Japan Quake

Japan Quake
Many people are without news of their relatives because of the earthquake in Japan on 11 March 2011. The areas particularly affected are the Prefectures of Miyagi, Iwate, Fukushima, Tochigi and Ibaraki. The purpose of this Family Links page is to help restore contact between separated family members.

Slider-1-Title-Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim.

Slider-2-Title-Here

In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

Slider-3-Title-Here

Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem.

Slider-4-Title-Here

dui quis mi consectetuer lacinia. Nam pretium turpis et arcu. Duis arcu tortor, suscipit eget, imperdiet nec, imperdiet iaculis, ipsum. Sed aliquam ultrices mauris. Integer ante arcu, accumsan a, consectetuer eget, posuere ut, mauris. Praesent adipiscing. Phasellus ullamcorper ipsum rutrum nunc. Nunc nonummy metus. Vestibulum volutpat pretium libero. Cras id dui.

Slider-5-Title-Here

Aenean tellus metus, bibendum sed, posuere ac, mattis non, nunc. Vestibulum fringilla pede sit amet augue. In turpis. Pellentesque posuere. Praesent turpis. Aenean posuere, tortor sed cursus feugiat, nunc augue blandit nunc, eu sollicitudin urna dolor sagittis lacus.

Search

Reader

Masyarakat Indonesia Harus Belajar Pertolongan Pertama 0

Ujang Dede Lasmana | 15:20 | ,

Letak geografis Indonesia yang berada di sabuk gunung api, menyebabkan Indonesia rawan terhadap bencana. Ancaman gunung berapi, gempa bumi, tsunami, dan longsor membayangi rakyat Indonesia. Berdasar data BMKG, setiap hari pasti terjadi gempa baik diatas 5SR maupun di bawah 5SR.

Luka merupakan dampak yang umum terjadi disaat bencana terjadi. Bila luka tersebut tidak segera ditangani dengan benar maka kefatalan bisa saja terjadi.

Bertolak dari kondisi ini, diharapkan masyarakat Indonesia dibekali dengan keterampilan Pertolongan Pertama. Memang pemerintah sudah memiliki cukup banyak tenaga terlatih siaga bencana (bila saya hanya berpatokan pada kuantitas atau jumlah saja), namun kondisi geografis pulalah yang terkadang menyebabkan suatu daerah terisolasi akibat terputusnya akses menuju dan keluar dari daerah bencana. Bidan desa yang merupakan ujung tombak (dan memang ini terbukti) biasanya langsung bertindak memberikan pertolongan pertama, namun tetap saja waktu menjadi taruhannya.

Kondisi tertentu, menyebabkan korban bencana membutuhkan pertolongan yang segera, bila tidak adanya tenaga terlatih awam maka penyelamatan jiwa menjadi semakin jauh dari harapan.

Dengan diberikannya masyarakat pelatihan pertolongan pertama yang adekwat dan memenuhi persyaratan atau standar maka risiko kematian, kecacatan atau semakin bertambahnya keparahan menjadi berkurang.

Pelatihan Pertolongan Pertama bagi Masyarakat merupakan sebuah kebutuhan di daerah yang rawan bencana, living with risk harus diperkuat dengan keterampilan pertolongan pertama.▲



Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

Gempa di Cilacap belum tentu hanya mengancam Cilacap 0

Ujang Dede Lasmana | 10:05 | , , , ,

Pagi dini hari tadi sekitar jam 3:15 WIB, saya terbangun karena handphone saya menerima SMS, dan ternyata dari BMKG yang berisi info telah terjadi gempa 7,1 SR di Cilacap dan berpotensi tsunami. Alhamdulillah 50 menit kemudian BMKG mengakhiri info potensi tsunami (tsunami tidak terdeteksi terjadi).

Sesaat setelah saya membaca maka tidak hanya Cilacap dalam fikiran saya yang terancam tsunami, pantai selatan jawa bagian tengah dan barat juga terancam. Jadi, berapa kabupaten dan kota yang terancam? Apakah karena panik sehingga saya berfikiran seperti itu? Mari kita lihat alasan saya berikut ini untuk menilai apakah kepanikan atau karena fikiran sistematis terhadap spasial?

Berikut ini adalah info yang saya terima:
Info Gempa Mag:7.1 SR, 04-Apr-11 03:06:39 WIB, Lok:10.01 LS, 107.69 BT (293 km BaratDaya CILACAP-JATENG), Kedlmn:10 Km, Potensi TSUNAMI utk dtrskn pd msyrkt :: BMKG.

