6 PMI Cabang mengirimkan utusannya, yaitu Magelang, Klaten (Jateng), Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunung Kidul (DIY).
Lokasi pelatihan di adakan di hotel Nidya (07˚48.368’S 110˚21.032’E).
Proses penyegaran dilakukan selama dua hari ini yaitu kegiatan pengambilan data pada blok-blok tertentu dengan membagi 6 kelompok berdasarkan asal PMI Cabang di hari pertama, yang dilanjutkan pada analisa data, pengolahan dan pembuatan peta display dan peta tumpang susun pada hari kedua.
Diskusi dan transfer pengetahuan berjalan, dimana masyarakat yang diwakili Sibat memberikan gambaran daerahnya termasuk pengetahuan lokal yang ada di daerahnya (daerah rawan bencana, kerentanan, kapasitas, pantangan, daerah terlarang dll.).
Dengan GPS Garmin eTrex Vista Cx dan HCx mereka dengan antusias menjelajahi sekitaran hotel, Patangpuluhan, Wirobrajan dan sekitarnya.
Diskusi membangun terjadi antara saya dan perwakilan dari PMI Cab Sleman, terkait dengan pemanfaatan peta yang sudah dibuat stakeholder lain sebagai peta dasar. Termasuk diskusi daerah-daerah mana yang dipetakan bila waktu tidak mencukupi sedangkan daerah sangat luas.
Untuk daerah luas dan waktu tidak mencukupi, beberapa hal bisa dilakukan, pengalaman dari Lampung Barat, Sulawesi Selatan, Barat dan Utara, dan Jawa Barat:
1. Hanya memetakan daerah yang paling rawan, dengan tetap memperhatikan bahwa tetap kita berupaya memetakan desa pada titik-titik penting, misalnya balai desa/kelurahan, kapasitas (mis, rumah dokter, sibat dll.), tempat evakuasi, jalur evakuasi, dll.).
2. Untuk penentuan daerah yang paling rawan, harus memperhatikan pendapat dan persepsi masyarakat, dengan kata lain masyarakat yang menentukan daerahnya. Bukan kita yang dari luar.
3. Pihak manajemen dan donor, berdasarkan laporan kegiatan pemetaan terdahulu, seharusnya tidak memangkas waktu dari 7 hari menjadi 5 hari.
Selanjutnya para peserta akan memetakan daerahnya masing-masing. Selamat memetakan.















