anda ingin mengirimkan GPS melalui paket, ingatlah bahwa barang elektronik itu barang yang mudah rusak karena benturan atau goncangan.



Maka bila anda ingin mengirimkan GPS ke mitra anda melalui jasa kurir, sebaiknya:

1. Bungkus GPS dengan menggunakan bahan yang dapat meredam goncangan dan benturan. Anda bisa menggulungnya dengan bahan kain yang tebal.

2. Tuliskan BARANG PECAH BELAH pada bungkus/kemasan paket GPS.

3. Jangan sekali-kali hanya membungkusnya dengan amplop biasa !!!

Another Articles

Ready to Download

Silahkan Unduh Manual dibawah ini, bila dijadikan referensi mohon dicantumkan sumbernya.

Manual Mahir Memanfaatkan Peta Navigasi.net untuk Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah Instalasi dan memanfaatkan peta navigasi.net untuk GPS Garmin Map 76 CSx, ETrex Vista HCx dan Nuvi Series


Manual Mahir Garmin Map 76 CSx dalam 30 Menit

Manual singkat yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin Map 76 CSx


Manual Garmin HCx untuk Pemetaan Risiko Bencana

Manual yang berisikan langkah-langkah penggunaan GPS Garmin HCx untuk memetakan risiko bencana, dan juga berisi bagaimana mengolah data di MapSource setelah mendapatkan data GPS


Daftar Legenda dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan legenda-legenda yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Daftar Kebutuhan Pemetaan Risiko Bencana

Daftar yang berisikan keperluan-keperluan pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Daftar Istilah dalam Pemetaan Risiko Bencana

Berisikan istilah-istilah yang ada dalam manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko digunakan dalam memetakan risiko bencana


Kamus SIGaP/ Dictionary of PGIS

Berisikan istilah-istilah yang digunakan dalam Sistem Informasi Geografis Partisipatif, keluaran PPGIS/IAPAD


Diagram Alur Pemetaan Risiko Bencana

Diagram alur pemetaan risiko bencana yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Hazard

Formulir Hazard/Ancaman yang biasa digunakan oleh PMI


Formulir Isian

Formulir Isian dalam pemetaan risiko yang biasa digunakan oleh PMI




Daftar di bawah ini merupakan Bab-bab yang ada dalam Buku Manual Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP): Pemetaan Risiko yang dilakukan secara Partisipatif

Bab 2: GPS

Bab 2 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar GPS dan hubungannya dengan Risiko Bencana


Bab 4: Analisa Data

Bab 4 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana menganalisa data yang sudah didapat dalam pemetaan di lapangan oleh Sukarelawan PMI


Bab 5: Membuat Peta Tumpang Susun/Overlay, Peta Dinding, dan 3 Dimensi

Bab 5 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan bagaimana membuat peta tumpang susun, peta dinding, dan peta 3 Dimensi. Langkah ini merupakan langkah berikutnya setelah pengolahan data dengan MapSource


Bab 6: Google Earth

Bab 6 dari buku Manual SIGaP untuk Pemetaan Risiko, yang merupakan buku pertama dalam rangkaian buku Pemetaan Risiko. Berisikan dasar-dasar pemanfaatan Google Earth dalam pemetaan Risiko

Ready Downloaded List: Mapping Software

Download Google Earth
Google Earth Versi 6.2

Unggah Google Earth versi terbaru



Download MapSource Mutakhir MapSource software version 6.16.3

Tingkatkan MapSource anda dengan piranti lunak MapSource terbaru dari sumber aslinya



Up Date software unit Garmin Anda Up Date Software Garmin Anda

Tingkatkan Performa GPS Receiver Garmin anda dengan piranti lunak dari sumber aslinya

Reader