Persiapan pelatihan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab ini, dimana peran dibagi habis sesama instruktur dan dijalankan dengan serius. Kebetulan saya mendapatkan tugas di Lesson 4: Well-being and Family Preparedness sebagai instruktur utama dan juga mendapat jatah dibeberapa stasiun: 1) First Aid: Bleeding Control; 2) BLS; 3) Water Safety & Fire: Improvise Floating Device; 4) Basic Search & Rescue (community – Light SAR).
Setelah rapat, kami merefresh ulang pengetahuan dan keterampilan kami dalam bidang Medical First Responder & Collapse Structure Search and Rescue (CSSR).
Kegiatan dimulai dengan memotong-motong balok dalam ukuran tertentu yang nantinya akan digunakan sebagai alas dalam pengangkatan beton yang “menindih” korban struktur bangunan yang runtuh.
Dalam refresh ini suatu tindakan keselamatan haruslah diperhatikan, dimana semua instruktur yang terlibat sudah harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai. Hal ini bertujuan agar nantinya peserta akan melihat bahwa kewajiban penggunaan APD dalam pelatihan ini juga dikenakan terhadap instruktur dan juga siapa saja yang ada dilokasi pelatihan (admin, dan petugas monitor dari pihak donor).
Dalam penyegaran dan persiapan pelatihan bidang CSSR ini saya menjadi tim yang mengangkat beton yang runtuh.
Betapa beratnya beton yang dijadikan model, saya ditugaskan menyusun balok-balok dicelah beton yang diangkat oleh mitra saya Iwan dan Ryan, sedangkan saya bersama Taba.
Jarangnya olah raga dan perut yang sudah mulai membusung membuat saya cepat ngos-ngosan dan sedikit mengalami kesulitan saat berlutut, wah setelah ini saya harus rajin olah raga dan mengecilkan perut nih – aerobic dan bersepeda cocok ga yah?
Selain itu, sarung tangan safety yang pernah saya gunakan saat operasi kemanusiaan tsunami di Aceh juga sudah kekecilan, walah. Untunglah bahan yang bagus dari sarung tangan tidak membuat tangan saya terluka, ia masih bisa menyesuaikan bentuk tanganku walaupun sedikit ketat.
Suhu di Antipolo 14°35′N 121°10′E lumayan panas sehingga membuat keringatan. Dan ini baru hari persiapan, bagai mana saat dilapangan nanti?
Info Salah Membuat Panik
Saat waktu menunjukkan pukul 15:00 Bong datang ke saya dan bilang peserta dari Indonesia hilang kontak, pesawat sudah mendarat 2 jam lalu, penjemput belum berhasil menjumpai mereka. Telpon mereka tidak bisa dihubungi, sepertinya provider telpon Filipina belum ada kerjasama dengan Indonesia untuk roaming internasional.
Jelas saja saya khawatir, namun seingat saya jam 13-an itu peserta Indonesia baru sampai Singapura belum Manila, namun Witchai dan Bong yakin kalau seharusnya mereka sudah tiba. Saat tim dari Bangladesh tiba tanpa peserta dari Indonesia, saya semakin khawatir. Namun akhirnya Witchai mengatakan bahwa mereka memang tiba nanti malam, jam segitu (13-an) masih di Singapura, walah bener kan apa kata saya?
Daftar Tim Instruktur:
1. Leonardo P. Ebajo: Philippine Red Cross
2. Setiawan Gerda Y: Basarnas; Indonesia
3. Ujang Dede Lasmana: Indonesian Red Cross (PMI)
4. Glenn Edwin Castro: Departement of Health; Philippine
5. Ryan Zaldy Abrera: Bureau of Fire Protection; Philippine
6. Oliver Eugenio: Bureau of Fire Protection; Philippine
7. Aurora De La Rosa: Civil Department; Phillipne
8. Medardo C. Batiller: Emergency Unit Foundation CMS; Phillipine ▲
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com
0 komentar:
Post a Comment