Pada hari pertama ini 9 Maret 2010, saya menjadi instruktur pada lesson 4: Well-being and Family Preparedness.
Materi yang saya sampaikan adalah, pentingnya masyarakat sebagai 1st responder memulai pada keluarganya terlebih dahulu dalam kesiapsiagaan di rumah tangganya sebelum mereka menolong orang lain, juga bagaimana mereka (langkah-langkah) dalam pembuatan kesiapsiagaan rumah tangga dan apa yang mereka lakukan bila terjadi bencana.
Langkah-langkah itu diantaranya:
Menghubungi badan-badan atau dinas-dinas yang terkait dengan bencana (PMI, pemadam kebakaran, puskesmas, dll) untuk mengetahui hal ihwal bencana dan kedaruratan, untuk selanjutnya disesuaikan dengan informasi ini dalam pembuatan perencanaan dan juga pembagian tugas tertentu (mematikan gas, listrik, kompor dll). Juga penentuan titik bertemu bila kebakaran atau bila tidak bisa kembali kerumah (membuat peta risiko). Juga simulasi diantara keluarga sangat diperlukan setelah perencanaan selesai dibuat. Perencanaan ini harus dimutakhirkan sesuai perkembangan dan informasi terbaru.
Selanjutnya well-being (saya kesulitan menerjemahkan ini ke dalam bahasa tercinta, Indonesia) sebagai 1st responder (di PMI bisa disamakan dengan Sibat –tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat), misalnya pentingnya penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) yang sesuai dan pentingnya memperhatikan tindakan universal dalam pencegahan tertularnya penyakit disaat menolong (cuci tangan sebelum dan sesudah bertindak dan juga penggunaan APD yang sesuai). Juga pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental.
Apa yang saya rasakan saat menjadi instruktur di luar negeri seperti ini, yang mengharuskan saya menggunakan bahasa Inggris? Wah perjuangan keras, ditambah ini pengalaman pertama di luar negeri (norak yah?), juga terdiri dari berbagai bangsa yang memiliki kekhasan dalam pengucapan bahasa Inggris. Filipina, Vietnam, Bangladesh, Laos, Nepal.
Menjadi Asisten Instruktur pada Lesson 5: Persiapan Response
Menjadi asisten saudara filipinaku Glen yang juga biasa dipanggil Taba. Nah nama panggilan saya (Dede) dan taba ini bila dikombinasikan maka akan membuat saudara-saudara kita dari filipina akan tertawa lebar atau bahkan juga ada yang merasa tidak pantas.
Tugas menjadi asisten adalah: diantaranya, membantu instruktur utama dalam manajemen waktu, mengingatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar pelatihan program PEER ADPC, menggantikan instruktur utama bila karena sesuatu instruktur utama tidak mampu melanjutkan.
Menjadi Instruktur pada Stasiun Menghentikan dan Mengontrol Pendarahan
Pada saat Pak Iwan dari Basarnas (Badan Search And Rescue Nasional) menjadi instruktur utama Leson mengenai Basic Life Support (BLS) dan Medical First Responder (MFR) saya kebagian menjadi instruktur di Stasiun Mengontrol dan Menghentikan Pendarahan dan Stasiun Resusitasi (ini dilaksanakan esok hari). Tugas saya dan kawan-kawan instruktur stasiun akan dimulai bila klas Pak Iwan telah selesai.
Waktu yang diberikan setiap stasiun untuk MFR adalah 45 menit, waktu ini saya rasa pas untuk melatih masyarakat. Di stasiun ini saya tidak mengulang teori bagaimana menghentikan pendarahan tetapi langsung mempraktekkanya dan juga melihat serta menilai mereka mempraktekkannya. Satu kelas berisi 6 peserta.
No Time to Rest
Setelah selesai jam pelatihan, dilanjutkan dengan evaluasi kegiatan dan perencanaan untuk esok hari. Untuk kegiatan ini umumnya kami selesai jam 10 malam atau bahkan pernah sampe jam 11 malam lebih.
Banyak pelajaran yang saya dapatkan dalam evaluasi dan perencanaan ini. Misalnya pentingnya saya dan kawan-kawan instruktur untuk mengikuti standar pelatihan PEER dan juga safety (APD), rasa kebersamaan dan saling menghormati saya rasakan sejak kelas dibuka sampai evaluasi dan perencanaan ini.▲
Silahkan memberikan komentar anda mengenai tulisan disini, atau di boks dibawah tulisan ini, terima kasih.
GPS murah di sini, kontak: tracknavigate[at]yahoo[dot]com
Hal baru tapi sukses...good job guys,
ReplyDelete