Konsep sederhana berikut membuat saya berfikiran bukan hanya cilacap yang terancam:
1. Gempa di kota a belum tentu hanya kota a yang merasakan dan terdampak.
2. Gempa di kota a belum tentu kerusakannya lebih parah dari kota b yang dilalui sesar/patahan gempa yang terjadi.
3. Bila terjadi tsunami maka gelombang tsunami akan menjalar ke segala arah, bukan hanya membidik satu kota.

Berangkat dari sana, kemudian otak spasial saya otomatis menginformasikan kota-kota apa saja yang harus waspada. Selanjutnya bukan hanya teman-teman PMI Jateng yang saya infokan, tapi Jabar juga.

“Khayalan” terhadap peta setelah info gempa merusak atau adanya ancaman tsunami selalu membayang di fikiran saya. Sehingga gempa di selatan Jawa bukan tidak mungkin juga mengancam kota wisata Bali bila pusat gempa dan kekuatannya di bagian timur pulau Jawa. Ini kebalikan kejadian gempa dini hari tadi yang terjadi di barat/tengah pulau Jawa.

Kawan-kawan ingatkan saat gempa di Tasikmalaya? Dan kerusakan bukan hanya di Tasikmalaya, bahkan banyaknya di Kabupaten Bandung dan guncangannya sempat terasa sampai Jakarta.
Demikianpula saat gempa 11 Maret 2011 di Jepang yang membangkitkan tsunami besar, tsunami itu juga mencapai Papua dan menimbulkan kerusakan dan juga korban jiwa.

Jadi janganlah kita terlena hanya kota yang tercantum dalam warning, karena biasanya yang tercantum adalah kota terdekat. Bila kita lihat info lebih lengkap dari BMKG dan dari USGS maka semakin jelas bahwa kota yang tercantum hanyalah sebagai rujukan. Sehingga analisa kemungkinan kerusakan dapat kita prediksi melalui peta risiko atau minimal peta SD yang dijual dipinggir jalan. Dengan peta ini maka kita bisa melakukan prediksi sebelum kita mendapat info yang lebih jelas, sehingga kesiapsiagaan dan response bisa lebih cepat dilakukan dan tepat.

Ini info lengkap dari BMKG:
Tanggal04/04/2011-03:06:39 WIB Kekuatan7.1 SR Kedalaman10 Km Lokasi10.0 LS 107.69 BT
Pusat gempa berada pada 293 km BaratDaya CILACAP-JATENG , 303 km BaratDaya TASIKMALAYA-JABAR , 306 km BaratDaya CIAMIS-JABAR , 334 km BaratDaya PURWOKERTO-JATENG , 437 km Tenggara JAKARTA-INDONESIA


Dan ini dari USGS:
6.7 Mw - SOUTH OF JAVA, INDONESIA
Preliminary Earthquake Report
Magnitude 6.7 Mw
Date-Time 3 Apr 2011 20:06:42 UTC; 4 Apr 2011 03:06:42 near epicenter; 4 Apr 2011 03:06:42 standard time in your timezone
Location 9.786S 107.748E
Depth 24 km
Distances 241 km (150 miles) ENE (71 degrees) of Christmas Island; 279 km (173 miles) SSW (192 degrees) of Tasikmalaya, Java, Indonesia; 316 km (196 miles) S (176 degrees) of Bandung, Java, Indonesia; 421 km (262 miles) SSE (165 degrees) of JAKARTA, Java, Indonesia


Berdasarkan data BMKG, gempa tersebut juga dirasakan diberbagai kota:
Pusat gempa berada di laut293 km BaratDaya Cilacap Dirasakan (MMI):
IV Cilacap, IV Pangandaran, II Karangkates , II Denpasar, II Jogja, II Cisarua, II Purworejo.


Bahkan pagi ini ada beberapa kawan dikantor yang juga menceritakan merasakan goyangan pada jam yang berdekatan dengan waktu kejadian gempa Cilacap dan bisa jadi Jakarta juga sebenarna tadi malam merasakan dengan intensitas MMI yang rendah.


Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com

Participatory Photo Mapping for Fun & Disaster Risk Reduction 0

Ujang Dede Lasmana | 09:21 | , , , , , , ,

TAHUN LALU SAYA berkenalan dengan seorang konsultan GIS yang bekerja untuk GTZ, dialah Bapak Y. Martin Hardiono. Kebetulan saat itu saya ingin membuat peta evakuasi di Kota Padang yang ditujukan untuk masyarakat awam, dan GTZ telah memulainya untuk BPBD Kota Padang.

Pak Martin yang juga seorang Garminerz (saya menggunakan istilah ini untuk orang yang sering menggunakan GPS Garmin, terutama untuk hobby, yah walaupun sering juga akhirnya digunakan untuk pekerjaan) membuat saya banyak diskusi dan belajar dengannya mengenai GIS dan GPS.

Beliau memperkenalkan saya dengan sebuah “Boys Toy” yaitu Geosetter. Dengan geosetter kita bisa meng-geotagging foto-foto hasil jalan-jalan ataupun hasil asesmen kita.
Nah, hasil geotagging pada foto-foto kita dapat dimuat di GoogleEarth.

HASIL GEOTAGGING DAPAT kita gunakan untuk menyimpan memori perjalanan kita, dan juga untuk membantu pejalan lain untuk menapaktilasi perjalanan kita atau paling tidak mengunjungi tempat-tempat yang kita sarankan dikunjungi oleh pejalan lain.

Tempat-tempat wisata yang indah, misalnya tempat indah yang baru saya kunjungi yaitu Bukit Lengkisau di Painan Pesisir selatan yang secara kebetulan dan mungkin sulit dijumpai lagi yaitu adanya pelangi kembar di atas Painan.

Dan juga tempat-tempat kuliner yang membuat lidah kita menari-nari karena lezatnya.
Bagaimana caranya kita meng-geotagging foto-foto kita dengan menggunakan geosetter? Berikut ini tips singkatnya:
1. Buka aplikasi geosetter
2. Unggah foto-foto yang akan di-geotagging
3. Masukkan koordinat yang sudah kita dapat melalui GPS
4. Bisa juga dimasukkan info-info yang diperlukan yang nantinya akan tampil bila foto kita diklik di jendela GoogleEarth. Nah kawan-kawan bisa narsis disini dengan mengisikan info-info artist, Caption Writer, Credit, Copy writer dengan nama kawan-kawan.
5. Save hasil geotagging
6. Klik icon GoogleEarth, dan ….. tunggu sampai GoogleEarth menampilkan hasilnya.
7. Mudahkan?

Untuk langkah detilnya saya sedang menyusunnya, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa selesai. Tapi sepertinya langkah singkat di atas juga mudah dilakukan kawan-kawan.


APLIKASI INI BISA kita manfaatkan juga untuk kegiatan yang disebut dengan Participatory Photo Mapping, terutama untuk kegiatan kesiapsiagaan bencana dan juga upaya pengurangan risiko bencana atau dalam payung besar manajemen bencana.

PMI yang sudah memanfaatkan pendekatan Participatory Risk Mapping dan juga telah banyak memiliki Disaster Risk Mappers tentunya dapat memanfaatkan tekhnik ini dan juga aplikasi ini.

Untuk ditempat kerja saya yang sekarang, Mercy Corps, saya pasti akan memanfaatkannya.

Seperti yang sudah dilakukan para Mappers PMI, dimana dulunya mereka mengambil foto dan koordinat untuk program Pengurangan Risiko terpadu Berbasis Masyarakat (Pertama) dan hasilnya digunakan untuk perencanaan kontinjensi dan pengurangan risiko di desa mitra. Maka dengan aplikasi ini akan lebih mudah mengerjakannya.

Ayo para Risk Mappers kita gunakan aplikasi ini. Buktikan kita mampu dan berkembang keterampilan kita.

UNTUK RISK MAPPERS akan saya kirimkan lewat e-mail contoh hasil kerja saya, tinggal klik dan kawan-kawan lihat hasilnya di GoogleEarth, tunggu yah.

BAGAIMANA MEMANFAATKAN HASIL participatory photo mapping dalam ranah manajemen bencana? Seperti yang pernah Risk Mappers lakukan di daerah program, yaitu dengan menampilkan peta dan foto-foto terkait hazard, vulnerability dan capacity kemudian didiskusikan bersama diantara masyarakat di desa yang bersangkutan, biasanya yang memfasilitasi diskusi adalah masyarakat sudah terlatih – Sibat (kelompok siaga bencana) misalnya. Hal ini dilakukan setelah dilakukan analisa baik antara praktisi menajemen bencana maupun masyarakat lokal.
Juga bisa dilakukan dengan berbagi data antara para aktor manajemen bencana (pemerintah, masyarakat, badan kemanusiaan –LSM, peneliti dan juga dunia usaha).

Data geotagging yang dilakukan dengan menggunakan geosetter sangat mudah dibagikan kepada mitra, dengan mengirimkan file yang sudah berbentuk KMZ. Selanjutnya bisa dilakukan analisa secara partisipatif walaupun tidak berada dalam ruangan atau organisasi yang sama dan juga tekhnik yang tidak sama pula, hasilnya bisa digunakan bersama.

Perubahan perilaku ke arah yang positif diharapkan dapat terfasilitasi dan akhirnya mudah diterima oleh masyarakat. Dengan mendiskusikan sesuatu yang nyata (foto-foto) dan juga pengalaman yang ada.

SECARA RINGKAS, ALUR pelaksanaan pemetaan & foto secara partisipatif adalah:
1. Buat perencanaan pemetaan risiko secara partisipatif bersama-sama dengan masyarakat
2. Pengambilan data (spasial, info dan juga foto) dilapangan
3. Kompilasi data
4. Analisa
5. Diskusikan hasil yang sudah diolah dengan masyarakat untuk mendapatkan umpan balik dan juga informasi baru/tambahan atau perbaikan
6. Buat perencanaan – juga dengan menggunakan data risiko lainnya (misalnya hasil survey awal, survey perilaku/KAP):
a. Perencanaan kontinjensi
b. Perencanaan upaya pengurangan risiko
c. Standar Operating Procedures (SOP)
7. Presentasikan hasil kepada pemangku kepentingan (stake holder) dan juga berbagi dengan mereka. Sehingga hasil-hasil perencanaan yang dibuat dimasyarakat dapat di”injeksikan” kepada kebijakan pemerintah yang sudah ada atau yang belum ada, sehingga pelaksanaan dilapangan akan terjadi komunikasi dan koordinasi yang baik. Bila kebijakan pemerintah daerah belum ada diharapkan perencanaan desa dapat menjadi bahan rangsangan agar pemda segera memiliki kebijakan (Perda, Perbup, Perwako, Rencana Kontinjensi, SOP dll).

Kegiatan itu selayaknya dilakukan dengan partisipasi penuh masyarakat.

JANGANLAH NEGERI KITA yang rawan bencana membuat kita hanya merasa takut dan pasrah tanpa upaya, mari kita siaga.
Tuhan, tidak akan merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mau merubahnya. ▲


Keterangan foto:
1. Perkebunan teh disepanjang jalan menuju Danau Atas (S1°04’25.2” E100°45’06.6”) dan Danau Bawah (S1°00’34.0” E100°43’52.2”) di Kabupaten Solok Sumatera Barat. Untuk dapat melihat kedua danau kembar sekaligus, anda dapat berkunjung ke Panorama di S1°02’39.6” E100°44’24.0”.
2. Kota painan dilihat dari lokasi evakuasi (S1°20’31.4” E100°35’12.0”) yang dibangun oleh pemerintah setempat di perbukitan.
3. Salah satu petunjuk evakuasi di Painan Kab. Pesisir Selatan (S1°20’59.1” E100°34’45.9”), disamping kediaman salah seorang pemimpin Kab. Pesisir Selatan.




Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan ini disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.

GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com



Blog ini dibuat sebagai tempat Dede mengeluarkan pendapat dan ide untuk memasyarakatkan pendekatan Participatory Geographical Information System (PGIS) atau dalam bahasa Indonesianya Sistem Informasi Geografis Partisipatif (SIGaP) dalam kegiatan-kegiatan Pengurangan Risiko Bencana dan Masalah-masalah Kesehatan Berbasis Masyarakat Selain memuat pemikiran Dede, blog ini juga memuat pemikiran orang lain yang sesuai dengan tujuan blog ini.

Don't Missed the News, Follow by Email

New Post

Recent Comments

Popular Posts

Daftar Koordinat & Alamat PMI se-Indonesia (last edit 01/04/10)

Banyak teman-teman yang ingin berkunjung ke markas PMI dimanapun ia berada, namun ketersediaan info mengenai alamat dan lokasi persisnya masih belum tersedia.

Juga diharapkan daftar koordinat ini dapat membantu masyarakat luas.

Silahkan cek apakah Markas PMI rekan-rekan sudah ada di daftar? Bila belum, dan rekan-rekan mengetahui koordinatnya, tolong infokan ke saya. Terima kasih.

Klik disini untuk melihat koordinat/please click here for coordinate

Koordinat terbaru: PMI Kota Tangerang Selatan& Markas "Baru" PMI Daerah Sulawesi Barat.

Tambahan Sebelumnya: PMI Kota Bandung, PMI Cab. Pasuruan, PMI Cab Kota Banjar, Jawa Barat, PMI Cab. Kota Bekasi, PMI Kab. Bekasi, PMI Manokwari, RS PMI Bogor, PMI Kebumen, Poliklinik PMI Kebumen, PMI Alor, PMI Cabang Kota Padang, PMI Cabang Kota Pariaman, PMI Cabang Kabupaten Padang Pariaman, Proyek Gudang Regional PMI (kerjasama PMI - Norwegian Red Cross), PMI Cabang Sikka.

Jangan Sia-siakan Darahmu

Jangan Sia-siakan Darahmu